
“Baik-baik ya sama uti, nanti Ibu jemput kalau sekolahnya
sudah selesai. Sini, cium Ibu dulu.” Nisha memajukan tubuhnya, mendekatkan
wajah pada anaknya.
“Noooo Mom!.”
“Eh kenapa gak mau? Ayo sini cium Ibu dulu…”Nisha
memonyongkan mulutnya. Tangan si kecil menepis mulut ibunya dan menutup
wajahnya.
“No Mom!! I’m not kid
anymole!!”
“Panggil ‘Ibu’, bukan ‘Mom’. Sudah berkali-kali Ibu bilang.”
Nisha meraih tubuh putra kecilnya dan mencium pipi gembulnya dengan gemas.
“Auuwwhhh…Let Me go!!” Zoey menjauhkan pipinya dari bibirnya
ibunya yang menciumnya bertubi-tubuh. Nisha semakin gemas. Dia semakin mencium
pipi bulat putranya kuat-kuat.
“Ndang lunga kono Ndu, selak telat mlebu kerjo lho.” (Cepat pergi sana Nak, takut telat nanti
masuk kerja lho). Ibu Nisha menyela anaknya yang sedang asyik menciumi pipi
cucunya. Dia mengambil Zoey dari pelukan Nisha. Dengan berat hati Nisha
mengikhlaskannya, karena memang sudah waktunya dia berangkat kerja.
“Embul, tidak boleh nakal. Nurut sama Ibu guru ya Nak. Ibu
berangkat dulu, muaaahhch.” Nisha mencuri satu ciuman sebelum berlari ke arah
mobilnya. Terdengar geraman marah Zoey di belakangnya, Nisha tertawa
terkeke-terkekeh.
Nisha melajukan mobilnya menuju kantor. Hari-harinya selalu
cerah di penuhi oleh kehadiran Zoey. Sudah lima tahun berlalu semenjak kejadian
itu. Bila mengingat waktu itu, seakan-akan kejadian itu baru saja terjadi
kemarin. Dia mengingat dengan jelas kejadian hari itu, meskipun ada
detail-detail peristiwa yang tidak di ketahuinya.
Sesudah dokter melakukan anestesi terhadapnya, dia langsung
tak sadarkan diri. Dia tidak tahu peristiwa apa yang terjadi selama dia dibawah
pengaruh obat bius. Ketika tersadar, Daniel sudah membawanya pergi jauh. Apa
yang di lakukan Daniel sangat membuatnya terkejut. Dia tidak menyangka
laki-laki itu akan melakukan hal seperti itu terhadapnya.
Berada di negara asing, tempat yang asing, orang-orang yang
juga asing sangat membuatnya tidak nyaman. Dia meminta Daniel untuk membawanya
kembali ke tanah air. Daniel tidak mengizinkannya. Laki-laki itu beralasan akan
sangat berbahaya bagi dia dan bayi dalam kandungannya bila pulang ke Indonesia.
Nisha sangat bersyukur Daniel bersedia menolongnya. Tapi dia
tidak ingin selamanya bergantung pada pria itu. Sudah banyak hal yang di
lakukan laki-laki itu untuknya. Bila harus di kurs-kan sebagai hutang, maka dia
tidak akan pernah sanggup membayar hutang itu. Untuk itu dia memaksa Daniel
untuk memulangkannya ke Indonesia meskipun dia tahu resiko yang harus di
hadapinya.
Setelah ratusan kali di paksa, akhirnya Daniel bersedia
membawanya kembali ke Indonesia ketika usia kandungannya memasuki tujuh bulan.
Daniel menyuruhnya untuk tinggal di villa milik keluarganya. Namun lagi-lagi
Nisha menolak. Yang Nisha inginkan adalah hidup mandiri. Akhirnya Daniel mengalah
dengan mengajukan beberapa syarat.
Syarat pertama, Nisha harus tinggal jauh dari kota Jakarta. Untuk
syarat pertama, Nisha sangat menyetujuinya karena dia memang berniat pergi jauh
dari kota metropolitan itu. Dia harus pergi menjauh dari jangkauan Zico dan
keluarganya. Di usia kehamilannya yang ke tujuh bulan, Daniel menempatkannya di
kota Surabaya. Sementara Daniel sendiri kembali ke luar negeri.
Syarat kedua, Nisha harus mau menerima sokongan finansial
darinya. Untuk syarat kedua Nisha merasa sangat keberatan. Bila dia menerima
bantuan finansial dari Daniel, bukankah itu sama saja dia bergantung pada
laki-laki itu? Nisha menolaknya.
Daniel tidak patah arang, dia terus membujuk dan membujuk
Nisha. Alasan Nisha harus menerima bantuannya adalah karena Nisha tidak
memiliki cukup uang untuk bisa hidup mandiri. Nisha pergi dari apartemen Zico
hanya membawa baju-bajunya saja, sementara debit card dan cek yang diberikan
Zico di tinggalkannya begitu saja. Setelah merenung dan memikirkan hal itu,
akhirnya Nisha setuju untuk menerima bantuan finansial dari Daniel dengan
Meskipun berat hati, akhirnya Daniel menyetujuinya. Nisha
meminjam sejumlah uang pada Daniel. Dia
berencana menggunakan uang itu sebagai biaya hidup sehari-hari sampai dia
mendapatkan pekerjaan. Kemudian Nisha tersadar, dengan ijasah dan kemampuan
yang di milikinya dia tidak akan mampu mengembalikan uang Daniel dalam waktu
dekat. Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan uang itu untuk kuliah.
Sementara untuk kebutuhan sehari-hari dia dapatkan dari bekerja sambilan.
Melihat Nisha tinggal sendiri di kota Surabaya membuat Daniel
khawatir. Meskipun dia sudah menempatkan anak buahnya untuk selalu mengawasi
Nisha, namun dia masih tidak bisa lepas dari kekhawatiran. Nisha membutuhkan
orang-orang terdekatnya untuk selalu menyokong dan menyayanginya. Tanpa
sepengetahuan Nisha, Daniel mencari keluarga Nisha dan menjemputnya secara
diam-diam.
Tangis haru dan sedih pecah ketika satu keluarga itu
berkumpul. Nisha begitu tidak percaya bisa di pertemukan dengan ibu dan kedua
adiknya lagi. Sementara ibunya merasa sangat kasihan dengan nasib anaknya.
Hamil tanpa di dampingi seorang suami.
Nisha tidak pernah mengatakan bahwa dia hamil karena di
perkosa, yang dia katakan adalah bahwa dia menikah siri dan suaminya pergi
entah kemana. Ibunya merasa sangat sedih mendengar ceritanya. Kedua ibu dan
anak itu saling menguatkan satu sama lain.
Dengan di dampingi keluarga yang sangat mencintainya, Nisha
melahirkan Zoey. Seorang bintang yang akan selalu menyinari kehidupannya.
Sebuah sinar yang menerangi hidupnya yang penuh dengan kegelapan. Kehadiran
Zoey sangat membuat bahagia semua orang.
Setelah usia Zoey menginjak empat bulan, Nisha memutuskan
untuk melanjutkan pendidikannya. Dia memilih fakultas hukum sebagai tempatnya
untuk menimba ilmu. Hal itu di lakukannya bukan tanpa alasan. Setelah melalui
berbagai drama kehidupan, dia ingin lebih mengetahui tentang hukum untuk
melindungi Zoey nantinya.
Kuliah di tempuhnya selama tiga setengah tahun. Selama
kuliah, dia mengikuti magang di kantor advokat senior. Setelah dia berhasil
meraih gelar sarjananya, dia mengikuti PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat)
selama sebulan dan menempuh jalur ujian untuk mendapatkan sertifikat advokat.
Perjuangannya menjadi pengacara tidak sampai disitu. Setelah
hampir setahun mengikuti magang, dia akhirnya diangkat sebagai rekanan di firma
hukum tersebut. Tinggal dua bulan lagi masa magang profesinya selesai, dan dia
bisa mendirikan firma hukumnya sendiri. Sebenarnya dari setahun yang lalu
(tepat ketika dia lulus ujian PKPA) Daniel sudah menawarkan padanya untuk
membuka firma hukum sendiri. Namun Nisha menolak, karena merasa masih kurang
berpengalaman. Pada akhirnya Daniel mengalah dan membiarkannya menyelesaikan
masa magang.
Selama di angkat sebagai rekanan, penghasilannya cukup
lumayan. Nisha mulai membeli rumah minimalis sebagai tempat tinggal keluarga
kecilnya. Dia juga membeli mobil kecil sebagai fasilitas transportasinya.
Sebenarnya dia tidak terlalu butuh mobil, namun karena mengingat dia sudah
memiliki Zoey, dia membuat mobil sebagai salah satu prioritasnya.
Bila di tanya, bagaimana hubungannya dengan Daniel selama
lima tahun ini? Hubungannya dengan Daniel baik-baik saja, bahkan lebih dari
baik. Dia menganggap Daniel seperti seorang kakak yang sangat melindunginya. Daniel
selalu membantunya tanpa dia meminta pertolongan sekalipun. Meskipun mereka
tinggal berjauhan, tapi Daniel selalu menyempatkan diri untuk datang sekedar
melihat keadaan mereka. Sebenarnya dia tahu bahwa Daniel memiliki perasaan
lebih terhadapnya, namun dia tidak bias menerima perasaan itu. Masih ada orang
lain di hatinya, dan posisi orang itu masih belum tergantikan.
Dulu dia begitu naif. Dia pikir waktu akan menghapus
semuanya. Menghapus segala kenangan pahit yang di alaminya. Menghapus semua
perasaan yang di rasakannya. Namun ternyata waktu lima tahun tidak bisa
menghapusnya. Semua rasa sakit itu masih ada, begitu pula dengan rasa cintanya.
Entah kapan semua perasaan itu akan hilang dengan sendirinya?
***