
Nisha merinding mendengar setiap ucapan Zico. Dia tahu perkataan Zico ada benarnya. Dia harus segera memberikan laki-laki itu keturunan. Hal itu bisa terjadi bila mereka melakukan hubungan suami istri lagi. Meskipun hatinya di penuhi dengan kebencian dan amarah yang kuat, pada akhirnya Nisha pasrah. Dia membiarkan Zico melakukan sesuatu semaunya.
Dengan lembut Zico mulai menelusuri leher Nisha dengan bibirnya. Sesekali giginya memberikan gigitan-gigitan kecil di leher itu. Membuat Nisha meringis kesakitan sekaligus nikmat. Zico membuka sanggul Nisha dengan hati-hati. Setelah itu dia mulai membuka kebaya yang dikenakan oleh Nisha.
Entah karena kebaya itu sangat rumit untuk dibuka, atau keahliannya memudar karena sudah lima tahun tidak menjamah wanita, yang jelas Zico sedikit kesulitan membuka kebaya itu. Dengan berat hati Nisha membantu Zico melepaskan kebayanya. Nisha memasang tampang datar. Dia tidak ingin terpengaruh lagi. Sudah cukup bodoh dirinya sangat terpengaruh dengan percintaan mereka yang terakhir kali (meskipun kesalahan bukan sepenuhnya dari dirinya, tapi pengaruh obat bius), kali ini dia tidak ingin terpengaruh.
Dalam posisi sama-sama berdiri, Zico mulai menciumi tubuh Nisha dari belakang. Berawal dari tengkuk, dan berakhir dengan tulang punggungnya. Zico menciumi satu persatu tulang punggungnya. Seakan-akan sedang menghitung jumlah ruas dari tulang punggungnya. Nisha mengigit bibirnya, berusahq untuk tidak bersuara. Sikap Zico yang sangat lembut sedikit mempengaruhinya.
Tangan Zico memegang pinggang Nisha dari belakang. Tangan itu bergerak ke atas. Merengkuh dada Nisha yang tampak mengencang. Zico merangkum kedua buah itu dengan lembut.
Nisha mendesah. Dia mulai tidak bisa mengontrol dirinya. Rangsangan yang di berikan Zico membuat pikirannya tidak lagi jernih. Akal sehat mulai hilang dari dalam dirinya. Mendengar desahan Nisha semakin membuat Zico bersemangat. Dia menciumi keseluruhan bagian belakang tubuh Nisha, membuat wanita itu kegelian.
Puas bermain-main dengan dada Nisha, tangan Zico yang satunya mulai bergerilya ke bawah. Menyentuh bagian kewanitaan Nisha dengan lembut.
Nisha terkesiap ketika tangan Zico menyentuh bagian sensitifnya. Tangan itu bermain-main di sana. Membuat Nisha kembali mendesah. Merangsang tubuh Nisha untuk semakin menikmati percintaan itu.
Dan pada akhirnya, tubuh Nisha bergetar dengan hebatnya. Dia mencapai klimaks pertamanya. Berangsur-angsur tubuh Nisha menjadi lemas. Zico menahan tubuh Nisha agar tetap berdiri. Kemudian Zico menggendong wanita itu. Mendudukkan Nisha di pinggir ranjang. Nisha pasrah dengan perlakuan Zico.
Zico berlutut di depan Nisha. Membuka kaki wanita itu pelan-pelan. Nisha begitu malu. Meskipun tubuhnya masih terasa lemas, namun Nisha tetap berusaha untuk menutup bagian sensitifnya dengan tangan.
Zico menyingkirkan tangan Nisha dengan lembut. Dia kembali menatap bagian sensitif Nisha dengan tatapan gelap. Pelan-pelan Zico menciumnya.
Semakin lama teriakan Nisha berubah menjadi desahan. Rasa malu sepertinya sudah hilang dari dalam dirinya. Meskipun nantinya dia akan menyesali sikapnya ini, tapi dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Meskipun hatinya berkata tidak, namun tubuhnya berkata iya. Tubuhnya sangat menikmati setiap apapun yang dilakukan oleh laki-laki brengs*k itu.
Zico menikmati setiap hal yang di lakukannya. Dia menikmati memberikan kenikmatan terhadap Nisha. Membuat wanita itu mendesah memberikan kebanggaan tersendiri baginya. Melihat Nisha begitu tidak berdaya karena perlakuannya, membuat gairah Zico semakin memuncak. Tapi dia berusaha untuk menahannya. Dia ingin memberikan banyak kepuasaan terhadap Nisha.
Zico melepaskan Nisha. Dia menatap tubuh Nisha yang masih saja gemetar. Zico mulai membuka baju dan celananya. Menampakkan bagian tubuhnya yang sudah mengeras dari tadi, membutuhkan pelepasan.
Setelah tubuhnya sama-sama polos, Zico beranjak mendekati Nisha. Dia merengkuh tubuh Nisha, membaringkan tubuh lemas wanita itu di tengah ranjang. Dan berbaring di atasnya. Menyadari seseorang menyentuhnya, membuat Nisha membuka matanya. Dia melihat Zico yang balik menatapnya. Sekilas pikiran jernih merasukinya.
Nisha segera menutup dada dan bagian sensitifnya dengan kedua tangannya. Meskipun sudah sangat terlambat untuk melakukannya, tapi dia masih sangat malu melihat Zico menatap tubuhnya dengan tatapan kelaparan.
Semakin lama ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Mereka saling menikmati bibir masing-masing. Berusaha memuaskan dahaga yang mereka rasakan. Zico melepaskan bibirnya. Ciumannya mulai beralih ke leher Nisha. Memberikan cupangan kecil disana. Nisha menggelinjang kegelian.
Puas melakukan hal itu, Zico mulai kembali bermain-main dengan dada Nisha. Membuat tubuh Nisha bergetar untuk ke sekian kalinya. Nisha memeluk kepala Zico, menekan kepala laki-laki itu di dadanya.
Zico sudah tidak bisa menahan nafsunya lagi. Dia mulai memposisikan tubuhnya di atas tubuh Nisha. Zico mulai mengarahkan bagian tubuhnya pada bagian sensitive Nisha. Pelan-pelan Zico memasuki tubuh Nisha. Pelan namun pasti, semua bagian tubuh terbenam dalam tubuh Nisha dalam sekali hentakan.
Nisha berteriak terkejut. Merasa sakit di bagian kewanitaannya. Zico segera menutup mulut Nisha dengan mulutnya. Mengulum mulut wanita itu dengan lembut, sementara pinggulnya bergerak berirama.
Nisha mulai merasakan kenikmatan. Zico masih menciumnya, sementara bagian tubuh bawahnya tetap bergerak berirama. Napas keduanya mulai berat. Mereka benar-benar sangat menikmati percintaan itu.
Detik demi detik sudah berlalu. Satu menit, lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, empat puluh menit sudah berlalu. Tapi laki-laki itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengalami klimaks. Sudah belasan gaya Zico praktikan padanya. Napas Nisha menjadi semakin tersengal-sengal. Dia sudah tidak kuat lagi. Bila di lanjutkan lagi, dia khawatir akan segera pingsan.
Nisha berusaha berbicara. Zico menatap wajahnya dengan tatapan yang tak terbaca. Kemudian bibir seksinya tersenyum lucu. Bibir itu menciumnya dengan gemas.
“Aku akan menyelesaikannya sayang…” Zico merengkuh tubuh Nisha dengan lebih erat. Kemudian dia memulai memacu tubuhnya dengan lebih cepat. Keduanya semakin mendesah. Andai saja mereka berada di lingkungan perumahan biasa, mungkin desahan mereka akan terdengar oleh tetangga sekitarnya. Tapi mereka sedang berada di villa, sehingga yang bisa mendengar suara desahan mereka hanya para pelayan dan bodyguard yang sedang berjaga di luar.
Zico semakin cepat memacu tubuhnya. Irama gerakannya sudah mulai tidak beraturan. Dia mencium bibir Nisha dengan bernafsu. Sementara Nisha sepertinya sudah pergi ke surga ke tujuh. Zico semakin berpacu dan berpacu dan akhirnya dia menghentakkan tubuhnya kuat-kuat, menyirami Nisha dengan benihnya.
Zico mengerang. Tubuhnya bergetar dengan sangat hebatnya. Dia memeluk tubuh Nisha dengan sangat erat. Menciumi bibir wanita itu dengan kuat. Zico menarik tubuh Nisha, sehingga wanita itu berada di atas tubuhnya. Dia mencium kening Nisha dengan lembut.
“Terima kasih sayang…” bisiknya.
***
Haaaii readerss sayang... 🥰😘
Maaf ya, untuk Ch 72 mengalami proses editing. Alasannya karena chapter ini terlalu banyak mengandung konten dewasa, sehingga pihak mangatoon menghimbau untuk merevisinya. Mohon pengertian readers semua. Terima kasih 🥰🙏