
Nisha menyangka bahwa yang tengah memeluknya saat ini adalah Zico. Tapi begitu dia mendengar suara tak asing itu, Nisha langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang memeluknya. Seperti dugaannya, ternyata orang yang memeluknya adalah laki-laki yang suka ikut campur itu! Dia tidak sudi di peluk seperti itu.
“Le…lepaskan Aku!” Nisha berusaha melepaskan diri.
“Aku tidak akan melepaskanmu lagi Girl.”
“Dasar orang gila! Le…lepaskan Aku!!”
“Aku tidak mau.”
“Ak…Aku akan teriak.”
“Teriaklah sesukamu Girl. Aku tidak akan melepaskanmu.”
“To…tolong!! Tolong!! Ada orang aneh!” Nisha berusaha untuk berteriak. Ibu-ibu yang berada di taman mulai mendekati mereka. Ingin tahu apa yang sedang terjadi.
“To…tolong! Orang ini gila. Le…lepaskan Aku!!”
“Mas, lepasin mbaknya dong. Kasian loh mbaknya.” Seorang ibu-ibu berusaha membela Nisha.
“Dia istriku. Dia sedang ngambek. Kalian jangan ikut campur.” Daniel dengan santai berkata seperti itu tanpa melepaskan pelukannya pada tubuh Nisha. Para ibu-ibu mempercayai ucapan Daniel. Akhirnya gerombolan kecil itu mulai bubar. Meninggalkan Nisha dan Daniel.
“Ak…Aku bukan istrinya. Di…dia laki-laki gila. To…tolong Aku!!” Nisha kembali berteriak. Berusaha mengumpulkan massa kembali. Namun para ibu-ibu sepertinya lebih memilih untuk mempercayai ucapan Daniel. Mereka sama sekali tidak mempedulikan teriakan Nisha.
“To…tolong lepaskan Aku…” merasa kalah, Nisha mulai berkata lemah dengan nada memohon.
“Aku akan melepaskanmu asalkan Kamu berjanji tidak akan lari dariku.”
“Ak…aku…”
“Kalau Kamu tidak bisa, Aku akan terus memelukmu.” Daniel semakin mempererat pelukannya di pinggang Nisha. Membuat Nisha semakin jengah. Nisha takut Zico atau bu Retno melihat adegan ini. Dengan terpaksa dia mengikuti kemauan Daniel.
“Ba…baiklah… Ak…aku berjanji... le…lepaskan Aku…” Daniel tersenyum puas. Dia memutuskan untuk mempercayai kata-kata Nisha. Dia melepaskan pelukannya di tubuh Nisha, tapi tangannya masih tetap menahan lengan Nisha. Dia takut kucing kecil kabur lagi.
“A…ada apa? Ke…kenapa masih menggangguku? Kita sudah tidak ada urusan…”
“Berikan nomormu.”
“Nomor?”
“Iya. Berikan Aku nomor ponselmu.”
“A…aku tidak memiliki ponsel…”
“Girl, Kamu tidak boleh berbohong. Apa Aku harus melakukan hal seperti tadi?”
“Ti…tidak perlu…”
“Mana nomormu?”
“Un…untuk apa? Kita sudah tidak memiliki urusan lagi…”
“Itu kan menurutmu honey. Kamu masih berhutang padaku.”
“Hu…hutang?” Nisha bertanya dengan bingung.
“Yup. Apa Kamu lupa? Ketika Kamu pingsan Aku membawamu ke rumah sakit. Kamu berhutang tagihan itu.”
“Ta…tapi Aku pikir…”
“Kamu pikir Aku akan menggratiskannya? Hahaha… tidak ada yang gratis di dunia ini Sayang. Berikan nomormu. Aku akan mengirimkan tagihannya padamu.”
Nisha tampak bingung. Ahh, tagihan rumah sakit? Kira-kira berapa biaya yang harus di keluarkannya? Dia tidak memiliki uang. Memang dia memiliki dua kartu debit yang di berikan Zico padanya. Tapi dia tidak mau menggunakan kartu itu. Dia merasa tidak berhak menggunakan kartu itu. Lalu dengan apa dia harus membayar tagihan itu?
Nisha menyerahkan ponselnya dengan pasrah. Membiarkan Daniel menyimpan nomornya. Daniel menyimpan nomornya di ponsel Nisha, kemudian mulai melakukan panggilan di nomornya sendiri. Dengan puas dan senyum licik tersungging di mulutnya, Daniel menyerahkan ponsel itu pada Nisha.
“Ka…Kamu tidak perlu tahu…”
“Aku perlu tahu tempat tinggal debiturku. Aku takut debiturku akan kabur dan tidak membayar hutangnya…”
“Aku tidak akan kabur…”
“Apa jaminannya Girl? Kamu bisa saja mengganti nomormu dan menghilang bukan?”
“A…Aku tidak akan mengganti nomorku. Ka…Kamu bisa mempercayaiku. A…aku pasti akan membayar hutangku…”
“Aku akan lebih tenang bila mengetahui tempat tinggalmu Girl. Dimana Kamu tinggal?”
“Ak…Aku tinggal di sekitar sini…”
“Dimana lebih tepatnya?”
“Pokoknya di sekitar sini. A…Aku kerja ikut orang. Majikanku pasti tidak akan suka bila tahu ada orang yang mengunjungiku…”
“Apa Kamu bekerja ikut orang?”
“Iy…iya…”
Daniel memperhatikan penampilan Nisha dari atas sampai bawah. Sekilas pandang saja dia sudah tahu bahwa apa yang di pakai wanita itu bukan barang branded semua. Malah terkesan seperti barang murah yang banyak di temukan di pasar. Daniel memutuskan untuk percaya perkataan Nisha.
“Apa majikanmu tinggal di lantai sebelas gedung ini?”
“K…Kok Kamu tahu?” Nisha menatap Daniel dengan kaget. Dia takut Daniel mengetahui tempat tinggal Zico. Dia tidak ingin kedua laki-laki itu bertemu. Dia takut Zico mengetahui bahwa dia berbohong beberapa hari yang lalu. Dia takut Zico akan marah padanya.
“Terakhir bertemu denganmu di lantai sebelas. Aku tinggal di lantai paling atas. Kamu boleh mengunjungiku…”
“Ak…Aku tidak akan pernah mengunjungimu!”
“Kamu tidak ingin membayar hutangmu?”
“Mak…maksudku, Aku akan tetap membayar hutangku. Ta…tapi Aku tidak harus mengunjungi tempatmu…”
“Jadi maksudmu Kita bisa bertemu di tempat lain asalkan bukan di dalam apartemenku?”
Nisha mengangguk-anggukan kepalanya dengan ragu. Daniel tersenyum puas. Dia senang akhirnya bisa menangkap kucing kecil itu. Keputusannya untuk melupakan kucing kecil sudah di lupakannya. Dia memutuskan untuk tetap mengejar kucing itu.
“Girl, tampaknya Kamu sangat takut padaku. Aku akan membiarkanmu hari ini. Ingat untuk menyimpan nomorku. Jangan mengacuhkanku ketika Aku menghubungimu. Jangan coba-coba untuk kabur dariku lagi. Aku akan mencarimu di seluruh lantai gedung ini. Ingat itu, oke.” Daniel mendekati Nisha. Secepat kilat dia mencium kening Nisha sekilas sebelum berlari pergi sambil tertawa-tawa puas.
Nisha memegang keningnya. Menggosok bekas kecupan Daniel dengan keras. Merasa sangat tidak suka dengan sentuhan itu.
“Dasar laki-laki gila!!” Nisha berteriak keras setelah yakin Daniel tidak akan mendengar teriakannya. Hanya itu keberanian yang dimilikinya.
Nisha menatap ponselnya. Memeriksa nomor Daniel. Laki-laki itu menamai nomornya sendiri dengan sebutan “honey”. Nisha menjadi sangat gemas karenanya. Dengan segera Nisha mengganti nama kontak Daniel dengan sebutan “orang gila”. Nisha menghela napas panjang. Hah, sekarang dia memiliki hutang pada orang asing. Entah apa yang akan di lakukannya untuk melunasi hutang itu.
“Nona, maaf sudah membuat Anda menunggu terlalu lama. Sepertinya ini sudah siang. Tuan tidak akan suka bila melihat Nona berlama-lama di luar. Ayo Kita masuk Nona.” Bu Retno datang dengan tergopoh-gopoh. Perasaan bersalah menyelimuti wajahnya.
Nisha mengikuti kata-kata bu Retno. Andaikan dari awal dia mengikuti kata-kata wanita paruh baya itu, dia tidak akan bertemu dengan laki-laki gila yang suka ikut campur. Sepertinya untuk beberapa hari ke depan dia lebih baik tidak keluar dari apartemen. Tapi laki-laki itu sudah mengetahui nomornya. Laki-laki itu pasti akan tetap mengganggunya. Hah, apa yang harus di lakukannya sekarang? Sepertinya, mau tidak mau dia harus mengikuti perintah laki-laki itu. Asalkan laki-laki gila itu tidak mencarinya ke apartemen Zico, itu sudah cukup aman untuknya.
Nisha melangkah dengan lemas, mengikuti bu Retno yang lebih dulu berjalan di depannya. Dia berharap semoga ke depannya kehidupannya tidak akan lebih rumit dari ini.
***
Happy Reading 🥰😘