
"Pak, perusahaan A menuntut
Kita."
"Apa alasannya?"
"Ini surat tuntutannya Pak."
Vanno menyerahkan surat itu. Zico menerima dan membacanya dengan tenang.
"Siapkan tim pengacara Kita. Adakan
meeting segera."
"Baik Pak."
Sudah beberapa kali Zico mengalami masalah
tuntutan seperti ini. Biasanya hal itu di lakukan oleh perusahaan pesaing
melalui perusahaan yang berpartner dengannya. Meskipun kondisi kejiwaan dan
hatinya hancur, tapi bila menyangkut masalah perusahaan otak Zico masih
secemerlang biasanya. Dia menghadapi semua masalah itu dengan tenang.
Zico berjalan ke arah ruang meeting di
dampingi oleh Vanno. Kebetulan letak ruang meeting yang baru ini cukup jauh
dari ruangannya. Semenjak tahun lalu, perusahaannya telah berpindah ke gedung
yang lebih besar dan luas. Sedangkan gedung yang lama di jadikan sebagai kantor
cabang.
"Semua tim sudah berkumpul?"
"Sudah Pak. Hari ini Kita dapat
tambahan tim dari firma hukum X. Mereka juga telah hadir bersama Kita
Pak."
Zico hanya menganggukkan kepalanya.
Langkah kakinya tampak semakin cepat. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan tim
kuasa hukumnya yang baru. Dia berharap, dengan adanya tim baru ini akan semakin
memperkuat posisi perusahaannya.
Ketika ruang meeting sudah tampak di depan
mata, Vanno berjalan lebih dulu dan membuka pintu untuk bosnya. Dengan percaya
diri yang tinggi, Zico memasuki ruangan itu.
Zico melepaskan pandangannya pada seluruh
ruangan. Di ruangan itu terdapat setidaknya dua puluh lawyer. Dia ingin
mengenal tim kuasa hukumnya secara dekat. Satu per satu wajah-wajah yang ada di
sana di tatapnya. Dari satu wajah, beralih ke wajah lainnya. Dan dia mengenal
satu wajah disana, sangat mengenalnya!!
NISHA!!
Mata Zico tak bisa berpaling. Tatapannya
terpaku pada wajah yang selalu menghiasi hari-harinya selama lima tahun ini.
Sebuah wajah yang sangat di bencinya, namun juga di rindukannya. Tubuh Zico
gemetar. Dia tidak bisa mengontrol mimik wajahnya. Raut keterkejutan sangat
terlihat jelas di matanya.
Mata bulat itu menatapnya balik. Ekpresi
yang di tampilkan wajah itu juga tidak berbeda jauh darinya. Raut wajah
terkejut, panik, khawatir, takut, sedih bercampur menjadi satu. Keduanya saling
bertatapan dengan waktu yang lama.
"Selamat siang semuanya. Mungkin
untuk tim lawyer lama Kita sudah mengenal beliau. Untuk tim yang baru
bergabung, ijinkan Saya memperkenalkan beliau. Beliau adalah direktur PT.
ERPWare Indonesia. Seorang direktur yang masih muda dan dengan tangan dinginnya
bisa membuat perusahaan semakin besar, Bapak Zico Giovanno Putra."
Prok...Prok...Prok... ( semua orang yang
berada disana bertepuk tangan)
"Silakan mungkin ada yang mau di
sampaikan Pak." Vanno berkata pada Zico yang masih saja terdiam. Matanya
tidak bisa terlepas dari memandang wajah Nisha. "Pak? Pak?" Vanno
tetap memanggil-manggil Zico dengan berbisik. Ketika Zico tidak kunjung
merespon panggilannya, akhirnya Vanno menyentuh lengan Zico.
"Ya?!!" Zico tersentak kaget,
menatap Vanno dengan bingung.
"Silakan mungkin ada yang mau di
sampaikan Pak?"
"Ti-tidak. Ti-tidak. Kamu saja yang
menjelaskan pada mereka." Zico berkata dengan gugup. Pikirannya hilang
entah kemana. Vanno menatap bosnya dengan bingung. Tidak biasanya bosnya yang
biasanya penuh dengan kepercayaan diri itu menjadi gugup dan salah tingkah.
Pada akhirnya Vanno menjelaskan pokok permasalahan
perusahaan mereka. Zico masih menatap Nisha dengan tatapan tajam. Tubuhnya
masih tidak bisa berhenti gemetar. Pada akhirnya Zico memutuskan untuk keluar
dari ruangan itu terlebih dulu.
***
Nisha sampai di hotel ketika hari sudah
menjelang siang. Setelah membersihkan diri sejenak, dia mulai bersiap-siap
pergi ke perusahaan yang akan menjadi klien di firma hukumnya.
"Sudah siap Nis?"
"Sudah Bu."
"Kali ini Kamu harus menunjukkan
performamu dengan maksimal. Bila kasus ini berhasil, semakin banyak klien kelas
kakap yang akan Kamu dapatkan."
"Itu harapanku Bu."
"Kamu harus berhasil Nis. Tunjukkan
pada dunia, bahwa menjadi single mother itu bukan menjadi suatu kelemahan, tapi
kekuatan. Aku akan mendukungmu sampai berhasil Nis." Bu Atika yang berusia
empat puluhan itu memeluk Nisha dengan sayang. Dia sudah menganggap Nisha
sebagai adik sekaligus anaknya sendiri.
"Terima kasih Bu." Nisha balas
memeluknya.
Sepuluh menit kemudian, mereka telah
sampai di tempat tujuan. (Bu Atika sengaja memilih hotel yang letaknya dekat
dengan takjub. Benar kata bu Atika, kliennya kali ini akan menjadi tangkapan
besar baginya. Dia harus berhasil memenangkan kasus mereka!! Harus!!
Setelah bertanya pada resepsionis, Nisha
dan bu Atika pergi ke lantai tujuh belas dan mencari ruang meeting. Di sana
mereka bertemu dengan rekan sejawatnya. Bu Atika memperkenalkan Nisha sebagai
rekanannya.
Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya
klien yang di tunggu datang. Dua orang pria memasuki ruangan itu. Perhatian
Nisha langsung fokus pada satu orang yang tampak menonjol!!
DEG!!
Nisha menatap laki-laki itu dengan tidak
percaya. Perasaan terkejut, takut dan juga rindu menjadi satu. Di satu sisi dia
sangat takut Zico akan melakukan sesuatu padanya, tapi di sisi yang lain dia
juga sangat merindukan laki-laki itu. Lama Nisha menatap laki-laki itu dalam
diam. Kerinduan mengalir dalam hatinya.
Zico masih menjadi laki-laki paling tampan
yang pernah di temuinya. Meskipun tubuhnya menjadi sedikit lebih kurus dan ada
gurat-gurat kesedihan di wajahnya, namun dia masih tetap tampan. Wajahnya masih
terlihat angkuh. Matanya tampak dingin. Namun ada juga guratan kesepian di
dalamnya. Dulu mata itu pernah menatap hangat padanya.
Bibirnya terkatup rapat. Seolah-olah
menyatakan pada dunia bahwa dia tidak bahagia? Dulu bibir itu pernah tersenyum
dengan bahagianya. Dimana kehangatan itu? Dimana kebahagiaan itu? Apakah lima
tahun sungguh menghapus keceriaan dalam hidupnya?
Apa yang terjadi padanya selama lima tahun
ini? Apakah laki-laki itu benar-benar tidak bahagia? Padahal setelah
kepergiannya, dia berharap laki-laki itu bisa hidup dengan bebas dan bahagia.
Tapi kenapa menjadi seperti ini?
Nisha masih menatap Zico lekat-lekat. Alam
bawah sadarnya ingin berlari ke arah laki-laki itu dan memeluknya dengan erat.
Menyatakan bahwa dirinya senang bertemu dengan laki-laki itu lagi. Tapi pikiran
mencegahnya. Dia berharap Zico tidak menyadari keberadaannya dan
mengabaikannya. Dia takut Zico sangat membencinya dan memutuskan untuk
menyakitinya.
Nisha menundukkan wajahnya, berharap
dengan melakukan hal itu bisa mengalihkan perhatian laki-laki itu darinya.
Namun ternyata dia sudah terlambat, laki-laki itu sudah menyadari
keberadaannya. Pandangan mereka saling terpaut dan terkunci. Mereka tidak
peduli dengan orang sekitar. Yang mereka pedulikan hanya keberadaan satu sama
lain.
Kilatan rasa terkejut, marah, dendam,
benci dan kecewa tampak terlintas di wajah Zico. Nisha merinding ketakutan. Dia
takut Zico akan melakukan sesuatu padanya. Lama mereka bertatapan dalam diam.
Setelah di kejutkan oleh asistennya, baru Zico memutus kontak mata dengannya.
Tanpa berpamitan, dia mulai keluar dari ruangan itu.
Nisha menghembuskan napas lega begitu
mengetahui laki-laki itu keluar dari ruangan. Dia lega laki-laki itu masih bisa
mengontrol emosinya dan tidak melakukan sesuatu yang akan di sesalinya.
Nisha mencaci maki kebodohannya sendiri.
Seharusnya dia lebih mencari tahu tentang calon kliennya. Karena terbuai dengan
kehadiran bu Atika, dia jadi lengah dan tidak mencari tahu profil calon
kliennya terlebih dahulu. Andai saja dia tahu bahwa calon kliennya itu adalah
Zico, dia tidak akan menerima tawaran ini. Lima tahun ini dia berjuang untuk
menghindar dari buruan laki-laki itu, dan sekarang karena kecerobohannya
sendiri dia malah masuk ke sarang laki-laki itu dengan sendirinya, sungguh
sial!!
Setelah meeting ini selesai, dia berencana
akan mengundurkan diri dari bagian tim pengacara mereka. Tidak apa-apa bila
orang-orang menganggapnya tidak profesional. Lebih baik orang-orang menganggapnya
seperti itu daripada dia harus berurusan dengan laki-laki itu lagi. Dia harus
segera menyampaikan niatannya itu pada bu Atika.
Tanpa di sadarinya, meeting berlalu dengan
cepat. Lawyer yang berasal dari luar kota memutuskan untuk kembali ke hotelnya masing-masing
sedangkan yang masih dalam satu kota ada yang kembali ke kantornya sendiri dan
ada juga yang pulang. Bu Atika tampak bersemangat berbincang-bincang dengan
rekan yang di kenalnya, hingga beliau melupakan keberadaan Nisha yang
tertinggal di belakang.
Nisha menjadi orang terakhir yang keluar
dari ruangan itu. Dia berjalan sembari
melamun, pikirannya bercabang kemana-mana. Dia tidak menyadari ada seseorang
yang mengintainya dari kejauhan. Menunggu kesempatan untuk menangkapnya.
"Aakhhhpp!!" Nisha berteriak
terkejut ketika seseorang menarik tangannya dan memasukkannya ke ruang kosong.
Tangan orang itu menutupi mulutnya. Nisha menatap sosok itu dengan panik.
Ketika mata mereka bertemu, Nisha merasa sudah tidak bisa melarikan diri lagi.
Nasibnya sudah tamat!! Zico sudah menangkapnya!!
***
Hay-haaayy readerrrsskuu sayaaaangg...🥰
Akhirnya season 2 update juga. Maaf ya kalo penulisannya tidak maksimal.
Rencananya, untuk perilisan season 2 ini akan di awali dengan 10 episode. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang di luar rencana.
Pada akhirnya Saya hanya bisa menulis ala kadarnya saja. Mohon maaf ya para readers sayang.
Untuk chapter selanjutnya di usahakan untuk di update tiap hari. Bila tidak bisa update, Saya akan memberikan alasannya. (Mengaca pada pengalaman sebelumnya, author hilang tanpa kabar selama 3 minggu. Saya merasa sangat bersalah)
Semoga para readers bisa menikmati tulisan Saya yang penuh dengan kekurangan ini 😅
Peluk dan cium untuk kalian semua 😘😚😙🤗🤗
^ErKa^