Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 65 - Aku Tertangkap!!



"Pak, perusahaan A menuntut


Kita."


"Apa alasannya?"


"Ini surat tuntutannya Pak."


Vanno menyerahkan surat itu. Zico menerima dan membacanya dengan tenang.


"Siapkan tim pengacara Kita. Adakan


meeting segera."


"Baik Pak."


Sudah beberapa kali Zico mengalami masalah


tuntutan seperti ini. Biasanya hal itu di lakukan oleh perusahaan pesaing


melalui perusahaan yang berpartner dengannya. Meskipun kondisi kejiwaan dan


hatinya hancur, tapi bila menyangkut masalah perusahaan otak Zico masih


secemerlang biasanya. Dia menghadapi semua masalah itu dengan tenang.


Zico berjalan ke arah ruang meeting di


dampingi oleh Vanno. Kebetulan letak ruang meeting yang baru ini cukup jauh


dari ruangannya. Semenjak tahun lalu, perusahaannya telah berpindah ke gedung


yang lebih besar dan luas. Sedangkan gedung yang lama di jadikan sebagai kantor


cabang.


"Semua tim sudah berkumpul?"


"Sudah Pak. Hari ini Kita dapat


tambahan tim dari firma hukum X. Mereka juga telah hadir bersama Kita


Pak."


Zico hanya menganggukkan kepalanya.


Langkah kakinya tampak semakin cepat. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan tim


kuasa hukumnya yang baru. Dia berharap, dengan adanya tim baru ini akan semakin


memperkuat posisi perusahaannya.


Ketika ruang meeting sudah tampak di depan


mata, Vanno berjalan lebih dulu dan membuka pintu untuk bosnya. Dengan percaya


diri yang tinggi, Zico memasuki ruangan itu.


Zico melepaskan pandangannya pada seluruh


ruangan. Di ruangan itu terdapat setidaknya dua puluh lawyer. Dia ingin


mengenal tim kuasa hukumnya secara dekat. Satu per satu wajah-wajah yang ada di


sana di tatapnya. Dari satu wajah, beralih ke wajah lainnya. Dan dia mengenal


satu wajah disana, sangat mengenalnya!!


NISHA!!


Mata Zico tak bisa berpaling. Tatapannya


terpaku pada wajah yang selalu menghiasi hari-harinya selama lima tahun ini.


Sebuah wajah yang sangat di bencinya, namun juga di rindukannya. Tubuh Zico


gemetar. Dia tidak bisa mengontrol mimik wajahnya. Raut keterkejutan sangat


terlihat jelas di matanya.


Mata bulat itu menatapnya balik. Ekpresi


yang di tampilkan wajah itu juga tidak berbeda jauh darinya. Raut wajah


terkejut, panik, khawatir, takut, sedih bercampur menjadi satu. Keduanya saling


bertatapan dengan waktu yang lama.


"Selamat siang semuanya. Mungkin


untuk tim lawyer lama Kita sudah mengenal beliau. Untuk tim yang baru


bergabung, ijinkan Saya memperkenalkan beliau. Beliau adalah direktur PT.


ERPWare Indonesia. Seorang direktur yang masih muda dan dengan tangan dinginnya


bisa membuat perusahaan semakin besar, Bapak Zico Giovanno Putra."


Prok...Prok...Prok... ( semua orang yang


berada disana bertepuk tangan)


"Silakan mungkin ada yang mau di


sampaikan Pak." Vanno berkata pada Zico yang masih saja terdiam. Matanya


tidak bisa terlepas dari memandang wajah Nisha. "Pak? Pak?" Vanno


tetap memanggil-manggil Zico dengan berbisik. Ketika Zico tidak kunjung


merespon panggilannya, akhirnya Vanno menyentuh lengan Zico.


"Ya?!!" Zico tersentak kaget,


menatap Vanno dengan bingung.


"Silakan mungkin ada yang mau di


sampaikan Pak?"


"Ti-tidak. Ti-tidak. Kamu saja yang


menjelaskan pada mereka." Zico berkata dengan gugup. Pikirannya hilang


entah kemana. Vanno menatap bosnya dengan bingung. Tidak biasanya bosnya yang


biasanya penuh dengan kepercayaan diri itu menjadi gugup dan salah tingkah.


Pada akhirnya Vanno menjelaskan pokok permasalahan


perusahaan mereka. Zico masih menatap Nisha dengan tatapan tajam. Tubuhnya


masih tidak bisa berhenti gemetar. Pada akhirnya Zico memutuskan untuk keluar


dari ruangan itu terlebih dulu.


***


Nisha sampai di hotel ketika hari sudah


menjelang siang. Setelah membersihkan diri sejenak, dia mulai bersiap-siap


pergi ke perusahaan yang akan menjadi klien di firma hukumnya.


"Sudah siap Nis?"


"Sudah Bu."


"Kali ini Kamu harus menunjukkan


performamu dengan maksimal. Bila kasus ini berhasil, semakin banyak klien kelas


kakap yang akan Kamu dapatkan."


"Itu harapanku Bu."


"Kamu harus berhasil Nis. Tunjukkan


pada dunia, bahwa menjadi single mother itu bukan menjadi suatu kelemahan, tapi


kekuatan. Aku akan mendukungmu sampai berhasil Nis." Bu Atika yang berusia


empat puluhan itu memeluk Nisha dengan sayang. Dia sudah menganggap Nisha


sebagai adik sekaligus anaknya sendiri.


"Terima kasih Bu." Nisha balas


memeluknya.


Sepuluh menit kemudian, mereka telah


sampai di tempat tujuan. (Bu Atika sengaja memilih hotel yang letaknya dekat


dengan takjub. Benar kata bu Atika, kliennya kali ini akan menjadi tangkapan


besar baginya. Dia harus berhasil memenangkan kasus mereka!! Harus!!


Setelah bertanya pada resepsionis, Nisha


dan bu Atika pergi ke lantai tujuh belas dan mencari ruang meeting. Di sana


mereka bertemu dengan rekan sejawatnya. Bu Atika memperkenalkan Nisha sebagai


rekanannya.


Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya


klien yang di tunggu datang. Dua orang pria memasuki ruangan itu. Perhatian


Nisha langsung fokus pada satu orang yang tampak menonjol!!


DEG!!


Nisha menatap laki-laki itu dengan tidak


percaya. Perasaan terkejut, takut dan juga rindu menjadi satu. Di satu sisi dia


sangat takut Zico akan melakukan sesuatu padanya, tapi di sisi yang lain dia


juga sangat merindukan laki-laki itu. Lama Nisha menatap laki-laki itu dalam


diam. Kerinduan mengalir dalam hatinya.


Zico masih menjadi laki-laki paling tampan


yang pernah di temuinya. Meskipun tubuhnya menjadi sedikit lebih kurus dan ada


gurat-gurat kesedihan di wajahnya, namun dia masih tetap tampan. Wajahnya masih


terlihat angkuh. Matanya tampak dingin. Namun ada juga guratan kesepian di


dalamnya. Dulu mata itu pernah menatap hangat padanya.


Bibirnya terkatup rapat. Seolah-olah


menyatakan pada dunia bahwa dia tidak bahagia? Dulu bibir itu pernah tersenyum


dengan bahagianya. Dimana kehangatan itu? Dimana kebahagiaan itu? Apakah lima


tahun sungguh menghapus keceriaan dalam hidupnya?


Apa yang terjadi padanya selama lima tahun


ini? Apakah laki-laki itu benar-benar tidak bahagia? Padahal setelah


kepergiannya, dia berharap laki-laki itu bisa hidup dengan bebas dan bahagia.


Tapi kenapa menjadi seperti ini?


Nisha masih menatap Zico lekat-lekat. Alam


bawah sadarnya ingin berlari ke arah laki-laki itu dan memeluknya dengan erat.


Menyatakan bahwa dirinya senang bertemu dengan laki-laki itu lagi. Tapi pikiran


mencegahnya. Dia berharap Zico tidak menyadari keberadaannya dan


mengabaikannya. Dia takut Zico sangat membencinya dan memutuskan untuk


menyakitinya.


Nisha menundukkan wajahnya, berharap


dengan melakukan hal itu bisa mengalihkan perhatian laki-laki itu darinya.


Namun ternyata dia sudah terlambat, laki-laki itu sudah menyadari


keberadaannya. Pandangan mereka saling terpaut dan terkunci. Mereka tidak


peduli dengan orang sekitar. Yang mereka pedulikan hanya keberadaan satu sama


lain.


Kilatan rasa terkejut, marah, dendam,


benci dan kecewa tampak terlintas di wajah Zico. Nisha merinding ketakutan. Dia


takut Zico akan melakukan sesuatu padanya. Lama mereka bertatapan dalam diam.


Setelah di kejutkan oleh asistennya, baru Zico memutus kontak mata dengannya.


Tanpa berpamitan, dia mulai keluar dari ruangan itu.


Nisha menghembuskan napas lega begitu


mengetahui laki-laki itu keluar dari ruangan. Dia lega laki-laki itu masih bisa


mengontrol emosinya dan tidak melakukan sesuatu yang akan di sesalinya.


Nisha mencaci maki kebodohannya sendiri.


Seharusnya dia lebih mencari tahu tentang calon kliennya. Karena terbuai dengan


kehadiran bu Atika, dia jadi lengah dan tidak mencari tahu profil calon


kliennya terlebih dahulu. Andai saja dia tahu bahwa calon kliennya itu adalah


Zico, dia tidak akan menerima tawaran ini. Lima tahun ini dia berjuang untuk


menghindar dari buruan laki-laki itu, dan sekarang karena kecerobohannya


sendiri dia malah masuk ke sarang laki-laki itu dengan sendirinya, sungguh


sial!!


Setelah meeting ini selesai, dia berencana


akan mengundurkan diri dari bagian tim pengacara mereka. Tidak apa-apa bila


orang-orang menganggapnya tidak profesional. Lebih baik orang-orang menganggapnya


seperti itu daripada dia harus berurusan dengan laki-laki itu lagi. Dia harus


segera menyampaikan niatannya itu pada bu Atika.


Tanpa di sadarinya, meeting berlalu dengan


cepat. Lawyer yang berasal dari luar kota memutuskan untuk kembali ke hotelnya masing-masing


sedangkan yang masih dalam satu kota ada yang kembali ke kantornya sendiri dan


ada juga yang pulang. Bu Atika tampak bersemangat berbincang-bincang dengan


rekan yang di kenalnya, hingga beliau melupakan keberadaan Nisha yang


tertinggal di belakang.


Nisha menjadi orang terakhir yang keluar


dari ruangan itu.  Dia berjalan sembari


melamun, pikirannya bercabang kemana-mana. Dia tidak menyadari ada seseorang


yang mengintainya dari kejauhan. Menunggu kesempatan untuk menangkapnya.


"Aakhhhpp!!" Nisha berteriak


terkejut ketika seseorang menarik tangannya dan memasukkannya ke ruang kosong.


Tangan orang itu menutupi mulutnya. Nisha menatap sosok itu dengan panik.


Ketika mata mereka bertemu, Nisha merasa sudah tidak bisa melarikan diri lagi.


Nasibnya sudah tamat!! Zico sudah menangkapnya!!


***


Hay-haaayy readerrrsskuu sayaaaangg...🥰


Akhirnya season 2 update juga. Maaf ya kalo penulisannya tidak maksimal.


Rencananya, untuk perilisan season 2 ini akan di awali dengan 10 episode. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang di luar rencana.


Pada akhirnya Saya hanya bisa menulis ala kadarnya saja. Mohon maaf ya para readers sayang.


Untuk chapter selanjutnya di usahakan untuk di update tiap hari. Bila tidak bisa update, Saya akan memberikan alasannya. (Mengaca pada pengalaman sebelumnya, author hilang tanpa kabar selama 3 minggu. Saya merasa sangat bersalah)


Semoga para readers bisa menikmati tulisan Saya yang penuh dengan kekurangan ini 😅


Peluk dan cium untuk kalian semua 😘😚😙🤗🤗


^ErKa^