
“Apa yang terjadi padanya?” Zico meraih Nisha kedalam pelukannya dan menggendongnya. Dia membawa Nisha ke kamar di ikuti oleh Bu Retno.
“Tadi Saya pergi belanja Tuan. Begitu pulang, Saya sudah melihat Nona terbaring di lantai…”
“Sayang…sayang… bangun sayang…” Zico menepuk-nepuk pipi Nisha dengan lembut. Namun Nisha tidak kunjung membuka mata. Keringat dingin tampak membasahi dahinya. Zico begitu panik. Akhirnya dia memutuskan untuk menelepon dokter Sofia dan dokter pribadinya yaitu dokter Zidan.
Dokter Zidan datang lebih dulu. Dia memeriksa tanda-tanda vital Nisha.
“Bagaimana dia? Apa yang terjadi padanya?” Zico bertanya dengan tak sabar. Raut wajah khawatir memenuhi wajahnya.
“Tekanan darah dan kadar gula darahnya cukup rendah Pak. Mungkin ini yang menyebabkan ibu Nisha tiba-tiba pingsan mendadak. Tapi untuk wanita hamil di usia kehamilan seperti beliau, sebenarnya cukup wajar bila beliau mengalami hal seperti ini…”
“Aku ingin dia sehat! Jangan samakan dia dengan wanita lain!”
“Ba…baik Pak.”
“Lakukan sesuatu agar dia kembali sehat!”
“Baik Pak. Untuk sementara Saya akan memberinya cairan infus untuk menstabilkan tekanan darah dan meningkatkan kadar gula darahnya…”
“Lakukan yang terbaik!”
“Baik Pak. Untuk selanjutnya mungkin Saya serahkan pada dokter OBGYN-nya. Karena dokter itu yang lebih mengetahui tentang rekam medik ibu Nisha.”
“Hem.”
Selesai memasang infus di tangan Nisha, dokter Zidan pamit undur diri. Kemudian dokter Sofia datang. Penjelasan dokter Sofia sama dengan dokter Zidan. Hanya saja dokter Sofia memeriksa bagian perut Nisha dengan lebih detail. Dia juga memeriksa bagian tubuh Nisha yang lain karena di khawatirkan terjadi flek dan pendarahan.
Karena di rasa tidak ada pendarahan dan flek, akhirnya dokter Sofia memutuskan agar Nisha di rawat di rumah saja. Tidak perlu opname di rumah sakit.
“Apa dia baik-baik saja?”
“Saya sudah memeriksa tubuh ibu Nisha secara detail Pak. Tidak ada flek atau pun pendarahan. Detak jantung janin juga masih kuat. Jadi di pastikan kondisi janin baik-baik saja…”
“Bagaimana dengan kondisi dia? Apa ada sesuatu yang serius?”
“Sama seperti penjelasan dokter sebelumnya. Ibu Nisha memilik tekanan darah rendah di ikuti dengan tingkat kadar gula yang juga rendah. Namun dokter sudah mengatasi masalah itu dengan memberikan ibu Nisha cairan infus beserta vitaminnya.”
“Itu tergantung dengan kondisi tubuh beliau Pak. Saya akan memerintahkan asisten Saya untuk bertugas di sini. Bapak tidak perlu khawatir. Asisten Saya akan menjaga ibu Nisha selama 24 jam…”
“Bagaimana tidak khawatir?! Anak dan istri Saya sedang sakit sekarang!” Zico berbicara dengan nada tinggi. Dokter Sofia memilih mengalah dan tidak berdebat dengannya.
Sesuai dengan janjinya, dokter Sofia menempatkan asistennya untuk menjaga Nisha. Atau lebih tepatnya hanya bertugas mengganti cairan infus. Karena yang bertugas menjaga sebenarnya adalah Zico. Laki-laki itu dengan setia dan sabar menunggu dan menjaga Nisha di samping tempat tidur.
Zico duduk di kursi yang di tempatkan di samping tempat tidur. Sesekali dia mengelap keringat yang menempel di dahi Nisha dan mengganti kompres di dahinya.
Zico sangat sedih melihat wanita itu terbaring tak berdaya seperti itu. Perasaan bersalah menggerogoti hatinya. Dia menyalahkan diri sendiri. Andaikan wanita itu tidak sedang hamil anaknya, pasti wanita itu tidak akan mengalami sakit-sakitan seperti ini.
“Maaf ya sayang, sudah membuatmu seperti ini…” Zico mengecup dahi Nisha dengan lembut. Sepanjang malam Zico menjaga Nisha. Tangannya tak henti-hentinya menggenggam dan mengecup jari-jemari Nisha. Hal itu dilakukannya berulang-ulang sampai dia ketiduran.
***
Tengah malam Nisha tiba-tiba terbangun. Nisha memegang dahinya. Demam di tubuhnya sudah turun. Nisha ingin mengubah posisi tidurnya, tapi dia merasa tidak nyaman dengan posisi tangannya. Nisha melihat tangannya dan dia melihat seseorang menggenggam tangannya dengan erat sembari tertidur.
Zico tertidur sembari menopang kepalanya dengan tangan. Sementara tangannya yang lain menggenggam tangan Nisha. Nisha menatap wajah Zico dengan perasaan campur aduk. Perasaannya sangat terombang-ambing. Di lubuk hatinya yang terdalam, dia mencintai laki-laki itu. Namun dia sangat sadar dengan posisinya. Dia tidak bisa memiliki laki-laki itu. Begitu pula dengan bayi ini. Dia tidak bisa memiliki mereka berdua.
Di sisi lain, laki-laki itu sudah memiliki tunangan. Yah, wajar saja kalau laki-laki setampan dan semapan Zico memiliki pacar. Bahkan akan sangat aneh kalo Zico tidak memilikinya. Tapi tunangan?! Laki-laki itu sudah bertunangan, dan dia yang menjadi penyebab hancurnya pertunangan mereka! Ya ampun, wanita macam apa dirinya? Menjadi penyebab hancurnya hubungan orang lain? Apakah pertunangan laki-laki itu akan kembali berlanjut bila dia dan janinnya pergi dari hidupnya? Mungkin laki-laki itu akan sedikit bersedih karena kehilangan bayi mereka? Tapi kesedihannya pasti tidak akan bertahan lama. Zico akan mendapatkan bayi lagi dari istri sahnya.
Apakah lebih bijak seperti itu? Haruskah dia benar-benar meninggalkan laki-laki itu? Tapi bagaimana dengan perjanjiannya? Dia sudah menandatangani perjanjian dengan Zico. Apakah laki-laki itu akan menuntutnya bila dia meninggalkannya? Zico sudah menelusuri latar belakang keluarganya. Ketika dia menghilang, pasti yang akan di cari pertama kali adalah keberadaan keluarganya. Bila Zico melakukan hal seperti itu, ibunya akan mengetahui kehamilannya dan akan sangat kecewa padanya. Dia tidak ingin melihat ibunya kecewa!
Lalu apa yang harus di lakukannya? Haruskah dirinya tetap seperti ini sampai anak ini lahir? Apakah memang sudah nasibnya seperti ini? Melepas laki-laki dan anak yang di cintai? Melupakan mereka untuk selama-lamanya? Hiks…
Nisha kembali menangis. Hatinya begitu sedih. Mungkin hal yang bisa dilakukannya saat ini adalah dengan menjauhi pria itu. Bila dia melakukannya, mungkin saja cintanya yang baru tumbuh ini perlahan-lahan akan semakin padam dan menghilang. Nyonya besar juga menyuruhnya untuk tidak menggoda dan mempengaruhi Zico (meskipun dia tidak mengerti maksud dari perkataan nyonya besar). Dengan menjauhi pria itu, dia yakin akan memenuhi permintaan nyonya besar.
Dan untuk bayinya… apakah memang tidak ada hal lain yang bisa di lakukannya untuk bayinya? Apakah memang dia harus menyerahkan bayi ini pada keluarga Zico? apakah memang tidak ada kesempatan baginya untuk bertemu dengan anak ini lagi ketika dia sudah lahir? Nisha memegang perutnya dengan protektif. Dia memeluk perutnya dengan kedua tangannya, seolah-olah sedang memeluk bayinya.
“Kecil, bagaimana ini? apakah ini hukuman buat Ibu karena dulu pernah berpikir untuk membuangmu? Kecil… Ibu sangat mencintaimu sekarang. Ibu ingin berada di dekatmu selamanya. Menyaksikanmu merangkak untuk pertama kalinya. Mengantarkanmu ke sekolah di hari pertamamu. Menyaksikan kelulusanmu. Melihatmu bertemu dengan pujaan hatimu dan menikah. Kecil… apakah memang benar-benar tidak ada cara agar Kita bisa bersama? Apakah nantinya Kita akan benar-bena berpisah dan tak akan bertemu lagi? Bagaimana caranya membuat hati ayahmu luluh dan membiarkanmu bersamaku? Kecil… apakah Kamu lebih senang tinggal bersama ayah atau Ibu? Kamu pasti lebih senang tinggal bersama ayah. Ayahmu orang yang hebat. Dia akan melakukan hal terbaik untukmu dalam segala hal. Dia akan memilihkanmu susu yang terbaik untuk pertumbuhanmu. Pendidikan yang paling baik untuk sekolahmu. Dan juga mungkin pasangan yang terbaik untukmu juga. Bila tinggal bersama Ibu, Kamu akan hidup dalam kekurangan. Ibu tidak memiliki apa-apa untuk diberikan padamu. Yang bisa Ibu berikan hanya cinta. Kecil…dari lubuk hati yang terdalam, Ibu sangat mencintaimu. Ingat itu ya Nak… Tolong jangan benci Ibu ya… “
Nisha menangis sesegukan dalam waktu yang lama. Sampai akhirnya dia lelah dan tertidur.
***
Happy reading 🥰😍