Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 85 - Mengungkap Kebenaran Part 2



Tubuh Zico bersimpuh. Dia seperti laki-laki yang sudah kalah dalam menjalani hidup. Mama mendekat, ingin meraih tubuhnya. Namun tiba-tiba Zico berbalik, tatapan mata membunuh menguasainya. Zico membanting semua barang yang ada di situ. Melempar semuanya.


“Aku tidak akan pernah memaafkanmu!! Kamu bukan seorang ibu!! Tega Kamu!! Boooyyyy!! Booyyyyy!!" Zico berteriak-teriak. Air mata mengalir dari sudut matanya. "Boy, maaf-maafin Papa tidak bisa melindungimu... Maaf karena Papa sudah menjadi ayah yang tak berguna huuu..." Zico menangis.


Dia tidak sadar dengan kehadiran Nisha dan Zoey di ruangan itu. Pelan-pelan mereka berdua mendekati Zico. Hati Nisha sangat terkoyak melihat kejadian di depan matanya. Zico, yang di kenalnya sebagai lelaki dingin, sombong, egois, keras kepala berubah menjadi laki-laki lemah yang menangisi kepergian anaknya. Hatinya sakit di penuhi oleh rasa bersalah. Airmata kembali berurai di mata cantiknya. Dia juga menangis sesegukan.


Nisha dan Zoey mendekati Zico. Pelan-pelan Nisha menurunkan Zoey. Menyuruh Zoey untuk memeluk Zico.


"Daddy..." Zoey memeluk Zico dengan sayang. Tangan kecilnya berusaha mengusap airmata di wajah Zico. "Kenapa Daddy nangis? Apa Glandma jahat ama Daddy?" Zico diam tidak menjawab, tangannya meraih tubuh kecil Zoey dan memeluknya.


Nisha mendekat pada Zico dan juga memeluknya. Bibirnya mengecup setiap airmata yang keluar di wajah Zico. Nisha juga ikut-ikutan menangis.


"Zi...maafkan Aku. Aku bersalah padamu." Nisha meraih wajah Zico dengan kedua tangannya. Berusaha untuk membuat laki-laki itu agar melihatnya. "Zi, lihat Aku. Lihat mataku."


Zico enggan untuk melihat. Hatinya masih kacau balau. Meskipun Mama yang merencanakan semuanya, tapi Nisha mengikuti kemauan ibunya. Mau tidak mau Nisha juga bersalah dalam hal ini.


"Zi!! Lihat Aku!! Lihat Zoey!! Apa Kamu tidak merasa dia mirip seseorang?" Nisha mengeluarkan satu lembar foto. Foto itu di dapatkannya dari kakak ipar. Nisha menunjukkan foto itu di depan wajah Zico, menyuruh Zico untuk melihatnya dengan jelas. Sekali lihat Zico tahu bahwa itu adalah foto Zoey. Ta-tapi mengapa dia merasa sangat familiar dengan baju, mainan dan latar belakang di foto itu. Ya, dia ingat foto itu!! Itu bukan Zoey, itu adalah dirinya ketika berusia 5 tahun!


"Apa Kamu sudah menyadarinya?"


"In-ini fotoku..." Zico meraih Zoey yang berada di pelukannya. Memandang wajah Zoey dan foto itu secara bergantian. Mengapa wajah Zoey sangat mirip dengan dirinya?! Apakah...Apakah... Zoey adalah...


Mata Zico mulai berkaca-kaca lagi. Dia tidak ingin terlalu berharap. Tapi kalau di bilang kebetulan, ini adalah kebetulan yang sangat sempurna.


"Ap-apakah di-dia..."


"Iya Zi. Zoey adalah boy. Dia adalah anakmu. Dia anak Kita. Boy-mu masih ada di sini. Dia masih bersama Kita." Nisha berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Zico berusaha mencerna informasi itu dengan baik-baik. Seketika otaknya menjadi kosong. Hanya kata-kata Nisha yang terngiang-ngiang di kepalanya. "Zoey adalah boy. Dia adalah anakmu. Dia anak Kita."


Be-benarkah apa yang di katakan Nisha? Benarkah Zoey adalah anaknya? Benarkah Zoey adalah boy? Putra yang di anggapnya sudah meninggal?


"Ja-jangan berbohong padaku. Ha-hari itu Aku melihat janin itu di depanku. Di-dia sudah tak bernyawa..."


"Zi!! Itu bukan putra Kita. Itu janin orang lain. Hari itu Aku tidak benar-benar mengugurkan kandunganku. Aku hanya berpura-pura. Boy tetap diperutku. Aku menjaganya dengan baik hingga dia sebesar ini..." Nisha berusaha memberikan penjelasan.


"Jangan berbohong padaku hanya untuk membuatku lebih baik. Aku sudah mengikhlaskan boy. Aku sudah memutuskan untuk menerimamu dan Zoey dan memulai lagi dari awal. Aku akan tetap mencintai kalian berdua tanpa Kamu melakukan hal seperti ini." Zico berdiri dari duduk bersimpuhnya. Tangannya tetap menggendong tubuh Zoey.


"Zi, apa yang Nisha katakan benar. Hari itu dia tidak benar-benar mengugurkan kandungannya. Bila Kamu tidak percaya, Kamu bisa menghubungi dokter itu langsung. Mama yang memanipulasi semuanya agar dia terlihat seperti itu. Itu Mama lakukan agar Kamu membencinya dan meninggalkannya. Kamu bisa melakukan test DNA lagi bila tidak percaya dengan perkataan Mama.”


Tubuh Zico kembali menjadi kaku. Dia menatap Zoey yang ada di pelukannya. Zoey balas menatap dengan mata besar dan jernihnya. Betapa miripnya wajah mungil ini dengan wajahnya sewaktu kecil dulu? Mengapa dia baru menyadarinya? Dari awal bertemu dengan bocah itu, dia sudah merasa sangat familiar dengan wajahnya. Mengapa dia tidak berpikir bahwa wajah itu sangat mirip dengan wajahnya?


“Ni-Nisha…” suara Zico bergetar.


“Ya?”


“Be-benarkah apa yang Kamu katakan?”


“Kamu tidak berbohong padaku hanya untuk membuatku lebih baik?”


“Tidak Zi. Aku tidak melakukan hal seperti itu.”


“A-apakah Zo-Zoey benar-benar Boy?”


“Iya Zi, Zoey adalah putra Kita. Dia adalah Boy…”


“Akkh, Huuuuuu…!!” Tiba-tiba Zico menangis dengan sangat keras. Tangannya memeluk tubuh Zoey dengan sangat erat. Dia menangis dengan tubuh bergetar. “Boyyy…Boyyy….Huuuuuu…” Zico menciumi wajah Zoey. Semua bagian dari tubuh Zoey tidak luput dari ciumannya. “Te-terima kasih karena masih hidup. Terima kasih karena sudah tumbuh menjadi anak yang sehat. Terima kasih karena sudah mau bertemu dengan Papa… Boyyy… Papa rindu... Papa mencintaimu. Papa mencintaimu. Papa sangat mencintaimu, Huuuu…” Zico menangis sesegukan.


Melihat Daddy-nya menangis, membuat Zoey ikut-ikutan menangis. Nisha menghampiri mereka dan memeluk ayah dan anak itu. Dia juga ikut-ikutan menangis. Dia tidak menyangka Zico akan di penuhi dengan emosi seperti itu. Bila dia tahu Zico sudah mengalami masa-masa berat karena di tinggal anaknya, dia tidak akan berlama-lama menyimpan rahasia ini sendirian. Sungguh kasian sekali nasib Zico.


“Maaf…Maafin Kami Zi…Maaf…” Nisha berbisik menyesal. Zico meraih tubuh Nisha ke dalam pelukannya. Mereka saling tangis-tangisan.


Zico menciumi wajah Nisha dan Zoey secara bergantian. Dia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah seperti ini. Malaikat kecilnya masih hidup. Wanita yang di cintainya menjaga dan merawat malaikat mereka dengan baik.


“Te-terima kasih. Terima kasih karena sudah menjaganya. Terima kasih karena sudah merawatnya. Terima kasih karena sudah mencintainya. Maaf-maafkan Aku yang tak berguna. Maafkan Aku tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik bagi anak Kita. Terima kasih sudah menjadi wanita yang kuat untuk anak Kita…” Zico berkata dengan penuh emosi. Dia mencium kening Nisha dengan lembut. Airmata tampak mengalir di wajahnya.


“Zoey, ini Papa. Zoey benar-benar anak Papa. Zoey akan tinggal sama Papa dan Mommy selamanya.” Zico memeluk Zoey dengan erat. Mencurahi anak itu dengan ciuman yang bertubi-tubi.


“Daddy?” Zoey tampak bingung.


Nisha kembali memeluk mereka berdua. “Pelan-pelan saja, nanti Zoey akan mengerti dengan sendirinya.” Nisha berbisik dengan lembut.


Di sudut ruangan tampak Mama dan kedua ipar menangis melihat bersatunya keluarga kecil itu. Mama sudah melakukan hal yang benar. Meskipun konsekuensi nantinya Zico akan sangat membencinya, tapi setidaknya untuk saat ini anaknya itu sudah menemukan kebahagiaan sejatinya. Pelan-pelan mereka pergi dari villa itu tanpa di ketahui oleh mereka.


***


Hai-hai readers sayang...🥰😘😍


Mohon maaf, mau sedikit memberi pengumuman kecil. Bagi yang tergabung di Grup Erka pasti sudah tahu ya. Utk hari ini sengaja update 2 eps, dikarenakan Saya sakit dan harus opname. Bad news-nya, untuk 2-4 hari ke depan kemungkinan besar Saya belum bisa update.


Mohon doanya ya readers semua 🥰


Sekali lagi mohon maaf ya. Bila sudah sembuh, saya akan update rutin seperti biasanya. Terima kasih readers semua, lope yuh All..


Hug & Kiss 😙🤗


^ErKa^


NB : Jangan Lupa VOTE-nya ya, terima kasih 🥰🤗