
“Girl, sedang apa?”
“Bukan urusanmu.”
“Kamu tidak boleh mengabaikanku Girl.”
“Suka-suka Aku. Mana tagihannya? Segera kirimkan padaku!”
“Calm down, Girl. Jangan terburu-buru. Waktu Kita masih banyak.”
“Aku tidak memiliki waktu untukmu!”
“Oh ya? Apa perlu Aku ke lantai sebelas sekarang juga?, xexexe”
“JANGAN!!”
“Kamu harus menuruti kata-kataku Girl. Temui Aku besok di café depan gedung jam 3 sore.”
“Aku tidak bisa keluar… majikanku tidak akan mengizinkan…”
“Kalau begitu Aku yang akan mendatangimu.”
“JANGAN!! Baiklah. Aku usahakan untuk datang…”
“Sedang chat dengan siapa? Kenapa wajahmu jadi serius begitu?” Tiba-tiba Zico datang dan duduk di sebelahnya. Membuat Nisha gelagapan. Dengan cepat Nisha meng-end chat percakapannya dengan Daniel. Dia tidak ingin Zico mengetahuinya.
“Bu…bukan dengan siapa-siapa…”
Zico menatap Nisha dengan pandangan menyelidik. Sebenarnya dia tahu kalau Nisha sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi dia tidak ingin mendesak wanita itu. Hubungannya dengan Nisha tidak sedalam itu. Dia tidak berhak memaksa Nisha untuk menyerahkan ponselnya agar dia bisa mengetahui isi percakapan itu. Tapi apapun isi percakapan itu, dia yakin bahwa itu bukan dengan laki-laki lain. Dia sudah menyelidiki latar belakang Nisha. Wanita itu begitu polos. Sama sekali belum pernah dekat ataupun pacaran dengan laki-laki lain. Dia adalah laki-laki pertama yang menyentuh wanita itu.
“Ayo tidur. Besok Aku ada penerbangan pagi.”
“Penerbangan?”
“Iya. Apa Aku belum mengatakannya? Aku besok akan ke luar kota.”
“Lagi?” Nisha bertanya dengan kecewa.
“Lagi? Apa Kamu keberatan Aku ke luar kota?”
“Ak…aku tidak keberatan…”
“Benarkah? Lalu mengapa wajahmu begitu kecewa seperti itu?”
“Ak…aku tidak kecewa. Mung…mungkin bayinya yang kecewa?”
“Yakin bayinya yang kecewa? Bukan ibu dari bayinya?” Zico menggoda Nisha.
“Aku tidak kecewa!” Nisha beranjak dari duduknya. Dia pergi ke kamar mereka dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Zico mengikutinya dari belakang. Senyum kecil tersungging di bibirnya yang sensual.
Tubuh Nisha membelakangi Zico. Sepertinya dia sengaja melakukan hal itu untuk menunjukkan sikap protesnya. Zico berbaring di sebelah Nisha. Dengan lembut dia menarik tubuh Nisha dan memeluknya dari belakang.
“Kamu marah?”
“Aku tidak marah…”
“Aku hanya akan pergi selama tiga hari.”
“Hemm…”
“Kamu mau ikut?”
“Emangnya boleh?” Nisha membalikkan tubuhnya. Menatap mata Zico dengan tatapan mata berharap.
“Besok Kita telepon doktermu. Sekarang ayo Kita tidur dulu.” Zico memutuskan untuk menyudahi pembicaraan. Tangannya merangkul tubuh Nisha dengan erat. Membuat Nisha meringkuk dengan nyaman.
Setelah bayinya lahir, dia tidak akan pernah merasakan pelukan ini lagi. Dia harus menyimpan memori ini rapat-rapat di bagian terdalam otaknya. Agar ketika dia merindukan pelukan laki-laki itu lagi, dia bisa memutar semua kenangan itu. Nisha memejamkan matanya dan tertidur dengan lelap.
***
Pagi harinya Zico menghubungi dokter kandungan mereka. Pada deringan pertama, dokter Sofia mengangkat panggilan itu. Secara garis besar dokter Sofia tidak melarang Nisha untuk bepergian dengan pesawat. Tapi dia menyarankan agar lebih baik tidak melakukan perjalananan itu bila tidak ada kepentingan mendesak. Zico menerima saran dokter Sofia dengan baik.
“Aku akan berusaha untuk pulang secepatnya.” Zico membujuk Nisha yang tampak berwajah muram.
“Aku akan berusaha pulang sebelum jadwal. Oke?”
“Hem…”
“Jadi gadis yang baik. Jangan menyusahkan bu Retno. Jangan keluar tanpa di dampingi bu Retno, oke?”
“Hem…”
“Boy, papa pergi dulu. Tidak boleh nakal dan rewel. Jangan membuat mama susah, oke?” Zico berlutut. Mengelus perut Nisha sembari berbicara pada janinnya.
“Hem…”
“Setiap sebelum tidur Aku akan melakukan panggilan video. Agar dia tahu bahwa Aku ada di dekatnya.”
“Iya…”
“Aku berangkat dulu. Jaga diri baik-baik.” Zico memeluk Nisha yang juga balas memeluknya. Airmata tampak akan bergulir di matanya, tapi Nisha berusaha menahannya. Haaahh, mengapa kehamilan ini mengubahnya menjadi wanita cengeng dan bodoh?
“Hati-hati dijalan…” Nisha melambai-lambaikan tangannya. Setelah melihat Zico menghilang di balik pintu, Nisha langsung berlari ke kamar dan menangis sepuasnya. Dia ingin ikut laki-laki itu. Dia tidak ingin jauh dari dia. Mengapa hormon bodoh ini membuatnya menjadi seperti ini? Menjadi wanita tak terkontrol yang memiliki ketergantungan terhadap laki-laki itu?
***
Nisha melihat jam di dinding. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 14.45 wib. Kurang lima belas menit lagi dari pertemuannya dengan si orang gila. Alasan apa yang akan di gunakannya pada bu Retno? Haruskah dia menggunakan cara yang sama seperti saat dia awal keluar dari apartemen?
Pada akhirnya Nisha menggunakan alasan yang sama. Bu Retno mau tidak mau pergi dari apartemen untuk memenuhi keinginannya. Nisha menggunakan kesempatan itu untuk pergi ke café di depan gedung. Sesampainya di café, Nisha melihat sekelilingnya. Dia berharap laki-laki itu tidak datang sehingga dia bisa segera pergi…
“Hei Girl, Aku di sini. Kemarilah.” Terdengar suara yang mulai familiar memanggil. Nisha menatap si pemilik suara dengan tatapan kecewa. Dengan lesu Nisha menghampiri Daniel yang sudah lebih dulu berada di café.
Daniel menatap wajah di depannya dengan gembira. Rasanya masih seperti mimpi dia bisa menemukan si kucing kecilnya. Daniel berdiri. Dia menarik kursi untuk Nisha dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
“Aku tidak bisa berlama-lama… Majikanku tidak tahu Aku di sini. Tunjukkan padaku tagihannya…”
“Hei Honey… jangan buru-buru. Waktu Kita masih panjang.”
“Waktuku tidak panjang! Bila majikanku tahu Aku di sini, dia akan marah…”
“Bagus kalau dia marah. Dia bisa memecatmu dan Kamu bisa bekerja untukku, hehe.”
“Da…dasar gila.” Nisha mengkretakkan giginya, berusaha menahan amarahnya. “Mana tagihannya? Tunjukkan padakuuu…” Suara Nisha melemah begitu melihat para waiter datang dengan membawa begitu banyak makanan di meja mereka. Seketika air liurnya mulai berproduksi dengan banyak, membuatnya harus kembali menelan air liur itu.
“Makan dulu Girl, setelah itu Kita akan membicarakan masalah Kita.” Daniel menyendok dalam jumlah besar daging lobster ke piring Nisha. Membuat Nisha tak kuasa menahan rasa laparnya. Tapi sebelum Nisha menyantap makanan itu, dengan curiga dia bertanya pada Daniel.
“Apakah makanan ini akan masuk dalam daftar hutangku?”
“Hahahahaha.” Daniel tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan polos itu.
“Tenanglah Girl. Makan lah dengan nyaman. Makanan ini tidak termasuk hutangmu.” Daniel berusaha meyakinkan Nisha. Setelah merasa yakin, Nisha akhirnya menyantap makanan itu dengan lahap.
Melihat banyaknya makanan seafood di depan mata membuat Nisha dan janinnya kalap. Dia menghabiskan semua makanan yang ada di meja. Sementara Daniel hanya melihatnya dengan tatapan takjub dan puas. Dia merasa bangga pada dirinya sendiri karena sudah berhasil menggugah selera makan wanita pujaannya.
“Gleeeeekkkkk.” Nisha bersendawa dengan sangat kerasnya. Dia menutup mulutnya rapat-rapat, merasa malu dengan tingkah lakunya sendiri. Daniel manatap Nisha dengan tatapan kaget dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha… Girl, Kamu sangat lucu, hahaha…”
“Di…diam!” Wajah Nisha memerah seperti kepiting rebus. Dia sangat malu dengan kelakuannya sendiri. Daniel masih tidak menghentikkan tawanya.
“Kalau Kamu masih tertawa, Aku akan pergi!”
“Oke…oke Girl, Aku akan berhenti…” Meskipun masih ingin tertawa, tapi Daniel berusaha menghentikannya. Tampak air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.
“Mana tagihannya?” Nisha menjulurkan tangannya. Sengaja tidak menatap wajah Daniel karena masih merasa malu dengan sikapnya.
“Oke Girl, karena Kamu sangat memaksa untuk melunasi hutangmu. Aku akan memberikan tagihannya…”
“Bukan Aku yang memaksa, tapi Kamu….” Daniel menjulurkan sebuah amplop berwarna putih. Nisha menerima amplop itu. Dengan tangan gemetar dia membuka isi amplop. Dia hanya berharap semoga tagihan itu tidak membuatnya terkena serangan jantung. Pelan-pelan Nisha mengintip isi surat itu dan dia benar-benar akan mengalami serangan jantung.
“In…ini tidak mungkin!! Tidak mungkin tagihannya sebesar ini!”
***
Happy Reading 🥰😘