
Daniel melihat pria di depannya dengan tatapan menilai. Selain tinggi dan tampan, pria itu juga sangat kompeten dan cerdas. Sungguh luar biasa sekali, di umurnya yang masih muda pria itu sudah berhasil mendirikan perusahaan softwarenya sendiri. Suatu perusahaan yang di pilih oleh ayahnya untuk bekerja sama dengan mereka pasti bukan perusahaan yang bisa di anggap remeh-temeh. Ayahnya bersama grup berhasil menjadi sepuluh orang terkaya di Indonesia karena ketajamannya dalam berbisnis. Pria ini berhasil menarik minat ayahnya pada perusahaannya dengan kemampuannya sendiri. Sungguh suatu prestasi yang patut di apresiasi.
Jika di lihat dari wajah dan penampilannya, sepertinya umur direktur muda ini tidak begitu berbeda jauh dengannya. Namun perbedaan keduanya terlihat sangat jelas. Pria itu sangat serius dan bersungguh-sungguh, tidak seperti dirinya yang lebih senang bermain-main.
Menjadi keluarga kaya sedikit membuatnya manja. Selama ini ayahnya selalu menuruti apapun kemauannya. Membebaskan dirinya untuk melakukan apapun yang ia mau. Hidupnya lebih banyak di habiskan dengan bermain-main. Bila boleh jujur, dia sangat tidak tertarik dengan perusahaan. Baginya tidak penting perusahaan akan menjadi seperti apa. Yang terpenting adalah ayahnya tidak menutup akses kartu tanpa batasnya dan semua fasilitas mewah yang di dapatkannya.
Kepulangannya ke Indonesia di penuhi dengan tipuan licik yang di mainkan keluarganya. Ayahnya berpura-pura sakit. Mau tidak mau dia harus pulang ke Indonesia. Tanpa di sangkanya, ternyata ayahnya sudah menyiapkan posisi untuknya di perusahaan. Membuatnya tidak bisa berkutik lagi dan harus menerima posisi itu. Tapi pulang ke Indonesia tidak melulu hal jelek yang di rasakannya. Karena pulang ke Indonesia lah dia juga bisa bertemu dengan kucing kecil…
Ahh… kenapa pikirannya selalu kembali pada kucing kecil? Dia sudah memutuskan untuk melupakan kucing itu. Dia harus berhenti memikirkannya. Harus benar-benar melupakannya. Tapi mengapa mata polos dan murni itu tidak bisa hilang dari pikirannya? Arrrgghhh!!
“Jadi system Kami memiliki proteksi yang tinggi. Kami akan bisa langsung melacak keberadaan peretas yang mencoba memasuki system. Untuk semua software yang di gunakan oleh perusahaan sudah Kami update dengan system Kami yang baru…bla…bla…bla…” Zico menjelaskan secara panjang lebar. Semua mata tertuju padanya. Mendengarkan presentasinya dengan sungguh-sungguh. Hanya Daniel yang tampak melamun. Tidak ada perkataan dari Zico yang merasuk ke dalam otaknya.
“Jadi Wakil Direktur, bagaimana menurut Anda? Apa ada yang kurang dari system Kami?” Zico balik bertanya. Perhatiannya terpusat sepenuhnya pada Daniel. Keputusan akhir tender ada pada Daniel. Melihat Daniel sama sekali tidak memperhatikan presentasinya membuat hatinya sedikit mencelos. Pikiran-pikiran buruk mulai bertebaran. Apa dia sudah gagal meyakinkan pria itu? Apa ada yang kurang dengan system buatannya? Apa ada yang salah dengan presentasinya? Dan pikiran-pikiran buruk lainnya.
Asisten Daniel menepuk lengan bosnya dengan lembut. Berusaha menyadarkan bosnya dari lamunan panjangnya.
“Ya? Ya?” Daniel menoleh pada asistennya. Terlihat bingung.
“Direktur Zico bertanya, mungkin ada yang kurang dengan presentasi beliau?” Asisten yang bernama Tito itu berbisik. Berusaha untuk membuat Daniel kembali pada dunia nyata.
“Tidak. Tidak ada yang kurang. Semua bagus. Perusahaanmu di pilih oleh Direktur grup secara langsung. Pilihan beliau pasti bagus.” Daniel berkata dengan ambigu dan melupakan kata-kata formal. Membuat yang berada di dalam ruangan saling berpandang-pandangan. Tatapan mata bertanya-tanya tampak bertebaran.
“Mungkin ada pertanyaan yang ingin Anda tanyakan?”
“Tidak. Tidak ada. Meeting Aku anggap selesai.” Daniel berdiri dari duduknya. Dia menghampiri Zico dan menjabat tangannya.
“Kedepannya Kita akan sering bertemu Mr. Zico. Senang berbisnis denganmu. Untuk draf kesepakatan akan Kami kirimkan kemudian. Kita bisa menentukan waktu untuk penandatangan MoU.”
Zico membalas jabat tangan itu dengan bingung. Menurutnya ini terlalu mudah. Apakah uang ratusan milyar bagi mereka sangat kecil hingga memutuskan kesepakatan begitu cepat?
“Senang juga bisa berbisnis dengan Anda Mr. Daniel. Semoga kedepannya perusahaan Kami bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan Anda.”
“Aku yakin dengan hal itu. Oh ya Mr. Zico, jujur saja Aku tertarik denganmu. Bisakah Kita berteman?” Daniel mulai bicara asal-asalan.
Zico menatap Daniel dengan pandangan curiga. Apakah pria ini gay? Yang tertarik padanya? Haruskah dia berteman dengannya? Tapi dari tatapan matanya sepertinya Mr. Daniel bukan tipe pria pecinta sesama jenis. Zico mempercayai intuisinya dan memutuskan untuk berteman dengan Daniel.
“Suatu kehormatan bisa berteman dengan Anda Mr. Daniel.”
“Lupakan formalitas. Panggil Aku Daniel. Dan Aku akan memanggilmu Zico, tidak keberatan kan?”
“Tentu saja tidak.”
“Bro, jam berapa pulang?”
“Pulang dari sini?”
“Biasanya jam tujuh atau jam delapan Saya sudah dirumah.”
“Oke. Jam tujuh Aku akan ke kantormu. Kita harus merayakan kerjasama Kita. Ada tempat bagus yang harus Kita kunjungi.” Daniel tersenyum lebar. Tangannya merangkul bahu Zico, seolah-olah mereka teman lama yang sudah sangat akrab.
Sebenarnya Zico sedikit risih dengan sikap Daniel padanya. Dia tidak terbiasa dekat dengan orang yang baru di kenalnya dan bersikap sok akrab seperti itu. Namun Zico tidak memiliki pilihan lain. Daniel sepertinya bukan pria jahat yang penuh dengan tipu muslihat. Dari sorot matanya masih terpancar sikap ingin bermain-main. Mungkin info yang di dapatkannya benar adanya.
Menurut informan, Daniel tipe pria yang masih suka main-main. Sama sekali tidak ada ketertarikan terhadap perusahaan. Kedatangannya ke Indonesia karena desakan dan tipu muslihat orang tuanya. Sama sekali tidak ada politik dalam setiap gerak-geriknya. Mungkin tidak ada salahnya bila dia berteman dengan pria yang perusahaannya akan menjadi rekanan terbesarnya. Malah mungkin bisa jadi pertemanan ini akan menguntungkannya di masa depan. Meskipun dirinya tipe pria yang mengandalkan kemampuan diri di bandingkan pendekatan secara personal, tapi tidak ada salahnya kan berteman dengan pria itu?
“Apa Kita perlu mengajak rekan satu tim?”
“Tidak…tidak perlu. Hanya Kita berdua saja. Apa Kamu keberatan?”
“Tentu saja tidak.”
“Baiklah. Jam tujuh Aku akan ke kantormu. Sedikit bocoran, sebaiknya Kamu mengganti bajumu dengan yang lebih casual.” Daniel berbisik. Matanya mengerling nakal. Seperti tatapan seorang anak kecil yang mengajak temannya untuk berbuat kenakalan. Zico tersenyum kecil. Sepertinya dia mulai bisa membaca tempat apa yang akan di kunjungi mereka.
“Baik Mr. Daniel. Saya akan menunggu kedatangan Anda.”
“Lupakan formalitas dan kesopanan. Panggil Aku Daniel saja.” Daniel menepuk-nepuk bahu Zico dengan penuh keakraban. Zico mulai terbiasa dengan sikapnya itu dan membiarkannya.
“Baiklah. Senang berteman denganmu Daniel.”
***
“Bagaimana pendapatmu?”
“Tentang apa Pak?”
“Daniel. Apakah bijak dekat dengan dia?”
“Menurut Saya itu akan menjadi kesempatan bagus Pak. Bila Bapak bisa berteman dengan wakil direktur, itu akan memuluskan proyek-proyek Kita berikutnya…”
“Aku dekat dengannya bukan karena menginginkan hal itu.”
“Tapi secara tidak langsung pertemanan Bapak akan memberikan efek yang baik bagi perusahaan Pak…”
“Apa menurutmu tadi Aku terlalu menjilat dia?” Zico bertanya tak yakin. Mempertanyakan sikapnya yang selalu mengiyakan perkataan Daniel dan merasa malu dengan dirinya sendiri.
“Tidak Pak. Menurut Saya Bapak telah bersikap sesuai dengan posisi Bapak. Hanya saja wakil direktur sepertinya masih menganggap perusahaan adalah tempat untuk bermain-main. Jadi belum ada keseriusan dalam setiap tingkah lakunya. Bila Saya direktur grup H, Saya akan menyesal telah memberikan posisi penting terhadapnya. Entah apa yang di pikirkan direktur grup H…” Gerry berkata dengan tatapan mata menerawang. Sementara Zico hanya terdiam, tidak menanggapi kata-katanya.
***
Happy Reading 🥰