Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 86 - Aku Sangat Mencintaimu



Hari itu Zico tidak mau berpisah sedikit pun dengan Zoey. Dia selalu memeluk Zoey dalam dekapannya. Dia takut Zoey akan menghilang bila dia melepaskan pelukannya. Airmata tak henti-hentinya mengalir dari sudut matanya. Hampir setiap saat dia selalu menciumi wajah dan kepala Zoey dengan sayang.


“Daddy, Zoey mau tulun.”


“Tidak boleh.”


“Zoey mau maem…”


“Biar Mommy yang ambilin.”


Nisha sangat memahami perasaan Zico. Lima tahun dia berpisah dengan anaknya. Lima tahun pula dia hidup dalam perasaan bersalah dan penyesalan. Mengetahui anak yang di kiranya sudah meninggal ternyata masih hidup tentu saja menjadi kejutan yang membahagiakan dalam hidupnya. Nisha membiarkan Zico memuaskan rasa dahaganya.


“Zoey mau makan apa Nak? Mommy ambilin ya…” Nisha pergi ke ruang makan. Mengambil makanan yang ada di situ. Kemudian dia kembali ke ruang tengah. Dengan telaten dia menyuapi Zoey yang berada dalam dekapan Zico.


“Mihh… Gelah Miih, Zoey mau tulun…”


“Biarkan Daddy gendong Zoey ya. Daddy masih kangen sama Zoey…”


“Zoey gak tuh. Kan tadi pagi udah ketemu Mih. Masak kangen telus, Huh…” Zoey memonyongkan mulutnya. Nisha tidak bisa menahan senyumnya. Mata Zico masih tidak lepas dari Zoey. Dia masih takjub melihat miniatur dirinya di depan mata. Tatapan mata kagum sangat terlihat di wajahnya.


“Dia sangat tampan. Sangat mirip denganku…” Katanya bergumam.


“Dia tampan karena Mommy-nya cantik. Kalau Mommy-nya biasa-biasa aja, dia tidak mungkin setampan itu.” Nisha tidak mau kalah.


“Hei lihatlah. Tidak ada bagian dari dirimu yang ada padanya. Genku lebih kuat dari genmu.”


“Ya Tuan sombong dan tampan. Kalau genmu begitu kuat, kenapa Kamu tidak menyadari bahwa yang ada di depan mata itu adalah anakmu?” Nisha menyindir.


“Siapa yang memalsukan data kelahiran? Siapa yang membuat drama pengguguran?” Zico tak kalah pedas sindirannya. Membuat Nisha bersalah dan malu.


“Siapa yang memiliki keluarga yang berkuasa? Siapa yang tidak percaya dan meragukan anak yang Ku kandung adalah anaknya? Bahkan sampai melakukan test DNA? Padahal dia sendiri yang sudah mengambil keperawananku. Begitu masih meragukan anak yang Ku kandung.” Nisha membalas tak kalah nyinyir.


Zico tersenyum kecil. Dia menarik tubuh Nisha dan mencium bibirnya dengan lembut.


“Maafkan Aku Ratuku. Hambamu ini bersalah.” Zico mengecupi bibir Nisha dengan lembut. Zoey tidak mau kalah, dia mencium pipi Nisha kuat-kuat.


“Jangan cium-cium Mommih!” katanya dengan cemburu. Zico dan Nisha hanya tertawa menyaksikan aksi lucu anak mereka itu.


“Terima kasih Sayang. Aku sangat bahagia.” Zico berbisik lembut. Nisha menatap mata Zico. Kedua mata laki-laki itu kembali berkaca-kaca.


“Maaf…Maafkan Aku karena sudah membohongimu. Maafkan Aku karena sudah membuatmu menderita. Aku merasa sangat bersalah…” Nisha menundukkan kepalanya.


“Penderitaanku selama ini tidak ada apa-apanya dengan kebahagiaan yang Kamu berikan Sayang. Ke depannya, Aku akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian. Aku akan melindungi kalian dengan segenap tubuhku. Aku tidak akan membiarkan keluarga Kita terpisah lagi.” Zico kembali mengecup kening Nisha dan Zoey bergantian.


“Ihhh, apasih Daddy. Dali tadi cium-cium Zoey telus. Zoey gak suka tauk.” Nisha dan Zico tertawa lucu melihat tingkah anak mereka.


***


Malam itu mereka tidur bertiga di kamar utama. Zoey berada di tengah-tengah. Zico memeluknya dengan posesif. Seolah-olah takut anak kesayangannya itu akan hilang.


“Ceritakan padaku semuanya.”


“Cerita apa?”


“Semua yang Kamu lakukan setelah meninggalkan rumah. Apa saja yang Kamu lakukan sampai mencapai posisimu saat ini?” Zico menatap Nisha dengan sendu. Perasaan cintanya terhadap wanita itu semakin bertambah besar. Nisha tidak pernah mengkhianatinya. Nisha membesarkan anak mereka dengan baik. Memberikan cintanya yang begitu besar terhadap putra mereka. Tidak ada harga yang cukup untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya terhadap wanita itu.


“Selepas dari klinik itu, Daniel membawaku ke luar negeri. Dia berusaha menahanku di sana. Tapi Aku bersikeras untuk pulang. Pada akhirnya dia mengizinkanku pulang dan membuatku menetap di Surabaya. Dia banyak memberikan bantuan padaku dan keluargaku. Aku banyak berhutang budi padanya.”


“Aku harus berterima kasih padanya. Selama ini Aku mengira Kamu sudah bersama dengannya. Memiliki anak dengannya. Setiap kali memikirkan hal itu membuatku hatiku terbakar cemburu…”


“Cemburu?”


“Ya, cemburu.”


“Benarkah si Tuan angkuh dan sombong memiliki rasa cemburu karena wanita biasa-biasa seperti Aku ini?” Nisha menyindir Zico.


“Sudahkah Aku mengatakannya?”


“Mengatakan apa?”


“Kalau Aku sangat mencintaimu.”


“Oh ya? Bisakah Aku mempercayainya? Tidakkah Kamu mengatakan hal ini karena Aku sudah membawa anakmu kembali?” Nisha bertanya dengan sangsi.


Nisha menatap Zico dengan berkaca-kaca. Dia beranjak dari kasur dan berpindah ke sisi Zico. Nisha memeluk tubuh laki-laki itu dari belakang.


“Maaf…Maafkan Aku… Aku tidak berpikir bahwa Kamu akan merasa sangat tersakiti seperti itu. Aku pikir, Aku lah pihak yang paling tersakiti dari perpisahan Kita. Aku begitu mencintaimu, hingga sangat menyakitkan rasanya ketika Kamu tidak mempercayaiku dan melakukan test DNA terhadap anak Kita. Terlebih ada pihak-pihak lain yang ingin Kita berpisah. Aku yang begitu bodoh. Aku mengikuti rencana mereka dan menyebabkan semua kekacauan ini. Andaikan dulu Aku melawan dan menolak permintaan mereka, mungkin Kita tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk bersatu…” Nisha menangis tersedu-sedu seraya memeluk Zico. Zico balas memeluknya dengan posesif.


“Maafkan Aku Sayang. Dulu Aku begitu bodoh. Aku terbakar kecemburuan yang besar. Kamu adalah milikku. Melihatmu bersama pria lain seperti itu membuat otakku tidak bisa berpikir. Yang ada hanya kemarahan saja. Maafkan Aku karena sudah tidak mempercayaimu. Seharusnya Aku tahu bahwa Kamu tidak akan melakukan hal rendah seperti itu. Kamu adalah gadis polosku yang hanya akan menjadi milikku.” Zico mencium kening Nisha dengan lembut. Nisha membalas dengan mengecupi pipi dan hidung Zico.


“Aku sangat mencintaimu, Ratuku…”


“Aku juga sangat mencintaimu, Tuan Sombongku…” Nisha dan Zico berciuman dengan sangat dalam.


Zico meraba perut Nisha dengan lembut. Dia merasa bersalah karena tidak berada di samping Nisha ketika wanita itu sedang mengandung anaknya.


“Bagaimana waktu hamilnya Zoey? Apa Kamu mengalami masa-masa sulit? Apa Zoey tetep rewel? Apa Kamu tetap muntah di pagi hari?”


“Semua sudah berlalu Zi…”


“Ceritakan padaku semuanya, Aku ingin mendengarnya…”


“Tenang saja Zi. Zoey tidak rewel kok. Mungkin dia tahu bahwa ayahnya sedang tidak bersamanya, jadi dia tidak minta aneh-aneh. Kehamilanku normal sampai saatnya melahirkan..."


"Ba-bagaimana ketika melahirkan? Apakah Kamu merasa kesakitan?" Zico bertanya dengan gugup. Dia tidak bisa membayangkan Nisha mengalami kesakitan ketika akan melahirkan dan dia tidak berada di samping wanita itu.


"Sakit lah Zi. Bagaimana ceritanya melahirkan tidak sakit? Tapi semuanya berjalan dengan lancar kok."


"Pasti Kamu mengutukku karena Aku tidak di sampingmu..."


"Hahaha, itu kulakukan tiap hari. Tapi itu memang pilihanku. Jadi Aku harus menjalani apa yang sudah menjadi keputusanku."


"Apa dia di lahirkan secara caesar?"


"Gak. Aku melahirkannya secara normal."


"Pasti sakit sekali. Andaikan Aku berada di sisimu..." Zico memeluk Nisha dengan sedih. Dia menyesal tidak bisa mendampingi wanita itu di masa-masa terberatnya.


"Sakit, cuman sebentar. Setelah itu gak sakit lagi. Duh, kenapa jadi bahas yang sedih-sedih sih? Bahas yang lain dong."


"Ke depannya Aku pasti akan mendampingimu melahirkan anak-anak Kita yang lain."


"Hemmm..."


"Aku ingin mendengar semuanya. Teruskan ceritamu."


"Cerita apa? Sudah ceritaku cukup sampai di situ saja."


"Sayang, Kamu pasti sedih. Melahirkan tanpa di dampingi suami..."


"Sedih sih, cuman tidak terlalu. Masih ada Ibu, Akbar, Alma yang mendampingi..." Nisha sengaja tidak menyebut nama Daniel, dia takut hal itu akan mengubah mood Zico.


"Ibu? Ahh, banyak hal yang harus kukatakan pada beliau, terutama permintaan maaf karena sudah banyak menyakiti putrinya..." Zico berkata dengan sedih.


Nisha mengecup kening Zico, "Ibu pasti akan memaafkanmu." Katanya berusaha untuk meyakinkan. Zico memeluk Nisha dengan sayang.


"Ceritakan, bagaimana Kamu bisa kuliah hukum dan jadi pengacara?"


"Sebenarnya tujuanku kuliah untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus. Aku sengaja mengambil hukum karena teringat kasus Kita. Aku takut sewaktu-waktu Kamu akan datang dan mengambil Zoey dari tanganku. Aku berusaha membekali ilmu hukum untuk melindungi Zoey..."


"Sayang... Aku tidak akan pernah mengambil Zoey dari tanganmu. Aku sangat mencintaimu, Aku juga sangat mencintai Zoey. Bagaimana mungkin Aku memisahkan orang-orang yang sama-sama Ku cintai? Aku akan hidup dengan kalian selamanya. Aku berjanji akan mendampingi kalian selamanya. Aku akan lengket pada kalian hingga kalian nantinya muak terhadapku. Aku tidak akan melepaskan kalian lagi." Zico kembali mengecupi bibir Nisha dengan ciuman manisnya. Ini adalah masa-masa paling indah dalam hidup mereka.


Malam itu mereka tidur bertiga. Zico mendekap Zoey di atas dadanya, sementara Nisha bergelung dengan nyaman di bahu Zico. Mereka tidur dalam kebahagiaan. Berharap kebahagiaan ini akan mereka rengkuh selama-lamanya.


***


Hai readersku sayang 🥰🥰


Untuk update masih slow ya, Saya masih belum pulang. Jadi belum bisa update sesuai jadwal. Terima kasih readers sayang yang masih setia menunggu. Hug & Kiss untuk kalian semua 🤗😘


^ErKa^


NB : Jangn lupa untuk VOTE-nya ya, hehe ✌️✌️✌️