
Nisha merasa sangat aneh. Dia menatap wajah tampan yang terbaring di sebelahnya. Awalnya dia sangat terkejut melihat pria itu di sampingnya. Namun sesaat kemudian dia mulai teringat, bahwa mereka sudah menikah. Tujuan pernikahan yang di lakukan pun untuk kenyamanan mereka berdua.
Nisha menatap wajah itu lekat-lekat. Selagi sang pemilik tubuh sedang tidur, Nisha ingin memuaskan pandangan matanya. Dia menatap kesempurnaan dari Zico. Wajah pria itu begitu tampan. Tidak ada bagian dari wajahnya yang tidak sempurna. Tuhan menciptakannya begitu sempurna sehingga akan membuat iri mahluknya yang lain.
Tanpa sadar Nisha menjulurkan tangannya. Dia meraba alis Zico yang tebal. Mengikuti alur yang sudah tercipta. Alis yang begitu hitam dan tegas. Tangan Nisha berhenti ketika melihat bulu lentik dan lebat di mata Zico yang tertutup rapat. Sebagai seorang wanita dia merasa sangat iri melihatnya. Kenapa seorang pria bisa memiliki bulu mata selentik ini? Tuhan sungguh sangat tidak adil!
Puas menyusuri dan mengagumi, Nisha mulai memperhatikan bibir Zico. Sebelumnya dia tidak pernah merasakan jatuh cinta dan berpacaran. Pengalamannya dengan laki-laki boleh di bilang nol. Hanya karena satu kesalahan saja dia bisa hamil. Mungkin bagi orang yang belum mengenalnya, dia akan di nilai sebagai perempuan murahan yang memberikan tubuhnya dengan sangat mudah. Tentu saja itu tidak benar. Mereka berdua tahu hal itu.
Nisha kembali memperhatikan bibir Zico. Apakah ini bibir yang sama yang dulu pernah menciumnya dengan brutal? Apakah semua ciuman memang seperti itu? Apakah semua sentuhan harus sekasar itu? Itu tidak benar bukan? Dulu pria itu memperlakukannya dengan kasar karena sedang mabuk. Buktinya sekarang pria itu memperlakukannya dengan baik. Tapi mengapa dia memikirkan hal-hal seperti itu? Bukan berarti dia ingin melakukan hal-hal seperti itu dengan Zico bukan? Mereka bukan pasangan yang sebenarnya. Mereka menikah hanya sementara. Setelah bayi ini lahir mereka akan berpisah dan tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.
Memikirkan hal itu membuat Nisha sedih. Dia menarik tangannya dari wajah Zico dan memutuskan untuk turun dari ranjang. Nisha berjalan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuhnya, dia pergi ke dapur. Berpikir untuk membuatkan Zico sarapan.
Nisha melihat bu Retno sudah berada di dapur. Bau masakan yang biasanya sangat menyengat tidak di rasakannya pagi ini. Gumpalan mual yang bergejolak di dalam perutnya juga tidak di ada. Benarkah itu semua karena dia tidur bersama Zico? Jadi teori Zico benar adanya? Nisha mengelus perutnya dengan lembut.
“Kecil, apa Kamu benar-benar ingin tidur dengan ayahmu? Apa Kamu benar-benar ingin dekat dengan Ayahmu? Kamu membuatku begitu menderita di setiap pagi hanya karena ini? Tujuanmu berhasil. Sekarang setiap malam Kamu bisa dekat dengan ayahmu. Dan seumur hidupmu, Kamu akan selalu bisa bersama dengan dia. Kamu senang dengan hal itu bukan?”
Nisha berkata dalam hati. Pikiran nantinya dia harus berpisah dengan ayah dan bayi itu membuatnya sedih. Apa dia mulai sayang dengan bayi ini? Mulai mencintainya? Dia tidak boleh menyayanginya. Bayi ini akan menjadi milik Zico. Dari awal dia hanya lah suatu alat perantara untuk menghadirkan bayi ini ke dunia. Dia sudah berjanji akan menyerahkan bayi ini pada pria itu. Dia tidak boleh berubah pikiran.
Selama ini Zico selalu memperlakukannya dengan baik karena dia sedang mengandung anaknya. Jadi dia tidak boleh menafsirkan sikap Zico kepadanya dengan perasaan lain. Dia harus membuang semua perasaan yang mungkin saja bisa timbul. Entah itu perasaan untuk Zico maupun bayi ini. Karena kedua-duanya bukan miliknya.
“Nona, apakah Anda mual-mual lagi pagi ini?” Bu Retno mendekat. Melihat Nisha yang tengah melamun dengan perasaan khawatir.
“Eh…tii…tidak Bu…”
“Syukurlah, Saya pikir Anda akan mual lagi. Saya sedang menyiapkan sarapan Anda dan Tuan. Silakan Anda menunggu di sini. Sarapan akan siap dua puluh menit lagi.” Bu Retno membimbing Nisha untuk duduk di kursi ruang makan.
“Aku ingin membantu…”
“Jangan Nona. Anda duduk di sini saja. Biarkan Saya yang menyiapkan semuanya.”
Setelah sedikit berdebat, akhirnya bu Retno membiarkan Nisha untuk membantunya. Biasanya Zico akan sarapan dengan secangkir kopi hitam, sandwich atau roti bakar dan satu buah Koran. Nisha sudah menyiapkan semua itu.
Nisha menatap jam di dinding. Biasanya jam tujuh pagi Zico sudah siap di meja makan dan tengah membaca koran. Jam sudah menunjukkan jam 06.50 WIB, namun pria itu masih belum menunjukkan batang hidungnya. Apakah dia masih tertidur?
Nisha memutuskan untuk melihat keadaan Zico. Pelan-pelan dia membuka pintu kamar dan mengintip keadaan di dalam. Dan seperti dugaannya, pria itu masih tertidur pulas. Kok bisa? Nisha melangkah ke dalam kamar dan duduk di atas ranjang. Dia bingung harus membangunkan atau membiarkannya saja. Dalam kebingungannya itu, Nisha merasa seseorang merangkul pinggang dan menariknya ke pelukannya. Dalam hitungan detik Nisha sudah berada di pelukan Zico.
“Le…lepaskan Aku…” Nisha berusaha meronta-ronta.
“Aku…tidak…akan…melepas…kan…mu…” Zico berkata dengan suara menggeram. Seperti orang yang sedang mengigau. Nisha memperhatikan wajah Zico. Dan sesuai dugaannya, pria itu masih memejamkan matanya dengan rapat. Tertidur dengan pulas. Nisha berusaha melepaskan diri, namun usahanya selalu berakhir dengan sia-sia. Akhirnya Nisha pasrah dan membiarkan Zico memeluknya.
Hampir dua puluh menit mereka berada di posisi tersebut. Nisha merasa kantuk mulai menyerang. Dia ikut memejamkan matanya juga. Ketika dia sudah mulai terbuai ke alam mimpi, dia di kejutkan oleh bunyi ketukan di pintu kamar mereka.
“Maaf Tuan dan Nona, Saya lancang mengganggu. Ada bapak asisten yang sedang menunggu Tuan.” Terdengar suara bu Retno di depan pintu kamar.
Nisha dan Zico sama-sama terbangun. Zico menatap Nisha dengan bingung. Tangannya masih merangkul tubuh Nisha dengan erat. Sadar dengan perbuatannya, Zico segera melepaskan rangkulan tangannya.
“Maaf… Aku tidak bermaksud…”
“I…iya gak apa-apa. Sepertinya pak asisten sudah datang…”
“Gerry?”
“iya…”
“Kenapa Gerry datang sepagi ini?”
“Sekarang sudah jam tujuh lebih, jadi wajar bila pak asisten sudah datang…”
“Apa?! Jam berapa?” Zico mengambil ponselnya dan menatap jam di layar ponsel. Untuk pertama kalinya dia bangun kesiangan. Ada apa dengan dirinya?
Dengan buru-buru Zico pergi ke kamar mandi. Sementara Nisha merapikan tempat tidur. Sebenarnya Nisha ingin membantu Zico menyiapkan baju-baju kerja seperti istri-istri pada umumnya. Namun kemudian Nisha sadar akan posisinya sehingga dia memilih untuk keluar dari kamar dan menemui bu Retno.
Lima belas menit kemudian Zico keluar dari kamar dengan berpakaian rapi. Tampak gagah, tampan dan berwibawa. Raut wajah setengah panik yang di tunjukkan tadi sudah tidak ada lagi. Di gantikan oleh tampang dingin, serius, dan sulit di dekati.
Apa dia bunglon? Yang berubah-ubah tergantung kondisi? Ketika bersamanya sikap Zico tidak sedingin ini. Malah terkesan hangat dan penuh perhatian. Tapi mengapa ketika sudah berhadapan dengan anak buahnya menjadi dingin seperti ini? Nisha tidak habis pikir.
Karena Gerry datang ketika mereka akan sarapan, sehingga Nisha juga mengajak asisten itu untuk sarapan. Selesai sarapan, Zico dan Gerry bersiap-siap untuk pergi.
“Jangan lupa makan yang banyak. Tadi masih mual?” tanya Zico mendekati Nisha yang di ikuti oleh tatapan tajam Gerry.
“Gak, gak mual…”
“Berarti caraku berhasil dong.” Zico tersenyum lebar, merasa sudah berhasil melakukan misinya. Nisha tidak menjawab, hanya tertunduk malu.
“Jaga diri baik-baik. Bila ada waktu, Aku akan meneleponmu. Bila ingin makan sesuatu, minta bu Retno untuk membuatkannya, oke?” Nisha mengangguk-anggukan kepalanya.
Zico meletakkan tangannya di kepala Nisha dan mengelus-ngelus rambutnya. Dari tatapan matanya sepertinya dia ingin mencium kening Nisha. Namun karena di situ sedang ada orang lain, Zico mengurungkan niatnya dan memilih untuk berangkat ke kantor tanpa mencium Nisha.
***
Happy Reading 🥰