
Nisha membawa Daniel ke sebuah cafe di dekat rumah. Di sepanjang perjalanan, dia sudah merangkai banyak kata
untuk di sampaikan pada Daniel. Tapi kata-kata itu bak hilang di terpa angin ketika berhadapan secara langsung dengan laki-laki tersebut. Nisha menjadi gugup dan salah tingkah.
Daniel memperhatikannya dengan sangat intens. Campuran emosi sangat terlihat di wajahnya. Nisha tidak berani
menatap wajah Daniel secara langsung. Yang bisa di lakukannya hanya tertunduk.
"Jadi Kamu memutuskan untuk kembali padanya?" Daniel membuka pembicaraan. Pertanyaan pertama itu
sedikit membuat Nisha tertegun. Dia tidak menyangka Daniel akan bertanya secara blak-blakan seperti itu.
"Di-dia ayah Zoey..."
"Ya, Aku tahu. Kamu belum menjawab pertanyaanku."
"Zoey membutuhkan ayahnya..."
"Jangan jadikan Zoey sebagai alasan. Aku menanyakan hatimu Girl. Apa Kamu masih mencintainya?"
"Daniel... Jangan bertanya seperti itu..."
"Jawab Girl, apa Kamu masih mencintainya?" Nisha memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Daniel.
Dia merasa tidak enak hati menjawab pertanyaan itu secara langsung. "Diammu Aku anggap sebagai 'iya'" Daniel berkata dengan sendu.
Nisha menatap wajah Daniel yang berusaha untuk tegar. Hati Nisha ikut merasakan sakit, namun dia tidak bisa
apa-apa. Hati dan tubuhnya sudah menjadi milik Zico. Sudah tidak tersisa lagi untuk di berikan kepada orang lain.
"Daniel..." Nisha memegang tangan Daniel.
"Jangan katakan apa-apa Girl. Aku tahu apa yang ingin Kamu katakan. Katakan padaku, apa sekarang Kamu
bahagia?"
"Iy-ya..." Nisha menjawab ragu.
Meskipun wajahnya berusaha untuk menahan emosi kesakitan karena patah hati, tapi Daniel tersenyum dengan tulus.
"Jika Kamu dan Zoey bahagia, maka Aku juga bahagia. Semoga Kamu dan Zoey akan bahagia selamanya
Girl..." Daniel mengambil tangan Nisha dan mengecup buku jarinya. Nisha tak kuasa menahan tangis. Airmata mulai mengalir di sudut matanya.
"Maaf-maafkan Aku..."
"Tidak ada yang perlu di maafkan Girl." Suara Daniel tampak gemetar. Nisha menangis sedih. Mengutuki dirinya sendiri yang sudah menyakiti hati orang sebaik Daniel.
Tiba-tiba Daniel berdiri. Memeluknya dengan erat dan mengecup keningnya. Kejadiannya berlangsung dengan
cepat, hingga Nisha tidak bisa bereaksi terhadap tindakannya. Setelah melakukan itu Daniel berjalan menjauh.
"Sampai berjumpa lagi Girl. Titip salam buat Zoey." Dia melambaikan tangannya tanpa menoleh pada
Nisha. Meninggalkan Nisha sendirian di cafe. Nisha menatap punggung menyedihkan itu sampai menghilang dari pandangannya. Perasaan sedih masih menyelimutinya.
"Maafkan Aku Daniel, dan terima kasih atas semuanya, semoga Kamu bahagia, huuu..." Bisik Nisha kembali menangis.
Nisha menghabiskan waktu sekitar setengah jam di cafe untuk menangis. Menangisi perasaan bersalahnya untuk
Daniel. Mensyukuri hidupnya karena Tuhan telah mempertemukannya dengan laki-laki sebaik Daniel. Nisha berharap Daniel akan menemukan kebahagiaannya sendiri, meskipun kebahagiaan itu tidak bersama dengan dirinya.
***
Nisha pulang ke rumah dengan perasaan yang masih galau. Pikiran dan hatinya masih terpecah belah. Dia
benar-benar melupakan keberadaan Zico yang tengah di bombardir pertanyaan oleh ibunya.
Nisha membuka pintu rumah. Suasana di dalam rumah tampak mencekam. Nisha terkejut melihat Zico berlutut di
depan ibunya.
"Ibu mau ke pasar dulu. Sebaiknya Kamu bawa dia pulang Nis." Ibu beranjak dari duduknya dan pergi
meninggalkan Zico yang masih duduk bersimpuh dilantai.
Entah Nisha harus tertawa atau sedih melihat pemandangan itu. Seorang direktur utama perusahaan software
Nisha mendekati Zico dan membantu pria itu untuk bangkit.
"Kenapa harus duduk bersimpuh segala? Ayo bangun."
"Aku berusaha mengambil hati beliau."
"Apakah berhasil?"
Zico menggelengkan kepalanya. "Gagal seratus persen." Katanya sendu.
"Oh kasian, sini-sini Aku peluk." Zico menyandarkan kepalanya di dada Nisha, minta di manja-manja.
Nisha menepuk-nepuk punggungnya dengan sayang.
"Ayo Kita pulang." Nisha mengajak.
"Mau kemana? Aku masih belum mendapat restunya."
"Restu dari Ibu tidak akan keluar hanya dalam satu kali pertemuan. Setidaknya saat ini Ibu sudah
mengenalmu. Lain kali Kita akan berkunjung lagi."
"Benar seperti itu?" Zico bertanya dengan sangsi.
"Benar lah. Kan Aku anaknya. Aku yang paling mengenal beliau. Dan juga, saat ini beliau menyuruhku
untuk membawamu pergi. Jadi Aku harus melakukan perintah beliau."
"Begitu kah?"
"Ya, ayo bersiap-siap. Aku akan mencari Zoey dulu."
Zico merenungi nasibnya yang mengalami penolakan. Hah, tapi dia tidak boleh pantang menyerah. Dia harus
berhasil mengambil hati Ibu, bagaimanapun caranya, semangat!! (Zico menyemangati dirinya sendiri) ðŸ¤
Nisha mengambil Zoey dari gendongan Alma. Setelah memberikan uang saku dan beberapa pelukan, dia berpisah
dengan adiknya itu. Dia menyusul Zico yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam
mobil.
"Apa hanya perasaanku saja ya?" Zico bergumam.
"Kenapa?"
"Entah mengapa Aku merasa adik perempuanmu juga membenciku..."
"Alma? Mana mungkin? Itu pasti hanya perasaanmu saja. Alma seorang gadis yang lembut, tidak akan
membenci orang tanpa alasan. Atau mungkin karena Kamu memang patut untuk dibenci, hahaha." Nisha tertawa lebar memikirkan hal itu. Zico menekuk wajahnya.
"Bagaimana dengan Daniel?"
"Di-dia? Dia baik-baik saja..."
"Dia mau menerima hubungan Kita?"
"Ya. Mungkin karena memang tidak ada pilihan..."
"Ya, Aku mengerti perasaannya." Zico terdiam. Sebenarnya dia juga ingin meminta maaf dan berterima kasih terhadap Daniel. Berkat laki-laki itu anak dan istrinya bisa hidup dengan nyaman tanpa kurang suatu apapun. Namun sepertinya Daniel masih terlalu emosi melihatnya. Butuh waktu bagi Daniel maupun Ibu Nisha dalam
menerima hubungan mereka. Semoga saja waktu itu akan datang secepatnya.
"Ayo Kita pulang ke rumah Kita." Zico memangku Zoey dan mencium kepalanya. Dia juga menarik Nisha ke
dekatnya dan mencium keningnya.
"Aku sangat mencintai kalian berdua. Semoga Kita akan selalu bersama selamanya."
"Kami juga mencintaimu Daddy..." Nisha dan Zoey balas memeluk Zico dengan hangat. Mereka berharap
semoga kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya.
^The End^