
“Mana dia?!!”
“Maaf Nyonya, Direktur sedang rapat. Tidak
bisa di ganggu…”
“Aku adalah istrinya!! Apa hakmu
melarangku untuk menemuinya?!!”
“Maaf Nyonya, Saya tidak bermaksud seperti
itu. Direktur hanya memberi perintah untuk tidak mengganggunya selama beliau
rapat…”
“Katakan padanya kalau istrinya datang!”
“Maaf Nyonya, Saya tidak bisa. Bila
berkenan, silakan Anda menunggu di ruang tunggu.” Asisten Direktur yang baru
satu tahun di pekerjakan oleh Zico itu menutup pintu ruang rapat. Menyisakan
Zevana dengan kemarahannya yang memuncak. Vanno kembali menghadap Zico.
“Siapa yang datang?”
“Maaf Pak, Nyonya sedang berada di depan…”
“Sudah Kamu usir?”
“Saya tidak berani Pak. Saya hanya
menyarankan beliau untuk menunggu di ruang tunggu…”
“Lain kali Kamu bisa mengusirnya. Bila
perlu kerahkan keamanan.”
“Ba-baik Pak…” Asisten Vanno sangat
kebingungan. Mengapa hubungan direktur dan istrinya sangat buruk?
“Ya sudah Kamu boleh pergi.”
“Baik Pak…”
Zico menatap berkas di tangannya.
Pikirannya sudah teralihkan. Kehadiran Zevana merubah mood-nya. Perasaan kesal
dan amarah menyelimutinya. Untuk apa wanita itu datang lagi? Apa uang yang dia
berikan sudah habis?
Zico mengambil cek di laci mejanya.
Menulis sejumlah angka kemudian menelepon sekretarisnya, menyuruhnya untuk datang
ke ruangannya.
“Iya Pak? Ada yang bias Saya bantu Pak?”
“Berikan ini pada dia. Segera usir dia.”
“Nyo-nyonya maksudnya Pak?”
“Ya.”
“Ba-baik Pak…” Indah mengambil selembar
cek yang di julurkan bosnya dan pergi dari ruangan itu. Zico menutup wajah
dengan tangannya. Frustasi dengan kehidupannya.
Selama lima tahun ini hidupnya sangat
tidak bahagia, bahkan boleh di bilang sangat menderita. Di hari ketika dia
melihat janin yang sudah tak bernyawa itu, hidupnya seakan-akan runtuh.
Perasaannya sangat sakit dan tertekan. Apalagi ketika dokter Zidan menyerahkan
hasil test DNA dan menyatakan bahwa bayi yang di kandung wanita itu adalah
anaknya, semakin tertekan dan hancur hidupnya. Perasaan menyesal, marah dan
kecewa tumbuh di dadanya. Dia menyesal karena sudah tidak mempercayai wanita
itu dan melakukan test DNA terhadap janinnya. Dia sangat marah dan kecewa
karena wanita itu pergi dengan laki-laki lain dan membunuh bayi mereka. Dia
menjadi gila!!
Tiga tahun pertama hidupnya penuh dengan
keterpurukan. Setiap hari yang di lakukannya hanyalah mabuk-mabukan, menangis,
dan menyiksa diri. Beberapa kali dia mencoba mengakhiri hidupnya, namun selalu
saja gagal. Keluarganya begitu prihatin dengan kondisinya sehingga memutuskan
untuk membawanya ke psikiater. Perlu waktu satu tahun untuk membuatnya kembali
menjadi manusia. Meskipun belum bisa menjadi manusia normal seutuhnya.
Selama setahun ini banyak hal yang sudah
terjadi. Dia berusaha kembali menata kehidupannya lagi. Dia mulai membangun
perusahaannya kembali yang sempat terpuruk karena di tinggalkan. Tanpa
sepengatahuannya, keluarganya menyiapkan pernikahan untuknya yang pada akhirnya
membuatnya menikahi Zevana, wanita yang tidak di cintainya.
Kehilangan seorang anak sangat menyakiti
hatinya. Sehingga Zico memilih untuk tidak memiliki anak lagi. Tanpa
sepengetahuan keluarganya dia melakukan vasektomi. Dia menolak untuk menyentuh
Zevana meskipun wanita itu mendekatinya dengan berbagai cara. Hatinya mati, di
ikuti dengan tubuhnya yang juga mati.
Hidupnya yang hampa hanya di penuhi dengan
satu misi, yaitu balas dendam!! Dia akan membalas dendam terhadap dua orang
yang sangat menyakitinya itu. Selama setahun ini, dia sudah berusaha mencari
keberadaan kedua orang itu. Menurut informasi yang di perolehnya, si pria
sedang berada di luar negeri tanpa di dampingi oleh wanita itu. Lalu dimana
wanita itu?!! Di sembunyikan dimana?!!
Setiap kali mengingat wanita itu
perasaannya mendidih oleh amarah. Berani-beraninya!! Berani-beraninya wanita
itu menggugurkan bayinya?! Awas saja jika bertemu, dia akan membuat hidup
wanita itu hancur! Sama seperti hidupnya yang telah di hancurkan olehnya!
“Sudah dapat info yang Aku minta?”
“Maaf Pak, masih belum dapat.”
“Kerahkan semua anak buahmu. Temukan dia
secepatnya. Mengerti?!”
“Baik Pak.”
Zico menutup panggilan teleponnya.
Perasaannya kembali mendidih oleh amarah.
***
Berbotol-botol minuman keras tampak berada di sampingnya. Dia menyesap minuman
itu sedikit demi sedikit. Rasa panas memenuhi dadanya, mengaburkan segala akal
sehatnya. Dia menatap foto di tangannya dengan perasaan hampa. Hatinya begitu
sakit dan sedih. Seperti ada rongga di dadanya yang tidak bisa hilang.
“AAARRGGHHH!!! ARRGGGHHHH!!
ARRGGGGHHHH!!!” Zico berteriak. Teriakan seorang pria yang begitu putus asa.
Teriakan yang sangat menyayat hati orang yang mendengarnya. Airmata membanjiri
wajahnya. Tangannya memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sakit. Dia
berharap, dengan melakukan hal seperti itu akan membuat rasa sakit di dadanya
menghilang. Mengapa kehilangan seorang anak sangat menyakitkan? Mengapa rasa
sakit ini tidak bisa hilang? Bila tahu rasanya akan semenyakitkan ini, dari
awal dia tidak akan pernah memiliki anak.
“ARRRGGHHHH!! ARRGGGHHH!! BOOYYYY!!!
BOOOOYYYYY!!! ARGGGHHH!!!” Zico berteriak-teriak dengan putus asa. Menciumi
foto USG di tangannya. Airmata mengalir deras di wajahnya.
Mendengar teriakan yang menyayat hati itu,
membuat asisten Vanno ikut meneteskan airmata. Dia menyandarkan tubuhnya di
balik pintu. Ikut merasakan apa yang di rasakan bosnya.
Setiap malam dia selalu menemani bosnya. Bosnya
akan menyendiri di ruang kantor, menghabiskan berbotol-botol minuman sendirian.
Kemudian teriakan sedih dan menyayat hati akan terdengar. Bosnya akan menangis
seperti itu selama berjam-jam. Hal itu selalu di lakukannya selama setahun ini.
Sebenarnya apa yang membuat bosnya sangat sedih dan menderita? Permasalahan
hidup apa yang membuat laki-laki tangguh itu menjadi begitu rapuh? Mengapa
laki-laki yang begitu perkasa, tegas, dingin, angkuh dan sangat cerdas itu
berubah menjadi laki-laki lemah tak berdaya seperti ini? Vanno menjadi
bertanya-tanya.
Setelah bosnya menghabiskan semua minuman
itu, dia akan jatuh pingsan atau mabuk berat. Di situ peran Vanno di butuhkan.
Dia akan membawa bosnya pulang ke apartemen mewahnya. Berhadapan dengan sang
nyonya rumah yang sangat pemarah.
***
Ting Tong Ting Tong (Vanno menekan bel
apartemen)
Setelah hampir lima menit menunggu,
akhirnya Zevana datang membukakan pintu untuk mereka.
“Mabuk lagi dia?!”
“Iy-iya Nyonya…”
“Dasar laki-laki tak berguna! Menyesal Aku
menikahinya! Bawa dia ke kamar!” Zee memberi perintah.
“Baik Nyonya.”
Dengan memapah tubuh bosnya, Vanno segera
membawa tubuh Zico ke kamar utama. Dia membaringkan tubuh Zico pelam-pelan.
Membuka sepatu dan kaos kakinya, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu dia
keluar dari kamar itu.
“Sudah selesai?!”
“Iya Nyonya.”
“Kamu boleh pergi.”
“Baik Nyonya. Tolong jaga direktur
baik-baik.”
“Heh, bukan urusanmu ya, Aku mau
menjaganya atau tidak! Cepat pergi!” Zevana mengusir Vanno dengan marah.
Vanno mengikuti kemauan Zevana. Dia segera
pergi dari apartemen itu. Sepeninggalnya Vanno, Zee pergi ke kamar. Dia melihat
Zico dengan tatapan jijik.
“Dasar laki-laki tak berguna! Kalau bukan
karena uangmu, sudah lama Aku mencampakkanmu!! Dasar laki-laki cacat!!
Laki-laki impoten!!” Zee meludahi tubuh Zico. Kemudian dia pergi dari kamar
itu.
Bukan tanpa alasan dia mengatakan
kata-kata itu. Selama setahun menikah, sudah berbagai macam cara di lakukannya
untuk membuat pria itu tidur dengannya. Tapi cara itu tidak pernah berhasil. Dia
sudah memberikan Zico obat perangsang, menggodanya dengan tubuhnya dan
menstimulasinya dengan cara lainnya. Tapi cara-cara itu tidak ada yang
berhasil. Kejantanan laki-laki itu benar-benar sudah mati. Laki-laki itu
benar-benar cacat. Tidak ada hal yang patut di banggakan dari laki-laki itu
selain uangnya!!
Sebenarnya yang paling di inginkan Zevana
dari Zico adalah seorang anak. Bila dia bisa melahirkan anak untuknya,
posisinya sebagai nyonya besar akan semakin kuat. Keluarga Zico tidak akan
berani untuk mencampakkannya. Ketidakberhasilannya dalam rencana itu membuatnya
sangat khawatir. Dia takut sewaktu-waktu Zico dan keluarganya akan
menendangnya. Bila itu terjadi, dia akan menjadi gembel. Semua kemewahan yang
di dapatkannya selama ini akan hilang. Dia tidak rela bila hal itu harus
terjadi!!
Di sisi lain, Zevana juga membutuhkan
kepuasaan batin. Karena Zico tidak bisa memberikannya, Zevana mencari kepuasan
itu di tempat lain. Tanpa sepengetahuan Zico dan keluarganya, setiap malam dia
akan mencari daun-daun muda untuk menemani malam-malamnya. Cara itu cukup
membuatnya betah berada di samping Zico untuk sementara waktu.
***