Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 52 - Dua Orang yang Saling Menghibur



Mama berpikir dengan sangat keras. Kehadiran Zevana


membuatnya sangat terkejut. Dia senang Zee telah kembali. Dengan kembalinya Zee


dia berharap anaknya akan segera kembali kepada tunangannya dan meninggalkan


wanita rendahan itu. Reaksi Zico yang menolak Zee sungguh di luar dugaannya.


Ini tidak seperti yang di bayangkannya.


Bukankah dari awal Zico mempertahankan wanita rendahan itu


hanya demi anaknya? Ketika anaknya sudah lahir, dia akan meninggalkan wanita


itu dan kembali kepada Zee. Bahkan menurut Gerry mereka menulis perjanjin


tentang hal itu. Lalu mengapa sekarang Zico menolak Zee? Apa Zico sudah tidak


mencintai Zee? Apa sekarang Zico sudah mencintai wanita rendahan itu? Hah, ini


tidak boleh di biarkan! Dia harus membuat Zico dan Zee kembali bersatu. Mereka


berdua di lahirkan hanya untuk disatukan. Tidak boleh ada orang lain yang


menghalangi takdir mereka! Dia harus membantu Zevana memisahkan mereka berdua.


Lalu, haruskah dia memberitahu Zee tentang status wanita itu


sebenarnya? Hah, Zee tidak perlu tahu mengenai wanita itu. Bila Zee tahu


tentang hal itu, dia akan menganggap Zico telah mengkhianatinya dan tidak akan


mau kembali bersama putranya itu. Sepertinya dirinya harus membereskan masalah


ini sendiri.


***


Zee menatap sekeliling kamar.  Dia sangat puas dengan apa yang di lihatnya. Dia berhasil membuat Mama


percaya padanya dan mengizinkannya untuk tinggal di Rumah Besar. Dengan tinggal


di Rumah Besar, dia akan lebih mudah untuk mengontrol emosi Mama Zico agar


semakin memihaknya.


Penolakan Zico sungguh membuatnya terkejut dan kecewa. Harga


dirinya sangat terluka. Dia yakin seratus persen Zico akan kembali menerimanya,


karena dia tahu laki-laki itu sangat mencintainya. Penolakan seperti ini


benar-benar di luar perkiraannya. Apa Zico benar-benar sudah tidak


mencintainya? Apa yang mengubah perasaan laki-laki itu? Mengapa perasaannya


berubah dengan sangat cepat? Apa ini berhubungan dengan ART bermata bulat itu?


Zico terlihat sangat panik ketika mengetahui bahwa dia telah


menyuruh ART itu keluar dari apartemen. Laki-laki itu bahkan tidak menghiraukan


kata-katanya dan berlari keluar mencari wanita itu. Sepertinya dia harus


menyelidiki hubungan mereka. Dia harus bersiap dengan kemungkinan terburuk


sekalipun. Tapi seburuk apapun situasinya, dia harus tetap menjadikan Zico


miliknya. Keluarganya sudah tidak menghiraukannya. Hanya keluarga Zico yang


bisa di jadikannya tempat bersandar. Hanya keluarga Zico yang mampu memenuhi


gaya hidupnya. Dia tidak butuh keluarga lain. Apapun caranya, dia harus


berhasil membuat Zico agar tetap bersamanya dan menikahinya.


***


Zico menatap sekeliling apartemen yang tampak sepi. Hanya ada


dirinya di ruangan yang luas itu. Dulu dia sudah terbiasa dengan kesendirian.


Malah dia merasa sangat nyaman bila sedang sendiri. Sekarang perasaan itu


hilang, di gantikan oleh perasaan kesepian.


Apakah dia sudah benar-benar terbiasa dengan kehadiran Nisha?


Mengapa sikap penolakan Nisha sangat menyakitinya? Seberapa pentingkah wanita


itu untuknya? Dia sudah benar-benar mengetahui perasaannya untuk Zevana, tapi


dia belum mengetahui perasaannya untuk Nisha. Apakah dirinya sudah jatuh cinta


pada wanita itu? Tapi itu tidak mungkin? Dalam hal apa wanita itu bisa


membuatnya jatuh cinta? Ahh, ini pasti bukan perasaan cinta. Ini pasti perasaan


sayang dan penghargaan seorang laki-laki terhadap wanita yang tengah mengandung


anaknya. Ya, pasti perasaannya hanya sebatas itu.


Tapi mengapa apartemen ini jadi sangat sepi. Kapan wanita itu


akan pulang dan bersamanya lagi? Haruskah dia menelepon bu Retno sekarang?


Zico menatap jam tangannya. Dia mengurungkan niatnya untuk


menelepon karena waktu sudah tengah malam. Di saat-saat seperti ini yang di


butuhkannya hanyalah cairan penghilang masalah. Dengan meminum cairan itu, dia


akan melupakan semua masalahnya. Haruskah dia minum sendiri? Zico mengambil


ponselnya. Menatap setiap kontak di ponselnya. Tidak ada orang yang benar-benar


Tanpa ragu dia menghubungi nomor itu.


Pada deringan kedua telepon di angkat.


“Yeah? Who’s


thiiiiisss?”


“Hey Bro, are you


okey?”


“No, I’m not. Who’s


speaking?Hrrrrr….”


(Karena Author gak bisa


bahasa Inggris. Jadi percakapan bahasa Inggris berikut Author tulis dalam


bentuk bahasa Indonesia ya, Mianne…hehe)


“Bro, ini Aku Zico. Kamu baik-baik saja kah? Suaramu tidak


terdengar baik…”


“Ohoo… bro Zicoooo… Yeaahhh, Aku baik-baik sajaaa… hanya


sedikitt… benar-benar hanya sedikiittt… sedikit patah hati sajaa…. Haaaahh…”


“Kamu dimana Bro?”


“Aku? Hahh… Aku hanya berada di apartemen kecilku… sendiri,


sedih…haaaahhh…” Suara Daniel tidak terdengar jelas. Sepertinya dia sudah


mabuk.


“Kamar berapa Bro? Aku akan ke atas.”


“Ya, ya… datang kesini… temani Aku minuumm.. Aku di kamar nomor


XX…Haaaahhh…”


Zico mematikan ponselnya dan segera pergi ke kamar yang di


maksud. Ketika dia butuh teman untuk minum, ternyata Daniel juga sedang minum.


Sepertinya waktunya sangat pas.


Zico masuk ke dalam apartemen Daniel. Dia melihat


sekelilingnya. Apartemen Daniel lebih luas di bandingkan dengan apartemennya.


Bila apartemennya di desain dengan gaya manly yang di dominasi oleh warna


abu-abu, sangat berbeda dengan apartemen Daniel. Apartemen itu di dekor dengan


sangat mewah. Tampak warna keemasan mendominasi tempat itu. Benar-benar tidak


sesuai dengan karakter Daniel yang bad


boy.


“Akhirnya Kamu datang Brooohh. Aku senang Kamu datang Brohh.


Aku sedih memikirkan bila harus menghabiskan minuman itu sendirian…” Daniel


menyambut Zico dengn wajah yang sudah merah. Matanya sudah tidak lagi fokus.


Zico menatap minuman yang memenuhi meja. Tanpa pikir panjang dia mengambil


salah satu botol minuman itu dan meminumnya seolah-olah sedang meminum air.


“Heyyy Broohh… sepertinya bukan Aku saja yang punya masalah…


Mari Kita minum sampai mati. Biar Kita bisa melupakan semua masalah ituuuuu…”


Mereka berdua meminum semua minuman itu sampai habis. Ketika


sudah habis, Daniel akan mengeluarkan koleksi minumannya lagi. Sepanjang malam


mereka minum sembari menceracau tentang masalahnya masing-masing. Tidak ada


yang benar-benar mendengarkan. Hanya saling menceracau mengeluarkan uneg-uneg


masing-masing.


Ketika semua minuman sudah  habis, mereka jatuh tertidur (atau pingsan??). Mereka tenggelam dengan


dunianya sendiri-sendiri. Merasa tidak ingin menerima kenyataan. Daniel tidak


ingin mengingat kenyataan, bahwa wanita yang di cintainya sudah menikah dan


jatuh cinta pada laki-laki yang di nikahinya. Dia ingin wanita itu bahagia.


Tapi alangkah bahagianya bila kebahagiaan itu datang dari dirinya.


Zico hanya ingin melupakan rasa sepinya karena di tinggal


Nisha dan berharap Zee tidak muncul lagi dalam hidupnya. Zico berharap Nisha


akan segera kembali padanya, bersikap seperti biasanya dan melanjutkan hidup


mereka yang sudah bahagia. Untuk masa depannya dengan Nisha, dia masih belum


mau memikirkannya. Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya. Dia hanya ingin


hidup tenang bersama dengan wanita itu, apakah itu harapan yang terlalu tinggi?


***