
Mama berpikir dengan sangat keras. Kehadiran Zevana
membuatnya sangat terkejut. Dia senang Zee telah kembali. Dengan kembalinya Zee
dia berharap anaknya akan segera kembali kepada tunangannya dan meninggalkan
wanita rendahan itu. Reaksi Zico yang menolak Zee sungguh di luar dugaannya.
Ini tidak seperti yang di bayangkannya.
Bukankah dari awal Zico mempertahankan wanita rendahan itu
hanya demi anaknya? Ketika anaknya sudah lahir, dia akan meninggalkan wanita
itu dan kembali kepada Zee. Bahkan menurut Gerry mereka menulis perjanjin
tentang hal itu. Lalu mengapa sekarang Zico menolak Zee? Apa Zico sudah tidak
mencintai Zee? Apa sekarang Zico sudah mencintai wanita rendahan itu? Hah, ini
tidak boleh di biarkan! Dia harus membuat Zico dan Zee kembali bersatu. Mereka
berdua di lahirkan hanya untuk disatukan. Tidak boleh ada orang lain yang
menghalangi takdir mereka! Dia harus membantu Zevana memisahkan mereka berdua.
Lalu, haruskah dia memberitahu Zee tentang status wanita itu
sebenarnya? Hah, Zee tidak perlu tahu mengenai wanita itu. Bila Zee tahu
tentang hal itu, dia akan menganggap Zico telah mengkhianatinya dan tidak akan
mau kembali bersama putranya itu. Sepertinya dirinya harus membereskan masalah
ini sendiri.
***
Zee menatap sekeliling kamar. Dia sangat puas dengan apa yang di lihatnya. Dia berhasil membuat Mama
percaya padanya dan mengizinkannya untuk tinggal di Rumah Besar. Dengan tinggal
di Rumah Besar, dia akan lebih mudah untuk mengontrol emosi Mama Zico agar
semakin memihaknya.
Penolakan Zico sungguh membuatnya terkejut dan kecewa. Harga
dirinya sangat terluka. Dia yakin seratus persen Zico akan kembali menerimanya,
karena dia tahu laki-laki itu sangat mencintainya. Penolakan seperti ini
benar-benar di luar perkiraannya. Apa Zico benar-benar sudah tidak
mencintainya? Apa yang mengubah perasaan laki-laki itu? Mengapa perasaannya
berubah dengan sangat cepat? Apa ini berhubungan dengan ART bermata bulat itu?
Zico terlihat sangat panik ketika mengetahui bahwa dia telah
menyuruh ART itu keluar dari apartemen. Laki-laki itu bahkan tidak menghiraukan
kata-katanya dan berlari keluar mencari wanita itu. Sepertinya dia harus
menyelidiki hubungan mereka. Dia harus bersiap dengan kemungkinan terburuk
sekalipun. Tapi seburuk apapun situasinya, dia harus tetap menjadikan Zico
miliknya. Keluarganya sudah tidak menghiraukannya. Hanya keluarga Zico yang
bisa di jadikannya tempat bersandar. Hanya keluarga Zico yang mampu memenuhi
gaya hidupnya. Dia tidak butuh keluarga lain. Apapun caranya, dia harus
berhasil membuat Zico agar tetap bersamanya dan menikahinya.
***
Zico menatap sekeliling apartemen yang tampak sepi. Hanya ada
dirinya di ruangan yang luas itu. Dulu dia sudah terbiasa dengan kesendirian.
Malah dia merasa sangat nyaman bila sedang sendiri. Sekarang perasaan itu
hilang, di gantikan oleh perasaan kesepian.
Apakah dia sudah benar-benar terbiasa dengan kehadiran Nisha?
Mengapa sikap penolakan Nisha sangat menyakitinya? Seberapa pentingkah wanita
itu untuknya? Dia sudah benar-benar mengetahui perasaannya untuk Zevana, tapi
dia belum mengetahui perasaannya untuk Nisha. Apakah dirinya sudah jatuh cinta
pada wanita itu? Tapi itu tidak mungkin? Dalam hal apa wanita itu bisa
membuatnya jatuh cinta? Ahh, ini pasti bukan perasaan cinta. Ini pasti perasaan
sayang dan penghargaan seorang laki-laki terhadap wanita yang tengah mengandung
anaknya. Ya, pasti perasaannya hanya sebatas itu.
Tapi mengapa apartemen ini jadi sangat sepi. Kapan wanita itu
akan pulang dan bersamanya lagi? Haruskah dia menelepon bu Retno sekarang?
Zico menatap jam tangannya. Dia mengurungkan niatnya untuk
menelepon karena waktu sudah tengah malam. Di saat-saat seperti ini yang di
butuhkannya hanyalah cairan penghilang masalah. Dengan meminum cairan itu, dia
akan melupakan semua masalahnya. Haruskah dia minum sendiri? Zico mengambil
ponselnya. Menatap setiap kontak di ponselnya. Tidak ada orang yang benar-benar
Tanpa ragu dia menghubungi nomor itu.
Pada deringan kedua telepon di angkat.
“Yeah? Who’s
thiiiiisss?”
“Hey Bro, are you
okey?”
“No, I’m not. Who’s
speaking?Hrrrrr….”
(Karena Author gak bisa
bahasa Inggris. Jadi percakapan bahasa Inggris berikut Author tulis dalam
bentuk bahasa Indonesia ya, Mianne…hehe)
“Bro, ini Aku Zico. Kamu baik-baik saja kah? Suaramu tidak
terdengar baik…”
“Ohoo… bro Zicoooo… Yeaahhh, Aku baik-baik sajaaa… hanya
sedikitt… benar-benar hanya sedikiittt… sedikit patah hati sajaa…. Haaaahh…”
“Kamu dimana Bro?”
“Aku? Hahh… Aku hanya berada di apartemen kecilku… sendiri,
sedih…haaaahhh…” Suara Daniel tidak terdengar jelas. Sepertinya dia sudah
mabuk.
“Kamar berapa Bro? Aku akan ke atas.”
“Ya, ya… datang kesini… temani Aku minuumm.. Aku di kamar nomor
XX…Haaaahhh…”
Zico mematikan ponselnya dan segera pergi ke kamar yang di
maksud. Ketika dia butuh teman untuk minum, ternyata Daniel juga sedang minum.
Sepertinya waktunya sangat pas.
Zico masuk ke dalam apartemen Daniel. Dia melihat
sekelilingnya. Apartemen Daniel lebih luas di bandingkan dengan apartemennya.
Bila apartemennya di desain dengan gaya manly yang di dominasi oleh warna
abu-abu, sangat berbeda dengan apartemen Daniel. Apartemen itu di dekor dengan
sangat mewah. Tampak warna keemasan mendominasi tempat itu. Benar-benar tidak
sesuai dengan karakter Daniel yang bad
boy.
“Akhirnya Kamu datang Brooohh. Aku senang Kamu datang Brohh.
Aku sedih memikirkan bila harus menghabiskan minuman itu sendirian…” Daniel
menyambut Zico dengn wajah yang sudah merah. Matanya sudah tidak lagi fokus.
Zico menatap minuman yang memenuhi meja. Tanpa pikir panjang dia mengambil
salah satu botol minuman itu dan meminumnya seolah-olah sedang meminum air.
“Heyyy Broohh… sepertinya bukan Aku saja yang punya masalah…
Mari Kita minum sampai mati. Biar Kita bisa melupakan semua masalah ituuuuu…”
Mereka berdua meminum semua minuman itu sampai habis. Ketika
sudah habis, Daniel akan mengeluarkan koleksi minumannya lagi. Sepanjang malam
mereka minum sembari menceracau tentang masalahnya masing-masing. Tidak ada
yang benar-benar mendengarkan. Hanya saling menceracau mengeluarkan uneg-uneg
masing-masing.
Ketika semua minuman sudah habis, mereka jatuh tertidur (atau pingsan??). Mereka tenggelam dengan
dunianya sendiri-sendiri. Merasa tidak ingin menerima kenyataan. Daniel tidak
ingin mengingat kenyataan, bahwa wanita yang di cintainya sudah menikah dan
jatuh cinta pada laki-laki yang di nikahinya. Dia ingin wanita itu bahagia.
Tapi alangkah bahagianya bila kebahagiaan itu datang dari dirinya.
Zico hanya ingin melupakan rasa sepinya karena di tinggal
Nisha dan berharap Zee tidak muncul lagi dalam hidupnya. Zico berharap Nisha
akan segera kembali padanya, bersikap seperti biasanya dan melanjutkan hidup
mereka yang sudah bahagia. Untuk masa depannya dengan Nisha, dia masih belum
mau memikirkannya. Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya. Dia hanya ingin
hidup tenang bersama dengan wanita itu, apakah itu harapan yang terlalu tinggi?
***