
Di peluk Zico membuat Nisha terdiam. Dia masih tidak percaya bahwa laki-laki itu ada di depan matanya. Kalau ini hanya mimpi, mengapa begitu nyata?
“Kenapa diam? Aku sudah pulang. Kamu tidak senang melihatku?” Zico bertanya dengan lembut. Membuyarkan semua lamunan Nisha. Dengan sendu Nisha menatap wajah Zico. Benar-benar ingin memastikan bahwa laki-laki yang sedang memeluknya ini adalah suaminya.
“Ke…kenapa sudah pulang? Katanya gak jadi pulang?”
“Kamu tidak senang melihatku?”
“Ak…aku senang…”
“Senang aja apa senang banget?” Zico balas menggoda.
“Se…senang aja. Emang ada senang banget?”
“Ya sudah, kalau begitu Aku balik lagi saja. Percuma dong bela-belain pulang pake penerbangan paling pagi kalau ternyata orang yang di harapkan malah tidak senang melihatku?” Zico melepaskan pelukannya. Pura-pura beranjak dari tempat tidur. Nisha langsung memeluk Zico dari belakang.
“Jangan pergi! Ak…Aku senang banget Kamu pulang! Beneran senang banget!” Nisha semakin erat memeluk Zico. Senyum kecil tersungging dari bibir Zico. Dia membalikkan tubuhnya dan balas memeluk Nisha.
“Kenapa tadi malam Kamu nangis?”
“Aku gak nangis.”
“Serius?”
“Ya. Itu hanya air yang keluar begitu saja…”
“Hem?
“Iya… Pasti dia kecewa begitu mengetahui ayahnya gak bakal nemenin dia kontrol lagi, makanya jadi kayak gitu…” Nisha ngeles.
“Oh ya?”
“He’em…”
“Sekarang dia sudah gak kecewa?” Nisha menggelengkan kepalanya. “Sudah gak sedih lagi?”
“Gak…”
“Mamanya sudah gak sedih lagi?”
“Gak…”
“Jadi sebenarnya yang sedih mamanya apa bayinya?” Zico bertanya dengan lucu. Ekpresi menahan tawa sangat terlihat jelas di wajahnya.
“Ak…Aku mau mandi!” Nisha melepaskan pelukannya dan berlari ke arah kamar mandi di ikuti oleh tawa Zico. Dia merasa benar-benar telah terkena jebakan batman!
***
Siang itu Zico menemani Nisha kontrol kandungan. Ketika sedang berada di dalam mobil, ponsel Nisha berdering. Nisha melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata panggilan itu dari si orang gila!! Dengan gugup Nisha cepat-cepat mereject panggilan itu.
“Telepon dari siapa? Kok dimatikan?”
“Bu…bukan dari siapa-siapa…”
“Yakin?”
“Iy…iya…”
Zico menatap Nisha dalam-dalam. Apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh wanita ini? Apa keluarganya sedang ada masalah? Apa Ibu dan adik-adiknya sedang sakit? Mengapa wanita ini tidak mau berbagi kesulitan dengan dirinya?
“Bila ada masalah, jangan ragu-ragu untuk bicara. Aku siap mendengarkan semua ceritamu.”
“G…gak ada masalah kok. Beneran…”
“Yakin?”
“Iy…iya…”
“Aku percaya padamu.”
Zico kembali menatap jalanan. Memfokuskan dirinya dalam mengemudi. Mengetahui Zico sedang tidak memperhatikannya, Nisha segera mematikan ponselnya. Berharap dengan melakukan hal seperti itu dia bisa terhindar dari gangguan si orang gila.
Di sepanjang jalan Zico nampak terdiam. Moodnya memburuk setelah mengetahui Nisha menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi mood jeleknya itu tidak bertahan lama. Wajah murungnya tiba-tiba berangsur-angsur menjadi ceria begitu melihat hasil USG bayinya.
“Sekarang usia kehamilan Ibu Nisha sudah memasuki minggu ke - 16. Di sini bisa Bapak lihat dari saluran kemihnya sudah terbentuk kelenjar prostat. Sehingga bisa di pastikan bahwa jenis kelamin bayi Bapak adalah laki-laki.”
“Laki-laki Dok?”
“Iya Pak.”
“Apa Pak Zico ingin bayi laki-laki?” Dokter Sofia bertanya.
“Sebenarnya laki-laki atau perempuan sama saja Dok. Yang penting kondisi janin dan ibunya sehat. Mereka berdua sehat kan Dok?”
“Dua-duanya sehat Pak. Bapak tidak perlu khawatir. Denyut jantung janin sangat kuat. Gerakannya juga sangat lincah. Kondisi Ibu Nisha juga baik. Berat badannya mulai naik secara signifikan. Tekanan darahnya juga normal, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.”
“Syukurlah. Saya lega mendengarnya Dok.” Zico menatap Nisha dengan sayang. Dengan lembut Zico mengusap-ngusap rambut Nisha.
“Dok, untuk jenis kelaminnya beneran laki-laki?”
“Iya Pak, Saya sangat yakin.”
“Dimana letak p*nisnya Dok? Saya tidak melihat adanya p*nis kecil di foto itu.” tanpa malu-malu Zico mengeluarkan unek-uneknya. Dokter Sofia tersenyum kecil sebelum menjawab.
“Pak Zico\, untuk p*nis bayi akan terbentuk paling banyak pada trimester ketiga. Berhubung sekarang usia kandungan Ibu Nisha baru memasuki minggu ke-16\, jadi yang bisa di lihat hanya pembentukan prostatnya saja. Untuk pembentukan t*stis akan terjadi pada minggu ke-26. Apa ada penjelasan Saya yang masih kurang jelas?”
Zico hanya mengangguk-angguk, pura-pura mengerti. Padahal masih banyak hal yang tidak di mengertinya.
Di perjalanan pulang Zico selalu menggenggam tangan Nisha. Tangannya tak henti-hentinya mengelus-ngelus rambut Nisha dengan lembut. Nisha tahu bahwa semua perhatian yang di dapatkannya itu semerta-merta karena bayinya. Zico melakukan itu bukan karena murni sayang padanya. Pikiran-pikiran seperti itu kembali membuatnya sedih.
“Ada makanan yang ingin Kamu makan?”
Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Atau ada tempat yang ingin Kamu kunjungi?”
Nisha kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Katanya Kamu ingin lihat Monas. Mau pergi sekarang? Mumpung Aku sedang luang.” Zico masih berusaha membujuk.
“Gak… Aku gak ingin kemana-mana. Aku ingin pulang.” Nisha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Zico.
“Kenapa moodnya jadi jelek seperti itu? Apa Aku berbuat salah? Kalau Aku berbuat salah, Aku minta maaf ya…”
“Gak…gak ada yang salah. Aku hanya lelah. Aku ingin pulang.” Nisha berpura-pura memejamkan matanya untuk menutup pembicaraan. Akhirnya Zico mengalah dan membiarkan Nisha beristirahat.
Sesampainya di gedung apartemen, Zico kembali menggendong Nisha dan membawanya ke apartemen mereka. Bu Retno dengan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka. Raut wajahnya terlihat heran sekaligus kebingungan begitu mengetahui tuannya sedang menggendong istrinya.
“Dia hanya tertidur. Sepertinya dia sangat kelelahan. Jaga dia untukku. Aku akan keluar sebentar untuk melakukan beberapa panggilan.”
“Baik Pak.”
***
“Jadi maksudmu Zico rela meninggalkan meeting penting itu hanya karena perempuan l*knat itu?!”
“Untuk alasan itu Saya kurang yakin Nyonya. Tapi untuk kepergiaan Pak Zico meninggalkan meeting itu benar adanya.”
“Apa Kamu sebelumnya pernah melihat Zico bertingkah seperti itu?”
“Selama Saya bekerja dengan beliau, Saya belum pernah melihat beliau mengabaikan sikap profesionalismenya seperti ini Nyonya…”
“Kamu bilang mereka sudah menikah siri beberapa minggu yang lalu?”
“Iya, itu benar Nyonya…”
“Apa Kamu sudah mengecek status mereka?”
“Iya Nyonya. Secara hukum mereka tidak di akui negara sebagai pasangan suami istri yang sah Nyonya.”
“Kamu harus terus pantau mereka.Laporkan setiap tindak-tanduk mereka padaku. Mengerti?”
“Mengerti Nyonya…”
“Sepertinya sudah saatnya Aku menemui wanita l*knat itu secara langsung!!”
***
Happy Reading 🥰😍