
“Hey boy, how are you?”
“Yeah Dad, I’m find…”…bla…bla…bla…(Daniel
dan Zoey bercakap-cakap dalam bahasa Inggris).
Nisha melihat putranya ber-video call
dengan Daniel sembari tersenyum. Setiap malam Daniel memang selalu menelepon
putranya. Entah apa saja yang mereka bicarakan. Zoey tampak sangat antusias
setiap kali Daniel meneleponnya.
“Mbul, ayo makan dulu Nak…”
“Wait fooo minutes Mom…”
“Panggil ‘Ibu’, bukan ‘Mom’.” Nisha
mengambil ponsel di tangan Zoey dan bertatapan dengan Daniel. Zoey tampak
memprotes.
“Hey Girl… Why you look so
beautiful…bla…bla…”(intinya Daniel ngegombal)
“Aku bukan gadis lagi. Aku seorang Ibu.
Jangan panggil Aku dengan panggilan itu. Berhenti ngegombal juga.”
“Mom, kalau Kamu ngambek begitu jadi
terlihat lebih cantik lagi…”
“Jangan panggil ‘Mom-Mom’ lagi. Zoey jadi
ikut-ikutan manggil ‘Mom’ kan?”
“Trus maunya di panggil apa dong?” Daniel
sedikit merajuk.
“Panggil namaku. Ajari Zoey untuk manggil
Aku dengan panggilan ‘Ibu’. Kita hidup di Indonesia, di tanah Jawa. Rasanya
kurang pas dengan panggilan itu.” Nisha mulai berceramah.
“Ya,ya… suka-suka Kamu saja Mom. Oh iya,
dua hari lagi Aku pulang. Tunggu Aku ya.”
“Hah? Serius? Untuk apa pulang?”
“Sebegitunya Kamu tidak ingin melihatku
Honey? Sedih hatiku…”
“Gak usah drama deh. Kenapa pulang? Ada
kerjaan?”
“Aku kangen kalian…”
“Gak usah gombal. Baru bulan kemarin Kita
ketemu.”
“Aku akan stay di Indonesia lagi Sayang.
Aku akan tinggal bersama kalian…”
“Hah? Jangan becanda deh.”
“Serius, Aku gak bercanda.”
“Suka-suka Kamu sajalah.”
“Kamu senang kan Aku pulang?”
“B aja.”
“Hey woman, Aku tahu di hati kecilmu pasti
merindukanku. Aku tahu Kamu mencintaiku. Jujur saja. Ayo katakan padaku Kamu
mencintaiku.”
“Never!!” Nisha menjulurkan lidahnya
dengan lucu, membuat Daniel gemas ingin menciumnya. Setelah bercakap-cakap
beberapa saat, akhirnya Daniel menutup panggilan video itu.
“Daddy mau datang ya Mom.” Zoey berkata
dengan mata berbinar-binar.
“Sudah Ibu katakan Nak, bukan ‘Daddy’ tapi
‘Uncle’. Ingat ya, ‘Uncle’…”
“Gak mau!! Zoey suka manggil Daddy!! Daddy!!”
Zoey bersikukuh, airmata tampak menggenang di matanya. Nisha ingin membantah, namun
sentuhan halus di pundak menghentikannya.
“Jarno ae wis Nduk. Putuku iki koyoke cek
pengene duwe bapak. Toh Nak Daniel gak keberatan di celuk koyok ngunu, malah ngongkon
lho…” (Biarin saja Nak. Cucuku ini kayaknya pingin banget punya seorang bapak.
Toh Nak Daniel gak keberatan di panggil kayak gitu, malah nyuruh lho…)
“Bukan begitu Bu. Aku takut nanti Zoey
kebiasaan. Menganggap Daniel sebagai ayahnya. Mungkin sekarang masih gak
apa-apa, karena dia belum menikah. Tapi kalau nanti dia menikah, ceritanya akan
lain lagi. Bagaimana perasaan istrinya mengetahui suaminya di panggil ‘ayah’
oleh anak yang lain?”
“Yo alon-alon Nduk. Putuku iki kan sek
cilik. Engkok lek de’e wes gedhe, de’e bakal ngerti-ngerti dewe. Saiki jarno ae
wis…” (Ya pelan-pelan saja Nak. Cucuku ini kan masih kecil Nak. Nanti kalau dia
sudah besar, dia pasti akan mengerti dengan sendiri. Untuk sekarang, biarkan
saja ya…)
“Daddy udah janji akan datang. Bu gulu
bilang dua hali lagi suluh bawa semua Daddy ke sekolah…” Nisha terkesiap
mendengar gumaman Zoey. Dia segera meraih tubuh Zoey dan memangkunya.
“Jadi Zoey yang nyuruh Uncle datang?”
“He’eh. Zoey udah bilang jauuuuhh hali.
“Memangnya bu guru nyuruh apa Nak?”
“Kata bu gulu, semuanya di suluh bawa
daddy-nya ke cekolah. Teman-teman bilang, katanya Zoey gak punya Daddy. Kan Zoey
masih punya Daddy Niel, benel kan Mommih?” Zoey menatap Nisha dengan mata
besarnya. Meminta pembenaran atas pertanyaanya. Mata Nisha langsung
berkaca-kaca. Dia memeluk Zoey dengan erat, tubuhnya mulai gemetar menahan
tangis.
“Iy-ya… Zoey masih punya daddy Niel. Ibu
yang salah, Ibu minta maaf ya…” Nisha mencium kepala Zoey dengan perasaan
bersalah. Ibunya melihat adegan itu dengan perasaan sedih. Dia segera mengambil
Zoey dari pelukan Nisha dan membiarkan Nisha menikmati kesendiriannya.
Setiap kali melihat Zoey seperti itu,
selalu menimbulkan kesedihan pada dirinya. Bukan kali ini saja Zoey menanyakan
tentang ayahnya, dan dia sudah berusaha sebisa mungkin memberikan pengertian
terhadapnya. Namun tubuh kecilnya seolah-olah menolak untuk mengerti. Sampai
kapan Zoey akan mengerti? Sampai kapan Zoey akan berhenti menanyakan tentang
ayahnya? Apakah kehadirannya sungguh tidak cukup? Dia sudah berusaha yang
terbaik dalam membesarkan Zoey. Bersikap seperti seorang ibu sekaligus ayah
terhadapnya. Apakah memang peran seorang ayah benar-benar sangat di butuhkan?
Nisha kembali mengingat Zico. Bagaimana
kabar laki-laki itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sudah
bahagia? Apakah dia sudah menikah dengan Zevana dan mempunyai anak-anak yang
lucu?
Ya, laki-laki itu pasti sudah menikah dan
bahagia. Dia pasti sudah melupakan seorang wanita bernama Tanisha. Bahkan
mungkin laki-laki itu sangat membencinya. Terakhir kali mereka bertemu, dia
memberikan ingatan yang buruk terhadapnya. Dia berharap laki-laki itu melupakan
ingatan itu dan hidup dengan bahagia.
Mengingat Zico selalu membuatnya sedih. Perasaan
itu masih ada di hatinya. Meskipun dia sangat sakit hati ketika Zico meragukan
bayi mereka, tapi dia sudah memaklumi dan memaafkan laki-laki itu. Mungkin
laki-laki itu sangat cemburu pada Daniel, sehinggan emosi menutup akal
sehatnya. Sekarang yang dia ingat adalah ingatan-ingatan kebahagiaan yang mereka
buat bersama. Meskipun ingatan itu sangat minim, tapi dia selalu memutar
ingatan itu terus menerus di kepalanya. Kapan perasaan ini akan hilang? Kapan
hatinya akan terbuka dengan kehadiran orang lain? Hanya Tuhan yang dapat
memberikannya sebuah jawaban.
***
“Nisha, dua hari lagi Kita akan ke
Jakarta.”
“Ke Jakarta Bu?”
“Iya. Ada perusahaan besar yang
membutuhkan jasa Kita. Aku pikir ini akan menjadi kesempatan yang bagus untuk
memoles pengalamanmu.”
“Harus ke Jakarta ya Bu?”
“Iya, karena klien Kita berada di sana.
Kita harus bertemu klien secara langsung dan mendapatkan data-data yang di
butuhkan. Kenapa? Apa Kamu keberatan? Biasanya Kamu sangat antusias bila
mendapat kasus. Apa ada masalah?”
“Ti-tidak Bu…”
“Baiklah. Persiapkan dirimu. Pelajari
semua materi yang di dapat. Pikirkan cara penyelesaiannya.”
“Baik Bu.”
Hah… (Nisha menghela napas)
Mendengar nama Jakarta saja sudah membuat
dadanya sesak. Setelah lima tahun tidak pernah menginjakkan kaki di tanah itu,
haruskah dia kembali lagi? Mengapa kepala advokatnya harus mendapat kasus di
kota itu?
Nama Jakarta selalu mengingatkannya dengan
kejadian-kejadian buruk. Pemerkosaan, perlakuan tidak adil dan deretan
wajah-wajah yang ingin di hindarinya. Haruskah dia pergi ke kota itu? Bagaimana
bila nantinya dia bertemu dengan wajah yang di kenalnya? Apa yang akan terjadi?
Tidak, tidak. Jakarta adalah ibukota yang
sangat luas. Tidak mungkin dia kebetulan bertemu dengan salah satu dari mereka.
Dia tidak boleh menolak kesempatan ini. Penyelesaian kasus ini akan semakin
menambah dan mengasah kemampuannya. Atasannya mengatakan, bahwa kasus kali ini
adalah kasus dari perusahaan besar. Bila dia bisa menyelesaikannya, maka
namanya akan lebih di kenal oleh banyak orang. Dengan begitu kliennya akan
bertambah banyak. Bila klien semakin bertambah banyak, maka kesempatan untuk
menghasilkan uang dan membayar hutang pada Daniel akan semakin besar.
Ya!! Dia memutuskan untuk pergi ke
Jakarta!!.
***