Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 63 - Jakarta, I'm Coming!!



“Hey boy, how are you?”


“Yeah Dad, I’m find…”…bla…bla…bla…(Daniel


dan Zoey bercakap-cakap dalam bahasa Inggris).


Nisha melihat putranya ber-video call


dengan Daniel sembari tersenyum. Setiap malam Daniel memang selalu menelepon


putranya. Entah apa saja yang mereka bicarakan. Zoey tampak sangat antusias


setiap kali Daniel meneleponnya.


“Mbul, ayo makan dulu Nak…”


“Wait fooo minutes Mom…”


“Panggil ‘Ibu’, bukan ‘Mom’.” Nisha


mengambil ponsel di tangan Zoey dan bertatapan dengan Daniel. Zoey tampak


memprotes.


“Hey Girl… Why you look so


beautiful…bla…bla…”(intinya Daniel ngegombal)


“Aku bukan gadis lagi. Aku seorang Ibu.


Jangan panggil Aku dengan panggilan itu. Berhenti ngegombal juga.”


“Mom, kalau Kamu ngambek begitu jadi


terlihat lebih cantik lagi…”


“Jangan panggil ‘Mom-Mom’ lagi. Zoey jadi


ikut-ikutan manggil ‘Mom’ kan?”


“Trus maunya di panggil apa dong?” Daniel


sedikit merajuk.


“Panggil namaku. Ajari Zoey untuk manggil


Aku dengan panggilan ‘Ibu’. Kita hidup di Indonesia, di tanah Jawa. Rasanya


kurang pas dengan panggilan itu.” Nisha mulai berceramah.


“Ya,ya… suka-suka Kamu saja Mom. Oh iya,


dua hari lagi Aku pulang. Tunggu Aku ya.”


“Hah? Serius? Untuk apa pulang?”


“Sebegitunya Kamu tidak ingin melihatku


Honey? Sedih hatiku…”


“Gak usah drama deh. Kenapa pulang? Ada


kerjaan?”


“Aku kangen kalian…”


“Gak usah gombal. Baru bulan kemarin Kita


ketemu.”


“Aku akan stay di Indonesia lagi Sayang.


Aku akan tinggal bersama kalian…”


“Hah? Jangan becanda deh.”


“Serius, Aku gak bercanda.”


“Suka-suka Kamu sajalah.”


“Kamu senang kan Aku pulang?”


“B aja.”


“Hey woman, Aku tahu di hati kecilmu pasti


merindukanku. Aku tahu Kamu mencintaiku. Jujur saja. Ayo katakan padaku Kamu


mencintaiku.”


“Never!!” Nisha menjulurkan lidahnya


dengan lucu, membuat Daniel gemas ingin menciumnya. Setelah bercakap-cakap


beberapa saat, akhirnya Daniel menutup panggilan video itu.


“Daddy mau datang ya Mom.” Zoey berkata


dengan mata berbinar-binar.


“Sudah Ibu katakan Nak, bukan ‘Daddy’ tapi


‘Uncle’. Ingat ya, ‘Uncle’…”


“Gak mau!! Zoey suka manggil Daddy!! Daddy!!”


Zoey bersikukuh, airmata tampak menggenang di matanya. Nisha ingin membantah, namun


sentuhan halus di pundak menghentikannya.


“Jarno ae wis Nduk. Putuku iki koyoke cek


pengene duwe bapak. Toh Nak Daniel gak keberatan di celuk koyok ngunu, malah ngongkon


lho…” (Biarin saja Nak. Cucuku ini kayaknya pingin banget punya seorang bapak.


Toh Nak Daniel gak keberatan di panggil kayak gitu, malah nyuruh lho…)


“Bukan begitu Bu. Aku takut nanti Zoey


kebiasaan. Menganggap Daniel sebagai ayahnya. Mungkin sekarang masih gak


apa-apa, karena dia belum menikah. Tapi kalau nanti dia menikah, ceritanya akan


lain lagi. Bagaimana perasaan istrinya mengetahui suaminya di panggil ‘ayah’


oleh anak yang lain?”


“Yo alon-alon Nduk. Putuku iki kan sek


cilik. Engkok lek de’e wes gedhe, de’e bakal ngerti-ngerti dewe. Saiki jarno ae


wis…” (Ya pelan-pelan saja Nak. Cucuku ini kan masih kecil Nak. Nanti kalau dia


sudah besar, dia pasti akan mengerti dengan sendiri. Untuk sekarang, biarkan


saja ya…)


“Daddy udah janji akan datang. Bu gulu


bilang dua hali lagi suluh bawa semua Daddy ke sekolah…” Nisha terkesiap


mendengar gumaman Zoey. Dia segera meraih tubuh Zoey dan memangkunya.


“Jadi Zoey yang nyuruh Uncle datang?”


“He’eh. Zoey udah bilang jauuuuhh hali.


“Memangnya bu guru nyuruh apa Nak?”


“Kata bu gulu, semuanya di suluh bawa


daddy-nya ke cekolah. Teman-teman bilang, katanya Zoey gak punya Daddy. Kan Zoey


masih punya Daddy Niel, benel kan Mommih?” Zoey menatap Nisha dengan mata


besarnya. Meminta pembenaran atas pertanyaanya. Mata Nisha langsung


berkaca-kaca. Dia memeluk Zoey dengan erat, tubuhnya mulai gemetar menahan


tangis.


“Iy-ya… Zoey masih punya daddy Niel. Ibu


yang salah, Ibu minta maaf ya…” Nisha mencium kepala Zoey dengan perasaan


bersalah. Ibunya melihat adegan itu dengan perasaan sedih. Dia segera mengambil


Zoey dari pelukan Nisha dan membiarkan Nisha menikmati kesendiriannya.


Setiap kali melihat Zoey seperti itu,


selalu menimbulkan kesedihan pada dirinya. Bukan kali ini saja Zoey menanyakan


tentang ayahnya, dan dia sudah berusaha sebisa mungkin memberikan pengertian


terhadapnya. Namun tubuh kecilnya seolah-olah menolak untuk mengerti. Sampai


kapan Zoey akan mengerti? Sampai kapan Zoey akan berhenti menanyakan tentang


ayahnya? Apakah kehadirannya sungguh tidak cukup? Dia sudah berusaha yang


terbaik dalam membesarkan Zoey. Bersikap seperti seorang ibu sekaligus ayah


terhadapnya. Apakah memang peran seorang ayah benar-benar sangat di butuhkan?


Nisha kembali mengingat Zico. Bagaimana


kabar laki-laki itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sudah


bahagia? Apakah dia sudah menikah dengan Zevana dan mempunyai anak-anak yang


lucu?


Ya, laki-laki itu pasti sudah menikah dan


bahagia. Dia pasti sudah melupakan seorang wanita bernama Tanisha. Bahkan


mungkin laki-laki itu sangat membencinya. Terakhir kali mereka bertemu, dia


memberikan ingatan yang buruk terhadapnya. Dia berharap laki-laki itu melupakan


ingatan itu dan hidup dengan bahagia.


Mengingat Zico selalu membuatnya sedih. Perasaan


itu masih ada di hatinya. Meskipun dia sangat sakit hati ketika Zico meragukan


bayi mereka, tapi dia sudah memaklumi dan memaafkan laki-laki itu. Mungkin


laki-laki itu sangat cemburu pada Daniel, sehinggan emosi menutup akal


sehatnya. Sekarang yang dia ingat adalah ingatan-ingatan kebahagiaan yang mereka


buat bersama. Meskipun ingatan itu sangat minim, tapi dia selalu memutar


ingatan itu terus menerus di kepalanya. Kapan perasaan ini akan hilang? Kapan


hatinya akan terbuka dengan kehadiran orang lain? Hanya Tuhan yang dapat


memberikannya sebuah jawaban.


***


“Nisha, dua hari lagi Kita akan ke


Jakarta.”


“Ke Jakarta Bu?”


“Iya. Ada perusahaan besar yang


membutuhkan jasa Kita. Aku pikir ini akan menjadi kesempatan yang bagus untuk


memoles pengalamanmu.”


“Harus ke Jakarta ya Bu?”


“Iya, karena klien Kita berada di sana.


Kita harus bertemu klien secara langsung dan mendapatkan data-data yang di


butuhkan. Kenapa? Apa Kamu keberatan? Biasanya Kamu sangat antusias bila


mendapat kasus. Apa ada masalah?”


“Ti-tidak Bu…”


“Baiklah. Persiapkan dirimu. Pelajari


semua materi yang di dapat. Pikirkan cara penyelesaiannya.”


“Baik Bu.”


Hah… (Nisha menghela napas)


Mendengar nama Jakarta saja sudah membuat


dadanya sesak. Setelah lima tahun tidak pernah menginjakkan kaki di tanah itu,


haruskah dia kembali lagi? Mengapa kepala advokatnya harus mendapat kasus di


kota itu?


Nama Jakarta selalu mengingatkannya dengan


kejadian-kejadian buruk. Pemerkosaan, perlakuan tidak adil dan deretan


wajah-wajah yang ingin di hindarinya. Haruskah dia pergi ke kota itu? Bagaimana


bila nantinya dia bertemu dengan wajah yang di kenalnya? Apa yang akan terjadi?


Tidak, tidak. Jakarta adalah ibukota yang


sangat luas. Tidak mungkin dia kebetulan bertemu dengan salah satu dari mereka.


Dia tidak boleh menolak kesempatan ini. Penyelesaian kasus ini akan semakin


menambah dan mengasah kemampuannya. Atasannya mengatakan, bahwa kasus kali ini


adalah kasus dari perusahaan besar. Bila dia bisa menyelesaikannya, maka


namanya akan lebih di kenal oleh banyak orang. Dengan begitu kliennya akan


bertambah banyak. Bila klien semakin bertambah banyak, maka kesempatan untuk


menghasilkan uang dan membayar hutang pada Daniel akan semakin besar.


Ya!! Dia memutuskan untuk pergi ke


Jakarta!!.


***