
Zico melajukan mobilnya dengan kencang. Bayangan Nisha dan Daniel masuk ke dalam klinik itu menghantuinya. Emosinya menjadi campur aduk. Apa yang akan mereka lakukan? Mengapa mereka berdua pergi ke klinik itu? Tidak mungkin Nisha akan menggugurkan bayi mereka bukan? Apa Nisha tahu bahwa dia sedang melakukan test DNA? Lalu mengapa? Mengapa dia pergi ke klinik itu? Bayi siapakah yang ada di perutnya? Apakah memang benar-benar bukan bayinya? Tapi kalau memang bukan bayinya, lalu bayi siapa? Apa bayi laki-laki b*debah itu?
Tapi kalau itu memang bayi si laki-laki b*debah, mengapa mereka ingin menggugurkannya? Bukankah seharusnya mereka merawatnya? Atau jangan-jangan bayi itu memang BAYINYA??!! Mereka pasti takut bayi itu akan menghalangi hubungan mereka, maka dari itu mereka memutuskan untuk menyingkirkannya. SIALAN!! BR*NGSEK!! Awas saja kalau mereka mengugurkan bayi itu, dia akan membunuh mereka satu-persatu!!
Zico menggeram penuh dengan kemarahan. Berkali-kali dia memukul-mukul kemudi mobilnya. Berharap dengan melakukan hal seperti itu bisa meredam emosinya. Setelah setengah jam berkendara, akhirnya Zico sampai di klinik yang di maksud. Dia memarkir mobilnya sembarangan dan berlari menerobos ke dalam klinik.
“NISHA!! NISHA!! Dimana kamu!!” Zico berteriak-teriak seperti orang gila. Sikapnya yang seperti itu menarik perhatian orang-orang yang berada di sana. Setelah di perhatikan dengan seksama, orang-orang tersebut kebanyakan pasangan muda yang sepertinya berencana untuk membuang janin mereka. Kemarahan semakin menguasai jiwanya.
“NISHA!!! KELUAR KAMU!!NISHA!!”
“Pak, ada apa? Ada yang bisa Saya bantu?” seorang petugas keamanan mendatangi Zico, berusaha untuk meredam kemarahan laki-laki itu. Zico meraih kerah kemeja petugas itu dan mengangkatnya.
“Katakan dimana istriku!! KATAKAN!!” Zico melempar petugas itu ke lantai. Petugas yang sedang sial itu hanya bisa meringis kesakitan.
“Tenang Pak, tenang. Kita bisa mencarinya pelan-pelan.” Seorang petugas lain datang, berusaha menenangkan Zico yang mengamuk seperti banteng kesurupan.
“Bagaimana Aku bisa tenang?!! Istriku berada di sini untuk membunuh anakku!! Apa kau yakin bisa tenang bila berada di posisiku?!!” Zico mendorong petugas itu hingga terjatuh. Kemudian dia kembali memanggil-manggil nama Nisha. Setiap ruangan yang ada di situ di bukanya. Ruang satu, ruang dua, ruang tiga... dan di ruang ke empat belas…
BRAAAKKK!!
Zico membuka pintu ruangan itu. Seorang dokter dan asistennya sangat terkejut melihat kedatangan Zico. Daniel berdiri dengan tenang di sebelah Nisha yang sedang tertidur terkena anestesi.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!” Zico meraung. Kepalan tangannya ingin menghantam tubuh Daniel, tapi seketika pandangannya melihat ke arah lain. Matanya langsung syok begitu melihat darah di sekitar kaki dan paha Nisha. Saking terkejutnya, tubuhnya sampai lemas dan dia jatuh terduduk. Kemudian dia melihat gumpalan merah yang di letakkan di atas wadah berwarna perak itu. Itu adalah BAYINYA!!
“AARRRGGHHHH!!!” Zico berteriak putus asa. Ungkapan rasa sedih, amarah, kecewa dan dendam menjadi satu. Melihat tubuh kecil yang sudah tidak bernyawa itu membuat separuh dirinya ikut hilang bersamanya. Zico merasa separuh nyawanya telah di bawa pergi.
“AAARRRGGGGHHHH!!!” Jeritan putus asanya terus saja menggema di ruangan sempit itu. Airmata tampak keluar di sudut matanya. Daniel melihatnya dengan tatapan kasihan. Laki-laki gagah, perkasa, tampan dan sangat pintar yang dikenalnya dalam waktu singkat berubah menjadi laki-laki menyedihkan yang meratapi kehilangan anaknya. Daniel merasa sangat ber-empati. Meskipun laki-laki itu tidak benar-benar kehilangan bayi mereka, tapi perasaan yang di rasakan oleh Zico adalah nyata. Ratapan kesedihan Zico masih terus terdengar. Menarik perhatian orang-orang sekitar
Tapi yang harus di prioritaskan adalah Nisha. Dia harus segera membawa Nisha pergi sebelum laki-laki itu benar-benar tersadar dari syoknya. Pelan-pelan Daniel menggendong Nisha dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Di perjalanan menuju mobilnya, dia bertemu dengan Zevana. Daniel mengenali wanita itu karena dia pernah melihat wanita itu bersama dengan Zico di café.
“Jaga laki-lakimu. Aku akan menjaga wanitaku.”
“Terima kasih atas kerjasamanya Tuan Daniel. Akan kupastikan untuk menjaganya dan tidak membuatnya berpaling pada wanita mana pun.”
“Baguslah. Pastikan dia tidak mengganggu wanitaku lagi. Aku akan membawa dia pergi. Dia tidak akan mengganggu kehidupan kalian. Kuperingatkan untuk tidak mengganggunya lagi. Kamu akan tahu akibatnya bila berani mengusiknya lagi!” Daniel menyelipkan nada ancaman di setiap kata-katanya.
Di sepanjang perjalanan, Daniel memperhatikan Nisha yang terlelap di sampingnya. Pengaruh obat bius masih akan ada selama 1-2 jam ke depan. Sebelum Nisha di bius, dia sudah berkonsultasi pada dokter bahwa prosedur bius itu tidak akan membahayakan janin karena usia kandungannya sudah memasuki trimester kedua. Daniel sengaja meminta Nisha untuk dibius dengan dosis yang ringan untuk mencegahnya melihat apa yang akan di lakukan Zico. Dia tidak ingin melihat Nisha syok melihat Zico yang terpuruk seperti itu.
Sekarang yang harus di lakukannya adalah dia harus mengamankan wanita itu sebelum Zico benar-benar sadar dari syoknya. Dia harus melindungi Nisha dari serangan Zico. Laki-laki dingin seperti Zico akan sangat menakutkan bila sedang marah. Dia tidak ingin Nisha mendapat imbasnya.
Mungkin hal pertama yang harus di lakukannya adalah membawa Nisha keluar negeri. Di luar negeri, Zico tidak akan bisa mengakses keberadaan mereka. Setelah kondisi di rasa cukup aman, dia akan kembali membawa Nisha pulang ke ibukota atau ke kampung halamannya.
“Siapkan boeing untukku. Aku tunggu di tempat biasa.”
“Siap Tuan.”
Daniel melajukan mobil menuju sebuah landasan pesawat jet milik keluarganya. Sesampainya disana, dia langsung di sambut oleh pilot dan co-pilot. Daniel menggendong Nisha dengan lembut dan meletakkannya di kursi pesawat.
“Kemana tujuan Kita Tuan?”
“Villa X.”
“Di negara S Tuan?”
“Ya.”
“Baik Tuan.”
Pilot dan co-pilot melajukan pesawatnya. Daniel menatap kota Jakarta di bawahnya dengan perasaan campur aduk. Kepalanya tidak bisa berhenti memikirkan sosok menyedihkan yang bersimpuh di lantai klinik dengan penuh kekalahan dan kekecewaan.
“Selamat tinggal Bro Zico. Semoga hidupmu bahagia. Aku akan menggantikanmu untuk menjaganya. Aku akan memperlakukannya dengan baik. Hidup lah dengan bahagia. Lupakan semua masalah ini. Lupakan semua sakit hati dan kekecewaanmu. Hapus ingatan menyakitkan ini dari pikiranmu. Mari Kita hidup dengan tenang tanpa bersinggungan satu sama lain.” Daniel berkata dalam hati.
***
Haii readeeerrs zheyeenkk…
Akhirnya season 1 tamat ya. Tunggu kelanjutan cerita ini di season 2. Beri saya waktu sekitar 1 minggu untuk menyusun cerita ini ya zheyeenkk…
Terima kasih Saya ucapkan bagi para readers yang mengikuti novel ini dari awal sampai akhir. Jangan lewatkan untuk membaca season 2 novel ini ya, terima kasih..
^ErKa^