
Zico menatap layar laptop dengan perasaan khawatir. Dia terkejut ketika sedang memantau aktivitas Nisha melalui kamera CCTV, dia mendapati wanita itu sedang menangis? Kenapa wanita itu sedang menangis? Apa wanita itu kesal karena telah di sekap olehnya? Atau apa ada hal lainnya? Tidak mau terlalu banyak berasumsi, Zico segera mengambil ponsel dan menghubungi salah satu bodyguard yang bertugas di sana.
“Iya Tuan?”
“Serahkan ponselnya pada kepala pelayan.”
“Baik Tuan.”
Beberapa saat kemudian…
“Saya Tuan?”
“Kenapa dia menangis?”
“Maksudnya Nyonya Tuan?”
“Ya, kenapa dia menangis?”
“Saya kurang tahu Tuan. Tapi Saya akan mencari tahu Tuan.”
“Laporkan segera hasilnya padaku. Mengerti?!”
“Baik Tuan.”
Zico mematikan panggilannya. Dia kembali menatap layar monitor. Nisha masih saja menangis. Pada awalnya wanita itu sedang menonton TV. Namun entah mengapa tiba-tiba saja raut wajahnya berubah dan mulai menangis. Sebenarnya apa yang di tangisi wanita itu? Rasa penasaran ini sungguh membuatnya frustasi.
Dia ingin Nisha bahagia. Tapi kebahagiaan Nisha harus bersamanya. Hatinya ikut merasakan pedih melihat wanita itu menangis seperti itu. Apa yang harus di lakukannya untuk membuat wanita itu kembali tersenyum dan tertawa?
Tok…Tok…Tok…
“Masuk.”
“Lapor Pak. Nyonya muda sedang berada di depan. Beliau memaksa untuk menemui Anda.”
“Usir dia.”
“Ta-tapi Pak…”
“Katakan padanya untuk segera menandatangani surat gugatan itu. Bila dia bersikeras untuk menolak, ancam dia. Katakan Aku akan menyebarkan berita buruk tentangnya. Itu akan merusak reputasinya.”
“Ba-baik Pak.” Dengan bingung Vanno segera undur diri.
Permasalahan dengan Zevana masih belum usai. Wanita itu bersikeras untuk tidak menandatangani surat gugatan cerai yang di layangkannya. Bila hal ini berlarut-larut, dia khawatir Nisha akan segera mengetahui statusnya dan sedikit banyak akan mengubah perasaan wanita itu terhadapnya. Dia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan wanita itu. Minggu ini dia sudah harus mendapatkan akta cerai!!
Tiba-tiba ponsel Zico berbunyi. Ternyata dari bodyguardnya.
“Ya?”
“Tuan, ini Saya.”
“Ya. Apa Kamu sudah tahu alasannya?”
“Ya Tuan. Sepertinya Nyonya menangis gara-gara merindukan anak dan keluarganya. Saya melihat Nyonya menatap foto seorang anak kecil berlama-lama sembari menangis.”
“Kamu yakin alasannya itu?!” Zico menggertakkan giginya. Dia begitu cemburu. Nisha menangis karena merindukan anaknya dengan laki-laki lain!! Betapa sayangnya Nisha pada anak itu! Bagaimana dia tidak cemburu?!
“Saya yakin Tuan. Mu-mungkin Nyonya akan baik-baik saja bila melihat anaknya?” Kepala pelayan memberikan saran dengan ragu-ragu. Zico mengacuhkan sarannya dan menutup telepon itu.
Dia kembali menatap monitor laptop. Nisha masih saja menangis. Apakah wanita itu benar-benar merindukan anaknya? Apakah dia begitu mencintai anaknya? Aaahhh, andaikan anak mereka masih hidup pasti anaknya akan bahagia memiliki seorang ibu yang sangat mencintai dan menyayanginya. Tapi pada kenyataannya anaknya sudah tiada. Aahhh, dia harus melupakan kenangan pahit itu. Dia sudah memutuskan untuk melupakan dan memaafkan semua perbuatan Nisha di masa lalu. Dia tidak boleh mengungkit-ngungkitnya lagi. Itu hanya akan membuka luka lama yang akan membuat mereka tidak bahagia. Yang terpenting sekarang Nisha sudah di sampingnya. Yang perlu di lakukannya sekarang adalah memberi kebagiaan terhadap wanita itu. Bila kebahagiaan Nisha terletak pada bocah kecil itu, maka dia harus mengabulkannya. Dia harus segera mempertemukan mereka berdua.
“Siapkan penerbangan ke Surabaya segera!”
“Sekarang Pak?”
“Ya!”
***
Zico memperhatikan lingkungan sekitar. Dia memperhatikan begitu banyak anak yang sedang bermain di taman sekolah. Ya, dia sekarang sedang berada di sekolah bocah itu. Menurut informasi yang di perolehnya dari orang-orang suruhan, bocah kecil sekolah di tempat ini.
“Sudah Pak. Saya sudah menyekap mereka dan membawanya ke basecamp.”
“Bagaimana dengan yang lain?”
“Untuk nenek dari anak itu, akan Saya alihkan perhatiannya Pak. Anda bisa segera mengambil kesempatan.”
“Hem.” Zico menganggukkan kepalanya. Matanya kembali memandang sekitar. Berusaha untuk mencari sosok bocah kecil tampan di antara kerumunan anak-anak itu. Dan ternyata cukup mudah untuk menemukannya. Selain karena wajah anak itu paling menonjol di antara teman-temannya yang lain, anak itu juga sedang duduk menyendiri sembari menangis sedih. Di tengah keriangan teman-temannya yang di penuhi dengan canda tawa, sosok kecil itu malah tampak sangat sedih. Apa yang sedang di sedihkan bocah kecil itu?
Zico melangkahkan kakinya. Perlahan-lahan mulai mendekati bocah tampan menyedihkan itu. Kemudian setelah dekat, dia duduk di sebelahnya. Di lihat secara langsung, dia semakin familiar dengan wajah anak itu. Dimana dia pernah melihat wajah anak ini? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya? Kenapa hatinya menjadi bergetar melihat wajahnya?
“Hello…” Zico berusaha menyapa. Namun anak itu tidak menanggapinya. Dia hanya melihat Zico sekilas dan kembali mengacuhkannya. Kembali terisak lagi. Zico merasa gemas sendiri dengan sikap angkuhnya.
“Kenapa Kamu duduk di sini? Kenapa tidak ikut bermain dengan teman-temanmu?”
Zico berusaha memulai pembicaraan, tapi tetap saja tidak di tanggapi. Zico menjadi semakin tidak sabar.
“Kamu Zoe kan?” Mendengar namanya di panggil membuat Zoey mendongakkan kepalanya. Dia mengusap matanya yang di penuhi dengan air mata. Menatap Zico dengan pandangan bertanya-tanya.
“Uncle sapa? Kenapa Uncle tahu nama Zoey?” tanyanya dengan polos.
“Uncle adalah teman mamamu. Mamamu menyuruh Uncle untuk menjemputmu.”
“Mommih? Uncle temannya Mommih? Benelan?” seketika Zoey yang tampak sedih berubah menjadi antusias mendengar nama ibunya di sebut-sebut.
“Iya, beneran. Mommy Zoe nyuruh Uncle untuk jemput Zoe. Katanya Mommy kangen sama Zoe…”
“Huuuuuuaaaaaaaa…” Zoey langsung menangis lagi. Tiba-tiba saja dia sudah memeluk tubuh Zico dengan erat.
DEG
Perasaan Zico bergetar. Dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Hatinya terasa sangat hangat. Perasaan apa ini? Mengapa hatinya menjadi bahagia? Zico balas memeluk tubuh bocah kecil itu.
“Hey, kenapa menangis? Anak laki-laki tidak boleh menangis.” Dengan lembut Zico menepuk-nepuk punggung mungil di pelukannya.
“Zoey kangen Mommih. Mommih pelgi ninggalin Zoey. Mommih bilang pelgi dua hali. Kalo Zoey tidul dua kali, Mommih akan pulang. Zoey udah tidul 7 hali. Tapi mommih gak pulang-pulang, huaaaa…” Zoey mengadu dengan menyedihkannya. Timbul perasaan bersalah di dada Zico. Dia yang menyebabkan ibu dari anak ini tidak pulang-pulang.
“Sssshhhh… jangan nangis lagi. Uncle akan bawa Zoey ketemu sama Mommy. Zoey mau kan ikut Uncle?”
“Benelan Zoey bisa ketemu Mommih?” Mata besar Zoey tampak berbinar-binar.
“Iya. Zoey bisa percaya sama Uncle. Kita pergi sekarang."
“Ta-tapi Zoey belum bilang Glandma…” Zoey tampak ragu-ragu.
“Uncle sudah bilang pada Grandma. Beliau bilang, Zoey bisa ikut Uncle pergi.”
“Benelan?”
“Iya."
“Yeeeaaaayyyy!!!” wajah murung dan sedih Zoey berubah menjadi ceria. Dia kembali memeluk tubuh Zico dengan erat. Zico menggendong tubuh mungil itu dan membawa ke mobilnya. Entah mengapa dia menyukai perasaan di peluk bocah kecil itu.
“Segera ke landasan. Atur penerbangan ke Jakarta.”
“Baik Pak.”
***
Happy Reading 🥰😍
NB : Untuk bisa gabung di Grup Erka, update dulu aplikasi MangaToonnya ya. Nanti otomatis panel Grup Erka akan muncul. Sekali lagi mohon vote-nya ya kakak2 sayang yang cantek2, terima kasih.
LopeYuhAll 😗😚🥰
^ErKa^