Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 68 - Siapa Zoey??



Nisha bermimpi. Di dalam mimpinya dia berada di suatu ruangan yang tampak seperti


suite room di hotel mewah. Tampak siluet laki-laki mendatanginya. Laki-laki itu


menatapnya dengan misterius. Terkadang mata itu menatapnya dengan penuh


kebencian dan rasa dendam. Tapi di waktu lain mata itu menatapnya dengan penuh


kerinduan. Dan terkadang juga mata itu menatapnya dengan penuh hawa nafsu.


Laki-laki itu mulai bergerak mendekatinya. Nisha begitu takut. Dia takut laki-laki itu akan


menyakitinya. Nisha berusaha menjauhkan tubuhnya dari jamahan laki-laki itu.


Tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Tubuhnya tidak bisa di ajak bekerja sama.


Nisha menjadi semakin panik. Dia berusaha untuk berteriak, namun suara tak


kunjung keluar dari mulutnya. Akhirnya tubuh itu berhasil mendekat padanya.


Laki-laki itu menjulurkan tangannya. Meraba setiap bagian tubuhnya. Awalnya rabaannya penuh


dengan kelembutan, tapi lama-kelamaan berubah menjadi semakin bernafsu. Tangan


itu mulai membuka bajunya satu persatu. Blazer, kemeja, rok, BH dan terakhir


celana dalamnya tak luput dari jamahan tangan itu.


Sekarang tubuh polosnya terpampang nyata. Nisha begitu malu. Ingin rasanya dia menutup


tubuh dengan kedua tangannya. Tapi apalah daya, tangannya tak bisa di gerakkan.


Pelan-pelan laki-laki itu mendekatinya. Menciumi tubuhnya dengan lembut.


Kening, kedua kelopak mata, kedua pipi dan terakhir bibirnya tidak luput dari


sentuhan bibir lembut dan dinginnya.


Laki-laki itu berlama-lama di bibirnya. Ujung lidahnya menelusuri bibirnya secara


perlahan-lahan. Mengecupnya dengan lembut. Mengigitnya dengan penuh kehangatan.


Nisha merasa sangat di sayang. Nisha mulai memejamkan matanya, menikmati


kelembutan yang diberikan oleh laki-laki tersebut.


Puas bermain-main dengan bibirnya, lidah laki-laki misterius itu mulai bergerilya.


Menelusuri lehernya, berpindah ke tulang selangkanya. Memberikan


kecupan-kecupan lembut disana. Bibir itu berhenti mengecup tatkala mata itu


memperhatikan kedua bukit indahnya. Lama mata itu menatap dengan dalam. Nisha


merasa sangat malu. Dia ingin melindungi dadanya dari tatapan laki-laki itu.


Mungkin Nisha salah lihat, tapi laki-laki itu tersenyum dengan lembut sebelum wajahnya


tenggelam dalam keranuman buah dadanya. Nisha menggigit bibir, berusaha untuk


tidak mendesah. Bibir laki-laki itu bermain-main, menggodanya. Terkadang


mengecup, menggigit dan melumat puncak dadanya dengan kelembutan. Gesekan lidah


kasar di p*tingnya semakin membuat Nisha menggelinjang. Tanpa di sadarinya,


Nisha mengangkat tubuhnya dan gemetar. Dia mencapai klimaks. Sungguh ini adalah


mimpi terliarnya. Mimpi yang sangat gila.


Laki-laki itu tersenyum puas melihatnya klimaks. Kemudian dia mulai melanjutkan aksi


mengeksplorenya. Pelan-pelan lidahnya menari-nari. Menelusuri perut Nisha, dan


ke bawahnya lagi. Dengan penuh penghargaan dia mengecup paha Nisha sebelum pada


akhirnya bibirnya berlabuh pada daerah kewanitaannya. Nisha menjerit penuh


kenikmatan. Tubuhnya kembali bergetar hebat. Napasnya menjadi tersengal-sengal.


Laki-laki itu tidak menghentikan aksinya. Lidahnya menjelajahi semua bagian


terdalam dari tubuhnya. Membuat Nisha bergetar berkali-kali dan lemas.


Sejenak laki-laki itu menghentikan aksinya. Memberi kesempatan bagi Nisha untuk beristirahat dan


mengatur napasnya kembali. Laki-laki itu kembali mengecupi wajah dan bibirnya.


Sepertinya laki-laki itu menganggapnya sangat berharga. Perlakuannya begitu


lembut dan menghargainya. Setelah napas Nisha kembali normal, aksi selanjutnya


pun kembali di lakukan.


Laki-laki itu memposisikan tubuhnya di antara kedua kaki Nisha. Kemudian dia mulai


mengarahkan kejant*nannya di pusat kewanitaan Nisha. Pelan namun pasti, benda


itu melesak ke dalam tubuh Nisha. Membuat keduanya mengerang dengan penuh


kenikmatan.


Lama keduanya berpacu dengan berirama. Berusaha mengimbangi kekuatan masing-masing. Berusaha


saling memberikan kenikmatan. Bunyi desahan dan gesekan tubuh mereka saling


bersahut-sahutan. Suasana di kamar itu sungguh akan membuat malu orang yang


mendengar dan melihatnya.


bertautan, memilin, mengecap dan mengigit satu sama lain. Mereka benar-benar lupa


daratan. Lupa dengan dunia sekitar. Yang mereka rasakan hanya kenikmatan yang


mereka dapatkan. Mereka terus berpacu, mengatur irama agar kenikmatan itu tidak


sirna. Berlama-lama berkubang di dalamnya. Sampai pada akhirnya keduanya sudah


tidak bisa menahannya. Mereka berpacu dengan lebih cepat dan cepat, dan


akhirnya mereka berteriak bersamaan. Melepaskan deburan kenikmatan yang mereka


rasakan. Mencapai puncak klimaks secara bersamaan.


Keduanya berpelukan dengan erat dalam kondisi tubuh yang bergetar. Napas keduanya masih


saling memburu. Lama keduanya saling berpelukan. Kemudian laki-laki itu mulai


menciumi kening, kelopak mata, pipi dan bibirnya lagi. Nisha menikmati setiap


ciuman yang penuh dengan kehangatan itu. Laki-laki itu menatapnya dalam-dalam,


tampak matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku merindukanmu sayang..." Bisik laki-laki itu dengan lembut. Nisha jatuh


dalam tidur yang dalam. Benar-benar mimpi yang luar biasa!!


***


Zico menatap Nisha yang tertidur dalam pelukannya. Dia kembali mencium kening wanita itu


dengan lembut. Perasaan mengalahkan amarahnya. Di satu sisi dia sangat membenci


Nisha. Wanita itu telah membunuh bayi mereka. Wanita itu telah bersikap begitu


kejam terhadap bayi mereka. Dia berniat untuk membalaskan dendamnya. Membuat


wanita itu merasakan rasa sakit hati dan kehilangan yang di rasakannya. Dia


ingin menyakiti wanita itu dengan lebih dalam. Membuat wanita itu berada dalam


kondisi psikologis yang tidak bisa di sembuhkan oleh psiakiater manapun.


Namun kenyataan berkata lain. Disinilah dia sekarang. Mengikuti perasaannya yang


begitu mendalam. Mencintai wanita itu dengan hati dan tubuhnya. Kenapa dia


begitu lemah?? Selama lima tahun wanita itu sudah menghancurkannya. Dia sudah


bertekad untuk membalas dendam. Tapi mengapa ketika bertemu langsung dengan


Nisha hatinya langsung berubah?? Dimana amarah dan benci yang ingin di


salurkannya itu? Pergi kemana? Mengapa wanita itu mempengaruhinya begitu dalam?


Zico kembali memeluk Nisha. Airmata mulai menggenang di sudut matanya, membasahi tulang pipinya.


Lima tahun ini membuatnya menjadi laki-laki cengeng. Kehilangan anak dan wanita


yang di cintai sungguh membuat hidupnya hancur. Dia tidak lagi bisa mencintai.


Hati dan tubuhnya menjadi beku. Tidak ada api gairah dalam dirinya. Tanpa


disadarinya, bagian terpenting dalam tubuhnya mulai tidak berfungsi. Dia


menjadi laki-laki impoten. Dia sudah pasrah menerima keadaan itu. Toh hal itu


juga tidak terlalu mempengaruhinya. Pada akhirnya dia memutuskan untuk


melakukan vasektomi.


Namun semuanya menjadi berubah. Ketika pertama kali bertemu dengan Nisha, semua emosi


menghantamnya. Rasa marah, benci, dendam, rindu dan juga gairah datang secara


bersamaan. Tiba-tiba saja tubuhnya sudah tidak mati suri. Dia ingin


melampiaskan semua emosi itu secara bersamaan. Tanpa di sadarinya, tubuhnya


sudah mulai beraksi. Dia memaksa Nisha untuk menerima tubuhnya. Menerima semua


perasaan yang tercurahkan di dalamnya. Bagian terdalam dirinya memberontak. Dia


harus membuat wanita itu kembali ke sisinya lagi. Nisha masih ISTRINYA!! Dia


belum pernah menceraikannya. Dia harus membuat wanita itu tetap bersamanya.


Menjadikannya sebagai istri sah-nya. Melahirkan anak-anak untuknya sebagai


pengganti anak yang telah meninggal. Dan membuat wanita itu tidak bisa lari


lagi dari dirinya.


Untuk Zevana? Dia akan menyingkirkan wanita itu. Dia akan segera menceraikannya. Wanita itu


tidak memiliki arti apa-apa baginya. Sampai saat ini pun dia masih heran  mengetahui kenyataan dia sudah menikah dengan


wanita itu. Sekarang dia akan mengembalikan semuanya seperti sedia kala.


Menjadikan Nisha sebagai istrinya. Dia akan berusaha memaafkan semua perbuatan


wanita itu. Asalkan wanita itu bersedia berada di sampingnya dan melahirkan


bayi mereka, dia akan memaafkan semua kesalahannya di masa lalu.


***


Sinar matahari sedikit demi sedikit menelusup, memasuki celah-celah tirai. Membuat mata Nisha sedikit silau. Nisha membuka matanya, menatap sekitarnya dengan pandangan heran. Dia sedang tidak berada di kamarnya, maupun di kamar hotel tempat terakhir dirinya menginap. Sedang berada dimana kah dirinya? Mengapa ruangan itu sangat mirip dengan mimpinya tadi malam?


Nisha melayangkan pandangan pada sekelilingnya. Ruangan itu begitu luas. Dia sedang terbaring di sebuah ranjang besar. Di depan ranjangnya terdapat TV LED berukuran besar, sementara di sudut kamar terdapat tempat untuk bersantai. Sayup-sayup Nisha bisa mendengar suara deburan ombak. Sebenarnya dia sedang berada dimana?


Nisha mulai mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Dia ingat sudah bertemu dengan Zico dan mengalami pemaksaan lagi. Kemudian ketika dia sedang berusaha untuk lari dari laki-laki itu, dua orang pria menculiknya dan membuatnya tak sadarkan diri. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!


Nisha bangkit dari tidurnya. Dia begitu terkejut melihat kenyataan bahwa dia sedang tidak mengenakan pakaian apapun. Tubuhnya polos seperti bayi yang baru lahir.


“Akhhhh!!!” Nisha berteriak. Dia segera menutupi tubuh polosnya dengan selimut.


“Ada apa Nyonya?!” Seorang pelayan wanita yang masih muda tiba-tiba memasuki kamar itu. Menatap Nisha dengan tatapan penuh kekhawatiran.


“Siapa Kamu?!”


“Nyonya, Saya pelayan Anda…”


“Tempat apa ini?! Apa yang kalian lakukan?!”


“Maaf Nyonya, Saya tidak memberitahu Anda informasi itu. Tuan hanya berpesan untuk menjaga Anda…”


“Siapa Tuanmu?! Apa yang kalian lakukan ini illegal! Kalian sudah menculik warga sipil tanpa alasan! Dan dimana baju-bajuku?! Kenapa Aku terbangun dalam kondisi seperti ini?!!” Nisha bertanya dengan geram. Pelayan itu tampak malu dan ragu untuk menjawab.


“Saya akan menyiapkan baju Anda segera Nyonya. Mohon Anda untuk membersihkan diri dulu. Sarapan sudah Saya siapkan.” Pelayan itu undur diri. Meninggalkan Nisha seorang diri.


Nisha menatap sekitar. Tidak tampak barang-barang pribadi miliknya. Semua barangnya seolah-olah raib. Sudah berapa lama waktu berlalu? Apakah keluarga dan rekannya mulai mencarinya? Ini adalah kasus penculikan, bahkan bisa jadi pemerkosaan! Dia akan mencari tahu dalang yang membuatnya menjadi seperti ini. Dia akan menuntut orang itu dan membuatnya mendekam di penjara untuk seumur hidup!!


Tanpa ponsel, Nisha tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah mengenakan baju yang di siapkan oleh pelayan, dia mulai keluar dari kamar. Melihat dan mempelajari sekelilingnya.


“Pinjami Aku ponselmu.”


“Maaf Nyonya, Saya tidak bisa.”


“Ketidakbersediaanmu untuk bekerjasama akan memberatkan posisimu ke depannya. Kamu sudah menjadi bagian dalam tindakan illegal ini. Aku bisa menuntut dan menjadikanmu salah satu tersangka. Kamu akan mendapatkan hukuman yang berat.” Nisha mulai menggertak. Sebenarnya dia tidak benar-benar akan menuntut gadis itu, karena dia tahu gadis itu hanya sebagai pekerja saja. Yang perlu di carinya adalah Big Boss yang berada di belakangnya.


“Maaf Nyonya, Saya sungguh tidak bisa.” Pelayan itu menjauh dari Nisha. Meninggalkan Nisha dengan kekesalan hatinya.


Tidak patah arang Nisha mulai mempelajari sekitarnya. Rumah yang di tempatinya ini sepertinya sebuah villa yang di miliki oleh keluarga kaya. Dari suara deburan ombak yang terdengar, sepertinya rumah itu terletak di pinggir pantai. Bila melihat penghuninya, sepertinya villa itu hanya memiliki dua orang pelayan dan (Nisha mulai menghitung) satu…dua… lima… tujuh…sebelas orang bodyguard?!! Mengapa begitu banyak bodyguard di villa ini? Orang gila mana yang menculiknya dan menempatkannya di sebuah villa indah seperti ini?


“Dimana Tuanmu?! Aku ingin menemuinya!” Nisha berteriak pada salah satu pelayan.


“Sabar Nyonya. Tuan akan menemui Anda nanti malam. Sekarang Anda silakan menyantap sarapan Anda.” Seorang pelayan yang lebih tua berkata dengan tenang. Tidak terpengaruh dengan emosi Nisha yang mulai meledak-ledak.


Sebenarnya Nisha memiliki niatan untuk melakukan aksi mogok makan. Dia berharap dengan melakukan hal seperti itu akan membuat si br*ngsek yang telah menculiknya bisa menemuinya dengan segera. Namun niatannya mulai berubah ketika melihat hidangan yang tersuguh di depan matanya. Perutnya mulai berteriak-teriak meminta makan. Ahh\, masa bodoh lah dengan aksi mogok makan. Sekarang dia harus mengisi perutnya sampai kenyang\, agar dia bisa menghadapi si br*ngsek dengan kekuatan penuh!!


***


“Iya Tuan, Nyonya makan dengan lahap. Menghabiskan porsi yang besar.”


“Apa yang di lakukannya sekarang?”


“Beliau sekarang sedang di kamar Tuan. Tidak tampak melakukan apapun.”


“Bagus. Pantau terus dia. Jangan lengah.”


“Baik Tuan.”


Zico mematikan panggilan teleponnya. Kemudian dia mengambil ponsel dari dalam tas Nisha. Lama dia menimbang-nimbang, antara harus menghidupkan ponsel itu kembali atau tetap mematikannya. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali menyalakan ponsel Nisha.


Dipikiran Zico, Nisha masih saja sepolos dulu. Bahkan wanita itu tidak memberikan pengaman apa-apa terhadap ponselnya. Zico melihat tampilan layar. Otaknya bertanya-tanya ketika melihat gambar wallpaper di ponsel Nisha. Anak laki-laki berusia sekitar 3-4 tahun menjadi gambar wallpapernya. Siapa anak ini? Apakah anak seorang artis? Mengapa dia begitu familiar melihat wajah anak ini?


Begitu banyak notif berupa panggilan tak terjawab dan pesan yang masuk. Seseorang dengan nama “Uncle Niel” menghubunginya sebanyak ratusan kali. Sementara masih banyak nama kontak lain yang mengubunginya. Zico bersiap untuk membuka ratusan pesan yang masuk. Tiba-tiba saja ponsel Nisha berdering. Si “Uncle Niel” mmenghubunginya lagi. Dengan gemas Zico mereject panggilan itu.


Siapa sebenarnya si “Uncle Niel”?? Mengapa orang itu begitu berambisi untuk menghubungi Nisha? Apa hubungan mereka? Karena penasaran, Zico melihat pesan yang masuk dan mencari pesan dari “Uncle Niel”. Dia mulai membaca pesan itu satu persatu.


“Girl, dimana Kamu?”


“Girl, Kamu serius pergi ke Jakarta? Mengapa tidak mengabariku? Bagaimana kalau Kamu bertemu dengannya?”


“Girl, kenapa tidak membalas pesanku? Kenapa tidak mengangkat teleponku? Girl, are you okey?”


“Girl? Are you okey? Girl, Aku sudah di Surabaya. Aku sedang bermain-main dengan Zoey. Dia sangat senang dengan kedatanganku. Girl, balas pesanku segera. Aku menghawatirkanmu…”


“Girl, kenapa nomormu di non aktifkan? Kamu tidak apa-apa kan? Girl?


Dan masih ada ratusan pesan serupa lainnya. Zico menjadi cemburu buta membaca semua pesan-pesan itu. Sebenarnya siapa pria bernama “Uncle Niel” ini? Mengapa begitu perhatian terhadap Nisha? Apakah Nisha dan laki-laki ini memiliki hubungan? Dan siapa pula itu “Zoey”? Apa maksud dia sedang bermain-main dengan Zoey? Apakah Zoey itu binatang peliharaan Nisha? Yang di asuh si “Uncle Niel” ketika Nisha sedang tidak ada? Ahh, sepertinya dia harus menelusuri semua tentang Nisha dari dari awal!!


“Selidiki orang ini. Nama Tanisha Alifya, 28 tahun. Dari Firma Hukum X di kota Surabaya. Aku ingin tahu semua detail tentangnya. Kirim semua datanya malam ini juga! Mengerti?!”


“Mengerti Pak.”


***