
Sekali lagi Zico mencium kening dan bibir Nisha dengan lembut sebelum beranjak dari tempat tidur besar itu. Zico menatap Nisha yang masih tertidur dengan pulasnya setelah percintaan hebat mereka. Bibirnya tersenyum puas mengetahui tubuh Nisha tidak menolak kenikmatan yang diberikannya.
Zico mengambil piyama dan berjalan keluar dari kamar.
“Pasang semua CCTV di rumah ini kecuali kamar utama. Lakukan secepat mungkin sebelum dia bangun. Hubungkan servernya ke PC dan ponselku. Jangan biarkan dia mengetahuinya, mengerti?”
“Baik Pak.”
Villa itu terletak di kepulauan seribu, di salah satu pulau pribadi miliknya. Pulau itu memiliki luasan hampir 100 hektar. Di pulau itu hanya terdapat villa miliknya satu-satunya. Jaraknya memang tidak terlalu jauh dari Jakarta, hanya berjarak kurang dari 100 km. Dengan menggunakan akomodasi berupa perahu kecil, orang-orang bisa keluar masuk dari pulau itu. Tapi itu adalah pulau pribadi miliknya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke pulau itu. Hanya orang-orang yang di tunjuk yang bisa mencapai pulau itu.
Nisha tidak tahu bahwa villa yang menjadi penjara baginya terletak tidak jauh dari kota Jakarta. Yang dia tahu, villa itu begitu terpencil dan letaknya sangat jauh dari Jakarta.
Hari ini Zico harus kembali ke Jakarta. Banyak pekerjaan yang sudah menantinya. Sebenarnya dia masih ingin berlama-lama dengan Nisha. Menikmati kebersamaan mereka. Bercinta dengannya sepanjang hari, saling menikmati tubuh satu sama lain. Dia ingin selalu bersama dengan Nisha. Andai saja pekerjaan itu bisa di selesaikan tanpa harus pergi ke Jakarta, dia tidak akan meninggalkan pulau ini. Tidak akan meninggalkan Nisha seorang diri.
Nisha sudah berada dalam genggamannya. Dia takut kalau terlalu lama meninggalkannya, wanita itu akan kabur dari dirinya lagi. Dia takut Nisha akan memberontak dan bersembunyi lagi. Dia tidak ingin merasakan hari-hari penuh kepedihan seperti lima tahun terakhir. Meskipun Nisha sudah mengkhianatinya, namun dia tidak bisa mengabaikan perasaannya sendiri. Tubuh dan hatinya menginginkan wanita itu. Dia hanya ingin hidup dengan Nisha. Akan lebih bagus bila wanita itu segera mengandung anaknya. Mereka akan hidup dengan bahagia.
Zico kembali masuk ke kamar. Dia mendekati Nisha yang masih terlelap dalam tidurnya. Raut wajah wanita itu di penuhi dengan kelelahan. Apakah percintaan mereka tadi malam terlalu berat bagi wanita ini? Apa dirinya terlalu barbar? Zico merasa bersalah.
Dia mengelus rambut Nisha dengan lembut. Pelan-pelan dia mencium kening Nisha.
“Aku akan pergi. Sampai berjumpa dua hari lagi Sayang…” Zico berbisik lembut sembari mencium pipi Nisha. Kemudian dia beranjak dari tempat tidur dan mulai membersihkan diri. Dia bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta.
***
Nisha terbangun sendiri. Dia menatap ranjang di sebelahnya. Kosong. Tidak ada laki-laki itu di sana. Entah mengapa Nisha merasa sangat kecewa. Dia merasa telah menjadi sebuah barang, yang apabila telah selesai di pakai, maka sudah saatnya untuk di buang.
Seharusnya dia merasa senang laki-laki itu tidak ada di sampingnya. Dia benci Zico. Laki-laki itu telah menculik, memperkosa, menyekap dan memaksanya untuk melahirkan anaknya. Selain itu, laki-laki brengsek itu juga mengancam akan menyakiti keluarganya bila dia tidak menuruti kemauannya. Benar-benar sikap yang kasar, egois, jahat, sombong dan angkuh! Tidak ada sesuatu yang bagus dari sifat-sifatnya.
Tapi mengapa ketika dia mendapati bangun seorang diri seperti ini dia merasa sangat kecewa? Apakah laki-laki itu kembali mempengaruhinya? Jangan bilang percintaan mereka tadi malam mempengaruhi pikirannya??
“Akkhhppp!!” Nisha berteriak kaget ketika mengingat kejadian semalam. Dia sudah berjanji akan bersikap datar dan tidak akan terpengaruh dengan perlakuan laki-laki itu terhadapnya. Tapi tubuhnya berkata lain!! Tubuhnya dengan senang hati menerima setiap belaian yang di berikan Zico!!
“Bodoh!! Bodoh!! Kau wanita bodoh Nisha!!” Nisha menoyor-noyor kepalanya sendiri dengan gemas. Dia tidak menyangka pengendalian dirinya akan lepas begitu saja. Untung saja laki-laki itu tidak ada di sini. Akan seperti apa mimik wajahnya bila berhadapan dengannya?? Aaakkhhh!!
Lama Nisha terdiam di dalam kamar. Tidak ada tanda-tanda Zico berada di villa itu. Nisha memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Di kamar mandi dia terkejut mendapati tubuhnya yang sudah tidak mulus lagi. Banyak bekas cupangan di tubuhnya!!
Dari leher, dada, perut, paha bahkan b*kongnya di penuhi dengan bekas cupangan.
“Dasar laki-laki gila!! Laki-laki mesum!!” Nisha berteriak dengan gemas. Nisha membersihkan tubuhnya pelan-pelan. Seluruh tubuhnya sangat kesakitan. Apalagi bagian kewanitaannya masih saja terasa panas. Dia sangat kesal pada Zico yang telah membuatnya seperti ini.
“Nyonya, Anda sudah bangun. Silakan duduk Nyonya. Sarapan akan segera Kami siapkan.” Nisha menuruti kata-kata pelayan, dia duduk di ruang makan seorang diri.
“Dimana dia?”
“Maksud Anda Tuan? Tuan sedang pergi Nyonya. Beliau berpesan akan kembali lagi dua hari lagi.”
“Apa?!”
“Tuan akan kembali dalam dua hari mendatang Nyonya…” mendengar berita itu membuat perasaan Nisha menjadi campur aduk. Dia senang karena bisa bebas dari laki-laki itu untuk sementara waktu. Dia jadi memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Tapi di sisi lain dia juga sedih. Dia merasa menjadi wanita yang sudah di tinggalkan setelah di pakai, hah!!
“Baiklah, Kamu bisa pergi.”
“Baik Nyonya.”
Nisha memakan sarapannya dengan tidak bersemangat. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Tinggal di daerah terpencil ini membuatnya sangat terisolasi. Dia bingung harus melakukan apa? Apakah benar-benar tidak ada cara lain untuk membuatnya meninggalkan pulau ini?
Nisha membuka pintu villa,memutuskan untuk melihat-lihat keadaan sekitar. Sebelum kakinya melangkah, ada tangan yang menahan lengannya.
“Maaf Nyonya, Tuan berpesan pada Kami untuk tidak membiarkan Anda keluar…”
“Aku hanya ingin melihat laut. Aku ingin menghirup angin segar!”
“Maaf Nyonya, Kami tidak bisa mengijinkannya. Silakan masuk kembali Nyonya.”
Nisha gemetar menahan amarah. Dia tidak marah pada pelayan itu, dia hanya marah pada laki-laki egois yang menahan kebebasannya itu. Mau tidak mau Nisha menuruti kata-kata pelayan itu, dia masuk ke dalam rumah kembali.
Dia begitu bingung akan melakukan aktivitas apa. Tidak ada ponsel maupun buku yang bisa di bacanya. Yang tertinggal hanya koran dan TV saja. Nisha memutuskan untuk ke ruang keluarga. Dia menyalakan TV dan melihat-lihat acara-acara yang tidak jelas. Lambat laun mimik wajahnya mulai berubah. Raut wajah Zoey mulai membayang-bayanginya. Nisha mulai menitikkan airmata.
“Zoey… Ibu kangen Nak… Apa yang sedang Kamu lakukan? Kamu tidak nakal kan? Kamu senang Uncle Niel datang kan? Zoey pasti lupa sama Ibu ya… Zoey, rindukah Kamu pada Ibu?...Hiks…” Nisha mulai terisak-isak. Mengingat Zoey membuat perasaannya sangat sedih. Sudah hampir satu minggu dia terpisah dari anaknya. Kerinduan itu menjadi begitu dalam. Apakah Zico benar-benar akan mengurungnya selama sembilan bulan? Tegakah laki-laki itu memisahkannya dari Zoey selama sembilan bulan? Dia tidak sanggup berpisah dari Zoey. Dia ingin selalu bersama Zoey. Bisakah laki-laki itu mengabulkan permintaannya?
***
Happy Reading 🥰😚😙
NB : Kakak2 sayang, minta bantuannya vote ya. Biar author semakin semangat nulisnya. Makasih sebelumnya 🥰😘🤗