
"Bagaimana kabar adikmu Nate?"
"Baik kok Ma."
"Kamu yakin? Mama dengar dia sedang menggugat cerai perempuan itu. Apa dia tidak semakin tertekan?"
"Gak kok Ma. Malah sebaliknya. Dia malah kelihatan seneng banget."
"Seneng?"
"Iya. Aku lihat dia sering senyum-senyum sendiri..."
"Kamu yakin Zi gak sedang gila kan Nate?"
"Ah Mama ada-ada saja. Anak sendiri kok di bilang gila. Mama jangan khawatir, Zi baik-baik saja kok Ma. Kalau Mama belum percaya, Mama bisa menghubungi psikiaternya."
Mama tampak termenung. Lima tahun ini dia hidup dalam penyesalan. Gara-gara dia Zico menjadi manusia gila. Andaikan waktu itu dia tidak memisahkan Zico dan wanita itu, mungkin Zico tidak akan seperti ini.
Setelah mengetahui anaknya sudah di gugurkan, Zico menjadi pribadi yang tidak sama lagi. Zico menjadi sering menangis, berteriak bahkan beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Mama sangat menyesal mengetahui perkembangan kesehatan mental Zico yang seperti itu. Akhirnya Mama mendatangkan belasan psikiater untuk menyembuhkannya. Butuh satu tahun bagi Zico untuk kembali normal.
Selama menjadi manusia setengah gila, perusahaan Zico di pegang oleh asistennya yaitu Gerry. Keluarga begitu mempercayai Gerry namun laki-laki itu mengkhianati mereka. Dia membawa uang perusahaan dan kabur ke luar negeri. Perusahaan Zico menjadi bangkrut. Karena fokus keluarga sedang tertuju pada Zico, akhirnya mereka membiarkan prilaku Gerry.
Setelah sembuh, Zico kembali membangun perusahaan yang hampir mati. Zevana menuntut Mama agar segera menikahkan mereka berdua. Zevana sangat yakin bisa menyembuhkan depresi yang di alami Zico. Karena terlalu percaya kata-kata Zevana, Mama membuat impian Zevana menjadi kenyataan. Tanpa sepengetahuan Zico, Mama mengurus ***** bengek pernikahan mereka.
Zico tampak tak peduli. Anak bungsunya itu tampak sudah tak memiliki jiwa. Akhirnya pernikahan di langsungkan. Besar harapan Mama dalam pernikahan ini. Mama berharap Zevana bisa menyembuhkan Zico. Memberikan Zico keturunan sehingga Zico bisa melupakan anak yang di pikirnya telah meninggal. Tapi bukannya menyembuhkan Zico, Zevana malah sibuk dengan dirinya sendiri. Perempuan itu malah menelantarkan suaminya. Tidak merawatnya, malah merendahkan Zico. Timbul penyesalan dalam hati Mama. Bila tahu Zevana akan bersikap seperti itu, dia tidak akan pernah menikahkan Zico dengan wanita itu!!
Sekarang Zico akan menceraikannya. Mama senang, malah dia akan mendukung keputusan Zico. Bila perlu Mama yang akan menyuruh Zico untuk menceraikannya.
Apakah sudah saatnya mencari wanita itu? Apakah wanita dan anaknya itu masih hidup? Ada dimana mereka sekarang? Apakah Zico akan sembuh bila dia di pertemukan lagi dengan mereka? Dia harus mencobanya. Dia juga punya hutang yang harus di bayarnya. Hutang permintaan maaf. Sepertinya dia harus mulai mencari wanita itu lagi.
Menurut Nathan, keadaan Zico sedang baik-baik saja. Bahkan anak bungsunya itu sering tersenyum? Apa ada sesuatu yang baik yang terjadi pada dia? Ah, sepertinya dia harus menyelidiki hal ini.
***
"Uncle, Kita mau kemana?"
"Lihat laut. Zoey suka laut?"
"Sukaaa!! Sukaaa!!" Zoey mengangkat tangannya dengan gembira. Namun kemudian raut wajahnya berubah. Tiba-tiba dia mulai berpikir. "Uncle, Mommih gak ikut?"
"Mommy sedang tidur. Kita pergi berdua saja ya."
"Hem... Oke."
Zico membawa Zoey melihat matahari terbenam. Awalnya Zico menggandeng tangan Zoey, namun lama-kelamaan dia menggendong Zoey di pundaknya.
"Zoey?"
"Ya Uncle?"
"Boleh Uncle tanya sesuatu?"
"Tanya apa Uncle?"
"Zoey... Daddy Zoey ada dimana?" Zico berusaha bertanya dengan tenang. Namun pada kenyataannya dadanya berdebar-debar sangat kencang. Dia takut mendengar jawaban Zoey.
"Daddy? Daddy Niel??"
"Daddy Niel? Zoey manggilnya Daddy Niel?"
"He'eh." Hati Zico terasa sakit. Dia merasa ada gumpalan besar di dalam dadanya. Zico berusaha untuk menguatkan diri. Bagaimana pun lambat laun dia harus berhadapan dengan ayah Zoey.
"Daddy Niel dimana?"
"Pelgi. Katanya Daddy pulang ke lumahnya."
"Pulang ke rumah??"
"He'eh." Zoey mengangguk-angguk.
"Zoey tidak tinggal bersama Daddy?"
"No." Zoey menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Zoey sayang sama Daddy?"
"Sayang. Daddy nemenin Zoey maen loh Uncle..."
"Ohh." Zico menelan ludah. "Zoey sering ketemu Daddy?"
"Gak tuh."
"Kenapa?"
"Kata Mommih Daddy kelja. Zoey ketemu Daddy kalo Zoey tidul...ehm, bental Uncle, Zoey hitung dulu." Zoey menghitung jemari tangan dan kakinya. "Kalo Zoey tidulnya sebanyak inih Uncle." Zoey menunjukkan jemari tangan dan kakinya.
"Kenapa lama ketemunya? Kenapa gak ketemu tiap hari?"
"Kelja Uncle. Daddy kelja."
"Zoey lebih sayang Mommy apa Daddy?"
"Sayang dua-duanya." Zoey menjawab tegas. Membuat hati Zico semakin sakit.
Berarti selama ini Nisha masih sering berhubungan dengan Daniel? Mengapa dia tidak bisa melacaknya? Apa Daniel memasang orang-orangnya untuk melindungi Nisha dan anaknya? Apa orang-orang mencurigakan yang di ringkusnya itu anak buah Daniel?
"Zoey..."
"Ya Uncle?"
"Kalau Uncle jadi Daddy Zoey, bolehkah?" Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Zoey terdiam, raut wajahnya tampak berpikir.
"Hem... Zoey jadi punya dua Daddy nih?"
"Iya."
"Hem... Boleh deh." Zoey mengangguk-angguk setuju.
"Beneran?? Beneran Zoey ngijinin Uncle jadi Daddy-nya Zoey?" Zico bertanya dengan antusias. Dia meraih Zoey yang berada di pundaknya dan menggendong di lengannya. Dia ingin melihat ekpresi Zoey langsung. Dia sempat berdebar-debar, karena takut Zoey menolaknya. Tapi ternyata anak itu tidak menolaknya.
"Ya, gak pa-pa. Zoey bisa maen sama dua Daddy, yeaaayy!!" Zoey merentangkan lengannya. Kemudian tangan kecilnya meraih leher Zico, memeluk dan mencium pipi Zico.
Zico sangat terkejut. Kecupan bibir basah Zoey di pipi menghangatkan hatinya. Mata Zico mulai berkaca-kaca. Aahh, andaikan boy masih ada pasti anaknya itu juga akan melakukan hal yang sama. Dia akan menganggap Zoey sebagai anaknya sendiri. Dia akan mencurahkan rasa sayangnya sama seperti dia menyayangi boy.
"Terima kasih Zoey. Aku akan berusaha menjadi Daddy yang baik untukmu." Zico memeluk Zoey dengan sayang, Zoey balas memeluknya.
"Iya Uncl...eh Daddy... Horeeee, Zoey punya dua Daddy!!" Zoey berteriak senang. "Emm Uncl, Eh Dad?"
"Ya?"
"Kata Mommih Zoey akan punya dedek bayi?"
"Iya. Zoey seneng gak?"
"Seneng dong!! Dad, apa Zoey dan Mommih akan tinggal belsama Daddy telus?"
"Ya, itu harapanku Zoey. Tapi Mommy sepertinya tidak ingin tinggal bersamaku..." Zico berusaha mencari simpati.
"Kenapa? Zoey suka Daddy. Kenapa Mommih gak?"
"Mommy sepertinya benci Daddy. Zoey mau bantuin Daddy gak?"
"Bantuin?"
"Bantuin Daddy buat bujuk Mommy agar mau tinggal sama Daddy."
"Ehm...iya deh. Zoey suka Daddy. Nanti Zoey suluh Mommih tinggal disini."
"Terima kasih Zoey." Zico mengelus-ngelus rambut Zoey dengan sayang.
Sore itu mereka habiskan dengan bermain-main di pinggir pantai. Membuat istana pasir, berlarian kesana-kemari, mengejar ombak dan kegiatan lainnya. Zico tidak sadar bahwa ada orang lain yang mengintai segala aktivitas mereka.
***
Happy Reading 🥰