Love In High School

Love In High School
Nenek



"Wahh... Apa dia seekor laba-laba? Bagaimana bisa dia memanjat begitu cepat, aaahhh aku harus memasang pagar yang lebih bagus agar tidak ada orang aneh lainnya yang dapat masuk ke rumahku, waahhh...." Ucap Akira sambil segera masuk kembali ke rumahnya dan dia membersihkan pakaiannya yang terkena air sebelumnya.


Sedangkan Sela terus merasa bahagia walaupun sekujur tubuhnya basah kuyup karena di semprot air oleh Akira, dan dia tertawa sangat keras saat mengingat wajah Akira yang kaget dan terperangah melihat dia memanjat pagar rumahnya saat itu.


"Ffttftt...hahahaha.... Wajahnya tadi sangat konyol sekali, bagaimana bisa dia memperlihatkan wajah konyolnya seperti itu, memang apa anehnya denganku, apa di luar negeri tidak ada wanita kuat sepertiku yah ahahaha... Lucu sekali, andai saja aku tadi memotret wajahnya itu aku bisa membuat kenangan yang manis untuknya dan bisa mengancam dia seperti aku melakukannya pada Kiko ahahaha" ucap Sela terus berlari menuju rumah sang nenek.


Saat dia masuk ke dalam rumah dengan mengendap ngendap perlahan karena dia takut di ketahui oleh sang nenek bahwa dia pulang dengan keadaan pakaian yang basah dan kotor seperti itu.


"Ahhh... Aman nenek tidak ada di rumah, aku bisa masuk tanpa dia ketahui" ucap Sela pelan sambil terus berjalan masuk ke dalam.


Namun rupanya sang nenek sudah menunggu dia sejak lama di rumah karena sudah mendapatkan telpon dari ibunya beberapa saat yang lalu sehingga sang nenek sengaja bersembunyi di balik pintu dan disaat Sela hendak melangkahkan kakinya lagi menuju kamar sang nenek langsung saja menjewer telinganya dengan keras dan menariknya dengan kuat.


"Kau... Dasar bocah nakal buk....buk...buk" ucap sang nenek sambil menjewer kuping Sela dan menepuk bagian belakangnya dengan sapu yang di pakai untuk menyapu halaman,


"Aw....aw....aw..aaaahh...adududuh... Nenek lepaskan ini sakit sekali aahh kau juga mem*kuli aku aduhh kau jahat sekali nek" ringis Sela sambil memegangi p*ntatnya yang terasa sakit.


"Kenapa kau kabur dari ibumu hah? Dan kenapa kau malah pulang dengan pakaian yang berantakan seperti ini? Aishh... Kau sangat menjijikan membuat mataku sakit saja" bentak sang nenek yang terus mengomel Sela.


Sela langsung meminta maaf dan dia memasang wajah yang menyedihkan untuk menghentikan neneknya agar berhenti mengomeli dirinya karena hanya itulah senjata ampuh yang sering dia lakukan untuk membuat sang nenek luluh kepadanya dan tidak memarahi dia lagi.


"Aaaw... Nenek aku tadi jatuh ke danau karena di senggol anak pria yang memakai sepeda, untung saja danaunya tidak dalam jadi aku masih selamat, lihat pakaianku jadi seperti ini, ayolah nek jangan memarahi aku lagi aku kabur dari ibu karena aku tahu dia hanya akan menyuruh aku untuk belajar, kau kan tahu aku tidak suka belajar itu sangat membosankan nek, aku ingin menjadi atlet saja" ucap Sela merengek sambil memeluk tangan sang nenek dengan manja dan memasang wajah yang menyedihkan.


Hingga akhirnya neneknya pun luluh lagi seperti biasanya, sang nenek tidak pernah bisa marah dalam waktu lama kepada Sela karena Sela sangat mirip sekali dengan putranya yang telah meninggal dunia, dia juga sangat menyayangi Sela dan satu satunya orang yang membela Sela serta mendukungnya untuk menjadi atlet atau apapun yang Sela inginkan.


Oleh karena itulah Sela lebih betah berada di rumah sang nenek di bandingkan dengan di rumah ibunya sendiri, dia juga tidak mendapatkan banyak kasih sayang dari sang ibu semenjak ayahnya meninggal, karena ibunya itu kini telah berubah menjadi seorang wanita karir yang setiap harinya di sibukkan dengan pekerjaan di kantor dan meeting setiap saat.


Padahal dulu saat dia kecil dia merasa menjadi anak yang paling bahagia di dunia ini, dia bersyukur memiliki kedua orang tua yang sangat menyayangi dia dan selalu mendapatkan perhatian penuh dari sang ibu juga sang ayah, namun semenjak ayahnya meninggal dunia dia seperti kehilangan seluruh kebahagiaan itu dalam seketika.


Apalagi ketika ibunya telah menikah lagi dengan pria lain, walaupun tuan Wen itu adalah pria yang sangat baik namun tetap saja dia tidak bisa mendukung Sela sama seperti ayahnya dahulu dan tuan Wen selalu kalah dengan ibuny, sedangkan ibu yang trouma karena ayah meninggal di perlombaan saat itu, kini ibunya justru melarang dengan keras agar Sela tidak mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang atlet lari maraton.


"Aahh... Sudahlah kau memang selalu bisa membuat aku tidak marah lagi denganmu, aaahh dasar kau ini, sudah cepat mandi dan segeralah makan aku sudah membuat sup daging kesukaanmu" ujar sang Nenek sambil mengusap lembut kepala Sela saat itu.


Sela pun tersenyum senang dan dia sudah tahu bahwa neneknya memang akan selalu berlaku sebaik itu kepadanya.


"Ehehe.. baik nek, aku akan mendengarkanmu aku akan mandi dan segera makan dengan nenekku tercinta" balas Sela sambil tersenyum lebar dan segera pergi ke kamarnya.


*****


Disisi lain ibunya Sela yang bernama nyonya Choi dia merasa frustasi karena sang guru wali kelas yang tidak lain adalah ibu Yuni sudah menghubungi dia bahkan sampai datang menemui dia ke rumahnya untuk membicarakan mengenai pendidikan Sela yang sudah sangat tertinggal di sekolah.


"Aahh... Ibu Yuni maafkan saya, saya akan bersikap lebih tegas kepada Sela saat dia pulang nanti" ucap nyonya Choi kepada ibu Yuni.


"Nyonya Choi saya sudah memberitahukan kepada anda masalah Sela sejak dia kelas sepuluh dia tahun yang lalu, namun apa anda tetap tidak bisa membuat putri anda patuh sedikitpun, dan kali ini dia semakin menjadi kau lihatlah absen kehadirannya, dia tidak pernah masuk satu kali pun dalam mata pajaranku, entah karena dia tidak menyukai aku atau memang sangat membenci pelajaran matematika, yang pasti saya memohon kepadamu dengan sangat, agar putrimu bisa hadir di pertemuan Minggu depan dalam pelajaranku karena ini menyangkut karirku sebagai seorang guru dan saya rasa anda mengerti apa yang saya katakan karena anda juga seorang wanita karir" ucap ibu Yuni selalu wali kelas Sela yang bicara dengan tegas.


Nyonya Choi mengerti betul apa yang di rasakan oleh ibu Yuni selalu wali kelas Sela bahkan dirinya saja sudah sangat kesal dan stress menghadapi Sela yang selalu memberontak dan hanya melakukan semua hal yang dia inginkan hingga dirinya sendiri selalu ibunya tidak bisa lagi menahan dia atau mengarahkan dirinya.


"Ibu Yuni saya akan melakukan yang terbaik dan saya akan memastikan bahwa Sela akan hadir dalam pertemuanmu Minggu depan, tolong berikan Sela sekali lagi kesempatan dan mati kita berjuang bersama untuk merubah dia" ucap nyonya Choi sambil memegangi kedua lengan ibu Yuni dan memohon terhadapnya.


Walaupun kesal dan sudah sangat jengkel dalam menghadapi Sela selama ini namun ibu Yuni sebagai seorang guru dia juga tidak akan tega melihat anak muridnya harus di keluarkan dari sekolah dan mungkin tidak akan ada sekolah lain yang bisa menerima dia jika dia di keluarkan dengan catatan seburuk itu.


Sehingga ibu Yuni menahan kekesalan dan emosinya sejenak, dia mulai menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan lalu mulai mengangguk menyetujui ucapan dari nyonya Choi selalu ibunya Sela.


"Baiklah nyonya Choi karena saya menghargai anda dan sebagai wali kelas yang bertanggung jawab saya akan memberikan satu kali lagi kesempatan untuk putri anda Sela, tetapi anda tahu sendiri akibatnya jika sampai satu kali lagi Sela menyia-nyiakan kesempatan ini, maka aku tidak bisa membantunya bahkan kami berdua akan di keluarkan bersama-sama, mungkin aku bisa mencari sekolah lain tapi Sela dia masih seorang murid dan aku tidak yakin jika ada sekolah lain di kota ini yang bisa menerima dia dengan catatan seperti itu" ujar ibu Yuni menjelaskannya.


Nyonya Choi merasa sangat senang sampai dia langsung membungkuk berterimakasih kepada ibu Yuni saat itu juga.


"Ohh... Terimakasih banyak ibu Yuni, aku sungguh berhutang banyak atas semua kebaikan dan kesabaran dirimu, terimakasih banyak" ucap nyonya Choi begitu tersentuh dengan sikap ibu Yuni yang bijaksana.