
Meski Sela sudah mengatakan hal seperti itu dengan penuh kebanggaan nyatanya sahabat dia Kiko tetap saja tidak mempercayainya karena memang pada biasanya Sela tidak pernah mengerjakan tugas dalam setiap harinya terlebih lagi ini adalah tugas dari seorang ibu guru Yuni yang sangat Sela benci, tugasnya juga merupakan tugas yang sulit yang bahkan Anet saja tidak bisa mengerjakannya sehingga agak sulit untuk Kiko mempercayai Sela saat itu.
Sela sendiri merasa kesal karena Kiko malah menjepit kepalanya tersebut dan terus menyeret dia untuk masuk ke gedung sekolah secepatnya, sehingga dengan cepat Sela langsung saja berusaha melepaskan diri dari Kiko secepatnya, dia juga terus saja mendorong Kiko dengan sekuat tenaganya sampai dia berhasil mendorong Kiko dengan kuat saat itu.
"Eugh ...Kiko lepaskan, aishh..lepaskan Kiko, kau benar-benar menjengkelkan, cepat lepaskan aku heh, beraninya kau melakukan ini kepadaku, apa kau mau aku tendang ya?" Bentak Sela dengan sangat kencang dan dia berhasil menendang Kiko sampai membuat Kiko langsung terhempas dengan keras menjauh darinya saat itu.
"Aishh.....Sela ada apa denganmu, apa kau kesurupan ya?" Ucap Kiko yang menatap dengan heran dan dia memegangi kakinya yang terasa sakit karena sempat di tendang oleh Sela saat itu.
"Heh...kau yang kesurupan, aku sudah bilang aku bisa mengerjakannya dan sudah mengerjakan tugas, kalau kau tetap tidak mempercayai aku, ayo ikut ke dalam aku akan menunjukkannya kepadamu, ayo cepat!" Bentak Sela sambil berjalan lebih dulu melewati Kiko saat itu.
Tidak lama Anet juga tiba dan dia menatap heran melihat Kiko berjalan cepat mengikuti Sela, dia juga segera mengikutinya dari belakang dengan penuh kepenasaranan saat itu, sambil berteriak sangat kencang memanggil Kiko dan Sela.
"Ee...e..ehh... Mau kemana mereka? Baru juga aku mau menghampirinya...hey...Kiko ..Sela tunggu aku!" Teriak Anet segera berlari untuk mengejar mereka berdua saat itu.
Anet menarik tangan Kiko dan berhasil menghentikan langkah kakinya saat itu yang hampir saja masuk ke dalam kelas mengikuti Sela yang sudah lebih dulu berada di dalam dan melambaikan tangan menyuruh Kiko untuk segera masuk ke sana saat itu.
"Ah..hah...hah..hah.. Kiko tunggu, kenapa kalian berlari seperti tadi, aahh..aku sudah berusaha mengejarmu tapi kau tidak berhenti, ada apa dengan Sela?" Tanya Anet yang baru sampai saat itu.
"Ohh..itu dia bilang dia sudah mengerjakan tugas matematika yang diberikan oleh ibu guru Yuni kemarin, kamu tahu kan soal yang kau bilang sangat sulit itu," ucap Kiko yang langsung dianggukkan oleh Anet secepatnya.
"Hey...kalia berdua sedang apa masih disana ayo cepat kemari, kalian tidak mempercayai aku bukan, ayo cepat!" Ucap Sela berteriak kepada Anet dan Kiko.
Dengan cepat mereka segera masuk ke dalam kelas dan melihat Sela yang melepaskan tas sekolahnya lalu dia mulai mengobrak-abrik isi di dalam tasnya, Sela terus saja mencari dimana keberadaan buku tugasnya hingga dia mulai merasa panik dan cemas karena tidak kunjung berhasil menemukan buku itu juga setelah beberapa saat dan dia sudah mengeluarkan semua benda yang ada di dalam tasnya tersebut.
"Hah....dimana buku tugasku, perasaan aku tadi malah sudah mengerjakan semua soalnya dan aku....aaahhh.... astaga aku meninggalkannya di meja belajar itu, iya aku melupakannya, ahhh bagaimana ini?" Gerutu Sela memikirkan.
Dia ingin menghubungi Akira tetapi dia tidak tahu nomornya sehingga tentu saja dia tidak bisa melakukan apapun, ketika melihat jam di dinding juga tidak akan sempat jika dia kembali pulang ke sana lalu mengambil buku itu lagi, waktunya terlalu mepet sekali meski dia memakai sepeda atau berlari tetap saja itu tida akan sempat apalagi jika menunggu bus itu akan semakin tidak dapat diandalkan.
Sedangkan Kiko dan Anet terus menatap heran melihat wajah Sela yang menjadi kusut dan melihat semua barang yang ada di dalam tas Sela berserakan diatas meja miliknya saat itu.
"Sela mana? Tadi kau bilang sudah mengerjakannya dan akan menunjukkannya padaku juga Anet, mana sekarang bahkan buku tugasnya kau lupa untuk membawa itu bukan?...aahh, Sela sudahlah kau jangan seperti ini, aku tahu kau sangat tertekan tapi kau tidak bisa membohongi kami seperti ini, tenang saja oke bukan hanya kamu yang kesulitan aku dan Anet juga sama, lihat aku bahkan belum mengerjakan satupun, aku mau menyontek pada Anet dia hanya tinggal mengerjakan satu soal lagi, lebih baik kau cepat menyalin di buku lain agar ibu guru Yuni tidak memarahiku." Ucap Kiko kepada Sela sambil menunjukkan buku tugasnya yang masih kosong melompong saat itu.
Sela tentu saja tidak bisa menerima hal tersebut karena semalam dia tidur larut malam sekali hanya untuk mengerjakan semua tugas matematika yang sangat sulit sekali tersebut, jadi rasanya tidak adil bagi dia jika dia tidak bisa mengumpulkan tugas yang sudah dia kerjakan, itu membuatnya kesal dan langsung saja terduduk dengan lesu dan memasang wajah yang murung sekali.
"Huft...tidak bisa kau menyontek saja sendiri aku sudah tidak tertarik, aku suda benar-benar mengerjakannya Kiko, aku hanya lupa saja. Bukan berbohong atau menipumu, aku sungguh sudah mengerjakannya, tapi aahhhh...menyebalkan sekali, kenapa aku harus lupa dengan buku tugas itu!" Gerutu Sela berusaha untuk menjelaskan kepada Kiko saat itu.
"Iya.. sudah-sudah aku paham kok, ayo cepat salin yang ini saja," balas Kiko lagi yang hanya omong kosong sat itu.
Sela tetap tidak ingin melakukannya dia hanya meminta Kiko agar tidak mengacau lagi dengannya, ataupun menganggu dia dan menyuruhnya untuk menyalin jawaban milik Sela saat itu, dia tidak bisa melakukan hal tersebut, karena masih merasa kesal dan kecewa dengan dirinya sendiri yang melupakan hal sepenting itu di rumah orang lain.
"Aishh...Sial...sial...sial..kenapa aku malah melupakan hal sepenting ini, huaa...matilah aku sekarang, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk menghindari ibu guru Yuni yang sangat menyebalkan itu, dan dia selalu menuntut ku untuk tugas yang lebih sulit lagi kali ini, aahh....aku tidak akan sanggup mengerjakannya, itu saja baru tahu setelah Akira mengajariku semalaman, sial sekali huhu," gerutu Sela terus saja merasa kacau sendiri.
Sampai tidak lama Akira sampai di dalam kelas dan dia menepuk pelan kepala Sela dengan buku tugasnya tersebut sekaligus membangunkan Sela yang tengah merasa sedih dan kacau saat itu.
"Heh ...bangun kau lihatlah kemari." Ucap Akira kepadanya.
Tentu saja Sela meringis kekesalan, tetapi dia tidak ingin merubah posisinya yang terus tertunduk ke bawah mejanya saat itu, apalagi saat dia mendengar suara Akira dia semakin tidak ingin mendengarnya karena dia pikir Akira pasti sudah pergi tanpa melihat ke kamarnya dan dia juga tidak akan tahu apa yang tertinggal di kamarnya itu.
"Diam kau! Jangan menggangguku, dan jangan memerintah aku disaat aku tengah sedih dan kacau seperti ini!" Bentak Sela pada Akira.
"HM....sudahlah kau ini terlihat konyol, ini buku yang kau cari sampai se frustasi itu ya, aku tahu disini, kau lihatlah dulu." Ucap Akira sambil dia segera duduk lalu membaca buku pelajaran miliknya lagi.
"Apa jangan-jangan itu buku tugasku?" Batin Sela sambil terus saja matanya terbuka sangat lebar karena akhirnya dia mengetahui bahwa apa yang dibawa oleh Akira sungguh buku coklat tugasnya tersebut.
sela sangat bahagia dan begitu senang ketika melihat ke atas meja saat itu, bahkan dia sampai tersentak kaget sambil membelalakkan matanya dengan sangat lebar, juga membuka mulutnya luas saat pertama kali melihat buku tugasnya tersebut benar-benar ada di hadapannya kali ini.
"Wahh..... astaga... Buku ini, aahhh...huhu akhirnya aku selamat, terimakasih banyak Akira." Ucap Sela sangat senang dan terlalu kepalang senang saat itu.
Dia bahkan terus memeluk buku tugasnya sendiri yang bahkan selama ini sangat dia benci, hal itu membuat Kiko dan Anet yang mihat Sela begitu senang sambil memeluk sebuah buku di tangannya, tentu saja Kiko dan Anet merasa sangat cemas dan heran melihatnya dalam keadaan seperti itu.
"Eh.....Sela apa kau sungguh sudah gila karena tekanan pelajaran ya,...ihkkk..aku takut dekat denganmu sekarang kau sudah terinfeksi virus yang bahaya untuk kesehatan mental kami semua saat ini" ujar Kiko kepadanya.
Sela sama sekali tidak perduli dengan ucapan dari Kiko barusan walaupun ucapannya tersebut terkesan menghina Sela dan Kiko semakin berani sampai seperti itu kepadanya, namun karena saat ini Sela begitu sangat senang jadi dia tidak terlalu berfokus atau mempermasalah ucapan semacam itu ataupun hal-hal buruk yang akan menimpa dia kedepannya, hanya karena dia sudah tidak se tomboi sebelumnya dari ucapan maupun tingkah lakunya.
"Ahaha...bodoh amat aku tidak perduli lihatlah aku sudah benar-benar menyelesaikannya, aku yakin kalian pasti akan iri denganmu bukan, ahaha...aku ini kan pintar hampir sama pintarnya dengan Anet, iya kan Anet hehe." Balasku sambil memamerkan buku tugasku yang sudah ketemu dan membuka bagian lembaran tugas itu sampai membuat Anet dan Kiko terperangah tidak percaya dengan jawaban yang aku buat pada buku tugas tersebut.
Sayangnya meski sudah melihat buku tugas Sela secara langsung dan mereka berdua sudah melihat jawaban yang ada di dalam buku tugas Sela, Kiko tetap saja tidak mempercayainya da dia malah menduga hal yang tidak-tidak kepad Sela saat itu, sedangkan Anet sendiri menatap kagum melihat Sela yang berhasil menyelesaikan tugas sesulit itu.
"Wahhh...Sela kamu hebat sekali, aku bahkan baru menyelesaikannya, kamu sudah bekerja dengan keras Sela." Ucap Anet yang mendukung Sela dan dia turut merasa senang melihat temannya suda berhasil.
"Hah... Palingan dia mengisinya asal-asalan buka? Sudahlah Sela kau itu sudah diciptakan untuk sama menjadi aku, kau harus bekerjasama denganku agar kita tidak di keluarkan dari sekolah bukan? Kau harus tetap mencontek pada orang yang lebih ahli seperti Anet atau Akira, agar kau selamat dari ibu guru yang sangat menyebalkan tersebut." Timbal Kiko saat itu.
Sela langsung memasang tatapan membunuh yang begitu tajam dan mengerikan kepada Kiko saat itu, dia sudah menahan diri untuk tidak berbuat kasar kepada Kiko namun kali ini Sa merasa Kiko sudah benar-benar kelewatan kepadanya dan Sela tidak bisa menahan emosi di dalam dirinya lagi, sehingga langsung saja Sela menjambak rambut Kiko dengan sekuat tenaganya juga memperingati dia aga tidak terus menganggapnya bercanda ataupun mengatakan bahwa dia dan dirinya sama.
"Aishhh..Kiko kau benar-benar ya, kemari kau rasakan ini eughh....kau harus tahu bagaimana rasanya hah? Sakit kan...iya bagus..ini sakit dan menyakitkan untukmu itulah yang aku rasakan sebab ucapanmu yang tidak pernah disaring tersebut, apa kau sudah mengerti hah!" Bentak Sela sambil terus saja menjambak rambut Kiko dengan kuat saat itu.
Sampai Akhirnya Kiko mau berhenti dan dia dengan cepat memohon kepada Sela agar melepaskan rambutnya saat itu, sambil terus meringis kesakitan merasakan rambutnya yang di jambak ke atas sehingga memberikan rasa sakit yang dua kali lipat.
"Aaa...AA...aawww..iya..iya..Sela aku mengerti sekarang, aku mengerti, tolong lepaskan aku, aaaahh..rambutku akan habis rontok karena kau jika kau terus menjambak aku sekuat ini, Sela ayo lepaskan aaahhhh," ucap Kiko terus meringis kesakitan sambil memohon agar Sela melepaskan rambutnya tersebut.
Sedangkan Anet hanya bisa menertawakan Kiko yang lemah dan selalu saja bertengkar dengan Sela hanya karena hal-hal sepele seperti itu, sampai akhirnya Sela melepaskan jambakkan dari kepala Kiko, hingga tangannya terasa sedikit lengket karena mengenai krim rambut yang dipakai oleh Kiko saat itu, juga ada beberapa helai rambut Kiko yang menempel di tangannya.
"Aishh ..kau, awas saja jika kau bernia menghina dan memperlakukanku seperti itu, kau akan aku pecat menjadi sahabatku, apa kau paham hah?" Bentak Sela memperingatinya saat itu.
"Aduhh..iya..iya...lagian itukan sangat aneh sekali jika tiba-tiba saja kau bisa mengerjakan soal sesulit itu, jadi aku pikir kau hanya bercanda saja," balas Kiko kepadanya.
"Ahh...otakmu itu memang benar-benar makanan semua isinya, kau pikir saja lihat ini kenapa kantung mataku menghitam dan bengkak begini, ini artinya aku belajar semalaman dasar bodoh!" Bentak Sela menjawabnya lagi dengan perasaan yang sangat emosi.
Kiko terus saja menunduk karena dia takut dengan amarah dari Sela saat ini, dia juga terus merapihkan rambutnya yang menjadi berantakan akibat di jambak oleh Sela sebelumnya, begitu juga dengan Sela yang mulai sadar bahwa krim kepala yang digunakan oleh Kiko menempel di tangannya saat itu.
"Aahhh ..sialan kau Kiko, lihat krim rambutmu menempel di tanganku aishh...apa kau masih memakai krim rambut sialan itu yah? Aaahh....baunya sangat menyengat sekali, aaaah...ini menjijikan, KIKO! Kau ini benar-benar yah!" Gerutu Sela sambil diakhiri dengan bentakkan yang sangat kencang menyebutkan nama Kiko sampai membuat Kiko merinding mendengarnya saat itu.
Sela pun langsung bangkit dan dia mengusapkan tangannya itu pada seragam yang digunakan oleh Kiko dan itu membuat Anet terus saja tertawa dan menjadi penengah diantara Kiko yang berlari menghindari Sela saat itu, juga Sela yang berusaha untuk menangkapnya dan memberikan pelajaran sekaligus membalas perbuatan Kiko kepada dia sebelumnya.
"Aaaa....Anet tolong aku, lindungi aku Anet!" Teriak Kiko sambil berlari bersembunyi di balik tubuh Anet saat itu.