
"Aishh ...ternyata buku itu disini, membuatku pusing saja terus harus mencarinya kesana kemari, ternyata berada disini" gerutu Sela dengan wajah yang sangat kesal.
Dia mengambil buku itu dengan kasar dan langsung memberikannya kepada Akira dengan menaruh buku itu ke hadapannya.
"Bruk....ini buku yang kau minta" ucap Sela dengan tatapan mata yang penuh dengan kebencian terhadap Akira.
Dia kemudian hendak duduk dan sudah mendorong kursinya yang berada tepat di samping Akira saat itu, namun dengan cepat Akira justru malah memintanya untuk mengambilkan buku lain yang dia katakan untuk kebutuhan belajarnya.
"Ehhh...aku lupa tolong ambilkan aku buku rumah matematika turunan, aku juga membutuhkan buku itu, dan itu yang paling penting, cepat ambilkan tunggu apa lagi kau masih berdiri disini" ucap Akira menyuruh Sela untuk ke dua kalinya dengan nada yang sombong seperti itu.
Sela menghembuskan nafas yang sangat kasar dan dia langsung saja pergi penuh dengan kemarahan di dalam jiwanya saat itu, dia mencari lagi buku tersebut dan kembali memberikannya pada Akira sama dengan apa yang dia lakukan sebelumnya, namun lagi, lagi dan lagi Akira justru kembali menyuruhnya mengambil buku lain lagi.
"Oh...ya...aku juga ingin buku latihannya, cepat bawakan" ucapnya memerintah untuk kesekian kalinya.
Sela sudah tidak bisa menahan emosi di dalam dirinya lagi dia sudah hampir meledak saat itu dan langsung saja dia menatap ke arah Akira dengan tatapan yang sangat tajam dan kedua tangan yang sudah dia kepalkan sangat kuat hingga menunjukkan wajahnya yang mulai memerah di penuhi dengan kemarahan.
"Untuk apa kau memberikan tatapan seperti itu padaku, aku sama sekali tidak takut denganmu, cepat ambilkan bukunya aku sudah selesai membaca yang ini dan akan melakukan latihan" tambah Akira mendesak Sela lagi.
"Akira bukankah kau memiliki kaki? Kenapa tidak kau saja yang mengambilnya, kau terus menyuruh aku berjalan kesana kemari hanya untuk mengambilkan buku sebagai bahan belajarmu dan mengembalikan kembali buku itu pada tempatnya, sedangkan kau malah terus saja duduk disini dengan santai, apa kau sedang mengerjai aku yah?" Balas Sela dengan kesal juga kedua alis yang dia kerutkan bersama.
Sebenarnya saat itu Akira tengah menahan tawa di dalam dirinya dia berusaha melipatkan kedua bibirnya dengan kuat agar tidak terlihat tersenyum apalagi sampai tertawa di hadapan Sela, karena dia memang sengaja melakukan semua itu untuk mengerjai Sela, sebab Akira merasa sangat kecewa da kesal karena Sela tidak mengenali dirinya, padahal sejak kecil mereka sudah pernah berjanji untuk menjadi teman sejati hingga selamanya.
"Wajahnya itu sangat lucu dan aku tidak bisa untuk menahan diri lagi jika dia terus memasang wajah seperti babi, lagi pula siapa suruh dia malah tidak mengenaliku, sangat menyebalkan" batin Akira saat itu.
Karena Sela yang marah dan terus memasang wajah penuh emosi dengan kedua pipi yang mengembung juga kedua alis yang di tekuk seperti sincan, Akira pun segera pergi untuk mengambil buku itu sendiri karena dia tidak tahan melihat wajah Sela yang hampir membuat dia ketahuan sebab tidak bisa lagi menahan senyum di wajahnya.
"Jika kau tidak mau pergi kau tidak perlu marah" balas Akira sambil segera bangkit berdiri dan pergi mengambil buku itu sendiri.
Sela langsung saja duduk dan dia terus menghembuskan nafas kasar, sebab sangat kesal sudah di permainkan oleh Akira yang membuat dia harus pergi mencari banyak buku di dalam perpustakaan tersebut berkali-kali hingga membuat kakinya terasa sakit.
"Aishh .. benar-benar, aku yakin sekali jika dia mengerjai aku dengan sengaja sebelumnya...aaahh bagaimana bisa aku masuk dalam jebakan dia seperti tadi, lihat saja aku akan membalas perbuatannya padaku kali ini" gerutu Sela sangat kesal.
Dia langsung berusaha menenangkan dirinya dan mengistirahatkan tubuhnya karena merasa cukup lelah, bukannya membaca Sela justru malah tertidur di perpustakaan menggunakan beberapa buku yang sebelumnya tengah di pelajari oleh Akira, dia menggunakan beberapa buku itu sebagai sanggahan kepalanya di meja dan terus tertidur dengan lelap.
Sampai Akira kembali dan melihat Sela yang tengah tertidur, Akira hanya tersenyum tipis dengan membawa sebuah buku yang dia pikir akan berguna bagi Sela dan bisa membantunya dalam belajar serta meningkatkan diri dalam pelajaran matematikanya di kelas ibu guru Yuni.
"Benar-benar babi, dia hanya bisa tidur dan makan, bahkan di perpustakaan dia gunakan untuk tidur, memangnya waktu malah dia gunakan untuk apa sampai selalu saja tidur seperti ini setiap hari" gerutu Akira dengan pelan.
Dia segera menarik kursinya dan duduk di samping Sela, Akhir amenatap ke samping melihat wajah Sela yang tertidur dengan lelap, setelah dia perhatikan dengan baik, memang wajah Sela yang saat ini cukup mirip dengan wajahnya di masa kecil, setiap kali melihat Sela Akira merasa senang karena dia bisa di pertemukan lagi dengan teman terbaiknya ketika dia kecil, namun dia juga merasa kecewa dan sedih, sebab seakan Sela sudah melupakannya, tidak mengenali dirinya lagi dan memiliki sahabat baru yang dia tidak kenali.
"Aaahhh...untuk apa aku merasa senang dia bahkan tidak mengenaliku, padahal wajahku tidak banyak berubah, dia memang babi yang buta!" Tambah Akira merasa sangat kesal.
Dia pun segera melanjutkan belajarnya seorang diri, Akira terus membaca dengan teliti dan menyelesaikan semua soal latihan yang pernah di berikan oleh ibu guru Yuni kepadanya atau pun pada latihan soal yang ada di dalam buku, bagi seorang Akira belajar seperti itu begitu menyenangkan dan dia sudah terbiasa duduk berjam-jam hanya untuk membaca buku dan memahami semua yang dia baca di dalamnya.
Akira selalu membaca buku dalam setiap harinya walau dia tetap bisa mengerjakan semua soal meskindia tidak belajar sekalipun, sebab otak jenius yang dia miliki sejak dia lahir, kelebihan yang dia miliki begitu sangat menonjol di bandingkan anak-anak pada umumnya, tetapi kekurangan yang dia miliki juga tidak kalah menonjol.
Dia selalu memilih untuk menjauhi keramaian karena dia pikir pemikiran orang-orang tersebut terasa sangat berbeda dengan apa yang dia pikirkan dalam kepalanya, tidak ada orang yang mau berteman dengannya karena mereka mengira bahwa Akira adalah anak yang aneh sebab dia selalu benci dan menjauhi siapapun yang menyentuh dirinya atau menyentuh barang miliknya.
Dia juga terkenal sebagai anak yang jahat sebab selalu saja keras kepala dan berbicara dengan ucapan yang sering menyakiti bagi orang lain, meski sebenarnya semua ucapan yang sering keluar dari mulut Akira semuanya adalah kejujuran dan apa adanya, Akira hanya selalu mengutamakan kebenaran di bandingkan perasaan orang lain yang menjadi lawan bicaranya, dia selalu benci ketika orang terus menatapnya cukup lama.
Bahkan ibunya sendiri sudah angkat tangan dan tidak bisa lagi mengurusi sifat Akira yang sulit di rumah ini, terlebih penyakitnya yang semakin memburuk dari hari ke hari, dia bahkan selalu membawa obat anti virus dan penyeterilan setaip saat, dia sangat bersih dan rapih bukan karena ingin tetapi penyakit yang dia miliki yang menyebabkan dia harus seperti itu.
Akira tidak bisa melihat teman yang kotor dan berantakan dia sangat jeli dan teliti pada apapun, bahkan saat ini saja dia tidak sengaja melihat Sela malah mengigit pensil yang dia gunakan untuk belajar, itu sungguh membuat Akira terganggu karena pensil itu hanya ada satu, tapi justru malah di gigit oleh Sela ketika dia tidur, dan mungkin Sela tidak menyadari hal itu.
"Astaga...apa yang dia lakukan, bagaimana bisa dia menggigit pensilku saat dia tidur seperti ini, aaahhh itu sangat menjijikan berapa banyak bakteri dari mulutnya yang akan berpindah pada pensilku" ucap Akira merasa cukup takut saat itu.
"Heh...bangun kau...Sela...bangun cepat!" Ucap Akira membangunkannya dengan paksa.
Sela yang merasa tidurnya terusik dia langsung saja mengusap cukup besar dan menarik pensilnya itu, dia hampir saja mengarahkan pensil yang sebelumnya dia gigit ke depan Akira yang membuat Akira sedikit kaget hingga dia langsung bangkit menjauh darinya.
"Hoaamm...ada apa sih aaahh kau mengganggu jam tidurku saja" ucap Sela sambil terus saja meregangkan tubuhnya tanpa sadar terus mengarahkan pensil itu kesana kemari.
Akira sendiri terus saja berjaga-jaga sendiri, dia sangat merasa takut pensil itu akan mengenai dirinya hingga tiba-tiba saja ketika Sela melirik ke arah Akira yang menjauh darinya, barulah saat itu Sela tersadar dan dia merasa sangat aneh dengan Akira.
"Ehhh..ada apa denganmu kenapa aku merasa kau seperti menjauhi aku, apa yang salah denganku?" Ucap Sela sambil terus melihat ke tubuhnya sendiri, mencari apa yang salah pada dirinya.
Bahkan Sela malah mencium keteknya sendiri juga rambutnya karena dia pikir ada yang salah dalam dirinya sebab Akira terus menjauh seperti itu dengan mengarahkan buku yang dia gulung kepadanya.
"Apa? Aku tidak bau badan, rambutku juga selalu aku cuci setiap hari mulai sekarang, apa yang salah, aku juga sudah menggosok gigi, kenapa kau terus menjauh seperti itu dariku" ucap Sela sambil ikut bangkit berdiri dan berjalan pelan mendekati Akira.
Akira yang melihat Sela terus berjalan ke arahnya dengan tangan yang masih memegangi pensil itu dia merasa sangat cemas dan takut terus saja dia berjalan mundur tanpa mihat ke belakang dan terus saja menjauh dari Sela karena merasa takut dengan hal kotor yang dia anggap menjijikan pada pensil tersebut.
"Hei.....jangan berani-beraninya kau mendekatiku, minggir kau dan menjauhkan dariku, kau sangat menjijikan" ucap Akira membuat Sela sangat kesal.
Tentu saja Sela langsung merasa sangat marah dan naik pitam, karena tanpa alasan yang jelas tiba-tiba saja Akira menjauhi dia ketika dia baru saja di bangunkan olehnya terlebih sekarang dia justru mengatakan bahwa dirinya menjijikan, Sela langsung memebalalakkan matanya dengan sangat lebar dan tidak bisa lagi menahan diri pada Akira dia langsung semakin mendekati Akira dan mendesaknya hingga tubuh Akira terhantuk pada dinding di balik tak buku saat itu.
"Kau...beraninya kau mengatai aku menjijikan, apa yang kau lihat dariku sampai kau berkata sekasar itu padaku?" Bentak Sela cukup keras saat itu.
Akira tidak bisa mengatakannya namun dia terus menatap ke arah pensil yang di pegang oleh Sela dengan tatapan yang sangat aneh, membuat Sela mulai menyipitkan matanya dan dia mulai merasa curiga, dia pun mulai mengangkat pensil yang dia pegang itu.
"Apa karena pensil ini kau mengatai aku menjijikan hah? Hanya karena aku memegangi barang milikmu kau bisa mengatai aku sekasar itu, iya?" Tanya Sela lagi sambil terus mendesak Akira.
Dia sudah tidak tahan lagi, Akira selalu merasa resah tidak karuan, dia terus berusaha untuk menahan dirinya dan rasa sakit di kepalanya yang seakan terus memaksa dia untuk membayangkan banyaknya bakteri yang ada pada pensil tersebut, dia terus memalingkan pandangannya dari Sela atau pun pensil itu.
Namun Sela sendiri yang sama sekali tidak tahu apapun dia hanya mengerutkan kedua alisnya merasa sangat heran sebab Akira terlihat begitu aneh, dia pun langsung menarik tangan Akira dan memberikan kembali pensil itu kepadanya karena Sela pikir Akira seperti itu karena dia mengambil pensil miliknya.
"Aishh....ada apa denganmu, ini hanya sebuah pensil, sini kau pegang dan aku kembalikan, aku tidak ingin berurusan lagi denganmu, bawa pensil sialanmu itu CK..." Ucap Sela dengan kesal dan berdecak kesal.
Dia langsung berbalik setelah memberikan pensil itu pada Akira, sedangkan Akira sendiri mulai merasa takut yang tidak terkendali dia langsung saja melemparkan pensil itu dan memegangi kepalanya dengan sangat kuat dia terduduk di lantai dengan lemah dan wajah yang pucat pasi saat itu, dia tidak bisa menenangkan dirinya dan terus melihat tangannya sendiri yang baru saja memegangi pensil bekas di gigit oleh Sela.
"Tidak...tidak...pensil itu kotor aaaaahh..." Ucap Akira yang membuat Sela mulai merasa aneh.
Sela pun kembali berbalik dan melihat Akira yang sudah berjongkok di bawah dengan terus saja melihat tangannya sendiri seperti merasa sangat jijik dengan tangannya, keringat yang terlihat bercucuran di dahinya, itu membuat Sela sangat kaget ketika melihatnya, dengan cepat Sela langsung mendekatinya dan mencoba bertanya kepadanya namun Akira justru malah menghempaskan tangan Sela yang hendak memegangi bahunya saat itu.
"Akira apa yang terjadi denganmu, apa kau baik-baik saja?" Tanya Sela dengan wajah yang sangat cemas,
"Aaahhh....Akira kau ini kenapa sih, kenapa menghempaskan tanganku?" Ucap Sela semakin merasa heran.
Akira sama sekali tidak bisa menjawabnya dia hanya terlihat bergetar ketakutan tidak menentu dan Sela mulai memperhatikan arah pandang Akira saat itu, yang ternyata dia menatap pada pensil yang sebelumnya dia pegang.
Sela segera memungut pensil itu dan membuangnya pada tong sampah yang berada tidak jauh di sekitar sana, karena dia pikir Akira takut dengan pensil tersebut.
"Aku sudah membuangnya, kau akan aman dan kau tidak perlu takut, ada aku disini aku akan membantumu kenapa kau harus takut pada sebuah pensil, itu tidak akan menggigit mu" ucap Sela kepadanya,
"Tapi kau menggigitnya" balas Akira yang suda terlihat agak tenang ketika Sela membuang pensil tersebut.
Mendengar itu Sela langsung memebalalakkan matanya sangat lebar dia mulai kebingungan dan mengingat kembali, sampai akhirnya dia mulai sadar bahwa dia memang mengingit pensil itu ketika dia tertidur tanpa sadar sebelumnya.