
"Sela kenapa kau diam saja, ayo ke depan dan mana catatanmu? Jangan bilang kau tidak mencatat semua yang ibu tulis di depan!" Ucap ibu Yuni yang sudah menatapnya dengan tatapan yang tajam dan mencekam.
"Aahh...ibu kau jangan berpikir buruk, aku memang tidak mencatatnya tetapi bukan karena aku tidak ingin, lihatlah buku ku sudah habis dan bolpoinnya juga habis, bagaimana aku bisa menulis jika semua alatnya tidak mendukung, tapi tenang saja Bu aku akan menyelesaikan besok yah" ucap Sela kepada ibu Yuni sambil tersenyum menampakkan giginya yang rapih.
Saat itu seketika ibu guru Yuni merasa sangat kesal dan gemas sekali ketika mendengar ucapan dari Sela barusan apalagi ketika melihat buku catatan Sela yang sudah di penuhi dengan curat coret yang tidak jelas saat itu, membuat dirinya merasa sangat kesal melihatnya apalagi tidak sengaja Sela justru melah menunjukkan buku catatan yang memiliki tulisan (aku sangat bosan) yang sudah dia tulis selama jam pelajaran ibu Yuni hingga membuat bolpoinnya habis.
Anet yang melihat itu dia langsung saja memberitahu Sela dengan cepat sehingg dia langsung saja memanggil nama Sela dengan pelan dan memberikan kode kepadanya dengan menurunkan tangannya dan berusaha untuk memberi tahu Sela saat itu, namun sayangnya Sela tetap tidak mengerti dengan kode yang di berikan oleh Anet kepadanya.
"Astaga...Sela apa yang kamu lakukan, aishh...syuuutt...Sela turunkan...ayo turunkan....Sela cepat turunkan buku catatanmu" ucap Anet memberitahunya sambil melambaikan tangan dan menatap Sela dengan wajah yang sangat tidak menentu saat itu,
Sela yang sama sekali tidak memahami apa yang dimaksud oleh Anet dia justru malah terlihat kebingungan sendiri dan terus saja mengerutkan kedua alisnya bersamaan.
"Apa....kenapa si Anet ini menatap aku begitu, dia kenapa sih?" Batin Sela merasa kebingungan.
Anet sudah berusaha sebisa dirinya untuk memberitahu Sela agar menurunkan buku catatannya itu segera tetapi Sela tetap saja tidak mengerti hingga ibu guru Yuni yang mulai curiga melihat Anet terus menghadap ke belakang pada Sela dia mulai berjalan pelan menuju meja Sela, tetapi untungnya Akira langsung merampas buku catatan Sela dan memasukkannya ke dalam rak di bawah mejanya dengan cepat sehingga ibu Yuni tidak sempat melihatnya lagi saat itu.
"Ehhh....apa yang kau lakukan kembalikan buku catatanku kenapa kau malah merampasnya begitu saja?" Ucap Sela merasa kesal karena bukunya di rampas begitu cepat oleh Akira.
Ibu Yuni sendiri saat itu sudah berdiri di hadapan Sela dan dia merasa penasaran juga sedikit curiga karena Akira menyembunyikan buku catatan milik Sela dari dirinya tepat ketika dia baru sampai di samping meja mereka.
"Heh...apa yang sedang kalian bertiga lakukan, apa kalian menyembunyikan sesuatu dari ibu yah?" Ucap ibu guru Yuni sambil menatap ke arah Sela, Akira dan Anet dengan tatapannya yang tajam saat itu dan sangat mencurigai mereka.
Sedang cepat sebelum Sela berbicara dan membuat semuanya semakin rumit, Anet langsung saja menimpali ucapan dari ibu guru Yuni saat itu.
"A..ahhh...tidak ada Bu hanya saja, sebelumnya aku sengaja menyuruh Sela agar menurunkan buku catatannya karena itu sangat memalukan dan aku hanya meminta Selanahar mencatat pelajaran dari buku catatanku, itu saja kok bu, tidak ada yang lain lagi" balas Anet sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang rapih dan putih saat itu.
Sela menatap tajam ke arah Anet dan dia mengerutkan alisnya seakan penuh pertanyaan kepada Anet saat itu, sebab dia benar-benar merasa sangat kebingungan mengapa dia justru malah berbicara seperti itu kepada ibu guru Yuni.
Sampai di saat Sela tengah termenung kebingungan seperti itu, dia langsung saja di tanya oleh ibu Yuni dan di tatap dengan sangat dekat saat itu, sampai membuat Sela tersentak ke belakang sedikit dan dia juga merasa sangat gugup saat itu, sebab tidak seperti biasanya ibu Yuni kali ini terlihat jauh lebih membenci dirinya dari sebelumnya.
"Sela...ayo jawab ibu dengan jujur, apa yang dikatakan oleh temanmu Anet itu benar?" Tanya ibu guru Yuni menyipitkan matanya seperti tengah menyelidiki sesuatu kepada Sela.
"E..e..ehhh....iya Bu tentu saja itu benar, memangnya menurutmu apa lagi jika bukan hal itu, aku kan sudah berusaha untuk menjadi siswa yang baik yang bisa kau kagumi dan bisa kau banggakan iya kan, jadi tentu aku akan meminta catatan dari siswa teladan seperti sahabatku Anet tidak mungkin aku meminjam catatan si Kiko itu kan, dia juga sama bodohnya dariku apa yang bisa aku harapkan darinya" balas Sela yang justru malah membawa-bawa nama Kiko saat itu.
Kiko yang mendengar itu dia langsung saja merasa sangat kesal dan mengetuk mejanya pelan sambil cemberut menatap ke arah Sela, tetapi Sela sendiri sama sekali tidak perduli meski Kiko terlihat sangat kesal terhadap dirinya saat itu.
"Apa kau lihat-lihat memang benar kok, nilai matematikamu hanya beda satu angka denganku dan itu bahkan kau lakukan dengan berpikir keras sedangkan aku hanya asal menjawabnya, huh aku lebih beruntung di banding kau" balas Sela lagi saat itu.
"Aishh..Sela kau benar-benar menghinaku yah" bentak Kiko yang tidak bisa menahan dirinya lagi saat itu.
Ibu guru Yuni yang melihat pertengkaran diantara muridnya dia langsung saja menenangkan dan menghentikan perdebatan diantara Sela dengan Kiko secepatnya dan dia masih harus melanjutkan pembelajarannya di kelas tersebut, sebab waktu sudah tersisa sedikit lagi saat itu.
"Heh...sudah...sudah...kalian ini sahabat tapi malah selalu bertengkar seperti ini, apa apaan kalian ini, sudahlah kembali fokus pada pelajaran di depan ibu akan menjelaskannya satu kali lagi dan jika ada yang ingin bertanya silahkan berdiri atau angkat tangan kalian" ucap ibu guru Yuni sambil berjalan kembali ke depan dengan cepat.
Anet langsung saja .erasa sangat tenang dan lega dia segera mengusap dadanya dengan tenang dan menghembuskan nafasnya dengan lega saat itu.
"Huuuu.... akhirnya ibu guru Yuni pergi juga, aahhhh...membuat jantungku hampir copot saja" gerutu Anet merasa sangat lega dan bisa menjadi tenang sekarang.
Sela yang masih kebingungan dia ingin sekali bertanya saat itu juga mencari kebenarannya kepada Anet saat itu tetapi sayangnya ibu guru Yuni selalu memperhatikan dirinya sehingga dia tidak bisa beralih sedikit pun dari wajah ibu Yuni dan papan tulis, sulit sekali untuk Sela bisa bersantai di dalam pelajaran ibu Yuni sekarang karena dirinya terus di perhatikan oleh ibu guru Yuni, terlebih lagi Akira si manusia jenius itu justru mah terus bertanya dan membahas soal dengan ibu Yuni, membuat Sela benar-benar tidak bisa merasa tenang sejenak saja.
"Ohhh ..astaga...kapan penderitaan diriku akan berakhir, dia cerewet sekali saat membahas pelajaran aishh...dasar si manusia pintar aku benci dengan kepintarannya" gerutu Sela pelan dan tidak sengaja bisa terdengar oleh Akira saat itu.
Akira langsung menatap ke arah Sela dan dia terlihat memasang wajah yang sangat datar kepada Sela saat itu, di tambah kedua tangan Akira yang dia taruh di dadanya dengan di lipat begitu erat saat itu.
Sela yang tidak sengaja melirik ke samping dan melihat Akira menatapnya dengan tatapan tajam, wajah datar serta gayanya yang seperti itu, langsung saja merasa heran dan bertanya kepadanya dengan blak-blakan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Hah....hanya orang bodoh yang akan menyukai wanita sepertimu" balas Akira menyepekan Sela saat itu, dia juga langsung saja memalingkan pandangannya dengan cepat ke arah lain saat itu.
Sedangkan Sela sendiri menatap kesal karena jawaban dari Akira sangat melukai harga dirinya sebagai seorang wanita, dia tidak menduga ternyata ada orang yang berani berbicara seperti itu kepada dirinya bahkan dengan wajah yang sangat sombong dan menyebalkan seperti Akira.
"Aishh....jika bukan kelasnya ibu guru Yuni habis kau denganku!" Balas Sela merasa sangat kesal dan dia sudah melayangkan tangannya hendak menepuk kepala Akira namun dia tahan saat itu.
Hingga pembelajaran dari ibu guru Yuni sudah selesai dan sudah di tutup olehnya sampai tidak lama kemudian di saat semua orang sudah bersiap keluar dari ruangan kelas begitu pula dengan Sela, kini dia justru di tahan oleh ibu Yuni bersama Akira dan teman-teman yang lainnya juga di mintai untuk duduk kembali padahal saat itu mereka sudah berdiri hendak pergi dari dalam kelas dengan perasaan yang sangat tidak sabar.
"Kalian jangan terburu-buru untuk pergi dari kelas duduk kembali ada pengumuman yang harus ibu sampaikan kepada kalian semua terutama kepada kau Sela! Jadi jangan coba-coba untuk kabur" ucap ibu Yuni yang seakan mengetahui bahwa saat itu Sela hendak pergi mengendap-ngendap melalui pintu belakang.
Sela yang baru saja hendak pergi dia langsung kembali ke kursinya dan duduk dengan kesal sambil menaruh kembali tas hijau miliknya dengan cukup keras.
"Baik Bu, aku juga tidak kabur kok" balas Sela dengan sinis saat itu.
"Baiklah anak-anak semua, kali ini kita memiliki salah satu perwakilan olimpiade matematika yang sangat berbakat dari kelas kita yang tidak lain adalah Akira, silahkan beri tepuk tangan dan terus beri dukungan yang besar untuknya agar bisa memenangkan olimpiade ini dan mengharumkan kelas kita semua" ucap ibu guru Yuni mengumumkan semua itu.
Seketika semua siswa langsung saja bertepuk tangan dengan meriah dan tidak sedikit siswa yang memuji kepintaran dari Akira, mereka semua terlihat sangat kagum dengan kepintara Akira yang sudah bisa mewakili sekolah itu juga kelas mereka untuk mengikuti lomba olimpiade yang bergengsi seperti yang di katakan oleh ibu guru Yuni saat itu.
Apalagi para siswa wanita dimana mereka sangat mengagumi sosok Akira yang pandai dan tampan juga cukup misterius dan tidak banyak bicara saat di dalam kelas maupun di luar, sehingga hal tersebut tentu saja membuat para siswa wanita sangat mengagumi dirinya dan terlihat tergila-gila kepada seorang Akira.
Banyak juga siswa wanita yang diam-diam terlihat memasukkan hadiah ke dalam rak di bawah meja Akira atau di atas meja Sela sekalipun hingga terkadang membuat Sela kesal.
Sela yang sudah sangat tidak sabar untuk segera keluar dari kelas karena telinganya sudah terasa kebas mendengarkan banyak nya pujian dari teman-teman sekelasnya yang terus saja membicarakan hal-hal bagus dari Akira.
"Wahhh.... Akira adalah idamanku, dia sangat pandai dan tampan aku ingin menjadi pacarnya" ucap salah satu siswa yang duduk di depan meja Sela saat itu,
"Dia itu cocok denganku, dia memang sangat tampan aku lebih menyukai ketampanannya dari pada kepandaian yang dia miliki, pandai kan masih bisa belajar bukan" balas teman sebangkunya yang terlihat sangat antusias juga melirik diam-diam ke belakang.
Hal itu membuat Sela sangat jengkel dan kesal dia langsung saja menggebrak mejanya yang dekat dengan kursi kedua wanita tersebut hingga mengagetkan kedua wanita yang duduk di meja depan.
"Brak....." Suara meja yang di tepuk cukup keras oleh Sela,
"Astaga...Sela apa yang kamu lakukan apa kau sengaja ingin membuat kami kaget dan jantung ngan" balas salah satu wanita yang centil itu,
"Heh....lebih bagus jika kalian jantungan saat aku menepuk mejanya barusan, lagi pula kalian membicarakan orang lain dengan suara yang kurang keras, karena orangnya ada di belakang kalian aishhh hey...satu lagi perlu kalian tahu, orang seperti dia ini tidak akan mau memiliki pacar rempong seperti kalian dia berpacaran dengan buku dan perpustakaan, mana sanggup kalian memiliki pasangan gila belajar seperti dia bukan?" Balas Sela dengan menahan tawa saat itu.
Sampai kedua wanita yang berada di depan meja Sela mereka langsung memasang wajah yang cukup kesal lalu langsung memalingkan pandangannya ke depan lagi dan mengabaikan Sela saat itu.
Hingga di saat Sela tengah cekikikan sendiri menahan tawa atas reaksi dari kedua wanita di depannya yang sangat konyol dia mendengar pengumuman berikutnya dari ibu Yuni mengenai dirinya yang akan menjadi asisten belajar dari Akira untuk persiapan olimpiade matematikanya.
"Baiklah anak-anak untuk pengumuman terakhir, ibu sudah menunjuk salah satu siswa yang akan mendampingi teman kita Akira sebagai asisten dan rekan belajarnya untuk mempersiapkan diri menuju olimpiade matematika nanti, dan siswa itu adalah......Sela" ucap ibu guru Yuni yang membuat Sela langsung saja tersedak salivanya sendiri.
"Ohok....ohok...ohok...a...ap...apa? Bu kenapa harus aku, aku ini bodoh, aku tidak pandai dan aku keras kepala aku juga senang bolos kenapa kau memilih siswa yang brandalan seperti aku?" Ucap Sela yang terbatuk dan langsung saja protes sambil berdiri dengan menatap sangat tidak terima dengan hal itu.
Ibu guru Yuni langsung menenangkan Sela dan menyuruh dia agar kembali duduk saat itu juga, sedangkan Akira sendiri yang melihat reaksi dari Sela sangat kaget dia menahan tawa secara diam-diam karena baginya ekspresi Sela yang kaget dan tidak terima dengan keputusan ibu guru Yuni sangat lucu dan konyol di matanya.
"Fffttt....dia sangat konyol sekali bahkan sangat bangga mengatakan hal buruk tentang dirinya di depan banyak orang" batin Akira menertawakan Sela diam-diam.
"Aishhh...Sela sudah...sudah..diam kau, ayo duduk dan petuhlah dengan apa yang sudah di tentukan, keputusan ini sudah sesuai kesepakatan semua orang dan pihak sekolah, semuanya sepakat memilih kamu karena memang kamu adalah siswa yang paling membutuhkan bimbingan khusus dari guru juga siswa yang cerdas seperti Akira, harusnya kau bersyukur bisa mendapatkan kesempatan sebagus ini, sebab dengan kau menjadi asisten belajarnya Akira, kau bisa belajar banyak hal darinya itu juga sangat berguna untuk menaikkan nilai ujian kelulusanmu nanti, jangan lupakan kau tidak akan bisa lulus jika ada satu saja mata pelajaran yang nilainya di bawah KKM apa kau mau menetap satu tahun lagi di kelas 12 hah?" Ucap ibu guru Yuni yang terlihat sangat jengkel dalam menghadapi seorang Sela saat itu.
"Ta..tapi kan Bu...ibu itu tahu sendiri aku itu...." Ucap Sela tertahan karena ibu guru Yuni langsung memotong ucapannya dan tidak memberikan kesempatan kepada Sela untuk membela diri atau melawan sedikitpun saat itu.
"Aishhh..sudahlah...waktunya kalian pulang semuanya sudah di tentukan dan tidak ada yang bisa protes apalagi mengubahnya termasuk kau Sela!" Ucap ibu guru Yuni menatap tajam memberikan peringatan yang mirip seperti sebuah ancaman bagi Sela.