
Lama kelamaan Sela mulai merasakan bahunya sangat pegal dan dia tidak bisa menahannya lagi, karena kepala Akira terasa begitu berat baginya sehingga Sela langsung saja memutuskan untuk menghindar dan membuat Akira langsung terjatuh ke lantai, namun dengan cepat Sela berpura-pura bahwa dia tidak segaja melakukan itu, padahal dia sengaja melakukannya karena bahunya terasa pegal.
"Aishh...kenapa dia malah tidur di bahuku begini, ahh...bahuku pegal sekali, aahh aku punya ide haha" ucap Sela sambil langsung saja menggeser tubuhnya sekaligus.
"Aaaahh...brukk" suara Akira yang jatuh tersungkur ke lantai karena Sela menggeser duduknya saat itu.
Sela terus menahan tawa saat melihat Akira tersungkur ke lantai seperti itu, dia awalnya tersenyum sangat lebar dan mulutnya terus terbuka lebar namun dia tidak bisa tertawa terus sehingga saat Akira mulai bangkit dan menatap ke arahnya Sela langsung memasang wajah datar pada Akira dan berpura-pura seakan dia mencemaskan Akira padahal dia sama sekali tidak memperdulikan hal itu sama sekali.
"Ohh ..Akira apa kau baik-baik saja? Maaf ya aku tadi tidak sengaja, dan sepertinya para siswi itu sudah tidak ada sebaiknya kau cepat cuci muka aku akan kembali ke kelas, bye..." Ucap Sela segera pergi dari sana meninggalkan Akira.
Sela terus saja tertawa dengan keras saat keluar dari ruang seni bahkan dia terus tertawa sangat lebar terus menerus tanpa henti, dia benar-benar sangat senang setiap kali mengingat kejadian yang terjadi pada dia dan Akira di ruang seni saat itu.
"Ahahah....bodoh sekali, bagaimana bisa dia terlihat konyol ahaha...rasakan itu siapa suruh dia malah bersandar begitu seenaknya kepadaku, memangnya dia pikir aku akan baper hanya karena melihat wajah tampannya itu haha...sayangnya aku bukan wanita yang memandang wajah pria haha...aku puas sekali membuatnya jatuh seperti tadi" gerutu Sela terus tertawa cukup keras.
Dan tanpa Sela sadari bahwa semua gerutuannya itu di dengar oleh Akira yang berjalan mengikuti dirinya dari belakang saat itu.
Hingga jam pulang sekolah tiba dan Sela segera pulang bersama dengan Kiko juga Anet, mereka terus saja tertawa dengan sangat lebar dan terus saja bercanda tanpa henti, sedangkan Akira langsung memakai sepedanya dan dia mengayuh sepeda yang dia kenakan dengan kencang sambil membunyikan bel sepeda itu dan melintas pada Sela, Anet dan Kiko yang tengah berjalan beriringan bertiga saat itu.
Sehingga membuat Sela dan kedua temannya harus segera menghindar saat melihat sepeda yang di kemudian oleh Akira melewati mereka dengan cepat.
"Eeeehhh ...Anet, awas!" Ucap Sela sambil dengan cepat menarik tangan Anet dengan cepat dan Kiko juga berhasil menyingkir dengan cepat.
Jika saja saat itu mereka tidak menghindar tepat waktu maka sudah bisa di pastikan bahwa mereka akan di tabrak oleh Akira dengan cukup keras, Sela yang melihat itu dia sangat kesal dan terus saja berteriak menggerutu pada Akira.
"Aishh ..dasar manusia sialan, heh...apa kau sengaja hah, aku tahu kau sengaja, dasar Akira manusia aneh!" Teriak Sela dengan kesal.
Anet segera menenangkannya dan langsung saja mengajak Sela untuk pergi dari sana secepatnya karena tidak ada gunakanya lagi terus marah dan menggerutu pada Akira yang jelas dia sudah pergi dari sana saat itu, bahkan tubuhnya saja sudah tidak terlihat lagi oleh mereka.
"Sela sudah ...sudah jangan marah lagi, dia juga sudah tidak terlihat tidak ada gunanya kamu menggerutu terus seperti itu, ayo kita pergi saja" ucap Anet menenangkan Sela.
"Heh...Anet biarkan saja seharusnya Sela berlari mengejar manusia sialan itu bagaimana bisa dia melakukan sepeda sekencang itu dan jelas sekali dia sengaja ingin menabrak kita bertiga, kau masih saja menahannya" balas Kiko yang juga merasa sangat kesal pada Akira.
"Hah...benar apa yang dikatakan oleh Kiko, aku akan memberikan dia pelajaran nanti, lihat saja kau Akira!" Ucap Sela penuh kekesalan.
Anet sendiri bahkan sudah tidak bisa menenangkannya lagi, sehingga Anet hanya bisa langsung menarik tangan Sela dengan kencang dan membawanya untuk segera pergi dari sana agar Sela tidak terus merasa kesal dan menggerutu terus seperti itu, sampai akhirnya mereka sudah tiba di persimpangan jalan dimana Sela harus mengambil jalan yang berbeda dengan Anet dan Kiko, dan Sela mulai menarik nafas dengan berat karena dia sangat malas untuk kembali pulang ke rumahnya.
"Aaahhh .... Malas sekali harus kembali ke rumah dan bertemu nyonya Choi, huh" ucap Sela dengan kesal.
Dia bahkan berjalan dengan tertunduk lesu dan memegangi ransel hijau kesukaannya itu, hingga sesampainya di rumah rupanya ibunya masih belum kembali dan tidak ada siapapun di rumah saat itu, pintu rumahnya juga di kunci sehingga tentu Sela tidak bisa masuk ke dalam rumahnya sendiri.
"Euh....eih....kenapa di kunci, aahh... Ini pasti karena tuan Wen, dia pasti mengunci pintunya tadi pagi aaahh aku sama sekali tidak memiliki kunci rumah ini, bagaimana aku masuk ke dalam aishh sial sekali" gerutu Sela merasa kesal.
Karena dia tidak bisa masuk ke rumahnya terpaksa Sela pergi lagi dari sana, dia berjalan tidak memiliki tujuan, tidak tahu harus pergi kemana saat itu, tidak ada tempat yang ingin dia kunjungi tidak ada tempat favorit untuknya dia hanya terus saja berjalan mengikuti langkah kakinya yang entah akan pergi kemana.
Berjalan seorang diri sampai dia tiba di sebuah jembatan layang yang cukup indah, dia berdiri lagi disana sambil menatap matahari yang mulai akan tenggelam saat itu, memandangi langit jingga yang sangat cantik dengan beberapa orang disekitar sana yang juga menikmati pemandangan alam yang indah itu.
"Wahhh....tidak pernah aku pikir bahwa matahari tenggelam disini sangat indah, bagus sekali" ucap Sela sambil terus menatapnya dengan mata yang terbuka lebar.
Sedangkan di sampingnya ada seorang anak kecil yang memiliki badan mungil dan dia kesulitan untuk melihat matahari itu, sehingga Sela yang melihatnya dia langsung saja menggendong gadis kecil itu lalu mereka melihat pemandangan matahari terbenam itu bersama-sama, karena Sela yang mudah akrab dengan anak kecil dia bisa terus saja menggendong gadis kecil itu sampai tidak sadar darimana datangnya gadis itu sebelumnya.
"Wahh... matahari sangat indah, aku sangat menyukainya" ucap gadis kecil itu,
"Gadis kecil aku sudah menggendongmu cukup lama sampai matahari tenggelam, tapi kau datang kemari dengan siapa?" Tanya Sela kepada gadis kecil yang sangat lucu itu,
"Itu...aku...aku tersesat dan tidak tahu jalan pulang" ucap gadis kecil itu yang membuat Sela kaget dan langsung terbelalak lebar mendengarnya.
"Apa?....kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?" Ucap Sela dengan nada bicara yang cukup keras.
Tapi gadis kecil itu malah tertawa melihat reaksi dari Sela yang kaget mendengarnya, hal itu membuat Sela tidak bisa berpikir jernih lagi, dia menghembuskan nafas dengan kasar dan mulai kebingungan dengan gadis kecil itu, pasalnya dia sudah harus kembali ke rumahnya karena ini sudah malam.
Sayangnya gadis kecil itu menggelengkan kepala dengan cepat dan hal itu membuat Sela frustasi, dia kesal sampai menendang jembatan tersebut dengan kakinya sendiri sampai membuat dia meringis kesakitan sendiri.
"Ahaha....kakak kau sangat lucu sekali kenapa kau sangat panik, yang tersesat adalah aku kenapa harus kau yang kesal seperti itu?" Ucap gadis kecil itu dengan polosnya.
"Aaarrkkkkk....aku benci anak kecil, tali kenapa semua anak kecil malah mau dekat denganku, si...sial...sial!" Teriak Sela melampiaskan emosi di dalam dirinya saat itu.
Hingga tiba-tiba saja ada seorang pria yang datang menghampirinya dan langsung memeluk gadis kecil itu dengan erat, membuat Sela sedikit kaget ketika mihatnya.
"Vivi.....ternyata kau disini aah aku sangat mencemaskanmu aku sudah mencarimu kemana-mana sejak tadi, apa kau baik-baik saja?" Ucap pria tersebut kepada gadis kecil itu.
Tapi gadis kecil itu malah mendorong pria tersebut dan dia malah memegangi kaki Sela sambil bersembunyi di balik tubuh Sela saat itu, dan gadis itu mulai terlihat seperti ketakutan dengan pria tersebut, sehingga hal itu membuat Sela curiga terhadap pria itu.
"Ehh....siapa kau heh..gadis kecil kenapa kau bersembunyi padaku, siapa pria ini apa kau mengenalinya?" Tanya Sela,
"Tidak...kakak aku tidak mengenalinya dia orang asing, mungkin saja dia penculik" balas gadis kecil itu.
Mendengar itu Sela langsung menatap tajam pada pria tersebut yang justru malah terlihat tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya sambil menahan Sela dengan tangannya saat itu, dia juga berusaha menjelaskan semuanya kepada Sela saat itu.
"Ehhh...Vivi kenapa kamu bicara seperti itu, euhh...tidak aku bukan orang jahat apalagi penculik aku adalah pamannya, iya aku paman Vivi, dia adalah putri kakakku dan dia menitipkannya kepadaku tapi aku kehilangan dia saat tengah menelpon dan saat kembali dia sudah benar-benar hilang dan sekarang aku melihatnya denganmu, tolong percaya denganku, Vivi gadis yang sedikit nakal dia membohongimu" ucap pria tersebut menjelaskannya.
Tapi sayangnya Sela sama sekali tidak mempercayai pria tersebut sehingga dia menatapnya dengan tajam sambil terus berjalan mendesak pria itu sambil bertanya tentang beberapa hal kepada pria tersebut.
"Apa kau sungguh pamannya, tapi kenapa gadis itu tidak mengenalimu dan malah mengatakan kau adalah orang asing? Jangan mencoba menipuku apa kau pikir anak kecil bisa berbohong hah?" Ucap Sela kepada pria tersebut dan langsung menggandeng tangan gadis kecil di sampingnya.
Pria itu terlihat kesal da kesulitan untuk menjelaskan lagi pada Sela namun saat itu Sela tidak sengaja melihat gadis kecil itu mengejek pria tersebut dengan menjulurkan lidahnya keluar dan terlihat tertawa tanpa suara, itu membuat Sela merasa curiga melihatnya jadi Sela langsung saja bicara pada gadis kecil itu.
"Heh...bocah, jika kau berani membohongiku, aku akan melemparkanmu ke sungai di sini, aku beritahu kau aku bukan orang baik aku bahkan bisa memukul bokongmu ini, jadi bicara dengan jujur kau mengenali pria ini atau tidak?" Ucap Sela dengan wajahnya yang cukup menakutkan dan menatap tajam pada gadis kecil itu.
Sehingga gadis itu mulai terlihat ketakutan karena tatapan dan ancaman dari Sela dan akhirnya gadis kecil bernama Vivi itu langsung menganggukkan kepala kepada Sela.
"Eeehhh.....astaga..aku hampir saja tertipu dengan bocah ingusan, ini aaahh kenapa aku sial sekali hari ini, sudah bocah sana kau pergi aku harus pulang jangan nakal lagi kau, aahh kau sudah menodai kejujuran para anak kecil, lain kali aku tidak akan mempercayai anak kecil lagi" ucap Sela sambil segera pergi dari sana secepatnya.
Sedangkan pria tadi langsung menarik tangan gadis keci bernama Vivi tersebut dan membawanya pergi setelah melihat Sela yang pergi begitu saja, padahal dia belum sempat mengucapkan terimakasih kepada Sela karena sudah menjaga keponakannya tersebut.
Tapi pria itu terlihat menatap kepergian Sela untuk sesaat, bahkan dia membaca nama sekolah dan nama Sela yang tersemat di seragam bagian saku milik Sela saat itu.
"Jadi dia masih anak SMA ya, menarik" gerutu pria tersebut.
Saat berjalan kembali ke rumah nyatanya belum ada siapapun yang kembali ke rumahnya entah itu ayah tirinya ataupun ibunya, Sela benar-benar merasa kesal melihat itu, perutnya juga sudah sangat lapar sehingga Sela memutuskan untuk pergi ke rumah baca langganannya memakan ayam, Sela pergi ke sana dengan perasaan kesal dan kusut, tapi disaat dia baru saja masuk sambil menyapa paman ayamnya itu dia malah melihat Akira yang tengah duduk di salah satu sofa disana sambil membaca komik di tangannya.
"Paman aku....eehhh...Akira kau sedang apa disini jam segini?" Tanya Sela sambil berjalan menghampiri Akira saat itu.
Dia seakan sudah lupa dengan apa yang Akira lakukan kepada dia siang hari tadi, dan mah duduk di samping Akira dan mencoba mengintip buku yang tengah di baca oleh Akira, tetapi sayangnya Akira malah segera bergeser seakan sengaja menjauhi Sela saat itu.
"Heh...kenapa kau terus bergeser, apa kau menjauhi aku ya? Aishh...menjengkelkan" ucap Sela yang di buat tambah kesal olehnya.
Sela pun bangkit dan mencari paman pemilik ruang baca itu, bukan untuk membaca tetapi untuk membeli ayam kesukaannya karena dia sangat lapar.
Saat Sela bergegas menjauhi Akira baru saja Akira menatapnya secara diam-diam dan disaat Sela berbalik sambil menatap sinis kepadanya dengan cepat Akira kembali berpura-pura fokus membaca komiknya lagi, padahal diam-diam dia sebenarnya memperhatikan Sela saat itu.
"Paman ...paman... Dimana kau? Paman....aku ingin ayammu" teriak Sela memanggilnya namun paman itu tetap tidak muncul.
"Dia keluar, kau kalau mau membaca tinggal ambil saja kenapa sangat berisik sekali, mengganggu orang saja" ucap Akira tanpa melihat pada Sela sedikitpun.
Sela menatap pada Akira dengan kesal dan dia mengeratkan giginya penuh emosi saat itu.
"Ckk ...kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal, dasar stress" balas Sela sambil segera keluar kembali dari sana karena dia sudah terlanjur emosi dengan Akira.