Love In High School

Love In High School
Kekesalan Sela



Awalnya Sela melakukan itu berniat untuk membuat Akira kaget dan dia pikir rencana yang dia pikirkan akan berhasil namun rupanya dia salah besar sebab Akira sama sekali tidak kaget dengan tingkahnya tersebut dan justru malah dirinya sendiri yang tersentak kaget akibat ulah dirinya sendiri.


Sampai Sela menggerutu kesal pada dirinya dan merasa sangat kesal karena gagal mengagetkan Akira saat itu.


"Aishhh.... sialan bagaimana bisa dia tidak kaget ketika aku menaruh kado sebesar itu di meja? Benar-benar manusia aneh" batin Sela dengan sedikit kesal.


Sela merasa kesal dan dia juga merasa kebingungan juga heran karena saat dia menaruh kado sebesar itu dengan kencang Akira yang duduk di kursi sebelahnya sama sekali tidak terlihat kaget sedikit pun bahkan terperanjat sedetik saja tidak, dia juga sama sekali tidak membuka matanya dan terus saja bersandar dengan tenang kelapa menghadap ke atas langit-langit kelas disana juga kedua tangannya yang dia lipatkan di depan dada, sampai akhirnya Sela yang sangat jengkel dan tidak sabar langsung saja berteriak sangat kencang untuk membangunkan Akira secara sengaja saat itu.


"Aishh.....heyy... bangun kau, enak-enak saja kau tidur disini, cepat ganti pakaianmu aku tidak ingin kau mengotori pakaian olahraga kesukaanku itu!" Bentak Sela dengan keras sambil berkacak pinggang menghadap ke arah Akira.


Saat mendengar teriakkan dari Sela yang terdengar sangat keras Akira justru hanya membuka matanya pelan lalu membenarkan posisi duduknya dan segera pergi tanpa mengeluarkan sedikit kata pun.


Sela yang melihat itu tentu saja dia merasa kebingungan dan langsung berlari mengejar Akira lalu menahan tangannya.


"Eh ..tunggu kau mau pergi kemana aku kan bilang kau harus mengganti pakaian olahraga ku dengan cekat, jangan kabur" ucap Sela yang mengira Akira akan kabur darinya saat itu.


Padahal sebenarnya Akira juga memang akan pergi ke ruang ganti untuk segera mengganti pakaian olahraga milik Sela sebab dia juga sama sekali tidak senang memakai pakaian olahraga milik orang lain terlalu lama seperti itu.


Namun karena Sela yang malah menduga dia akan kabur itu membuat seorang Akira kesal dan jengkel di buatnya, dia menarik nafas panjang lalu menatap Sela dengan tatapan yang aneh juga tajam saat itu dan dia langsung tiba-tiba saja berjalan pelan mendekati Sela sampai membuat Sela merasa sedikit terancam dengan tingkah Akira saat itu.


Bahkan saking takutnya Sela kesulitan menelan salivanya sendiri dan dia juga terus berjalan mundur dengan perlahan hingga akhirnya tubuh dia terhantuk ke dinding dan sudah tidak bisa kabur kemanapun lagi saat itu.


Disanalah disaat Sela membentak Akira lagi baru Akira menjawabnya dengan tatapan yang datar dan cukup menakutkan.


"Ke..ke..kenapa kau malah mendesak aku seperti ini, sana menjauh dariku!" Bentak Sela sambil mendorongnya sedikit ke belakang,


"Aku akan mengganti pakaian dan kau tidak perlu takut aku merusaknya" balas Akira dengan datar dan dingin.


Dia segera pergi meninggalkan Sela dengan cepat begitu saja setelah berbicara begitu dekat kepada Sela dan membuat Sela takut karena tingkahnya yang sangat aneh tersebut, bahkan setelah Akira pergi dari kelas Sela langsung saja mengeluarkan nafasnya dengan lega sambil mengurut dadanya perlahan karena benar-benar merasa kaget dengan sikap Akira kepadanya saat itu.


"Wahhh.... bagaimana bisa aku malah didesak oleh orang sepertinya, harusnya akulah yang mendesak dia dan membuat dia takut kepadaku, kenapa ini malah menjadi berbalik begini, ohh....pasti ada yang salah denganku tidak...tidak ini tidak boleh sampai terjadi lagi" ucap Sela menggerutu sendiri.


Hingga tidak lama Anet dan Kiko datang ke kelas dan mereka yang melihat Sela melamun sambil terus menggelengkan kepala terlihat seperti orang aneh, langsung saja Anet menghampiri dia dan menanyakan keadaannya.


"Sela ada apa denganmu, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Anet kepada.Sela dengan wajah yang sangat mencemaskannya,


"Ohh....Anet kapan kalian sampai di kelas, ahhhh...aku sangat kaget tadi, si Akira sialan itu selalu saja membuat aku kesulitan tidak tahu lagi bagaimana cara menghindar darinya ahhh kepalaku benar-benar akan pecah sekarang" ucap Sela sambil memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit.


Anet yang tidak mengetahui apapun dia hanya bisa saling tatap dengan Kiko satu sama lain sambil menaikkan kedua alisnya karena mereka berdua juga tidak mengerti dengan apa yang Sela katakan saat itu.


Hingga Anet segera membantu Sela untuk kembali duduk di kursinya lalu memberanikan diri untuk bertanya kepada Sela lebih dulu tentang hubungannya dengan Akira yang akhir-akhir ini terlihat cukup dekat juga Sela yang lebih banyak waktu dengannya di bandingkan dengan mereka berdua.


"Eumm....Sela boleh aku bertanya sesuatu kepadamu, hal ini sangat mengganggu pikiranku dan Kiko jadi aku ingin menanyakannya kepadamu" ujar Sela meminta izin terlebih dahulu,


Sela yang saat itu tengah lesu dan menempelkan kepalanya di atas meja dengan wajah yang begitu kelelahan dia sudah tidak memiliki banyak energi lagi dan langsung saja mengangguk sambil menyetujui apa yang ingin dikatakan oleh Anet kepadanya saat itu.


"Ya..yah....katakan saja" balas Sela sedikit acuh tidak acuh.


Ya memang sikapnya seperti itu, Sela selalu bersikap acuh tidak acuh kepada siapapun ketika dirinya tengah kehilangan banyak energi sebab banyak hal yang dia lewati saat ini, dan dia sungguh sudah sangat kelelahan akibat harus terus memastikan pakaian olahraga miliknya harus tetap aman meski di pakai oleh Akira yang sangat pendiam dan misterius itu.


Sela merasa sangat senang karena akhirnya dia memiliki kesempatan untuk mengatakan dan membicarakan semua hal yang sangat mengganggu pikirannya selama ini, hingga dia pun mulai mengutarakannya kepada Sela secara perlahan agar tidak membuat Sela marah dan sejenisnya, dia mulai membicarakan dahulu mengenai apa yang Sela lakukan dengan Akira sampai mereka harus bertukar pakaian seperti itu.


"Sela pertama aku ingin tahu semua yang kamu lakukan aku tidak ingin kamu menyimpan rahasia apapun dari kami termasuk alasan kenapa pakaian olahraga milikmu bisa di pakai oleh Akira" ucap Sela menatap mulai serius begitu pula dengan Kiko yang juga langsung mendekatkan badannya ke atas Sela saat itu.


"Ehhh....ada apa dengan kalian berdua? Apa kalian pikir aku dekat dengan si sialan Akira itu? Hais.... bagaimana bisa kedua sahabatku berpikir dangkal seperti ini, ahhh kalian membuat aku semakin pusing saja" balas Sela yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang.


Dia bukan tidak ingin menjelaskannya namun setiap kali dia mengingat semua hal yang harus dia lakukan kepada Akira dia selalu saja merasa kesal dan emosi, juga semua kejadian yang sangat panjang cukup sulit untuk Sela ceritakan sebab dia sama sekali tidak terbiasa untuk bercerita mengenai hal-hal seperti itu.


Maka dari itu Sela merasa kepalanya menjadi sangat pusing ketika kedua temannya tersebut malah menduga hal yang tidak-tidak kepada dia dengan Akira, padahal kenyataannya dia sangat membenci Akira sebab selalu saja membuat hidupnya repot dan semakin rebit dari hari dan dari waktu ke waktu yang selalu saja membuat tekanan darahnya naik dengan cepat.


"Sela ayolah katakan saja kepada kami semuanya agar aku dan Anet tidak merasa cemas denganmu, kau akhir-akhir ini tidak banyak menghabiskan waktu dengan kita berdua dan lebih banyak bersama dengan Akira, sebenarnya apa hubunganmu dengan dia kenapa kalian terlihat begitu dekat?" Tanya Kiko yang membuat Akira langsung membelalakkan matanya dengan lebar.


Sela kaget dan dia langsung tidak bisa menahan tawa dalam dirinya hingga langsung saja tertawa sangat keras dan begitu menggelegar sampai membuat Anet dan Kiko yang melihat Sela tertawa sekeras itu secara tiba-tiba langsung saja mengerutkan kedua alisnya kebingungan sendiri.


"Apa? Ahahaha.....kalian ini bicara apa sih ahahah... ada-ada saja haha" balas Sela yang terus tertawa dengan keras,


"Anet ada apa dengannya apa dia benar-benar menjadi gila karena bergaul dengan Akira yang aneh itu?" Bisik Kiko yang cukup keras kepada Anet.


Dan tentu saja bisikan itu bisa terdengar oleh Sela yang masih tertawa saat itu, karena mendengar bisikan dari Kiko kepada Anet yang mengatai dia gila, Sela merasa sangat kesal dan emosi dia langsung saja menjewer telinga Kiko dengan keras dan menariknya ke atas setinggi yang dia bisa sambil terus mengomeli Kiko seluas dirinya.


"Hey...hey...hey...beraninya kau mengatakan aku gila, aishh...rasakan ini kaulah yang gila terus mengira hal yang tidak-tidak kepadaku" ucap Sela sambil terus menjewer telinga Kiko sekuat tenaganya.


Kiko terus meringis kesakitan dan memohon kepada Sela agar melepaskan jeweran dari telinganya karena itu begitu sakit untuknya, sedangkan Anet juga langsung berusaha menenangkan Sela juga ikut memohon kepadanya agar segera melepaskan jeweran tersebut karena telinga Kiko sudah terlihat memerah sekali saat itu.


"A..a..ahhh...Sela sakit sakit, ahhh tolong lepaskan jangan jewer telingaku lagi aku tidak akan menduga-duga apapun lagi Sela ini sakit sekali" ucap Kiko yang meringis kesakitan,


"Sela sudah ya bersabarlah Kiko hanya mencemaskan dirimu dia tidak bermaksud mengatakan itu, Sela tolong jangan begini lepaskan dulu telinga Kiko" ucap Anet yang membuat Sela akhirnya bisa melepaskan emosinya dan segera melepaskan telinga Kiko juga.


"Huh....kalian ini ada apa sih, kenapa tiba-tiba saja mengintrogasi aku dengan pertanyaan yang sangat tidak masuk akal itu, lalu apa kalian berdua mengira aku mengabaikan kalian dan aku memiliki hubungan dengan Akira lalu lupa dengan kalian iya?" Ucap Sela dengan berkacak pinggang dan menatap kedua sahabatnya tersebut dengan lekat.


Bodohnya Anet dan Kiko juga langsung mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Sela saat itu, sehingga hal tersebut benar-benar berhasil membuat Sela pusing sampai dia menepuk jidatnya sendiri dengan cukup kencang saking merasa pusingnya menghadapi kedua sahabatnya tersebut yang begitu konyol baginya.


"Aishh....apakah kalian ini bodoh atau memang salah makan sih, bagaimana bisa kalian malah berpikir seperti itu kepadaku, sudah jelas aku sekarang sibuk belajar dan menyalin semua catatan yang tertinggal, mana mungkin aku malah dekat dengan manusia aneh dan menyebalkan sepertinya, lagi pula masalah pakaian olahraga itu kan kalian sendiri yang menyuruh aku untuk menyusul dia, lalu dia tidak ingin kembali ke kelas karena lupa tidak membawa pakaian olahraganya tentu saja terpaksa aku harus memberikan pinjam milikku kepada dia, walau aku sangat tidak ingin melakukannya tapi kalian sendiri tahu bukan aku lebih tidak terima jika aku tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga yang aku sukai, aahhh kalian ini benar-benar sudah tidak masuk akal" ucap Sela mengatakan semuanya yang membuat Anet juga Kiko langsung terperangah saat mendengarnya.


Sela benar-benar tidak habis pikir mengapa kedua sahabatnya yang sangat dia percayai bisa berperasangka seperti itu kepadanya seakan mereka tidak benar-benar mempercayai dirinya dengan penuh sama seperti kepercayaan yang Sela taruh kepada mereka berdua, itu sangat membuat Sela kecewa dengan Kiko juga Anet.


Mereka juga langsung saja merasa sangat bersalah karena sudah menduga hal yang tidak-tidak terhadap Sela dan Akira, mereka sungguh telah buta karena kesal dan marah padahal memang mereka juga tahu Sela di sibukkan dengan dirinya yang ingin berubah menjadi lebih baik dalam menuntut pelajaran mulai saat ini, karena dia harus benar-benar lulus dari SMA ini untuk melanjutkan sekolahnya di universitas nanti.


Sela benar-benar kecewa dengan kedua temannya yang bisa menduga hal seperti itu kepadanya hingga dia langsung saja menutup mata dan berpura-pura tertidur di mejanya sendiri karena tidak ingin menghadapi Anet dan Kiko yang sudah membuat dia kesal saat itu, di tambah dia baru saja merasa moodnya hancur karena Akira.


Sela benar-benar ingin marah besar saat itu tapi dia tidak bisa melakukannya di dalam kelas sebab tengah ada banyak siswa lain yang mungkin akan ketakutan jika melihat amarahnya yang selalu kasar dan menyeramkan, sehingga Sela langsung saja kembali berpura-pura tertidur sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat memegangi ujung meja untuk menahan emosi di dalam dirinya saat itu.


Meski Kiko dan Anet meminta maaf kepadanya Sela sama sekali tidak membalasnya dan dia malah langsung membalikkan wajahnya ke arah berlawanan sampai membuat Kiko dan Anet langsung menghembuskan nafas yang lesu, tidak hanya itu mereka juga semakin merasa lebih bersalah lagi sebab membuat tekanan dan beban pada Sela semakin bertambah saat itu.


"Eumm...Sela maafkan kami, aku dan Kiko sudah menduga hal yang salah kepadamu aku hanya terlalu menyayangimu sebagai sahabat jadi aku cemburu jika kau malah meninggalkan kami, maafkan aku Sela aku tahu aku salah" ucap Anet meminta maaf dengan begitu tulus dan sungguh-sungguh,


"Aku juga minta maaf Sela, aku janji tidak akan berperasangka seperti itu lagi kepadamu, kita masih bisa bersahabat seperti sebelumnya bukan?" Tambah Kiko kepada Sela.


Namun sayangnya Sela sudah terlanjur kesal dan dia tidak bisa mengatakan apapun di saat dirinya di penuhi dengan emosi karena dia hanya takut ucapannya akan menyakiti kedua temannya itu, sehingga dia adalah pilih terbaik untuknya saat itu.


"Sela kenapa kamu tidak menjawab kami, aku dan Anet sungguh menyesal" tambah Kiko lagi.


Anet yang lebih memahami karakter Sela dia langsung saja menarik tangan Kiko dan menyuruhnya untuk pergi saja mengganti pakaian saat itu dan memberikan waktu Sela untuk seorang diri dan menenangkan dirinya untuk beberapa saat.


"Kiko sudahlah, mungkin Sela memang sangat kecewa kepada kita, biarkan dia menenangkan dirinya sendiri jangan membuat dia semakin marah, ayo kita ganti pakaian saja" ujar Anet sambil menarik tangan Kiko dan mereka segera pergi dari sana dengan perasaan yang lesu dan penuh rasa bersalah kepada Sela.