Love In High School

Love In High School
Mulai Berubah



"Sela mau kemana kau Sela!" Teriak nyonya Choi yang saat itu hendak berlari menyusul Sela,


"Berhenti Choi kau akan membuat anakmu semakin membangkang jika melawannya dengan kekerasan juga" ucap sang nenek menahannya,


"Tidak nek, anak itu tidak bisa di didik dengan cara yang lembut dia harus mengikuti aku kali ini" balas nyonya Choi yang masih saja sama keras kepalanya dengan Sela.


Untunglah disaat sang nenek kesulitan menahan nyonya Choi yang terus berontak, tuan Wen tiba disana dengan nafas terengah-engah dan dia langsung menarik tangan istrinya dengan cepat lalu menahannya sekuat tenaga.


"Cukup sayang berhenti memaksa Sela seperti itu, kau tenangkan dirimu dahulu, ayo... Duduk lah dan atur nafasmu kau tidak bisa melakukan semuanya dalam keadaan penuh emosi seperti ini, atau Sela akan semakin sulit di kendalikan" ucap tuan Wen sambil mengusap lembut kepala nyonya Choi saat itu.


Akhirnya nyonya Choi bisa jauh lebih tenang dan dia segera duduk di sana menghadap sang ibu dengan wajah yang lesu dan menghembuskan nafas berat beberapa kali.


"Huuuhh.... Maafkan aku ibu, aku sudah melewati batasanku, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya agar Sela bisa memahami aku dan dia mau mendengarkan ucapanku lagi seperti saat ayahnya masih hidup" ucap nyonya Choi yang kembali sedih ketika mengingat mendiang suaminya yang sangat dia cintai saat itu.


Sang nenek langsung menyentuh tangan nyonya Choi dengan lembut dan memberikan pengertian kepadanya mengenai Sela.


"Choi kau sudah memiliki tuan Wen sekarang, lupakanlah putraku dia sudah tenang diatas sana, dan tidak baik untukmu memikirkan suami yang sudah tiada disaat suami barumu ada di sampingmu untuk menenangkan dirimu, dan untuk masalah Sela kau harus bisa lebih dulu memahami dia sebelum kau ingin di mengerti olehnya, dia memiliki sipat yang sama denganmu dan dia tidak bisa kau lawan dengan kekerasan juga, kau akan semakin melukainya disaat kau terus bersikap sekeras ini pada Sela" ucap sang nenek memberikan pengertian.


"Tapi nek aku melakukan semua ini juga demi masa depannya, dia tidak akan menjadi apapun jika dia menjadi atlet, dia adalah perempuan dan jelas sekali dia berbeda dengan putramu, aku tidak ingin dia menerima hal yang sama seperti ayahnya dahulu, dan aku juga tidak ingin dia di keluarkan dari sekolah nek" ungkap nyonya Choi mengatakannya.


"Aku mengerti Choi, aku tahu apa yang kau rasakan, tapi biarkanlah Sela menenangkan dirinya saat ini, aku akan berusaha membujuk dia agar dia mau tinggal denganmu dan sekolah dengan benar mulai sekarang, kau pulanglah dulu dan tenangkan dirimu, biar aku yang menangani Sela" balas sang nenek meyakinkan nyonya Choi.


Sebenarnya saat itu nyonya Choi sangat berat hati untuk pulang tanpa Sela namun karena sang nenek sudah meyakinkan dia berkali kali akhirnya dia pun mau mengalah dan memohon pada ibu mertuanya itu untuk menjaga Sela dan membujuk dia agar tidak melanggar peraturan sekolah dan tidak membolos lagi.


"Baiklah Bu, aku titip sela padamu tolong bujuk dia, aku serahkan semuanya padamu sekarang" ucap nyonya Choi dengan sendu,


"Tenang saja aku akan menjaganya dengan baik, Wen ayo bawa istrimu pulang dia butuh istirahat" ucap sang nenek sambil mengantarkan mereka hingga ke pintu depan.


Di sisi lain Sela mengintip dari sela-sela pintu kamarnya dan dia mendengarkan apa yang ibu dan neneknya bicarakan di bawah, dia menangis mengingat ayah ya dan sangat merindukan sosok ayahnya tersebut, sehingga setelah sang ibu pergi dari rumah itu barulah Sela keluar dari kamar dan dia melihat sang nenek yang berdiri di depan foto ayahnya sambil memegangi foto yang terpajang tersebut.


Sela datang menghampiri sang nenek dan memeluknya dari belakang dengan erat.


"Nenek, apa kau mengetahui apa yang aku rasakan?" Ucap Sela bertanya kepada sang nenek.


"Tentu saja nenek memahamimu dan nenek tahu apa yang ada di dalam otak kecilmu ini" balas sang nenek sambil menunjuk ke arah kening Sela dengan satu jarinya.


Sela tersenyum menanggapi hal itu dan dia semakin memeluk sang nenek lebih erat dan menyembunyikan wajahnya dalam dekapan sang nenek.


"Nenek apakah kau merindukan ayah, aku sangat merindukannya saat ini, aku ingin dia hadir menemuiku walau hanya dalam mimpi, aku ingin berbicara dengannya dan aku ingin dia mengajari aku latihan berlari dengan benar" ucap Sela kepada neneknya.


Sang nenek tersenyum kecil dan dia merasa sedih mendengar ucapan cucuknya tersebut, neneknya langsung membawa Sela duduk di sofa dan dia terus mengusap lembut kepala Sela dengan penuh kasih sayang.


"Sayang nenek bahkan ibumu juga sangat merindukan ayahmu, kami semua menyayangi dia dan berharap bisa menemuinya, namun ketahuilah Sela, dia sebenarnya melihat dan memperhatikan kita dari atas sana setiap saat, jadi Sela jika kamu ingin membuat ayahmu senang dan bangga terhadapmu maka kau harus menjadi anak yang patuh, kau boleh menjadi atlet seperti ayahmu dan melakukan apapun yang kamu inginkan, tetapi Sela ayah tidak akan merasa senang jika melihat kami putus sekaloh, kamu mengerti maksud ucapan nenek bukan?" Ujar sang nenek memberikan pengertian dengan lembut kepada Sela.


Walau berat hati akhirnya Sela mengangguk mengerti apa yang diucapkan oleh neneknya dia berharap sang ayah bisa benar-benar melihat dia sukses dan berhasil dalam kehidupan ini agar dia tidak merasa malu saat nanti bertemu kembali dengan ayahnya di kehidupan selanjutnya.


Mulai saat itu Sela sudah bertekad kepada dirinya untuk berubah sedikit demi sedikit dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak bolos dan kabur lagi dari sekolah bahkan tas hijaunya yang selama ini selalu di isi dengan makanan ini dia mengisinya dengan buku pelajaran sesuai dengan jadwal yang dia dapatkan dari gruf chat yang dia miliki dimana dalam gruf chat tersebut hanya ada tiga orang, dirinya, Anet dan Kiko saja.


"Hey.... Kirimkan aku jadwal pelajaran" isi chat yang di tulis oleh Sela dalam gruf chat tersebut.


Anet dan Kiko yang mendapatkan pesan tersebut mereka berdua sangat kaget dan terperangah saat membacanya, karena ini adalah pertama kalinya seorang Sela menanyakan jadwal pelajaran kepada mereka berdua.


Sebab sejak satu sekolah dan berada satu kelas dengan Sela selama delapan tahun ini tidak pernah sekalipun mereka melihat Sela meminta jadwal pelajaran kepadanya.


"Wahhh... Sela apa kau mabuk atau sakit?" Balas Kiko saat itu,


"Aishh... Kiko dasar kau, mungkin Sela akan mencoba lebih baik tahun ini, ini Sela aku sudah mengirimkannya" balas Anet sambil segera mengirimkan jadwal pelajarannya.


"Terimakasih Anet kau memang yang terbaik" chat terakhir yang di kirim oleh Sela.


Dia tidak menanggapi Kiko karena sudah berniat untuk fokus kepada pelajarannya mulai saat itu, Sela pun segera memberikan tulisan pada buku-buku miliknya yang selama ini hanya kosong melompong dan sangat bersih, dia memberikan nama masing-masing pelajaran pada bukunya dan dia mulai mencatat beberapa tugas yang baru saja dia dapatkan dari gruf kelas, dia mencatat semua sumber semalaman untuk mengisi buku pelajaran dan menyusul ketertinggalan yang sangat jauh dari teman-teman sekelasnya.


"Hoaaaa.... Ini sangat banyak sekali, bagaimana bisa anak-anak dengan otak kecil itu bisa mencatat semua hal sebanyak ini, wahhh tanganku akan patah jika begini terus" gerutu Sela mengeluh dengan pekerjaan pertamanya.


Sang nenek yang mengintip di balik pintu kamarnya tersenyum kecil dan merasa sangat senang melihat Sela akhirnya bisa menulis dan belajar di depan meja belajarnya seperti anak-anak sekolah lain pada umumnya.