
Sela terus saja belajar sepanjang malam untuk mencatat semua pelajaran yang sudah dia tinggalkan sangat jauh saat itu hingga dia pun sampai tertidur dalam posisi duduk dengan mulut terbuka dan mengeluarkan air liur, sampai membasahi bukunya tersebut yang dia gunakan sebagai bantalan kepalanya di meja belajar.
Hingga ke esokan paginya karena dia tidak tidur semalaman sang nenek datang membangunkan Sela dengan mengetuk pintunya cukup keras sebab saat itu sudah cukup siang Sela belum juga keluar dari kamarnya.
"Tok....tok... Tok... Tok.." suara ketukan pintu yang di ketuk oleh sang nenek pagi itu,
"Sela apa kamu sudah bangun, Sela bangunlah cepat ini sudah siang kau akan terlambat jika tidak bangun dengan cepat!" Teriak sang nenek saat itu.
Karena tetap tidak mendapatkan sahutan dari sang cucuk nenek pun langsung masuk ke dalam kamar dan kaget melihat Sela yang masih tertidur di depan meja belajarnya pagi itu, dia pun segera membangunkan Sela dengan cepat dan menaruh dahulu seragam sekolah yang sudah di setrika oleh sang nenek di samping ranjang.
"Ya ampun bocah ini, Sela bangun kau tidak akan ke sekolah ini sudah sangat siang!" Teriak sang nenek sambil langsung mencipratkan air ke wajah Sela.
Sampai akhirnya Sela mau terbangun walau masih terlihat malas-malasan saat itu.
"Eummm.... Iya nenek tunggu lima menit lagi, aku tidak tidur semalaman aku sangat mengantuk sekarang aaaahhh" balas Sela yang masih saja enggan untuk bangun,
"Aishh... Bocah ini kau lihat jam di depanmu kau benar-benar akan terkena hukuman lagi jika tidak bangun juga!" Bentak sang nenek sambil mengangkat kepala Sela dan memperlihatkan jam ke depan wajahnya yang sudah menunjuk ke arah jam 7 pagi saat itu.
Dimana Sela hanya tinggal memiliki waktu tiga puluh menit saja untuk sampai ke sekolah sekarang.
Melihat itu Sela langsung terperanjat sangat kaget dan membelalakkan matanya dengan lebar, dia langsung berteriak dan pergi ke kamar mandi secepatnya saat itu juga.
"Aaarrkkkhh... Nenek kenapa kau baru membangunkan aku sekarang, aishhh aku akan kesiangan lagi sekarang aahhh" ucap Sela sambil segera bergegas dengan cepat.
Sang nenek membantu Sela mengganti pakaiannya agar lebih cepat dan disaat Sela hendak memakai celana olahraga kesayangannya yang selalu dia pakai bersamaan dengan rok sekolah, sang nenek langsung merampasnya dengan cepat dan memberikan rok juga seragamnya saja kepada Sela saat itu.
"Ehhh... Nenek apa yang kau lakukan, cepat berikan celananya aku sudah sangat terlambat sekarang" ucap Sela berusaha mengambilnya dari tangan sang nenek saat itu,
"Tidak bisa apakah kau sudah lupa dengan ucapanmu semalam, katanya kau ingin berubah maka dari itu patuhi peraturan sekolah dengan dimulai dari hal kecil seperti saat ini, kau harus memakai rok sekolahmu dan berpenampilan seperti wanita pada umumnya, sudah sana cepat pergi ke sekolah nenek sudah masukkan bekal pada tas mu" ucap sang nenek sambil segera mendorong tubuh Sela dengan paksa untuk keluar dari kamarnya.
Sela merasa sangat tidak nyaman dengan rok pendek di atas lutut seperti itu sehingga dia masih memohon kepada neneknya untuk memberikan dia sekali saja memakai celana olahraganya hari ini karena dia masih perlu berlari dengan kencang untuk sampai ke sekolah tepat waktu.
Namun sayangnya sang nenek tetap tidak memberikan celana itu kepadanya dan Sela akhirnya tetap harus pergi ke sekolah dengan rok pendek tersebut.
"Tidak bisa sudah kau harus ke sekolah sekarang juga jika kau tidak ingin terlambat atau semua itu kau tanggung saja sendiri nenek akan menyerahkanmu pada ibumu jika kau tidak menuruti aku lagi" ucap sang nenek membuat Sela tidak dapat berontak atau berkutik lagi,
"Aishhh... Ahhh sudahlah, aku pergi saja" ucap Sela dengan kesal dan dia segera berjalan sambil mengenakan sepatu keluar dari rumah sang nenek.
Dia langsung berlari sekuat tenaga dan mengembalikan roknya yang terbang saat itu, dia sudah tidak memperdulikan hal apapun lagi dan terus berlari sekencang yang dia bisa bahkan dia bisa berlari dengan bus yang melaju di sampingnya saking cepatnya latihan dari seorang Sela yang bercita-cita untuk menjadi atlet lari jarak jauh atau maraton.
Meski dia merasa tidak nyaman dengan rok pendek itu dia tetap mengabaikan semua ketidaknyamanannya yang dia rasakan dan terus berlari hingga dia tiba di persimpangan dan hampir saja bertabrakan dengan Akira yang memakai sepeda dan muncul dari sebrang jalan sana.
"Aaarrrkkh....." Teriak Sela sambil dengan cepat dia menghentikan larinya.
Akira juga sekaligus langsung mendekat rem sepedanya dan dia membelokkan sepeda yang dia gunakan untuk mempercepat menghentikan laju sepedanya itu, untunglah Sela bisa berhenti dengan tepat begitu pula dengan Akira sehingga dia bisa selamat dengan jarak beberapa cm meter saja antara kakinya dengan ban sepeda milik Akira saat itu.
"Hah...hah...hah....untung saja aku tidak celaka" ucap Sela sambil mengatur nafasnya yang menderu.
Dia melihat Akira terlihat jatuh saat itu dan dia segera membantunya untuk berdiri dengan cepat.
"Aishhh... Kau si anak aneh itu yah, aahhh maafkan aku, apa kau baik-baik saja, ayo biar aku bantu kau berdiri" ucap Sela sambil segera hendak menyentuh tangan Akira dan berniat untuk membantunya berdiri saat itu.
Namun tangan Sela dengan cepat di abaikan oleh Akira dan dia bangkit berdiri begitu saja dengan sendirinya dan dia segera membangunkan sepedanya dengan berjalan pincang dan itu membuat Sela sedikit kesal karena tangannya di abaikan oleh Akira tapi walau bagaimanapun dia tetap merasa kasihan melihat Akira yang mendorong sepedanya berjalan pelan dengan pincang.
"Ehh.... Sialan beraninya sekali dia mengabaikan aku, aahhhhh sudah pincang seperti itu pun dia masih saja tidak mau menerima bantuan dariku, benar-benar orang aneh" gerutu Sela sambil berjalan mendekati Akira.
"Hey... Bocah aneh, jika kau tidak ingin terlambat ke sekolah dan menerima hukuman dari pak Joy sebaiknya kau bekerjasama saja denganku, aku bisa membawamu ke sekolah dalam waktu sepuluh menit dengan sepeda itu, dan lima belas menit dengan berlari sendiri, kita masih punya waktu dua puluh menit lagi sampai gerbang benar-benar akan di tutup oleh pak Joy, dan dengan kaki pincangmu mungkin kau akan sampai satu jam lagi disana, bagaimana apa kau mau menerima tawaranku?" Ucap Sela memberikan tawaran kepada Akira saat itu.
Akira lama tidak menjawab dan dia hanya terus berjalan sendiri dengan kesal, namun Sela tidak tinggal diam sebab waktu masih tetap berjalan dan dia tidak ingin kesiangan lagi hari ini.