
Akira hanya diam saja dan makan dengan cara yang baik, dia selalu melakukan semuanya dengan teliti juga hati-hati bahkan sebelum makan dia harus membersihkan sumpit yang dia pakai dengan sebuah tisyu basah yang sudah di berikan pembersih anti kuman terlebih dahulu, barulah dia bisa menggunakannya.
Tidak ada pembicaraan apapun diantara ibu dan anak tersebut di depan meja makan, mereka hanya terlihat fokus satu sama lain dengan makanannya, namun di satu sisi ibunya Akira justru merasa sangat tidak nyaman dalam situasi yang sangat canggung seperti itu, terlebih diantara mereka berdua seperti ada sebuah benteng yang sangat tinggi, seakan mereka bukanlah sepasang keluarga Anatar ibu dan putranya, sehingga ibunya benar-benar merasa sangat tidak nyaman dalam keadaan seperti itu.
Ibunya terus memperhatikan Akira yang bahkan sampai sebesar ini dia masih saja terlihat terkekang terus dengan penyakit yang dia derita, dia harus selalu bersih dan higenis dia harus saja mementingkan dan terganggu dengan hal-hal kecil sekalipun, bahkan saat itu ibunya melihat dengan jelas bagaimana Akira menikmati makanan buatannya, dimana putra tunggal kesayangannya tersebut terlihat memeriksa nasi yang dia makan sedari tadi seakan memastikan bahwa tidak terdapat hal aneh di dalam nasi tersebut.
Ibunya hanya bisa menghembuskan nafas dengan menahan sabar di hatinya, karena dia sudah tahu putranya seperti itu sudah sejak dulu, dan dia ikut itu adalah ujian dalam hidupnya dimana dia harus memiliki putra yang seperti Akira dan malah mengidap penyakit langka seperti itu, namun bagaimana pun ibunya selalu merasa bangga pada Akira sebab putranya tersebut bisa mendapatkan juara pertama sejak dia duduk di TK hingga saat ini, bahkan disaat dia harus pindah sekolah kapanpun ibunya tersebut memerintahkan.
Hingga saat ini ibunya berusaha untuk berbicara dengan Akira karena dia juga ingin menjadi lebih dekat dan mengobrol dengan putranya tersebut.
"Emm....sayang bagaimana dengan sekolahmu yang baru, apa kau menyukai tempat dan lingkungannya?" Tanya sang ibu kepadanya saat itu,
"Ya...lumayan" balas Akira dengan santai, singkat dan padat.
Ibunya sudah menduga bahwa dia hanya akan mendapatkan balasan singkat seperti ini, namun dia tetap saja menanyakannya sebab dia sangat penasaran terhadap perkembangan putranya tersebut dan dia juga sangat ingin banyak bicara dan mengatahui banyak hal mengenai putranya tersebut.
Sehingga walaupun sudah tahu akan mendapatkan jawaban menyakitkan seperti itu dia tetap tidak menyerah dan masih saja tetap bertanya kepada putranya lagi dan berusaha untuk menghangatkan suasana di meja makan kala itu.
"A..aahhh..hahah...begitu ya, syukurlah jika kamu menyukainya, tapi bagaimana dengan teman sekelas mu, ibu mendengar kamu justru malah masuk kelas yang terdapat murid paling bandel di sekolah itu, apakah dia mengganggumu?" Tanya ibunya lagi kepada Akira.
Dan seketika Akira yang mendengar hal tersebut, dia sudah menduga bahwa apa yang di maksudkan oleh ibunya adalah untuk Sela sehingga dia langsung saja terlihat menampakkan sedikit senyum kecil di wajahnya.
Dan hal tersebut membuat sang ibu sedikit kaget melihatnya, dia langsung saja menatap dengan membuka matanya sangat lebar melihat ke arah putranya Akira, pasalnya ini adalah pertama kalinya setelah bertahun-tahun dia tidak pernah melihat senyuman lagi dari putranya tersebut.
"Wahhh....sayang ada apa denganmu, apakah tadi kamu baru saja tersenyum?" Ucap ibunya sambil menutup mulut yang terbuka saking kagetnya melihat putranya tersebut tersenyum.
Walaupun senyumannya itu hanya sekilas dan begitu irit, tetapi ibunya tersebut tetap saja merasa senang dan gembira ketika melihat putranya sudah bisa tersenyum kepada dia seperti itu, walaupun pada dasarnya dia sama sekali tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran putranya itu dan apa yang sebenarnya dia tertawakan saat itu.
Sedangkan Akira sendiri langsung saja mengubah ekspresi di wajahnya dengan cepat, dia langsung menahan diri dan kembali pada ekspresi wajahnya yang sebelumnya, diam datar dan menatap dengan tatapan dingin seperti tidak ada sebuah kehidupan sedikit pun di dalam tatapan matanya tersebut.
Bahkan hal tersebut kembali membuat ibunya kaget lagi sebab jelas sekali barusan saja dia sudah bisa melihat senyuman kecil di wajah sang putra kesayangannya namun sekarang sudah harus hilang dengan begitu cepatnya.
"Ehhh...kenapa kamu langsung mengubah ekspresi wajahmu seperti itu? Akira ayo ceritakan pada ibu apa yang kamu pikirkan sampai membuat kamu tersenyum seperti tadi?" Tanya ibunya dengan sangat antusias dan begitu penasaran.
"Tidak ada ibu, aku sudah selesai aku akan istirahat" ujar Akira yang langsung saja bangkit dari tempat duduknya, lalu dia segera pergi ke kamarnya dengan cepat.
Ibunya sendiri juga hanya bisa menaikkan kedua alisnya dengan perasaan kebingungan tidak menentu, sebab dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada putranya tersebut yang terlihat semakin aneh juga misterius seperti itu.
"Ya ampun, apa yang terjadi dengan anak itu, apa aku harus segera membawa dia ke psikolog lagi untuk menanyakan keadaan dia dan memastikan keadaan pikirannya itu?" Gerutu sang ibu memikirkan.
Dia sebenarnya mencemaskan Akira tetapi karena dia terlalu sibuk dan banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan setiap harinya, bahkan dia juga tidak memiliki banyak waktu untuk tinggal di rumahnya sendiri sehingga dia tidak bisa memantau selama 24 jam penuh tentang pertumbuhan putranya sendiri.
Saat itu saja ibunya tersebut langsung mendapatkan panggilan telpon dari pihak kantor dimana pihak kantor sudah meminta dirinya untuk pergi kembali ke kantor dengan cepat saat itu juga sebab ada beberapa hal yang harus segera dia kerjakan disana.
"Hallo....ahhh..iya..iya..aku mengerti, aku akan segera kembali kesana sekarang, iya...aku akan melakukannya" balas nyonya Karin saat mengangkat panggilan telponnya saat itu.
Dia juga segera membereskan semua sisa makanan yang ada diatas meja makan, menyuruh bibi disana agar membersihkan semua piring kotornya dengan ceopat dan dia sendiri langsung saja pergi mengambil tas miliknya di sofa juga segera mengetuk pintu kamar Akira saat itu.
"Tok....tok...tok...Akira sayang apakah ibu boleh masuk?" Ucap nyonya Karin saat itu,
"Masuklah pintunya tidak di kunci" balas Akira sari dalam.
Ibunya segera masuk dan melihat rupanya Akira tengah mengisi pekerjaan rumahnya di depan meja belajarnya yang ada di ujung sudut kamarnya saat itu, nyonya Karin segera mendekati Akira dan mulai berbicara kepadanya.
"Ahhh....ternyata kamu masih belajar ya, ibu pikir kamu sudah mau beristirahat" ucap ibunya saat itu,
"Ada apa?" Tanya Akira tanpa basa basi apapun lagi.
Seakan saat itu dia sudah tidak ingin melihat wajah ibunya berlama-lama di hadapannya saat itu, dia juga tidak ingin jika dia di ganggu ketika dia tengah belajar, dia sangat benci ketika ada orang yang mengganggu waktu belajarnya, tidak termasuk dengan ibunya sendiri karena Akira akan tetap kesal dan marah jika sang ibu mengambil waktu belajarnya dengan hal yang tidak penting.
Sehingga saat itu, Akira masih tetap belajar tanpa menoleh ke arah ibunya meskipun sang ibu tengah bicara dengannya.
"Akira ibu harus kembali ke kantor dan mungkin akan sedikit lama lagi untuk ibu kembali ke rumah ini, sebab ibu harus tinggal di hotel atau tempat yang lebih dekat dari kantor tempat ibu bekerja, karena waktunya tidak cukup jika ibu tinggal di sini, belum lagi jalan yang...." Ucap nyonya Karin berniat menjelaskan alasan dia tidak bisa tinggal di rumah tersebut dengan Akira.
Tetapi Akira sudah tidak ingin mendengarnya lagi, dia sudah terbiasa mendengarkan banyak sekali alasan yang di utarakan oleh sang ibu kepadanya sampai telinganya terasa sangat kebas dan sudah muak mendengar semua alasan yang selalu ibunya katakan kepada dia, dan alasan itu selalu saja sama hingga dia sudah mengingat dengan baik alasan tersebut di dalam kepalanya sendiri.
Sehingga hal tersebut membuat ibunya nyonya Karin terlihat menaikkan kedua alisnya merasa bingung dan tidak menentu melihat putranya sendiri seperti tidak menginginkan keberadaan dia di tempat itu, bahkan ucapannya barusan yang terdengar sama sekali memiliki keperdulian sedikitpun kepadanya, membuat dia merasa tidak enak hati.
"O..ohhh...baiklah, ibu akan pergi, jaga dirimu baik-baik disini ada bibi jika kau ada kesulitan panggil dia, atau kau bisa menghubungiku" ucap ibunya saat itu,
"Tidak perlu aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri" balas Akira tanpa menatap ibunya sama sekali.
Sehingga ibunya nyonya Karin hanya bisa mengangguk dengan perasan sedikit tidak nyaman dan dia segera pergi dari sana kembali menutup pintu kamar Akira lagi, dan dia benar-benar pergi dari rumah tersebut dengan perasaan yang tidak karuan karena mendengar jawaban dari putranya selalu acuh tidak acuh kepadanya.
Nyonya Karin langsung pergi keluar dari rumah tersebut dan pergi menuju mobilnya, sedangkan Akira sendiri langsung saja terperanjat dari kursi belajarnya menuju balkon kamarnya dan membukakan tirai kamarnya dengan cepat untuk melihat ibunya terakhir kali, sebab dia sebenarnya ingin menatap ibunya namun rasa kesal dan emosi di dalam hatinya menghalangi hal tersebut.
Sehingga ketika dia mendengar suara mobil ibunya yang terdengar menyala di bawah sana, Akira langsung berlari ke balkon kamarnya dan dia melihat dari kejauhan mobil ibunya tersebut perlahan keluar dari halaman rumahnya dan pergi dengan cepat meninggalkan jalanan disana.
Di sisi lain saat itu Sela sendiri berniat menemui ibunya karena dia harus mengambil beberapa pakaian miliknya yang ada di rumahnya sebab hanya ada sedikit pakaian saja yang ada di rumah neneknya, dan di saat yang sama ketika Sela hendak masuk ke dalam gerbang rumahnya dia tidak sengaja melihat Akira yang berdiri di balkon kamarnya menatap ke arah sebuah mobil yang baru saja keluar dari halaman rumahnya sendiri saat itu.
"Ehhh...sedang apa di wajah datar itu berdiri di sana, apa dia bodoh?" Gerutu Sela melihat heran pada Akira.
Dia tidak terlalu memperdulikan hal itu sehingga dia langsung saja melanjutkan jalannya dan segera masuk ke dalam rumahnya sendiri dengan cepat saat itu.
Sela hendak baru saja masuk melewati gerbang rumahnya namun dia tidak melihat ke depan dengan baik sehingga tas hijaunya itu ternyata tersangkut pada pagar rumahnya sendiri sehingga membuat dia langsung terjatuh dan Sela berteriak sangat kencang hingga teriakkannya itu terdengar oleh Akira yang saat itu masih berada di balkon kamarnya, tentu saja saat itu Akira juga mihat dengan jelas bagaimana Sela terjatuh dan tersungkur ke tanah dengan posisi tubuhnya yang sangat konyol dengan sangat jelas sebab dia melihatnya dari atas.
"Aaahhh.....bruk....aduhhh...aishh..sial kenapa tas ini malah tersangkut sih" gerutu Sela yang merasakan sakit di kaki juga tangannya saat itu.
Sedangkan di sisi lain Akira langsung saja tertawa kecil melihat Sela yang terjatuh di hadapan matanya seperti itu, hal tersebut cukup konyol baginya sehingga Akira sendiri tidak bisa menahan tawanya sendiri saat itu.
"Fffttt...hahaha...dia sangat konyol" ucap Akira tertawa pelan saat itu.
Namun Sela yang ingat bahwa dia sebelumnya mihat Akira di balkon kamarnya dia langsung saja melirik ke arah sana namun dia tidak melihat siapapun di balkon kamar Akira saat itu, karena Akira langsung menunduk ke bawah tepat di saat dia tahu bahwa Sela akan melirik ke arahnya saat itu.
Sela.juga langsung saja merasa sangat lega karena mengetahui tidak ada siapapun yang melihatnya jatuh di tempat tersebut dengan cara yang sangat konyol seperti sebelumnya.
"Ahhhh...untung saja tidak mihat aku, jika sampai dia masih ada disana, dia pasti akan melihat aku yang jatuh dengan konyol, aishh...sial sekali aku hari ini" gerutu Sela yang merasa sangat kesal pada dirinya sendiri.
Dengan kaki yang tergores dia berusaha bangkit sendiri lalu mengambil tas hijaunya yang masih tersangkut di pagar rumahnya saat itu, dia mengambilnya dengan kasar karena masih sangat kesal sebab karena tasnya tersebut dia terjatuh dengan konyol begitu.
"Aishh.... menyebalkan sekali, semua ini gara-gara kau dasar tas sialan, kalau saja kau bukan pemberian orang yang aku sayang, aku tidak akan memeliharamu lagi, aishh....AA..a.a...ahhh..kakiku sakit sekali" gerutu Sela yang terus saja menggerutu dengan keras.
Dia bahkan uring-uringan dan memarahi pagar rumahnya sendiri sambil menendang pagar itu cukup kuat dan tentu saja malah kakinya sendiri yang terasa sakit di bandingkan paga rumahnya yang jelas terbuat dari besi saat itu.
"Dasar pagar sialan, kau sangat menjengkelkan dan sudah membuat aku jatuh, awas saja kau aku akan mengecatmu dengan warna yang sangat jelek agar kau tahu rasa...aishh rasakan ini duk" ucap Sela sambil langsung melayangkan tendangan pada pagar itu.
"Adududuhh...aishh...sial...sial..sial sekali, aahhh kakiku sakit huhu..." Ucap Sela menggerutu dan membuat kakinya sendiri sakit karena dia dengan sengaja menendang paga rumahnya yang sudah jelas hanya sebuah benda mati saja.
Akira yang melihat semua itu dia dengan sengaja merekam semua tingkah konyol Sela saat dia menggerutu dan terus memarahi pagar rumahnya itu bahkan sampai Sela meringis kesakitan memegangi kakinya setelah dia menendang pagar besi tersebut.
Akira terus menutup mulut menahan diri agar dia tidak tertawa dan bisa sampai terdengar oleh Sela saat itu, hingga dia selesai merekam semua tingkah konyol Sela lalu menyimpannya untuk dia sendiri saat itu.
"Haha..aku bisa memakai video ini untuk mengancamnya suatu saat nanti, lihatlah kau gadis bar bar" gerutu Akira yang memang sangat jenius dan cerdik.
Sela sendiri sudah masuk ke dalam rumahnya dan tiba-tiba saja disaat dia masuk ke dalam rumah dia sudah langsung di sambut oleh ibu dan ayah sambungnya dengan suara yang sangat meriah seperti memberikan kejutan padanya.
"Horee....putri kesayangan ibu sudah pulang, aahh sayang ayo duduk...duduk..kau pasti lelah sudah berjalan dari sekolah sampai kesini bukan, ayo simpan tasmu ini dan makanlah dengan ayahmu ayo cepat..." Ucap ibunya sambil terus mendorong Sela bahkan mendorongkan kursi di depan meja makan yang akan dia duduki saat itu.
Sela merasa sangat heran dan kebingungan karena dia tiba-tiba saja mendapatkan perlakuan yang sangat aneh seperti ini, biasanya di saat dia pulang ke rumah tersebut di jam seperti sekarang dia tidak pernah melihat keberadaan ibu dan ayah sambungnya itulah alasan mengapa dia datang ke rumahnya di jam saat itu, berniat agar dia tidak perlu bertemu dengan kedua orang tua yang sangat menjengkelkan seperti itu di matanya.
Karena merasa sangat heran dan curiga Sela tidak langsung duduk dengan mudah begitu saja, dia langsung bertanya kepada ibu dan ayah sambungnya dengan cepat.
"E..e...ehhh...tunggu tunggu, apa yang terjadi dengan kalian berdua, tuan Wen apa yang terjadi dengan nyonya Choi apa dia sedang sakit atau salah makan saat di kantornya? Kenapa dia sangat aneh seperti ini?" Tanya Sela kepada ayah sambungnya saat itu.
Ibunya Sela yang merasa kesal dan tidak terima dengan apa yang di ucapkan oleh Sela kepadanya dia langsung saja menaikkan nada bicaranya kepada Sela dan langsung saja menekan kedua pundak Sela dengan kuat hingga dia langsung terduduk dengan paksa begitu saja.
"Aishh...nyonya Choi...nyonya Choi...apa kau ini tidak bisa memanggil ibumu sendiri dengan sebutan ibu atau mamih dan nama panggilan lainnya yang normal di sebutkan oleh orang lain, kenapa kau terus memanggilku nyonya Choi aku ini ibumu Sela bukan orang lain!" Bentak nyonya Choi yang terdengar sangat marah saat itu.
Sela semakin saja merasa lebih heran lagi karena dia sudah memanggil ibunya dengan sebutan seperti itu sejak ayahnya meninggal dan ibunya menikah lagi dengan tuan Wen, dia rasa semanjak ibunya bekerja dan tidak mengurusi dia lagi, itu sudah menunjukkan bahwa ibunya bukan lagi ibu dia sepenuhnya sehingga Sela memanggilnya nyonya Choi sebab dia tidak pernah merasa bahwa dia sangat dekat dengan ibunya tersebut.