Love In High School

Love In High School
Dikunci



Padahal dia tidak pernah mau bersentuhan ataupun menyentuh orang lain namun kali ini dia bisa melakukannya tanpa berpikir sekali pun untuk menyentuh tangan Jeromi yang memegangi pundak sela seperti itu.


"Singkirkan tanganmu darinya!" Ucap Akira terlihat mendominasi dan membuat Jeromi mengerutkan dahinya dengan heran.


Begitu juga dengan Sela yang terus saja menatap terperangah kebingungan dengan sikap Akira yang aneh saat itu.


Akira benar-benar terlihat sangat marah dan untuk pertama kalinya Sela mendengar Akira mengeluarkan suara bentakkan sebesar itu, hal tersebut membuatnya sangat kaget dan terus mematung terperangah melihat ke arah Akira saat itu, dan dengan cepat di tengah-tengah ketegangan seperti itu Sela segera memisahkan mereka dan dia segera menengah kan mereka berdua.


"Ehh ...ehh...sudah Akira apa yang kamu lakukan kenapa kau tiba-tiba muncul dan membentak orang seenaknya?" Ucapku sambil menahan tangan Akira dan menariknya agar sedikit mundur menjauh dari Jeromi saat itu.


Kini Akira justru malah berbalik menatap ke arahku dengan sorot matanya yang sangat serius dan cukup menyeramkan juga ketika dia marah seperti itu, tetapi aku sendiri juga tidak tahu kenapa dia bisa marah seperti itu kepadaku, padahal aku merasa bahwa aku sama sekali tidak melakukan apapun yang bisa membuat dia marah atau kesal dan dia juga tidak ada urusannya dengan semua yang terjadi padaku ataupun Jeromi saat itu.


"Apa?... Kenapa kau malah menatapku seperti itu, apa kau sakit ya atau kepalamu terbentur sehingga mau menjadi gila seperti ini?" Ucap Sela kepada Akira yang tidak habis pikir dengan kelakuannya tersebut yang membuat dia kaget.


"Siapa dia? Kenapa kau bisa keluar dari mobilnya dengan keadaan seperti ini?" Ucap Akira sambil memegangi kedua pundak Sela cukup erat.


Tentu saja hal tersebut membuat Sela kembali mengerutkan kedua alisnya dengan perasaan heran dan kebingungan tidak menentu, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Akira malam itu, sebab Sela terus merasa Akira berbeda dengan Akira yang sebelumnya dia kenal, oleh karena itu dengan cepat Sela melepaskan kedua tangan Akira yang memegang pundaknya dengan erat bak seperti orang yang sangat mencemaskan dirinya saat itu.


"Euhh...lepaskan tanganmu itu dariku!" Ucap Sela mengeluarkan peringatan kepadanya dengan keras saat itu hingga membuat Akira terperangah mihat Sela yang menghempaskan tangannya begitu saja.


Itu sedikit membuat Akira kecewa kepada Sela sebab pada dasarnya Akira memang sangatencemaskan Sela saat itu, bahkan dia sudah mencari keberadaan Sela sebelumnya dengan perasaan panik tidak karuan saat dia mengetahui bahwa Sela tidak berada dan belum pulang ke rumahnya.


Sela mengabaikan Akira dan dia segera saja menyuruh Jeromi untuk pergi dari sana secepatnya karena Sela berkata bahwa dia sudah bisa pergi seorang diri dari sana.


"Jeromi ini sudah malah sebaiknya kau pulang saja kasihan Vivi dia tertidur dan kelihatannya dia sangat lemah, terimakasih sudah mengantarkanku" ucap Sela kepada Jeromi saat itu.


"Aahh...iya, tapi apakah kau yakin bisa berjalan sendiri di mana rumahmu, biarkan aku sekalian mengantarmu hingga kau sampai dengan aman" ucap Jeromi yang malah menawarkan bantuan lagi sehingga membuat Akira kembali memberikan tatapan tajam dan mengeratkan giginya dengan kuat.


Dia terlihat jelas menahan emosi dan kekesalan di dalam dirinya saat itu, namun hanya Sela saja yang tidak sadar dengan hal tersebut sedangkan Jeromi yang mendapatkan tatapan seperti itu dari Akira, dia segera pergi dari sana karena Sela juga sudah menolak bantuan darinya dengan cara yang sangat tegas sehingga dia tidak bisa memaksakannya lagi.


"Tidak usah, aku masih punya kaki apakah kau tuli hah? Sudah sana pergi!" Ucap Sela kepada Jeromi menolak bantuan darinya.


"Aahh...ya sudah kalau begitu aku pergi, permisi" ucap Jeromi segera masuk ke dalam mobil setelah mendapatkan anggukan dari Sela saat itu.


Saat mendengar jawaban Sela yang menolak jawaban dari Jeromi itu membuat Akira sedikit merasa senang bahkan dia terlihat menahan senyum sendiri saat itu, sambil menunduk sedikit namun Sela masih bisa melihat tingkah anehnya tersebut sehingga ketika Jeromi berpamitan dan sudah pergi dari sana sela langsung saja berdesak kesal sedikit sambil merutuki Akira sambil segera berbalik untuk pergi dari sana.


"CK....apa kau gila terus tersenyum kecil seperti itu" ucap Sela kepada Akira.


Akira juga segera mengikuti langkah Sela yang terlihat kesulitan berjalan saat itu, namun Akira sama sekali tidak berani untuk membantu Sela atau memulai lebih dulu untuk menawarkan bantuan kepadanya sehingga hal tersebut sedikit membuat Sela kesal dan emosi karena dia tidak suka di ikuti oleh siapapun seperti itu.


Dia pun langsung saja menghentikan langkahnya dan langsung berteriak kepada Akira untuk tidak mengikutinya lagi saat itu.


"Heh....Akira jangan pernah mengikuti aku seperti itu, aku benci penguntit sepertimu!" Ucap Sela membuat Akira menghembuskan nafas kasar.


Akira sangat kesal mendapatkan ucapan dan di anggap sebagai seorang penguntit oleh seorang Sela saat itu, sedangkan Sela sendiri kembali melanjutkan jalannya seorang diri dengan pelan dan begitu hati-hati meski terus menggerutu kesal pada Akira saat itu.


"Dasar manusia sialan, setidaknya apaka dia tidak memiliki hati nurani untuk membantuku apa? Benar-benar hatinya itu terbuat dari batu kerikil mungkin aahhh untuk apa mengharapkan bantuan dari orang sialan sepertinya" gerutu Sela terus merasa sangat kesal sekali.


Sedangkan disisi lain sebenarnya Akira sendiri juga ingin membantu Sela namun dia tidak berani untuk mengatakannya karena tahu bagaimana sikap Sela, dia hanya takut Sela akan menolaknya lagi dan lebih merasa kesal kepadanya saat itu di tambah dia juga harus terus menahan kekesalan karena Sela sudah mengatainya sebagai penguntit.


"Benar-benar manusia keras kepala dan sangat menjengkelkan, siapa lagi pria tadi yang mengantarnya, apa dia se populer itu sampai banyak sekali orang-orang di sekitarnya sekarang" batin Akira terus memikirkan.


Akira terus berjalan mengikuti Sela dari belakang dan terus menjaganya secara diam-diam, meski Sela sudah membentak dia dan melarang dirinya untuk berjalan mengikuti Sela di belakang seperti itu, tetapi Akira tetap saja tidak berhenti melakukannya karena hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menjaga Sela secara diam-diam, sebab jika bukan dengan hal seperti itu dia tidak bisa menjaga Sela dengan cara lain lagi.


Sampai lama kelamaan Sela semakin merasa kesal, dia tidak bisa menahan emosi di dalam dirinya sendiri dan langsung saja Sela memanggil Akira.


"Aishh ....heh..sampai kapan kau akan terus berjalan seperti itu di belakangku, setidaknya kau harus membantuku bukan? Aahh benar-benar manusia buta yang tidak memiliki hati ataupun empati, sudahlah kau juga tidak akan membantuku bukan?" Ucap Sela sangat kesal sambil menatap sinis sekilas pada Akira.


Akira yang mendengar teriakkan Sela seperti itu dia langsung tersenyum kecil untuk sesaat dan segera saja dia berjalan cepat mendekati Sela dan langsung mengambil sebelah tangan Sela dan membantu dia memapahnya berjalan agar bisa lebih cepat.


"Aahhh?.... Apa yang kau lakukan?" Tanya Sela saking kagetnya,


"Bukankah kau mau aku membantumu, jadi aku melakukannya" balas Akira tanpa melihat Sela saat itu.


Wajahnya hanya terus menatap ke depan dengan lurus dia bukannya tidak ingin menatap wajah Sela, hanya saja dia takut jika dirinya tidak bisa menahan nafsu di dalam dirinya sendiri ketika melihat wajah Sela dari dekat nantinya, sehingga Akira lebih memilih untuk tidak melihatnya sekaligus, agar dia juga bisa menahan diri da Sela bisa nyaman dengannya.


"Ahaha... Kau sungguh membantuku, awas saja jika nantinya kau akan meminta balas budi kepadaku, ini kau sendiri yang membantuku ya" ucap Sela lagi memperingatkan.


Sebab mau bagaimana pun Sela tetap sulit sekali mempercayai Akira karena sebelumnya saja Akira malah menjebak dia dalam kesulitan dan entah kenapa Sela harus menjadi asisten pribadi dari Akira, Sela selalu saja merasa sangat tertekan dengan hal itu, tanpa dia sadari bahwa sesungguhnya saat itu Akira tengah membantumu, membuat dirinya jadi lebih banyak belajar dan lebih banyak mengerjakan latihan soal untuk membantu Akira menyelesaikannya lebih cepat, semua kebaikan Akira yang tidak pernah di sadari secara nyata oleh Sela sebelumnya.


Sela juga tersenyum kecil ketika dia tahu Akira mau menolongnya saat itu, setidaknya dengan adanya bantuan dari Akira itu bisa membuat Sela sampai di depan rumahnya lebih cepat dibandingkan dengan dia yang harus berjalan sendiri di jalanan yang agak menanjak seperti itu dengan sebelah kaki yang terkilir.


Hingga sesampainya di depan gerbang Sela sangat senang mihat pintu ayah tirinya sudah terlihat berada di dalam halaman rumahnya sehingga dengan cepat Sela melepaskan diri dari Akira dan langsung berjalan mendekati pagar rumahnya sambil berusaha membukanya saat itu.


"Aahh ..ternyata tuan Wen sudah pulang ya, syukurlah aku bisa masuk ke rumah sekarang," ucap Sela sangat senang.


Namun disaat dia hendak membuka pagar rumahnya Sela merasa sangat kesulitan dan ini tidak pernah terjadi kepada dia sebelumnya, sampai Sela harus mengeluarkan banyak tenaga dan malah meringis kesakitan karena tangannya tergores lagi.


"Eughh...kenapa susah sekali..eughhh...aaaahhhh...aaaww...aishh..dasar pagar sialan kenapa tidak bisa dibuka sih!" Gerutu Sela merasa sangat kesal saat itu.


Akira berjala mendekatinya dan menawarkan diri secara langsung untuk membantu Sela membukakan gerbangnya tersebut.


"Sini biar aku saja yang membukanya kau diam saja, nanti kau terluka lagi" ucap Akira saat itu.


Sela pun segera mundur beberapa langkah da membiarkan Akira untuk melakukannya namun disaat Akira hendak menggeser pagar tersebut, dia melihat ada gembok di dalam pagar itu yang menandakan bahwa pagar itu sudah di gembok oleh seseorang dari dalam, sehingga tentu saja sebelumnya Sela tidak akan bisa membuka pagar itu meski dengan sekuat tenaganya.


"Hah?...heh..lihatlah kemari, sampai kapanpun tidak aka ada yang bisa membuka pagar rumahmu dengan tangan saja" ucap Akira sambil menunjukkan gembok tersebut pada Sela.


Sela yang mihat gerbang pagarnya di kunci dari dalam dia benar-benar sangat kesal dan marah pada tuan Wen yang merupakan ayah tirinya tersebut, Sela terus menggerutu kesal dan uring-uringan tidak jelas dengan bahasanya yang cukup kasar saat itu.


"Astaga... Ini pasti kelakuan tuan Wen, apa dia sengaja mengunci pagarnya agar aku tidak bisa masuk ke dalam rumah ibuku sendiri? Aahhh.. benar-benar dia sangat menyebalkan sekali, heh... Tuan Wen....tuan Wen keluar kau tuan Wen!" Teriak Sela yang langsung saja memanggil nama ayah tirinya dengan sekeras yang dia bisa.


Tapi sayangnya meski Sela sudah berteriak sangat kencang untuk memanggil nama ayah tirinya tersebut, ayahnya justru sudah ketiduran dengan memakai headset di telinganya dan tentu saja itu membuat tuan Wen tidak bisa mendengar teriakkan Sela meski dia berteriak sangat kencang.


Sela merasa sangat kesal sekali, dia kembali marah dan terus saja kebingungan karena baginya tidak mungkin jika dia pergi ke rumah neneknya di jam saat ini yang sudah lewat dari jam dua belas malam, sebab sudah di pastikan neneknya tengah tidur dengan lelap di jam segini, dulu saja saat dia tinggal di rumah neneknya waktu paling malam untuk Sela pulang adalah jam sepuluh malam, lewat dari itu semua pintu dan tingkap pasti sudah di tutup rapat oleh neneknya.


"Aaahhh...sial...tuan Wen pasti tida mendengarkan teriakkanku...dia kemana sih, kenapa bisa-bisanya dia malah mengunci gerbang seperti ini, aishh...sangat menyebalkan tidur dimana aku malam ini astaga..." Ucap Sela terus merasa kebingungan sendiri.


Akira yang tidak tega mihat Sela frustasi dan kebingungan dia pun segera menawarkan agar Sela tinggal di rumahnya saja saat itu, sebab disana juga hanya dia yang tinggal seorang diri, ibunya tidak pulang dan bibi pelayannya hanya akan kembali ke rumah ketika Akira pergi sekolah.


"Sela... bagaimana kalau kau tinggal di rumahku saja untuk malam ini" ucap Akira menawarkan.


Sela membelalakkan matanya dengan sangat lebar, dia membentak Akira bahkan sampai menepuk tangannya dengan sangat kuat, karena Sela tahu tidak mungkin dia akan menginap di rumah teman laki-laki.


"Aish...apa kau bilang? Apa kau gila ya? Mana mungkin aku akan tinggal di rumahmu, bagaimana dengan kedua orangtuamu, mereka pasti akan mengira kita yang tidak-tidak, tidak bisa aku tidak akan tinggal denganmu" ucap Sela sambil menggelengkan kepalanya cukup kuat.


"Sela aku tinggal sendiri, ibuku jarang pulang dan pelayanku hanya datang saat aku pergi dan dia pergi saat aku kembali" ujar Akira kepada Sela.


Mendengar itu Sela kembali kaget dan menelan salivaku dengan susah payah.


"Ja..jadi kenapa memangnya jika kau tinggal sendiri, itu lebih berbahaya aku tetap tidak akan tinggal di rumahmu, a..aku akan pergi ke ruang baca saja, aku akan disana" ucap Sela sambil segera berbalik hendak pergi kesana.


Namun dengan cepat Akira memberitahunya bahwa ruang baca sudah tutup pada jam sembilan malam setiap harinya, paman itu juga tidak tinggal disana dia sudah pulang sejak tutup sebelumnya.


"Ruang baca sudah tutup dan paman itu tida tinggal disana, tidak ada yang akan membukakan pintu untukmu disana, jika kau mau menerima tawaranku aku bisa membawaku ke rumahku jika tidak aku juga tidak masalah kau bisa tidur di luar pagar rumahmu sendiri" ucap Akira sambil berjalan pergi dengan pelan.


Dia sengaja melakukan itu untuk membuat Sela menuruti ucapannya dan mau menerima tawaran darinya, sedangkan disisi lain Sela terus mengerutkan kedua alisnya, dia baru ingat bahwa paman memang tidak pernah tinggal di tempat kerjanya itu.