Love In High School

Love In High School
Janji Dengan Ibu Yuni



"Aku mau mengikuti olimpiade matematika tersebut." Balas Akira yang membuat ibu Yuni sangat kaget.


Langsung saja saat itu juga ibu Yuni terlihat membelalakkan matanya dengan sangat lebar bahkan sampai membuka mulutnya cukup besar saking kagetnya dan tidak menduga Akira akan menyetujui mengikuti lomba olimpiade matematika yang dia tawarkan setelah mendapatkan banyak sekali penolakan dari Akira selama ini.


Bukan hanya itu ibu Yuni terasa ingin meledakkan dirinya sendiri saking senangnya mendengar ucapan dari Akira yang akhirnya mau juga menyetujui ajakan darinya dan tawaran untuk mengikuti olimpiade matematika sebagai perwakilan dari sekolahnya dengan salah satu juniornya nanti yang sudah di pilih oleh ibu Yuni sebelumnya, dia segera langsung memegangi tangan Akira dengan membelalakkan mata dan menanyakannya lagi untuk memastikan saat itu.


"Wah ...wah....Akira apa kau tidak sedang sakit, atau demam? Apakah kau sungguh-sungguh mengatakannya, kamu tidak bisa menarik kembali ucapanmu lagi jika kali ini mengatakan iya atau mengangguk kepadaku" ucap ibu Yuni dengan matanya yang sangat serius saat itu.


"Tentu aku tidak akan pernah menarik ucapanku sendiri, aku memang menyetujuinya" bas Akira yang membuat ibu Yuni langsung saja berjingkrak kegirangan begitu senang sekali.


"Huaa...hore...yes..yae..yes... akhirnya kau sadar juga dengan kemampuan dirimu sendiri Akira ohh...ibu sangat senang ini harus di rayakan ahahah" ucap ibu Yuni begitu sangat senang sampai tertawa begitu lepas dan keras.


Sampai tidak lama Akira langsung menghentikan tawa ibu Yuni karena dia melanjutkan ucapannya dan mengatakan syarat untuk dia mengikuti lomba olimpiade matematika tersebut.


"Tunggu dulu ibu Yuni saya bahkan belum selesai mengatakannya dengan benar, kau jangan senang dulu" ucap Akira yang membuat ibu Yuni langsung menghentikan tawanya dan dia langsung saja kembali menatap dengan serius sambil mengerutkan kedua alisnya kepada Akira.


"Ehhh....apa maksud ucapanmu itu?" Tanya ibu Yuni merasa mulai tidak enak dengan perasaannya saat itu.


"Aku akan mengikuti olimpiade matematika tersebut tetapi dengan satu syarat" tambah Akira mulai mengatakannya.


Ibu Yuni kaget tapi dia tidak marah dia hanya menaikkan kedua alisnya menanggapi ucapan dari Akira tersebut kemudian tersenyum kecil menanggapi ucapannya.


"Ahh...ahahaha...syarat apa lagi, ibu akan menyetujui syarat apapun yang kamu ajukan asalahkan kamu benar-benar menepati janjimu untuk mengikuti olimpiade matematika tersebut" balas ibu Yuni sudah membuat keputusan tanpa mendengar syaratnya terlebih dahulu.


Akira langsung tersenyum kecil karena niatnya sudah tercapai dia sengaja mengatakannya sedikit demi sedikit untuk menjebak ibu guru Yuni dan hanya dengan begitu mau tidak mau nantinya ibu Yuni akan menuruti syarat darinya, kini Akira merasa sedikit senang ketika mendengar ibu Yuni yang mengatakan bahwa dia akan menyetujui syarat apapun yang di minta oleh Akira.


"Baiklah ibu Yuni ingatlah dengan ucapanmu sebelumnya kau tidak bisa menariknya lagi" ucap Akira memberitahunya terlebih dahulu.


Ibu Yuni yang sudah sangat penasaran dan menyepelekan dia pikir syaratnya hanyalah hal-hal yang biasa saja, sehingga dia sama sekali tidak takut dan langsung menyetujui semua itu tanpa berpikir sedikitpun.


"Ahhh...iya...iya, sudah cepat katakan apa syarat yang kamu inginkan, ibu sudah tidak ada waktu lagi" ujar ibu guru Yuni kepadanya,


"Kau harus meluluskan Sela, dan aku ingin dia menjadi asistenku dalam proses pembelajaran menuju olimpiade matematika nanti, dengan begitu aku bisa mengajarinya dan dia bisa mendapatkan nilai di atas KKM" ucap Akira yang membuat ibu Yuni kembali membelalakkan matanya sangat lebar dan kedua tangan yang di kepal dengan kuat.


"APA?.... Astaga...Akira apa kamu ini mau membunuh ibu secara halus ya? Aahhhh... tidak...tidak jika itu syaratnya ibu tidak bisa melakukan semua itu, ini terlalu sulit" ujar ibu guru Yuni yang begitu kaget dan langsung saja menolaknya.


Sama dengan dugaan yang di pikirkan oleh Akira sebelumnya bahkan ibu Yuni pasti akan menolak dia melakukan hal tersebut. Tetapi karena Akira anak yang pintar dan jenius tentu saja dia tidak bisa mengalah atau di kalahkan dengan mudah begitu saja oleh ibu Yuni, dia juga tidak akan menurut dengan ibu Yuni.


"Ibu...apakah ibu Yuni lupa jika sebelumnya ibu sendiri yang mengatakan akan menyetujui semua syarat yang aku minta apapun itu, kenapa anda mengingkari ucapan anda sendiri, aku sudah merekamnya" ujar Akira sambil menyalakan rekaman di ponsel yang baru saja dia keluarkan dari saku celananya saat itu.


Ibu Yuni lagi-lagi merasa sangat kaget dan syok, dia merasa sangat tidak menduga bahwa murid seperti itu bisa melakukan hal yang seperti ini bak seperti menjebak dia dengan sangat rapih dan dia justru malah tidak menyadarinya bahkan jatuh dalam jebakan Akira dengan tertawa begitu senang sebelumnya.


"Aduhhh....hentikan rekamannya ayo hentikan jangan sampai siswa lain mendengar itu, aahhh kau ini benar-benar anak yang jenius dan cerdik, baiklah kau boleh melakukan apapun tapi ingat kamu harus mengikuti olimpiade matematika itu dengan sungguh-sungguh dan harus bisa membagi waktu dengan benar, apa kau mengerti?" Ucap ibu Yuni yang pada akhirnya mau tidak mau harus menyetujui syarat dari Akira.


Akira langsung saja mengangguk sambil terlihat tersenyum kecil, dia merasa sangat senang saat itu dan langsung saja ibu Yuni pergi meninggalkan Akira saat itu, namun sayangnya Akira lagi-lagi menahan tangan ibu Yuni karena ucapannya belum benar-benar selesai saat itu.


"Ada apa lagi Akira.....aahhh kau ini sangat membuat ibu kesal hari ini" ucap ibu Yuni sambil mengusap wajahnya dengan perasaan tidak menentu saat itu.


"Tidak perlu kesal seperti itu kepadaku, aku hanya ingin memintamu untuk memerintahkan Sela melakukannya katakan saja kepada dia dan semua orang bahwa dia akan menjadi asistenku agar dia tidak merasa curiga dan tolong jangan beri tahu dia bahwa semua ini aku yang memintanya kepada anda" tambah Akira mengatakan semuanya.


Ibu Yuni kembali membelalakkan matanya dan menaikkan kedua alisnya, dia langsung mengelus dadanya beberapa kali dan berusaha untuk sabar dalam menghadapi Akira sampai setelah menghembuskan nafas perlahan akhirnya ibu Yuni mulai menjawabnya dan mengangguk menyetujui apa yang Akira inginkan saat itu.


"Ya...ya... baiklah ibu akan melakukan semuanya dengan sangat baik, cepat kau kembali ke kelas!" Ucap ibu Yuni, sedikit meninggikan suaranya.


Akira hanya mengangguk patuh dan segera pergi ke kelasnya dengan cepat, begitu pula dengan ibu Yuni yang mengikutinya dari belakang sambil menggerutu dengan kesal dan berusaha untuk menahan emosi di dalam dirinya yang terus menggebu saat menghadapi Akira sebelumnya.


"Huaa...dia benar-benar anak yang sangat sesuatu, bagaimana bisa aku malah di kendalikan dengan anak sepertinya, kelapaku akan benar-benar pecah jika terus seperti ini hiks...hiks...semoga saja dia bisa memenangkan lombanya agar aku tidak di pecat dari sekolah ini hmm" ucap ibu Yuni yang terus menggerutu sendiri.


Hingga ibu Yuni masuk ke dalam kelas dan Akira menyentuh tangan Sela untuk membangunkannya, sebab dia terlihat masih saja tertidur di mejanya tepat di samping Akira saat itu.


"Heh...bangun, pelajaran akan segera di mulai, ayo bangun!" Ucap Akira pelan membangunkan Sela sambil menyentuh tangannya dengan kesal sebab Sela yang sulit sekali di bangunkan.


Hingga suara gelegaran teriakkan ibu Yuni yang berhasil membangunkannya saat itu.


"SELA BANGUN!" Teriak ibu Yuni begitu kencang.


Sela yang tengah tertidur dia langsung saja terperanjat sangat kaget dan langsung bangkit terduduk dengan tegak sambil menatap linglung ke depan dengan matanya yang sedikit merah juga pipinya yang terlihat terdapat bentuk meja karena dia tertidur cukup lama saat itu.


"Hah...apa...ada...apa Bu, apa ibu memanggil aku?" Tanya Sela menatap kebingungan dan mencari kesadaran dirinya sendiri saat itu.


Seketika semua anak yang ada di dalam kelas itu menatap sambil menahan tawa kepada Sela yang tiba-tiba saja bangkit berdiri dengan linglung seperti itu, hingga ibu Yuni segera kembali berusaha menahan emosi kepada Sela dan langsung menyuruhnya untuk kembali duduk dengan cepat.


"Aahh....sudah...sudah..ayo kau duduk, dan lihatlah pelajaran dengan benar apa kau mengerti!" Ucap ibu Yuni memperingatinya.


Sela langsung mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepada ibu Yuni sambil memegangi belakang kepalanya dan segera dia berusaha merapihkan rambutnya sendiri yang terlihat cukup berantakan saat itu.


"Huuh..... pelajaran matematika yang sangat aku benci, bagaimana aku bisa fokus dengan pelajaran aku sendiri saja sama sekali tidak memahami angka-angka yang guru tulis di depan aahhn ini sangat membosankan sekali" gerutu Sela sambil membenarkan duduknya.


Wajahnya cemberut terlihat sangat bosan dan tidak menentu, dia hanya mencoret-coret bukunya dengan tulisan (aku sangat bosan) dalam beberapa baris yang sangat banyak dan panjang sampai bolpoin miliknya tersebut habis dia gunakan untuk menuliskan kalimat tidak berguna tersebut di buku catatan matematikanya.


"Ehh.... bolpoin ku habis, aahh itu artinya aku tidak perlu menulis lagi bukan haha....ini kesempatan bagus untuk membuat alasan" gerutu Sela yang justru merasa sangat senang ketika bolpoinnya itu habis.


Sampai tidak lama ketika ibu Yuni meminta Sela ke depan dan memberikan catatannya dia langsung saja mengatakan banyak alasan termasuk karena bolpoinnya yang habis saat itu, dan seperti biasa wajahnya selalu bisa ber acting cukup baik di hadapan teman-temannya sekelasnya saat itu.


"Sela kenapa kau diam saja, ayo ke depan dan mana catatanmu? Jangan bilang kau tidak mencatat semua yang ibu tulis di depan!" Ucap ibu Yuni yang sudah menatapnya dengan tatapan yang tajam dan mencekam.


"Aahh...ibu kau jangan berpikir buruk, aku memang tidak mencatatnya tetapi bukan karena aku tidak ingin, lihatlah buku ku sudah habis dan bolpoinnya juga habis, bagaimana aku bisa menulis jika semua alatnya tidak mendukung, tapi tenang saja Bu aku akan menyelesaikan besok yah" ucap Sela kepada ibu Yuni sambil tersenyum menampakkan giginya yang rapih.