Love In High School

Love In High School
Dengan Aril



Sela benar-benar tidak menduga dan dia sangat kaget ketika mengetahui semua pengakuan dari Akira barusan, dia berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamar dan tertegun menatap kosong ke depan dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, pria yang ingin sekali dia anggap sudah mati dan tidak ingin pernah dia temui lagi justru adalah orang yang sama dengan orang yang dia cintai saat ini, tidak tahu lagi harus bagaimana dalam menghadapi Akira sekarang namun Sela hanya bisa menahan rasa sakitnya seorang diri.


"Tidak....ini pasti bohong, tidak mungkin Akira yang ini adalah Kira yang aku kenal di masa lalu, itu sangat tidak mungkin," gerutu Sela terus saja menggelengkan kepalanya.


Dia tidak ingin mengakui semua ini, Sela terus saja merasa sangat kesal dan dipenuhi oleh emosi, dia langsung pergi tidur dan berharap semua ini dapat berlalu dengan cepat, dia ingin melupakan semuanya dan tidak ingin membahas lagi masalah hal seperti ini lagi.


Terlebih besok adalah hari dimana Akira akan melaksanakan olimpiade matematikanya di universitas yang ada di pusat kota dan termasuk pada universitas terbaik tahun ini, sampai ke esokan paginya Sela bangun bersamaan dengan Akira dan disaat mereka keluar dari pintu kamar yang berhadapan bersama-sama Akira hendak menyapa Sela tetapi Sela dengan cepat menghindarinya dan dia ternyata sudah berkemas sebelumnya, Sela hendak pergi dari sana dengan membawa kopernya lagi untuk keluar dari rumah Akira.


Namun dengan cepat Akira menahan tangan Sela dia tidak ingin Sela pergi da dia tidak mau kehilangan sosok Sela lagi untuk kedua kalinya, dia juga ingin semua masalah ini dapat segera diselesaikan, agar tidak mengganggu pikiran dia lagi nantinya.


"Sela berhenti, kemana kau membawa semua barangmu ini?" Tanya Akira menghentikannya.


"Tentu aku akan pulang, aku akan mengalah pada ibuku bahwa aku memang tidak memiliki tempat untuk tinggal, lagi pula pada nyatanya aku memang tidak memiliki satu orangpun yang perduli atas diriku, selain diriku sendiri," ucap Sela saat itu dengan memberikan tatapan yang tajam kepada Akira.


"Sela jangan begitu, aku perduli padamu, aku sangat mencintai dirimu, aku sangat memperdulikan mu Sela, tolong jangan pergi," ucap Akira menahan Sela dan berusaha untuk membujuknya saat itu.


"Maaf Akira tapi aku harus pergi dan sebaiknya untuk saat ini jangan muncul di hadapanku lagi sampai aku bisa menenangkan diriku sendiri," ucap Sela sambil langsung menghempaskan tangan Akira dengan kuat saat itu.


Akira sudah tidak bisa menahan Sela lagi, karena Sela langsung pergi dari sana bahkan meski Akrab mengejarnya tetap saja Sela tidak terkejar olehnya dia pergi dengan berlari dan segera menaiki taxi yang kebetulan lewat di sekitar jalanan depan rumahnya.


"Sela...tunggu...Sela jangan begitu..Sela!" Teriak Akira yang gagal untuk menahannya.


Akira terlihat cukup frustasi dan dia menyalahkan dirinya sendiri atas semua kejadian yang terjadi diantara dirinya juga Sela, dia menyesali semua perbuatannya yang malah berkata jujur dan memberitahukan semuanya kepada Sela, aku sangat takut Sela tidak akan datang padanya lagi.


"Aarrghhh...bodoh...bodoh.. seharusnya tadi malam aku jangan mengatakan masalah rahasia ini padanya, mungkin jika aku terus memendam rahasia itu selamanya maka Sela tidak akan meninggalkanku seperti ini, Akira kau bodoh arkkk!" Teriak Akira sangat kesal dan menendang kosong ke depan sambil mengacak rambutnya ke depan dan belakang beberapa kali.


Sedangkan disisi lain Sela justru terus saja menjadi semakin pendiam dia pulang ke rumah nenek dan sang nenek langsung memeluknya mengatakan bahwa ibunya jatuh sakit dan dia sangat merindukan sosok Sela selama beberapa hari pergi dari rumah.


"Sela...sayang akhirnya kamu pulang juga, nenek sangat merindukanmu Sela," ucap sang nenek sambil langsung memeluk Sela dengan sangat erat.


Saat itu karena Sela masih merasa sedih dan moodnya sudah hancur sejak semalam jadi dia hanya menanggapi ucapan neneknya dengan sebuah senyuman tipis saja, dan menjawab ucapannya bahwa Sela juga sangat merindukan sang nenek, sampai tidak lama neneknya membicarakan mengenai nyonya Choi yang tidak lain adalah ibu kandungnya Sela.


"Sela...kamu harus pulang nak, ibumu sangat merindukanmu dia sekarang dirawat di rumah sakit karena kelelahan dan banyak pikiran dia sering mengigau memanggil namamu, nenek pikir ibumu mungkin sudah menyesal sekarang dan ibumu pasti tidak akan memperlakukan kamu seperti sebelumnya lagi, tolong kamu datangi dia ya sayang," ucap sang nenek sekaligus membujuk Sela.


Namun sayangnya Sela tidak bisa pergi dia akan mulai ujian akhir besok dan akan sekaligus membuktikan kepada ibunya bahwa dia juga mampu untuk menjadi orang yang berprestasi dan memiliki nilai tinggi dalam ujian, sampai bisa mendaftar di universitas terbaik nantinya.


"Maafkan aku nek bukannya aku tidak merindukan ibu, apalagi tidak menyayanginya sejahat apapun ibu padaku tetapi aku tahu dengan jelas bahwa aku adalah putri yang dia lahirkan aku tidak akan melupakan hal penting itu dalah hidupku, tetapi nenek tahu sendiri bagaimana sikap ibu terhadapku, dia tidak akan pernah berubah jika aku hanya datang saja untuk menjenguknya, aku akan membuktikan dahulu kemampuanku padanya baru aku akan menemui dia, dan tolong nek, jangan beritahu tuan Wen atau nyonya Choi tentang keberadaan aku di sini, atau aku juga akan pergi lagi dari sini." Ucap Sela kepada sang nenek.


Neneknya hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan tidak bisa mengatakan apapun lagi karena Sela sudah memutuskan hal itu sendiri, jadi sang nenek hanya bisa menanggapinya dengan anggukkan dan segera membiarkan Sela pergi ke kamarnya saat itu.


"Hmm..ya sudah sana kalau kamu mau pergi ke kamar kamu pasti harus segera ke sekolah bukan?" Ucap sang nenek membiarkannya.


Sela setidaknya merasa senang karena sang nenek selalu ada di pihaknya dan selalu mendukung apapun keputusan yang dia lakukan selama itu baik untuk dirinya dan kedepannya, Sela cepat-cepat pergi ke sekolah saat itu dan seperti biasa jika dia tinggal di rumah sang nenek tentu jaraknya cukup jauh untuk sampai ke sekolah jadi Sela masih perlu menaiki bus satu kali untuk sampai ke sekolah.


Saat Sela menaiki bus dia lupa tidak membawa uang receh bahkan dia sama sekali tidak memiliki saldo di kartu transfortasi miliknya, sehingga saat dia menempelkan kartu itu terus saja suara ane keluar dan mengatakan bahwa saldonya tidak cukup, hal itu tentu membuat Sela cukup malu karena sang supir bus sudah menatap dengan tajam kepadanya di tambah Sela yang terus saja mencari koin di tasnya tidak juga ketemu.


"Hei...kalau kamu tidak.punya uang jangan naik bus, ayo turun jangan membuat macet orang-orang yang ingin naik di belakangmu!" Ucap sang supir bus dengan sinisnya kepada Sela saat itu.


Karena sudah merasa malu lebih dulu Sela pun terpaksa kembali turun dan membiarkan orang lain langsung menerobos antriannya lebih dulu, Sela langsung melepaskan tas punggungnya dan dianterus saja mergoh ke dalam mencari koin yang bisa dia gunakan untuk membayar ongkos bus tersebut.


"Aahhhh...dimana sih aku menyimpannya, ayolah..koin...dimana kau berada...koin cepatlah aku tidak ingin tertinggal, aahhh..kenapa aku sangat sial sekali hari ini," gerutu Sela terus saja merasa sangat kesal.


Hingga tidak lama muncul uluran tangan dari seseorang yang memberikan dia koin untuk naik ke dalam bus saat itu, dan saat Sela menengadahkan kepalanya mencoba untuk melihat siapa pria itu, rupanya dia adalah Aril sang ketua tim basket yang akhir-akhir ini selalu mengejar-ngejar dirinya dan berada di sekitar dia.


"Kau?," Ucap Sela merasa sedikit aneh dan heran.


"Eum....ayo ambil kau tidak mau terlambat di hari terakhir bersantai di kelas bukan?" Ucap Aril kepada Sela sambil terus memberikan koin di tangannya.


Sela merasa cukup malu dan dia tidak mau menerima koin dari orang lain, itu terlalu mulai harga dirinya, alhasil Sela langsung bangkit berdiri dan menolak pemberian koin itu dari Aril, sebab dia lebih senang untuk pergi dengan berlari saja walau kakinya akan terasa sangat sakit ketika sampai di sekolah nantinya.


"Tidak perlu aku tidak biasa menerima uang dari orang asing," ucap Sela sambil hendak pergi saat itu.


Namun Aril dengan cepat menahan tangannya dia langsung memberikan koin itu ke tangan Sela dan mengepalkannya dengan paksa, sambil dia sendiri langsung segera masuk ke dalam bus untuk membiarkan Sela memikirkannya sendiri.


"Eehh...sudah ambil saja, aku hanya memiliki banyak koin untuk naik bus, ayo cepat sebelum supir busnya akan semakin marah terus menunggumu," ucap Aril masuk lebih dulu dengan membawa bola basket di sebelah tangannya saat itu.


Sela ingin menahannya namun tidak sempat karena Aril berjalan masuk terlalu cepat sehingga dia pun ikut masuk karena sayang sekali jika memiliki koin di tangannya tetapi dia malah memilih untuk berlari.


"Ya sudahlah lagian dia yang memaksaku untuk menggunakannya aku bisa mengganti koinnya besok," ikut Sela saat itu sambil segera melangkah naik ke dalam bus secepatnya.


Dia berdiri tepat di samping Aril yang juga berdiri di dalam bus saat itu sambil berpegangan ke atas dengan satu tangannya Sela cukup malu untuk memandang wajahnya saja saat itu, sedangkan Aril sendiri justru malah terus memandangi Sela dengan cukup lekat, dia memang pada awalnya mengejar Sela karena taruhan namun sepertinya lama kelamaan dia benar-benar akan menyukai Sela.


Karena tatapan matanya itu sungguh tidak dapat dibohong bahkan orang lain yang melihatnya pasti akan mengetahui rasa sukanya Aril pada Sela, saking memang terlihat sangat jelas saat itu.


Sela sendiri juga merasa sangat tidak nyaman ketika dia tahu bahwa Aril terus memberikan tatapan seperti itu kepadanya sedari awal dia naik sampai saat ini, rasanya Sela benar-benar sangat gugup dan dia langsung saja bertanya kepada Aril sekaligus menyuruhnya untuk tidak memandangi dirinya seperti itu lagi, karena hal tersebut membuat dia sangat tidak nyaman dan merasa terganggu olehnya.


"Hei..berhenti menatapku begitu apa kau ini seorang penguntit ya, tiba-tiba muncul dan terus memandangi aku begitu," ucap Sela sangat kesal dengannya.


"Aku senang jika harus menguntit wanita sepertimu," balas Aril sambil tersenyum lebar kepada Sela.


Hal itu langsung membuat Sela terbelalak dengan sangat lebar dia sangat kaget mendengar pengakuan dari Aril barusan, Sela langsung saja tertawa cukup keras karena dia pikir ucapan dari Aril barusan adalah sebuah candaan biasa saja.


"Ha..ha..haha...apa kau bilang, aishh..bisa saja kau bercanda begitu, sudahlah kita sudah sampai," ucap Sela yang masih menganggap semua itu hanya candaan biasa saja.


Sela langsung pergi turun dari bus dengan cepat karena dia memang sudah sampai di dekat sekolah saat itu, karena dia naik bus dengan Aril tentu saja sekarang mereka berjalan bersamaan menuju ke gerbang sekolah dan hal itu di lihat oleh Akira yang membuat dia merasa sangat kesal sekali.


"Sela kenapa kau bisa bersama dengan dia?" Ucap Akira yang langsung menahan langkah Sela dan menghalangi jalannya begitu saja.


"Bulan urusanmu, ayo Aril kita masuk saja," ucap Sela langsung mengambil jalan lain untuk menghindari Akira saat itu.


Akira benar-benar merasa sangat kesal karena dia terus diabaikan seperti itu oleh Sela namun disaat dia hendak menghentikan Sela lagi dan ingin mengejarnya, ibu guru Yuni datang dan memanggil namanya.


"Akira... akhirnya kamu sudah sampai, ayo ikut ibu ke kantor kita harus bersiap-siap dahulu," ucap ibu guru Yuni segera mengajak Akira karena mereka akan pergi ke pusat kota untuk melakukan olimpiade matematika tersebut hari ini.


"Aishh...sial, aahh awas saja kau Aril jika sampai kau berani merebut Sela dariku, aku tidak akan diam saja," gerutu Akira dengan mengepalkan kedua tangannya merasa sangat kesal.


Sela pergi ke kelasnya dan begitu juga dengan Aril yang memang tidak duduk di kelas yang sama dengannya, Sela sama sekali tidak menggubris Aril, ketika Akira pergi dari sana, seakan apa yang dia lakukan sebelumnya hanya untuk membuat Akira cemburu saja dengan disengaja olehnya.


Saat masuk ke dalam kelas semua siswa disana sibuk belajar masing-masing karena besok adalah hari pertama ujian dimulai begitu pula dengan Anet juga Kiko yang terlihat begitu serius sekali dalam mengerjakan latihan soal pada buku latihannya saat itu, sedangkan Sela langsung menaruh tasnya dengan kasar ke atas meja dengan raut wajah yang di penuhi dengan emosi saat itu.


"Bruk!" Suara tas Sela yang di banting ke atas meja dengan cukup keras saat itu sampai membuat Anet dan Kiko yang berada di sampingnya sangat kaget mendengar hal itu.


"Astaga...Sela ada apa denganmu, pagi pagi gini kau sudah cemberut dan marah-marah seperti itu tidak jelas?" Tanya Kiko kepadanya.


"Heh...diam kau, membuat kepalaku semakin pusing saja, kalau sedang belajar ya belajar saja sana, jangan mendengarkan aku atau melihat ke arahku, sama alihkan pandanganku dariku, sangat menyebalkan!" Balas Sela yang di penuhi dengan kekesalan membuat Kiko merasa semakin heran dengannya.


"Sela kau kenapa, ayo cerita jika kamu memiliki masalah jangan marah tidak jelas begini dan melampiaskannya pada orang yang tidak tahu apa-apa." Ucap Anet menenangkan Sela.


Akhirnya Sela menghembuskan nafas dengan lesu dan dia segera menceritakan semua yang dia rasakan kepada Anet dan Kiko sampai Sela keceplosan mengatakan bahwa dia sudah berpacaran dengan Akira dan kabar itu membuat Anet dan Kiko sangat kaget sekali saat pertama kali mendengarnya.


"Aish ..biasa saja dong kenapa kau menatapku melotot begitu membuat orang sawan saja saat melihat wajahmu yang menyeramkan," ucap Sela sambil mengusap wajah Kiko dengan tangannya.


"Aishh..tanganmu bau, jangan seenaknya mengusap wajahku begitu aishh....menjijikan," ucap Kiko kepada Sela yang terus saja dia menjadi mengusap wajahnya.


Begitu juga dengan Anet yang masih terperangah menatap tajam kepada Sela dan dia mulai mencari tahu apa yang sudah Sela lewati selama ini tanpa sepengetahuan dirinya dan bagaimana bisa dia yang malah bersama dengan Akira seperti saat ini, padahal semua orang tahu bahwa Sela dan Akira bak seorang musuh yang sama-sama kuat satu sama lain memiliki ego yang tinggi juga sama-sama keras kepala.


"Sela aku sungguh merasa bingung dan tidak menyangka kamu bisa berpacaran dengan orang yang paling kamu benci, kenapa itu bisa terjadi?" Tanya Anet masih dengan tatapan bingungnya.


Dan dianggukkan oleh Kiko yang juga sama keheranan, Sela hanya tersenyum kecil saja karena dia langsung mengingat kejadian dimana Akira mengungkapkan perasaannya lebih dulu kepada Sela dan dia menerimanya juga kenangan indah saat menaiki sepeda di malam hari dengannya, tetapi semua keindahan itu sangat singkat dan langsung saja membuat Sela sangat kesal sambil kembali cemberut menekuk wajahnya ketika mengingat dia dan Akira sedang bertengkar saat ini.


"Aahh.. sudahlah jangan membahas dia lagi, dia adalah manusia paling menjengkelkan yang pernah aku temui, dia membohongi aku selama ini dan dia dengan lancangnya berani membuat aku menyukai dia, aishh...dasar manusia sialan itu!" Gerutu Sela yang malah kembali menggerutu keras tidak jelas.


"Ehh ..Sela apa kau waras, kau sudah bersama dengan Akira dan tadi kau tersenyum-senyum sendiri terlihat begitu senang namun seketika kau malah kembali cemberut dan menggerutu keras seperti ini kepadanya, sebenarnya kau ini kenapa sih bikin orang berpikir aneh saja kepadamu," ucap Kiko yang benar-benar tidak habis pikir dengannya.


"Tidak ada aku hanya sedang bertengkar saja dengannya karena dia itu sangat menjengkelkan dia membohongi aku selama ini, karena ternyata dia adalah teman masa kecilku yang sudah aku anggap mati dalam hidupku," balas Sela dengan menundukkan kepala dan menghembuskan nafas yang begitu berat saat itu.


Barulah Anet berpikir dan dia mengingat apa yang dikatakan oleh Sela saat itu, sampai dia mengetahui mengenai Kira yang dulu selalu berada di samping Sela dan selalu Sela ceritakan kepadanya.


"Ehh...tunggu jadi maksudmu Akira yang saat ini duduk di kelas kita, dia itu Kira teman masa kecilmu?" Ucap Anet bertanya memastikan kepada Sela.


"Iya...," Balas Sela dengan lesu.


Langsung saja Anet merasa sangat kesal dan dipenuhi dengan emosi, dia juga merasa tidak habis pikir mengapa Akira bisa melakukan hal seperti ini untuk kedua kalinya kepada Sela Setelah dulu dia yang meninggalkan Sela begitu saja secara tiba-tiba dan tidak berpamitan sama sekali bahkan dia hilang bak seperti di telan bumi secara tiba-tiba.


Hingga membuat Sela kecil terus menangis setiap hari dan menunggu di depan rumahnya terus menerus dari pagi sampai matahari terbenam, dan Anet sendiri yang menemaninya setiap hari setelah Akira pergi seperti itu dan meninggalkan luka yang dalam untuk Sela selama ini.


"Aishh...dia benar-benar manusia sialan, Sela jika kau tahu dia adalah Akira dulu, kenapa kau masih mau bersama dengan dia dan menerima cintanya itu?" Tanya Anet ikut emosi mendengarnya.


"Karena dia mengatakannya ketika aku belum tahu siapa dia sebenarnya," balas Sela yang langsung saja membuat Anet langsung tidak bisa berkata-kata lagi saat itu.


Kini Anet dan Kiko juga hanya bisa mengatakan kepada Sela agar lebih bersabar dalam menghadapi Akira, terlebih Sela juga sudah mengakui bahwa dia menyukai Akira bahkan sekarang ini mereka juga sudah berpacaran, jelas sekali bahwa Akira juga sudah tahu bahwa Sela menyukainya jadi tidak ada jalan lagi untuk Sela menghindari Akira.


"Huuhh... sudahlah kau yang sabar saja dan cobalah untuk memperbaiki hubunganmu dengan Akira, kamu dan dia juga sudah terlanjur menjadi pasangan kalian tidak mungkin akan terus bertengkar mempermasalahkan hal di masa lalu begitu bukan?" Ucap Anet kepada Sela sambil mengusap punggungnya pelan beberapa kali.


"Benar apa yang dikatakan oleh Anet jika kau juga menyukainya sekarang, untuk apa lagi kau harus mempermasalahkan hal di masa lalu, apalagi kau juga belum mengetahui apa alasan Akira saat itu meninggal kamu secara tiba-tiba bukan? Sebaiknya kau dengarkan dulu penjelasan darinya agar semua terlihat dengan jelas, jangan malah bertengkar dan saling menjauh seperti ini," tambah Kiko yang menjadi penasehat dengan kalimat baik saat itu.


"CK...tumben sekali kau bisa bicara dengan pemikiran dewasa seperti itu, kau saja masih sering bertengkar dengan Anet, urusa saja percintaanmu yang bertepuk sebelah tangan itu sendiri sebelum menasehati aku," balas Sela sambil langsung memalingkan pandangan dari Kiko.


Dan kini justru malah Kiko yang terlihat emosi sendiri karena Sela dan Anet langsung saja menghindari dia dan mereka fokus kembali dengan buku diatas meja mereka masing-masing, hanya membiarkan Kiko kesal dan marah-marah seorang diri untuk melampiaskan kekesalannya tersebut.


"Aishh dasar kalian ini, teman-teman yang tidak memiliki hati nurani, kau juga sama Anet aku mencintaimu dan mengejar kamu sejak kecil sampai sebesar sekarang kenapa kau tidak pernah memandang aku sebagai pria, aishh..aku emosi nih aku sedang emosi dan tidak ada satupun dari kalian yang mau menenangkan aku, hah!" Bentak Kiko terus saja marah dan uring-uringan kesal sendiri karena dia malah diabaikan oleh Sela dan Anet terus menerus.


Meski begitu Sela tetap saja tidak bisa fokus belajar, dia terus memikirkan Akira yang sedang melakukan olimpiade matematika saat ini dan dia malah tidak menontonnya, seandainya dia tidak marahan seperti ini dengan Akira, Sela pikir dia sudah pasti akan berada di kursi paling depan untuk mendukung Akira sama seperti yang dilakukan oleh teman-teman suporter lainnya yang sudah pergi ke sana sejak pagi tadi.


"Hmm sedang apa ya dia sekarang? Apa dia akan terganggu dengan lombanya karena masalahnya denganku?" Gerutu Sela terus saja memikirkan tanpa henti.


Dia terus saja mengigit pensil di tangannya dan terus memikirkan Akira tanpa henti, sampai akhirnya Sela benar-benar tidak bisa diam saja seperti ini, dia langsung bangkit berdiri dari kursinya sambil menggebrak meja cukup keras saat itu.


"Brak!" Suara gebrakan meja yang dibuat oleh Sela saat itu.


"Kenapa lagi anak itu?" Celetuk Kiko saat itu yang sudah tidak merasa heran lagi dengan kelakuan Sela.


Sela langsung mengambil tas miliknya sambil bicara sendiri dan langsung berlari pergi dari kelas begitu saja.


"Aku harus pergi memberikan dukungan untuknya, aku harus melakukan ini karena dia juga sudah mengajarkan aku banyak sekali pelajaran sampai aku bisa memahami banyak soal yang sulit, aku tidak bisa marah terus dengannya dan melupakan banyak kebaikan yang sudah dia lakukan padaku selama ini, yah...aku harus pergi," ucap Sela dengan penuh keyakinan dan tekad di dalam dirinya saat itu.


Saat itu juga Sela langsung saja pergi dari sana dengan berlari sangat cepat bahkan Sela sama sekali tidak memperdulikan apa yang diteriaki oleh kedua temannya saat itu, dia terus saja berlari meninggalkan kelas itu dan mengabaikan semua teriakkan dari Anet dan Kiko yang berusaha untuk menahannya dan menyuruh Sela agar tetap belajar di kelas saja saat itu.


"Hei..Sela..Sela..kau mau kemana hei..tunggu kenapa kau pergi Sela!" Teriak Kiko sangat kencang.


"Sela cepat kembali kau harus belajar hei mau kemana kau!" Tambah Anet meneriakinya juga saat itu.


"Aku harus memberikan dukungan pada Akira, lagipula aku sudah banyak belajar aku cukup percaya diri untuk besok," balas Sela sambil berlari keluar dari kelas dengan cepat.


Sela pergi dengan menggunakan sepeda milik Akira yang saat itu masih di simpan di parkiran sepeda yang ada di sekolah saat itu, sebab Akira pergi dengan mobil sekolah sebelumnya, Sela terus saja membuka kunci sepedanya dengan paksa hingga dia berhasil membawa sepeda tersebut dengan cepat sehingga Sela bisa memakainya untuk pergi ke universitas yang ada di pusat kota meski jaraknya hampir sama dengan jarak ke rumah sang nenek yang agak jauh tetapi Sela pikir dia masih bisa mengejarnya sebab sekolahnya saat ini juga masih berada di wilayah pusat kota.


Selama dia di perjalanan yang cukup jauh itu, Sela terus saja penuh dengan semangat dan mengayuh sepedanya terus menerus tanpa lelah meski keringat terus saja bercucuran di dahinya bahkan punggungnya saja sudah basa dan menembus ke seragam sekolahnya tetapi Sela terus saja tidak menyerah, karena dengan tekad dan semangat yang kuat dia bisa sampai dengan cepat dan di waktu yang tepat pada gedung universitas tersebut.


Sela langsung saja menjatuhkan sepeda Akira begitu saja dan membiarkan penjaga parkir di sana yang akan membenarkannya sendiri karena dia cukup terburu-buru saat itu, apalagi Sela masih harus mencari di gedung mana lomba matematika itu dilaksanakan, sebab ada banyak lomba matematika lainnya yang diadakan di universitas tersebut untuk perwakilan olimpiade ke luar negeri nantinya dan melawan lebih banyak orang cerdas lainnya lagi.


Sela terus saja berlari sekencang yang dia bisa dan bertanya tentang tempat dilaksanakannya lomba tersebut kepada beberapa orang yang dia temui di gedung tersebut.


Sampai akhirnya Sela berhasil menemukan satu ruangan yang dipakai untuk lomba matematika tersebut, dan Sela juga melihat di laur sana ada ibu guru Yuni yang tengah merapihkan pakaian dan rambut Akira juga teman-teman lainnya yang siap memberikan dukungan kepada Akira sampai memenuhi tempat disana.


"Aahh..itu dia...Akira! Akira!" Teriak Sela sangat kencang sambil terus berlari menerobos banyak orang sambil melambaikan tangan pada Akira.


Dia terus berusaha untuk sampai pada Akira sebelum dia masuk ke dalam kelas saat itu namun sayangnya karena banyaknya orang disana, itu tentu saja menyulitkan Sela untuk berjalan melewati mereka dan justru Sela malah tertabrak oleh orang lain yang juga berjalan terburu-buru melewati dia saat itu.


"Bruk..aaahhh...aduh...sial kenapa aku malah tertabrak aahh jangan sampai Akira keburu masuk," gerutu Sela memegangi lututnya yang terasa sakit karena terbentur pada lantai cukup kuat saat itu.


Sampai tiba-tiba saja sudah ada Akira yang berdiri di hadapannya dan mengulurkan tangan hendak membantu Sela untuk berdiri saat itu.


"Ayo bangun," ucap Akira sambil mengulurkan tangannya di hadapan Sela.


Sela sangat senang melihat Akira ada di hadapannya saat itu dan bukannya membalas uluran tangan dari Akira Sela justru malah menepisnya karena dia merasa cukup malu sebab tetap datang ke tempat itu dan menemui Akira padahal dia yang merajuk lebih dulu sebelumnya.


Karena egonya yang sangat tinggi, walau sudah seperti itu saja Sela masih tetap malu dan tidak ingin terlihat terlalu memperdulikan Akira, sehingga dia menepis tangan Akira yang hendak membantu dia berdiri saat itu.


"CK...kau..aku bisa berdiri sendiri," balas Sela dengan juteknya membuat Akira tersenyum kecil saat itu.


"Kenapa kau tersenyum begitu, memangnya ada yang lucu apa? Atau kau senang yang melihat aku jatuh tersungkur seperti tadi?" Ucap Sela dengan sedikit membentak kepada Akira saat itu.


"Tidak..aku hanya senang kamu datang, aku pikir kamu masih marah dan kesal padaku, aku tidak bisa merasa tenang sedari tadi karena terus memikirkan masalah diantara kita," balas Akira saat itu yang hampir saja akan membuat pertahanan pada Sela runtuh.


Sela dengan cepat menahan dirinya sendiri agar tida terlihat begitu baper dan senang sekali ketika mendapatkan ucapan seperti itu dari Akira, sampai teriakkan dari ibu Yuni terdengar yang menyuruh Akira untuk segera masuk ke dalam karena lombanya akan segera di mulai.


"Akira ayo cepat masuk!" Terbaik ibu guru Yuni saat itu.


"Iya....Bu aku kesana sekarang," balas Akira kepadanya.


Dia kembali menatap ke arah Sela dan langsung memeluk Sela secara tiba-tiba sambil mengusap lembut kepalanya saat itu, barulah Akira pergi dengan berlari masuk ke dalam kelas yang digunakan khusus untuk para peserta lomba saat itu.


"Terimakasih sudah datang aku bisa memiliki banyak energi karena kehadiranmu," ucap Akira saat tengah memeluk Sela saat itu.


Sela hanya bisa diam mematung merasa kaget dan merasakan debaran jantungnya yang sangat kuat dan tidak bisa dia kendalikan saat itu, bahkan disaat Akira sudah berlari masuk ke dalam kelas Sela masih tetap berdiri dalam posisi yang sama dengan kedua tangan yang memegangi dadanya saat itu.