
Sela terus saja merasa kesal dan menyimpan dendam di dalam hatinya kepada Kiko karena sudah membuatnya emosi dan tidak mempercayai dirinya yang sekarang benar-benar sudah bisa mengerjakan soal matematika dengan rumus yang di pelajari olehnya dan diajarkan oleh Akira sebelumnya.
Tapi sayangnya disaat Sela ingin memberikan balasan dan pelajaran kepada Akira dia justru tidak bisa memberikan itu karena Akira bersembunyi di balik tubuh Anet dan guru masuk ke dalam kelas di waktu itu, sehingga dia tidak bisa melanjutkan untuk menangkap Kiko lagi.
"Aishh...awas saja kau!" Ucap Sela menunjuk ke arah Kiko penuh ancaman saat itu.
Kiko juga merinding takut kepadanya sehingga dia segera duduk dengan pelan dan ibu guru Yuni yang ada di depan segera saja menyuruh mereka semua untuk segera mengumpulkan tugas matematika yang sudah diberikan sebelumnya.
"Oke... anak-anak kumpulkan semua tugas kalian di depan dan Sela juga Akira kalian boleh keluar belajar dengan mandiri di perpustakaan atau tempat manapun, sekaligus ibu punya latihan soal untuk di olimpiade nanti, Sela ambil ini dan kau harus temani Akira dengan baik," ucap ibu guru Yuni kepada Sela dengan lantang.
Sela pun segera berdiri dan maju ke depan dia mulai mengumpulkan buku tugas miliknya lalu mengambil beberapa lembar soal latihan dari ibu guru Yuni saat itu, melihat untuk pertama kali saja Sela sudah kaget dibuatnya dan dia sama sekali tidak mengerti semua soal yang sangat rumit itu.
"Sela ingat, kau harus mendampingi Akira dengan baik dan kau juga harus banyak belajar darinya, agar kau juga bisa lulus di ujian akhir, apa kau mengerti?" Ujar ibu guru Yuni menasehatinya.
"Iya..Bu aku mengerti, kau tidak perlu terus memperingatiku seperti itu, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan," balas Sela sambil segera pergi dari sana dan mengajak Akira pergi dengannya.
"Heh...Akira ayo cepat, kau tidak akan tinggal disini bukan?" Ujar Sela kepadanya.
Akira segera bangkit dan mengikuti Sela dari belakang hingga melewati perpustakaan dan Akira menahan tangan Sela secepatnya.
"Mau kemana kau, perpustakaannya disini." Ujar Akira kepadanya.
"Aku tahu, tapi apa kau yakin mau belajar di perpustakaan itu dengan penjaga gemuk yang sangat menyeramkan itu, kita tidak bisa mengeluarkan suara dan tidak bisa memakan apapun, belajar di taman akan lebih seru bukan? Otakku akan lebih berpungsi disana, ayo cepat." Balas Sela sambil menarik tangan Akira.
Akira juga tidak bisa membantah lagi dan dia hanya mengikuti apa kata dan keinginan Sela saat itu, hingga sesampainya di taman mereka segera duduk disalah satu bangku yang ada disana lalu Sela mulai menaruh tas sekolah juga lembar soal latihan yang tadi dia bawa dan mulai menyuruh Akira untuk menyelesaikannya.
"Aahh... akhirnya sampai juga, ini ayo cepat kau belajar." Ucap Sela menyuruhnya begitu saja.
Sedangkan disaat Akira hendak mengeluarkan pensil dari tas sekolahnya, Sela sendiri justru malah hendak pergi dari sana saat itu, tentu saja Akira tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dengan cepat Akira menarik ujung seragam Sela dan menahannya dengan kuat, membuat Sela kembali berbalik dan menatap tajam kepada Akira saat itu.
"Heh....beraninya kau menarik pakaianku, lepaskan! Aishh...kenapa kau menarik bajuku hah?" Bentak Sela dengan kesal dan baru saja menghempaskan tangan Akira.
"Kau mau pergi kemana, seenaknya menyuruhku belajar sedangkan kau sendiri malah mau pergi." Balas Akira membuat Sela harus menahan emosi lagi dan lagi.
"Brak!" Suara meja yang digebrak dengan kuat oleh Sela saat itu.
Akira pun menelan salivanya sendiri saking kagetnya mendengar gebrakan meja dari Sela yang cukup keras dan dilakukan secara tiba-tiba olehnya saat itu.
"Heh Akira, aku mau pergi ke kantin membeli minuman, cemilan dan semua makanan lain untuk mengisi perutku dan perutmu, kau tahu aku tidak sarapan tadi pagi bukan, jadi sebaiknya kau mengijinkan aku pergi atau aku tidak akan pernah bisa belajar dengan perut kosong seperti ini." Balas Sela yang bicara sambil menunjuk ke perutnya juga pada perut Akira saat itu.
Akira langsung memalingkan wajahnya dan dia merasa sedikit gugup juga tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Sela, sehingga dengan cepat Akira mulai menyuruhnya pergi saja dari tempat tersebut.
"Ya..ya...ya sudah, sana kau pergi, tapi ingat lain kali jika kau mau kemanapun kau harus memberitahu dahulu." Ujar Akira yang bahkan tidak di gubris oleh Sela.
Sela hanya merotasikan matanya dengan sinis kepada Akira dan dia segera pergi dari sana secepatnya, di perjalanan Sela terus saja merasa sangat kesal dan emosi dia begitu jengkel dengan Akira yang selalu saja memerintah dan memberikan aturan sendiri untuknya, seakan dia bukan menjadi asisten belajar tetapi malah seperti asisten pribadi yang harus menuruti semua ucapannya itu.
"Aaarrghhhh! Kenapa sih aku harus menjadi asistennya, apa-apaan dunia ini apa ini semacam ujian kesabaran untukku, aahh...aku tidak bisa bersabar kepadanya, aku ingin menghajarnya, menjambak rambutnya dan ingin menepuk kepala sialannya itu, aishh....sangat menjengkelkan sekali." Gerutu Sela sambil terus memperagakan dirinya yang tidak tahan untuk melakukan semua hal tersebut kepada Akira.
Namun sayangnya sekeras apapun Sela menggerutu dia tetap saja tidak akan bisa melakukannya karena semua itu sudah diatur oleh ibu guru Yuni dan Akira sendiri, sedangkan Sela hanya bisa menjalaninya dengan perasaan kesal terus menerus seperti itu, hingga tidak lama kemudian setelah Sela sudah membeli banyak sekali makanan dan cemilan juga minuman dingin dia sekarang kesulitan untuk membawanya karena kantung plastik itu cukup berat terlebih karena botol minuman dingin yang dibawa olehnya cukup banyak.
Namun walau begitu bukan Sela namanya jika tidak kuat, dia yang tangannya masih belum sembuh total masih saja memiliki akal untuk terus membawa semua itu dengan di peluk olehnya dan kakinya yang masih agak sedikit ngilu dia bahkan mengabaikan rasa sakitnya sendiri dan tidak mengeluh dengan hal tersebut.
Sampai ketika dia berjalan melewati lapangan hendak sampai sedikit lagi di taman tempat dia belajar dengan Akira konyolnya kantung plastik itu justru malah robek dan membuat beberapa anak dan minuman itu jatuh berserakan di lantai.
"Aduhh...ee..eee..ehh..jangan menggelinding he..hey.." ucap Sela yang berusaha mengambil beberapa botol yang malah jatuh dan menggelinding kesana kemari.
"Aaahh.... terimakasih kau sudah membantuku, ayo berikan itu padaku taruh saja diatas sini, aku bisa membawanya sendiri." Ucap Sela yang sudah memegangi banyak makanan di dalam pelukannya saat itu.
Dan dia masih menyuruh pria ketua tim basket di sekolahnya untuk menaruh dua botol diatasnya, tentu saja pria itu tidak melakukannya dan dia justru malah menawarkan bantuan kepada Sela untuk mengantarkannya sambil membawakan dia beberapa makanan itu.
"Tidak usah, ayo kau mau kemana biar aku bantu bawakan yang ini, kau tidak akan bisa berjalan dengan banyak makanan di tanganmu." Ucap pria tersebut begitu saja.
"Ehh...tidak usah aku bisa sendiri aku kemari berikan saja, kenapa kau menyulitkan ku sih," balas Sela yang memang dia selalu enggan menerima bantuan dari orang lain.
Dan sikap keras kepala di dalam dirinya selalu saja sangat kuat tidak ada yang bisa mengalahkan keras kepalanya Sela sampai sejauh ini, dia tidak bisa dibantah oleh siapapun dan selalu saja berani pada siapapun.
Namun pria kali ini juga tidak kalah keren dia tetap membantu Sela membawakannya dan teman-teman tim basketnya juga mendukung dia saat itu.
"Ayo Ril antarkan saja dia, biasakan cewek suka pura-pura mandiri haha," ujar salah satu temannya yang berteriak saat itu.
"Heh bodoh! Jangan asal bicara kau aku bisa membawa semuanya sendiri, lagi pula, ya sudahlah itu hanya dua botol minuman saja, kalau kau ingin, ambil saja untukmu anggap itu ucapan terimakasih dariku, aku tidak membutuhkannya lagi, dan satu lagi jangan muncul dihadapanku aishh...sangat menyebalkan sekali." Ucap Sela yang memang sangat cuek dengan pria manapun.
Dia juga langsung pergi meninggalkan pria itu, tanpa Sela sadari bahwa pria itu adalah pria yang sama dengan pria yang menabrak dia beberapa hari yang lalu disaat dia hendak pergi ke perpustakaan dengan Akira sebelumnya, dan saat itu dia bahkan kagum dengan ketampanan pria itu namun sekarang bahkan dia sudah melupakannya.
Tentu saja Sela memang begitu dia bisa melupakan siapapun dengan mudah jika orang itu memang tidak dia kenal sebelumnya mungkin Sela yang tengah kesal dan emosi pada Akira membuat dirinya tidak bisa bersikap baik dan lebih mudah emosi kapda orang lain, itu juga yang membuat dia mengabaikan pria tersebut.
Setelah Sela pergi pria bernama Aril itu langsung di hampiri dengan teman-temannya dan mereka langsung menepuk pundak Aril yang saat itu itu tersenyum kecil melihat kepergian Sela.
"CK..... Dia tidak bisa dibiarkan, bagaimana seorang Aril sang ketua tim basket di sekolah ini bisa ditolak mentah-mentah bantuannya oleh seorang wanita seperti itu, apa kau bisa mendapatkannya juga Ril? Sepertinya dia wanita yang sulit untuk ditaklukkan." Ujar salah satu temannya memanasi Aril saat itu.
"Haha..... Tidak mungkin, semua wanita selalu tergila-gila denganku tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan, hanya tinggal menunjuk jari saja itu begitu mudah untukku." Balas Aril kepada teman-teman saat itu.
Karena mendengar kepercayaan diri dari Aril tentu saja teman-teman itu membutuhkan bukti dari ucapan Aril barusan dan dia meminta agar Aril bisa membuktikan ucapannya tersebut kepada mereka.
"Haha...begini saja jika kau benar sekeren itu, bagaimana jika kita bertaruh, jika kau bisa mendapatkan wanita tadi maka aku akan memberikan motor sport milikku, tapi jika kau kalah kau harus memberikan mobilmu untuk kita bagaimana?" Ucap temannya tersebut yang langsung dianggukkan oleh Aril dengan cepat.
"Oke. Kau harus bersiap-siap kehilangan motor sport kesayanganmu itu, dan motor kalian juga!" Ujar Aril kepada teman-temannya tersebut.
Dia segera pergi dari sana dengan cepat dan Aril sangat penuh percaya diri bahwa dia bisa mendapatkan Sela dengan muda sama dengan apa yang sering dia lakukan selama ini dimana dia bisa mendapatkan hati wanita manapun ketika dia ingin, bahkan primadona sekolah saja itu Mash tergila-gila dengannya sekalipun sudah menjadi mantan pacarnya saat ini.
Sedangkan Sela bukanlah wanita yang sama dengan para wanita pada umumnya, dia sama sekali tidak pernah melirik pada pria manapun kecuali pada Kiko karena dia adalah sahabatnya sejak kecil, begitu pulang dengan Kiko yang menyukai Anet secara diam-diam selama ini namun hanya Sela yang mengetahui hal itu dan Kiko sendiri tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya kepada Anet, sebab dia tahu bahwa Anet menyukai pria lain yang tidak dia ketahui tersebut, jadi tentu saja Kiko takut mendapatkan penolakkan darinya.
Terkadang kisah cintanya Kiko dengan Anet saja sudah membuat kepala Sela pusing dalam menghadapinya saat ini jadi dia tidak pernah mau untuk memiliki kekasih sebab dia pikir itu akan membuatnya jengkel dan stress, sama seperti yang sering dia lihat pada Kiko yang selalu saja mengajak dia untuk pergi ke luar ketika dia galau dengan Anet.
Kali ini Sela cukup kelas karena dia kehilangan dua botol minuman es jeruk kesukaannya yang selalu dia minum setiap hari, karena botol minum itulah yang jatuh sampai dipungut oleh Aril sebelumnya.
Sehingga ketika tiba dihadapan Akira Sela langsung saja memasang wajah cemberut dan dia menaruh semua makanan hampir memenuhi meja dan membuat Akira kesulitan untuk belajar, bahkan dia sampai harus mengambil bukunya agar tidak tertimbun dengan semua anak dan makanan yang dibawa oleh Sela saat itu.
"Astaga....heh, apa kau tidak salah membeli makanan sebanyak ini, apa kau mampu menghabiskan semuanya?" Ucap Akira saking kagetnya melihat makanan yang banyak di depan matanya sendiri.
"CK .. aku bilang aku lapar tentu aku bisa menghabiskan semuanya, lagi pula jika tidak habis kan masih ada kau, kau makan saja sisanya." Balas Sela membuat Akira kesal.
"Huuuh....sabar Akira sabar...." Batin Akira yang berusaha menahan emosi pada dirinya saat itu.
"Kenapa kau mengelus dadaku seperti itu, kau kesal padaku iya...CK... Jangan pula kau sendiri yang meminta memiliki asisten pada ibu guru Yuni dan bukan aku yang menginginkan untuk terpilih, sudahlah kau kembali belajar saja aku sedang kesal pada seseorang yang merebut minumanku, eughh... Dia sangat menyebalkan!" Gerutu Sela terus saja kesal sambil membuka snak di tangannya dan dia memakan makanan itu dengan rakus.
Akira hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mulai menyingkirkan beberapa makanan di atas meja tersebut, agar dia bisa menaruh bukunya lagi dan kembali memiliki setidaknya sedikit ruang untuk dia belajar dengan nyaman.