
Mereka semua pun sudah sepakat untuk melakukan yang terbaik bagi Sela dan menahan dia agar betah berada lama di dalam kelas sedangkan di saat mereka sudah sepakat disisi lain pria siswa baru itu malah membereskan buku miliknya ke dalam tas lalu pergi keluar dari kelas begitu saja dengan santai tanpa menghiraukan seluruh teman-teman sekelasnya dan dia berlari begitu saja dengan earphone di telinganya tersebut.
"Aaahh... Dasar murid baru aneh itu, sudahlah abaikan saja dia lagi pula Sela juga tidak menyukai pria tersebut, kita tidak perlu bekerjasama dengan orang sepertinya" ucap Kiko sambil berkacak pinggang melihat punggung Akira yang pergi meninggalkan kelas dengan cepat.
Mereka semua bubar dan segera keluar dari sekolah menuju rumah mereka masing-masing sedangkan disisi lain Sela justru malah asik duduk di jembatan yang tidak jauh berada di wilayah sekolahnya itu, dia selalu berada di sana setiap kali bolos sekolah dan selalu duduk di atas tembok tinggi jembatan itu menghadap ke arah danau yang ada di bawah jembatan tersebut sambil memakan es krim di tangannya.
"Huaaaa.. anginnya sangat menyegarkan tubuhku, rasanya enak sekali duduk disini bersantai seorang diri dan mulai menyatu dengan alam" ucap Sela sambil merentangkan kedua tangannya menutup mata dan menghirup udara segar.
Tanpa dia sadari dari belakang anak-anak sekolah menengah atas dari sekolahnya sudah mulai bubar dan mereka tentu saja melewati jalanan tersebut dengan memakai sepeda ada juga yang berjalan kaki dan saling mendorong satu sama lain hingga seorang pria yang mengenakan sepeda dengan cepat tidak sengaja menyenggol punggung Sela dan membuatnya hampir jatuh ke danau tersebut.
"Aaahhhh....hah....hah....hah... " Ucap Sela sangat kaget dan dia hampir saja jatuh ke danau kala itu.
Namun untungnya Akira dengan cepat meloncat dari sepeda yang dia pakai dan langsung mencengkram tas yang dikenakan oleh Sela sehingga berhasil menyelamatkan Sela, dia dengan cepat menarik lebih cepat tas tersebut sampai akhirnya Sela berhasil berdiri di jembatan dengan benar.
"Huhh... Hampir saja aku mati tenggelam, aahhh terimakasih kau sudah membantuku" ucap Sela sambil memegangi dadanya yang masih merasa syok.
Namun dia baru sadar melihat pria misterius itu masih saja mengangkat tas kesayangannya ke atas membuat dia merasa kesal sekali dan langsung saja menjauh dari pria itu sambil membentaknya menyuruh dia agar melepaskan tas kesayangannya tersebut.
"Heh, sedang apa kau? Lepaskan tas ku!" Bentak Sela segera menjauh darinya.
Akira pun segera melepaskan pegangan dia dari tasnya tersebut dan dia segera saja kembali menunduk sambil menurunkan lagi topi hitam yang dia kenakan tersebut sambil langsung berjalan melewati Sela dan dia mengambil kembali sepeda miliknya tersebut lalu hendak pergi meninggalkan Sela disana begitu saja.
Tapi untungnya dengan cepat Sela segera berlari menahan sepeda pria itu disaat Akira hendak mengayuh sepedanya.
"E..e..ehh... Tunggu!" Ucap Sela menahannya dengan sekuat tenaga,
Akira hanya menoleh sebentar dan dia hanya diam saja melihat tangan Sela menahan boncengan sepedanya tersebut, dengan cepat Sela langsung duduk di belakang sepedanya Akira dan dia langsung meminta Akira mengantarnya pulang sebab dia tidak punya uang lagi untuk naik bus, dan dia juga tidak ingin pulang dengan berjalan kaki.
"Kenapa kau diam saja aku jalan, dan antarkan aku pulang nanti aku akan beritahu kepadamu dimana alamat rumahku" ucap Sela dengan tegas,
"Turun atau aku yang akan mengusirku!" Ucap Akira dengan nada bicara yang begitu dingin.
Sela menaikkan kedua alisnya sebab dia merasa sedikit aneh mendengar Akira berbicara dengan nada seperti itu sehingga dia juga tidak bisa menahan tawa saat mendengarnya dan langsung saja tertawa keras dengan terbahak-bahak.
"A..apa? Kau mengusirku... Ahahah.... Ayolah Akira yang baik dan tidak sombong aku hanya memintamu mengantarkan aku pulang, aku tidak punya ongkos untuk naik bus dan tidak mungkin aku pulang dengan berjalan kaki, cepatlah antar aku pulang aku sudah sangat lelah dan ingin tidur di ranjang kesayanganku" balas Sela sambil tetap duduk disana dengan santainya.
Akira yang saat itu sudah sangat kesal dan dia tidak bisa melakukan hal apapun lagi, dia pun terpaksa mengikuti apa kata Sela namun dia tersenyum kecil hendak mengerjai Sela saat itu.
Dia sudah sedikit kesal sebab Sela selalu saja mengganggunya padahal dia benci sekali bersosialisasi dengan orang asing apalagi menatap matanya dan berbicara dengan mereka, dia juga memiliki temperamen yang cukup buruk itulah mengapa dia selalu menjauhkan dirinya dari semua orang dan memilih untuk tetap seorang diri sejauh ini.
Dan hanya ada dua orang yang mau dia lihat dan dengarkan ucapannya, pertama adalah sang ibu dan kedua adalah seorang gadis kecil yang pernah membantu dia ketika dia di bully oleh teman yang lain telat saat usianya masih kecil di sebuah taman bermain umum kala itu.
Namun sayangnya dia sudah sedikit lupa dengan wajah gadis itu terlebih sekarang dia sudah dewasa dan dia kira gadis itu juga pasti sudah seusia dirinya hanya sebuah jepit rambut berwarna hijau yang dia miliki itu di jatuhkan oleh anak perempuan itu saat terakhir kali mereka bertemu saat itu.
Sela yang saat itu terus menunjukkan jalan kepada pria tersebut dia terus saja merasa santai dan tenang, bahkan dia terus merentangkan tangannya di sepanjang jalan dan berteriak dengan senang karena dibawa menaiki sepeda dengan kecepatan yang cukup cepat.
"Aaahhh...hahaha...huhu...ayo lebih cepat lagi ini sangat menyenangkan hahaha" teriak Sela terus merasa senang.
Akira merasa kesal dan bingung karena dia sengaja melakukan itu dan mengayuh sepedanya dengannceoat agar Sela merasa takut dan bisa turun dari sepedanya dengan cepat namun rupanya dugaannya salah besar karena Sela justru malah tertawa senang dan terlihat sangat gembira.
"Sangat menjengkelkan dia memang wanita aneh" gumam Akira merasa jengkel.
Bahkan disaat Akira membawa Sela menuju jalan ke rumahnya Sela sama sekali tidak terlihat panik atau takut, dan tanpa Akira ketahui bahwa ternyata tempat tinggalnya saat ini bertetanggaan dengan rumah ibunya Sela.
Mereka tidak bertemu selama ini karena memang Sela selalu menginap di rumah neneknya dan Akira juga selalu berada di rumah dia jarang keluar sehingga membuat mereka tidak pernah bertemu selama ini.
Sela yang melihat Akira malah membawa dia ke jalan menuju rumah ibunya dia merasa sedikit heran dan aneh hingga ketika sudah dekat di rumah ibunya Sela langsung menepuk punggung Akira dengan keras dan menyuruhnya untuk segera berhenti.
"Ehh....? Stop...stop...stop! Kenapa kau membawaku ke rumah ibuku, darimana kau tahu alamat rumahku ini, apa kau seorang penguntit yah?" Ucap Sela sambil menunjuk ke arah wajahnya,
"Yang mana rumahmu?" Tanya balik Akira kepadanya,
"Itu.... Pagar berwarna biru itu adalah rumah ibuku, sekarang ayo jawab darimana kau tahu rumah ibuku?" Balas Sela sambil balik mendesak Akira untuk menjawab pertanyaannya,
Akira yang melihat itu dia sangat kaget dan begitu kesal dia tidak menduga jika dirinya pindah ke tempat neraka seperti ini, karena harus bertetanggaan dengan wanita menjengkelkan seperti Sela.
"Heh... Aku sama sekali tidak mengantarmu aku pergi pulang ke rumahku sendiri" balas Akira dengan kesal dan dia langsung menuntun sepedanya tersebut hingga masuk ke dalam rumahnya yang tepat berada di samping rumah Sela.
Dimana rumah itu sangat mewah dan memiliki dua lantai dengan semua catnya yang berwarna putih bersih dan berwarna hitam sebagian, Sela menatap dengan kaget saat melihat Akira ternyata masuk ke dalam rumah mewah yang sejak dulu tidak pernah berpenghuni itu.
"E..e..e..ehh.. kau mau kemana itu kan rumah..... Kosong" ucap Sela tidak selesai karena Akira sudah masuk ke sana dengan cepat.