
Sang nenek yang saat itu baru saja selesai memasak dia segera datang menyajikan makanan diatas meja sekaligus menyapa Sela yang terlihat sangat kelelahan saat itu.
Bahkan keringat bercucuran dari dahinya dan seragam sekolah itu terlihat basah dengan keringat bak seperti dia habis kehujanan saat itu, padahal di luar sana justru sangatlah panas.
"Ya ampun Sela kenapa pakaianmu sampai basah dengan keringat seperti itu, ayo cepat mandi aahh kamu sangat bau keringat" ucap sang nenek sambil menutup hidungnya menyinggung Sela.
Bukannya segera pergi mandi setelah di singgung sang nenek seperti itu, Sela justru malah langsung memeluk neneknya yang baru saja selesai menaruh menu makanan hari ini diatas meja saat itu, sehingga hal itu langsung saja membuat neneknya merasa sedikit kesal sebab keringat Sela menjadi menempel pada tubuhnya.
"Aaahh... Nenek aku sangat lelah aku mau istirahat sejenak" ucap Sela sambil memeluk neneknya secara tiba-tiba,
"Aishh... Dasar kau gadis pemalas, lepaskan aku, kau akan membuat aku sama baunya dengan dirimu, aahhh anak ini benar-benar, cepat sana kau pergi mandi Sela!" Bentak sang nenek sambil langsung saja melepaskan pelukan Sela dari tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Sela pun terpaksa harus segera pergi mandi saat itu, walau dengan kaki yang masih lemas dan badan yang masih panas karena sudah berlari cukup jauh dia tetap harus segera pergi mandi dan menurut dengan ucapan sang nenek, Sela pergi menaruh tas sekolahnya itu dan segera membersihkan diri, dia pun berniat untuk kembali belajar untuk memahami pembelajaran yang dia kerjakan di sekolah dan mencoba untuk mengisi tugas rumahnya saat itu.
Namun disaat dia baru saja hendak memegangi bolpoin miliknya dan hendak membuka buku, tiba-tiba terdengar teriakkan sang nenek dari lantai bawah memanggil dirinya untuk makan dengan sangat keras, sehingga mendengar makanan Sela tidak bisa menahan diri lagi dia langsung merasa senang dan pergi berlari dengan cepat untuk menikmati makanan yang sudah di buat oleh sang nenek untuknya.
"Sela...cepat turun, makanannya sudah siap!" Teriak sang nenek membuat Sela tidak bisa menahan dirinya sendiri,
"Ahhh.... Nenek kau benar-benar membuat aku tidak bisa menahan keinginanku untuk makan" gerutu Sela sendiri,
"Iya... Nek aku segera kesana" teriak Sela membalas sang nenek.
Dia pune menutup bukunya lagi dan pergi dengan cepat ke lantai bawah menemui sang nenek di meja makan yang terlihat memang sudah terdapat banyak menu makanan saat itu disana, bahkan saat Sela pertama kali datang sang nenek tiba-tiba saja bersikap baik kepadanya dan menarik kan kursi untuk Sela duduk saat itu.
"Ayo sayang, duduklah dan cepat kau habiskan makananmu" ucap sang nenek sambil tersenyum ramah kepadanya saat itu.
Sela mengerutkan kedua alisnya merasa heran dengan sikap neneknya yang berbeda dari biasanya, seingat Sela setiap kali sang nenek bersikap baik kepadanya, pasti akan ada sesuatu yang dia inginkan dari dirinya sendiri, sehingga Sela pun mulai menatap tajam dan menyelidik kepada sang nenek hingga neneknya duduk di kursi tepat di hadapannya.
"Nek... Katakan apa yang nenek inginkan, kenapa nenek tiba-tiba memasak banyak makanan untukku dan kenapa bersikap lembut begini padaku?" Tanya Sela merasa sangat curiga saat itu.
Walau begitu Sela tetap saja menikmati makanannya walau terus menatap curiga kepada sang nenek dan dia merasa sangat penasaran dengan apa yang di inginkan oleh neneknya tersebut untuk dia lakukan kali ini, yang pasti Sela tidak akan mau jika itu bersangkutan dengan ibunya Choi sebab apapun yang mengenai ibunya Sela selalu tidak ingin ikut campur dan tidak mau mengetahui apapun lagi.
Sampai ketika dia selesai makan dan hendak kembali naik ke kamarnya untuk menghindari sang nenek, tapi sialnya sang nenek memang selalu bisa mendahului dirinya dan menghadang jalan Sela di depan tangga dengan cepat.
"Nek, aku mau belajar tolong jangan mengganggu aku lagi, bukankah kau bilang aku harus berubah ya?" Ucap Sela sengaja berasalan,
"Wahh... Itu bagus Sela tapi sebelum kamu belajar kamu harus membantu nenek dahulu untuk mengantarkan makanan itu kepada ibumu" ucap sang nenek yang memang sudah di duga oleh Sela sebelumnya.
Dia langsung saja menolaknya dan tidak mau membantu sang nenek untuk mengantarkan sup hangat buatannya itu kepada ibunya sendiri.
"Kan, aku sudah menduga nenek memang akan melakukan hal ini, tidak aku tidak mau mengantarkannya, kenapa tidak kau saja yang antarkan kepada nyonya Choi aku sibuk" balas Sela masih berusaha untuk pergi.
Namun neneknya tidak menyerah dan kembali menahan Sela dengan memohon kepadanya dan memasang wajah yang menyedihkan, berharap agar Sela mau mendengarkan permintaannya dan mau mengantarkan sup itu kepada nyonya Choi.
"Sela sayang nenek mohon kepadamu tolong antarkan sup ini dan jamunya, ibumu sedang sakit sekarang dan setiap kali ibumu sakit dia selalu akan sembuh jika meminum jamu buatan nenek, tolonglah Sela kalau kau menyayangi nenek tolong bantu nenekmu yang sudah tua ini" ucap sang nenek membuat Sela sulit untuk menolak permintaannya.
"Aahh... Nenek mulai lagi, baiklah-baiklah aku akan mengantarkan semua ini padanya, berikan itu padaku" ucap Sela dengan terpaksa.
Sang nenek langsung tersenyum senang karena dia berhasil membuat Sela membantunya lagi, lalu dengan cepat sang nenek langsung mendorong tubuh Sela untuk keluar dari rumah dan secepatnya mengantarkan sup juga jamu tersebut.
"Aahh...bagus kenapa kamu tidak setuju sejak awal sih, jadikan nenek tidak perlu melakukan hal menyedihkan seperti itu, ayo cepat antarkan makanan dan jamunya, ayo Sela dan ingat kau tidak bisa kembali ke rumah jika belum memberikan semua itu pada nyonya Choi nenek akan menelponnya nanti" ucap sang nenek sambil langsung menutup pintu rumahnya dengan cepat setelah Sela keluar dari sana.
Melihat itu Sela sangat kesal dan dia hanya bisa terperangah menahan emosi di dalam dirinya sendiri ketika melihat tingkah neneknya sendiri yang selalu saja melakukan hal tersebut kepadanya.
"Wahhh....nenek benar-benar menipu aku lagi, aishh.. bodoh sekali sih kenapa aku harus mempercayai wajahnya yang menyedihkan itu, aahhh sekarang aku harus mengantarkan sup dan jamunya" gerutu Sela dengan kesal.
Mau tidak mau sekarang dia sudah berada di luar rumah dan tidak ada yang bisa dia lakukan lagi untuk menghindari tugas tersebut, sehingga dia pun hanya bisa pergi untuk mengantarkan sup dan jamu yang dia bawa, dia harus pergi dengan bus agar dia tidak merasa lelah, walau uangnya hanya tinggal beberapa koin lagi, dan tentu itu hanya cukup untuk sekali naik bus saja, padahal tadinya uang itu akan dia gunakan untuk berangkat ke sekolah besok pagi agar tidak kesiangan lagi.