
Sela turun dari bus dan uangnya yang hanya tinggal beberapa koin lagi itu sudah benar-benar lenyap sekarang, rasanya dia sangat ingin menangis namun mengingat dia yang sekarang sudah kelas 12 sehingga dia tidak bisa menangis di pinggir jalan dengan wajah yang sangat menyedihkan seperti itu.
Dia pun hanya bisa menggerutu kesal sendiri sambil berjalan menendang hal kosong di hadapannya.
"Aishh... Sangat menyebalkan sekali, aarrghhh... Sialan benar-benar sialan, uangku huhu aku harus berlari lagi untuk sampai ke sekolah besok, ini sangat menyebalkan" gerutu Sela terus merasa kesal.
Sela terpaksa harus berjalan hingga dia sampai di depan rumah nyonya Choi yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri, dia berdiri tegak dengan lesu sambil melihat pagar rumah sang ibu yang menjulang tinggi disana saat itu.
Sela menarik nafas panjang dan membuangnya sekaligus dengan perasaan yang cukup kesal sebab dia sangat tidak ingin bertemu dengan ibunya, dia tidak mau melihat sang ibu saat itu karena dia masih belum bisa berbaikan dengan ibunya, terlebih nyonya Choi yang salalu tidak mengijinkan dirinya untuk menjadi seorang atlet pelari jarak jauh seperti ayahnya.
Bahkan bukan hanya tidak mengijinkan tetapi ibunya itu justru sangat menentang mimpi Sela sejak dia kecil hingga sampai sebesar sekarang.
"Huufft... Aaahh kenapa kakiku rasanya berat sekali untuk melangkahkan kaki ke dalam rumah ini, aishh sangat menyebalkan" gerutu Sela menarik nafasnya dengan dalam.
Dia sungguh sulit sekali untuk masuk ke sana namun walau begitu dia masih tetap saja harus masuk ke dalam sana bagaimana pun jadinya, dia segera membuka gerbang tinggi rumahnya tersebut dan masuk ke dalam dengan perasaan yang sudah dia kuatkan sebelumnya, dia langsung berjalan mendekati pintu masuk yang ada di sana hingga mulai menekan bel rumahnya tersebut perlahan.
Dia sudah mengetuk pintunya beberapa kali namun sayangnya tidak ada sahutan dari dalam hingga tidak lama kemudian setelah Sela sudah berdiri di depan pintu cukup lama barulah nyonya Choi datang membukakan pintu kepadanya, dan Sela melihat wajah nyonya Choi yang pucat pasi juga dia yang mengenakan pakaian tebal di seluruh tubuhnya.
"Ehh... Nyonya Choi apa kau sungguh sakit yah?" Tanya Sela dengan kaget saat melihatnya.
Awalnya Sela pikir nyonya Choi hanya berpura-pura sakit saja untuk membuat dia mendatangi dirinya namun setelah melihat secara langsung wajah nyonya Choi yang terlihat pucat pasi dan begitu tidak berenergi barulah dia mempercayainya.
"Dasar kau putri tidak berguna, memangnya kau pikir aku ini pura-pura sakit apa?" Balas nyonya Choi pelan,
Sela pun merasa sedikit bersalah kepada ibunya karena sudah mengira hal seperti itu, dia benar-benar sudah mengira hal-hal yang tidak benar tentang ibunya sehingga dia pun merasa sedikit malu sekarang.
"A..ahh... Ya maaf tapi kan kau memang biasanya juga suka seperti itu kan, makanya tidak heran jika aku mengira kau berpura-pura sakit juga sekarang" balas Sela sambil menggaruk belakang kepalanya pelan.
Nyonya Choi hanya menatap sinis pada Sela dan dia langsung saja menanyakan apa niat Sela datang menemuinya saat itu.
Bahkan Sela sendiri saja merasa heran dan terperangah melihat sang ibunya masih bisa membentak dia seperti itu meskipun sedang sakit.
"Wahhh.... Nyonya Choi kau ini benar-benar sesuatu, ini aku hanya ingin memberikan jamu dan sup dari nenek untukmu, semoga kau lekas membaik, aku akan pergi sekarang" ucap Sela sambil memberikan box makanan itu kepada nyonya Choi saat itu.
Ibunya juga langsung saja merampas box makanan yang ada di tangan Sela dengan cepat lalu dia langsung saja menutup kembali pintunya dengan keras.
"Brakkk....." Suara pintu yang di banting nyonya Choi dengan cukup keras.
Sela kaget dan dia tidak menduga ibunya kini malah mengabaikan dia begitu saja, padahal setiap kali melihatnya atau setiap kali dia bertu dengan sang ibu, dia selalu membujuk dia dan memaksa dia untuk tinggal di rumah itu bersamanya, jika tidak seperti itu dia juga sering memberikan ancaman dan rutukan lainnya kepada Sela, namun kali ini Sela merasa heran sebab nyonya Choi tidak melakukan apapun kepadanya dan mengabaikan dia begitu saja.
"Wahhh.... Sepertinya dia memang benar-benar sakit" tambah Sela bicara sendiri di depan pintu masuk rumahnya yang sudah di tutup oleh nyonya Choi sebelumnya.
Sebenarnya saat itu Sela sedikit merasa cemas dengan kondisi kesehatan ibunya namun karena mendapatkan perlakuan seperti itu lebih dulu sehingga Sela pun tidak bisa masuk begitu saja ke dalam rumah itu, dia memilih untuk segera pergi secepatnya dari sana dengan menghembuskan nafas yang lesu. Sela berjalan pelan seorang diri dan dia tidak langsung ulang ke rumah neneknya saat itu.
Melainkan dia justru malah terhenti di samping jalan yang tengah mengadakan sebuah acara jalanan, seorang badut dengan seorang anak yang terlihat tengah merayakan acara ulang tahunya yang sangat meriah di taman kota saat itu.
Sela tertarik saat pertama kali melihatnya dan dia langsung saja mendekati acara tersebut juga malah ikut senang melihat anak-anak yang melingkari badut tersebut dan mulai bernyanyi selamat ulang tahu dengan sangat ceria sekali.
"Wahhh... Keren sekali pasti dia anak orang kaya sampai ulang tahunnya saja di rayakan seperti ini, aahhh sayang sekali aku tidak pernah merayakan ulang tahunku" ucap Sela merasa sedikit sedih.
Memang sejak kematian sang ayah sudah tidak ada lagi acara ulang tahun yang dia rayakan, bahkan dia sendiri terkadang lupa dengan tanggal dan hari ulang tahunnya sendiri, hanya Anet dan Kiko yang selalu merayakan ulangtahunnya itupun jika mereka tidak lupa, Sela juga sengaja tidak pernah mengingatkan siapapun tentang ulang tahunnya, dia merasa merayakan ulang tahun sudah tidak se berarti sebelumnya ketika sang ayah masih hidup.
Nyonya Choi tidak pernah benar-benar tahu apa yang di inginkan oleh Sela, padahal dia hanya ingin mendapatkan perhatian kecil dari ibunya sama seperti yang pernah dia dapatkan dahulu.
Ketika mengingat tentang kehidupannya yang kini nampak begitu menyedihkan, Sela hanya bisa menatap diam termenung sambil tersenyum kecil melihat anak-anak di hadapannya terlihat begitu ceria, sama seperti dia dahulu, sangat ceria dan bahagia tanpa harus memikirkan hidup yang sangat menyebalkan ketika mereka dewasa nantinya.
"Bukankah dulu aku juga sebahagia anak-anak itu, kenapa sekarang aku menjadi anak yang menyedihkan?" batin Sela meringis melihatnya saat ini.