
Sela yang melihat Anet berbicara begitu kepadanya dia pun langsung menghembuskan nafas dengan kasar dan mulai menatap ke arah Anet saat itu juga.
"Anet aku tidak membutuhkan hal-hal bodoh semacam ini dari kalian semua dan aku tidak meminta perhatian dari kalian, aku juga tidak akan berubah karena kalian atau siapapun di dunia ini, aku hanya berubah ketika aku ingin saja, jadi tolong bagikan lagi semua makanan ini aku tidak bisa menerimanya" balas Sela sambil menyerahkan semua makanan itu kepada Anet dan Kiko.
Anet menatap bingung dan merasa bersalah karena sudah membuat rencana seperti itu, yang awalnya dia pikir Sela akan merasa senang justru dia malah terlihat murung dan kecewa sekarang, Anet dan Kiko pun segera membagikan kembali makanan itu kepada semua teman sekolah yang memberikan itu sebelumnya pada Sela dan mereka juga langsung terlihat senang karena tidak perlu melakukan hal seperti itu lagi pada Sela.
Sedangkan Sela menatap dengan sinis kepada mereka semua yang nampak terlihat senang karena semua makanan dan hadiah aneh yang dia dapat dia kembalikan lagi kepada mereka.
"CK.. aku sudah tahu bahwa mereka semua tidak tulus, sangat menyebalkan" gerutu Sela sambil segera tidur lagi dan dia menitikan air mata secara tidak sengaja padahal dia sudah berusaha keras untuk tidak menampakkan kelemahannya di hadapan umum.
Sela memalingkan pandangannya ke arah Akira karena dia pikir Akira tidak akan melihat dia apalagi memperhatikannya sehingga dia memalingkan pandangan ke arahnya ketika air matanya jatuh perlahan saat itu dan dengan cepat dia langsung menghapus air matanya itu.
"Aahhh... Bodoh untuk apa aku menangisi hal konyol seperti itu" ucap Sela sambil menghapus air matanya dengan cepat.
Hingga tidak lama guru mata pelajaran lainnya masuk ke dalam kelas dan memulai pembelajaran lagi seperti biasanya.
Sela kembali mengikuti pelajaran meski dia berkali-kali mengantuk dan berdecak kesal karena tidak bisa melihat tulisan yang ada di papan tulis dengan jelas.
"Asihh ... Sialan kenapa kepalanya tinggi sekali sih aku kan jadi tidak bisa melihat tulisannya!" Gerutu Sela sangat kesal,
Pak guru saat itu mulai menerangkan dan Sela kini berusaha untuk mencermati apa yang di sampaikan oleh pak guru di depan sana, namun sayangnya dia sama sekali tidak bisa mengerti apa yang guru itu katakan di depan sedikitpun karena itu pelajaran bahasa Inggris yang sangat tidak sukai juga.
Sehingga karena dia tidak mengerti dengan apa yang di sampaikan oleh guru, dia pun justru malah menguap berkali-kali dan kepalanya hampir saja terpentok ke meja dengan keras saat itu, tapi untunglah Sela langsung tersadar dengan cepat sehingga dia masih bisa menyelamatkan jidatnya sendiri.
"Aahhh... Ya ampun hampir saja jidatku mencium meja lagi, aahhh hoaamm... Ini sangat membosankan, kapan kelasnya akan berakhir sih" ucap Sela yang sudah tidak tahan lagi.
Dia sudah duduk dalam berbagai gaya, sudah berjongkok diatas kursi, menyilangkan kakinya bahkan dia sudah memainkan pensilnya yang di ketuk pada mejanya sendiri, dia juga sudah memainkan kakinya tidak pernah bisa diam.
Sampai akhirnya guru selesai mengajar dan Sela langsung saja merasa sangat bebas seketika dan dia terlihat begitu lemah dengan menundukkan kepala lesu tepat setelah guru mengakhiri kelasnya saat itu.
"Huuaaaa... Akhirnya guru selesai juga aaahhh aku kehabisan banyak energi sekarang" ucap Sela tertunduk dengan lesu.
"Sela ayo kita keluar kau sudah bebas sekarang" ucap Kiko sambil mengangkat tangan Sela hendak memapahnya saat itu.
Namun Sela langsung saja menghempaskan tangan Kiko dan Anet dia masih cukup kesal dan merajuk kepada dua sahabatnya itu yang dengan tega malah melakukan ide konyol kepadanya dengan melibatkan semua teman sekelas sebelumnya.
"Aaarrghhhh... Lepaskan kalian pulanglah lebih dulu aku masih mau di kelas aku belum bisa berjalan sekarang, sama pergi" ucap Sela mengusir mereka dengan kasar,
"Sela ayolah maafkan aku dan Anet kami juga tidak bermaksud menyinggungmu, kami hanya ingin membuatmu berubah demi kebaikan dirimu juga" ucap Kiko pada Sela memberikan pengertian dan penjelasan.
Sayangnya Sela tetap tidak bisa mempercayai ucapannya itu dan dia justru malah langsung menatap tajam kepada Kiko sambil tersenyum sinis sekilas.
"Hey... Aku tidak benar-benar marah pada kalian, aku hanya ingin kalian memberikan aku ruang waktu untuk sendiri dulu, jadi cepatlah pergi sebelum aku menendang kalian berdua dari sini dengan kasar!" Ancam Sela dengan merotasikan matanya sekaligus.
Kiko dan Anetpun mengalah dan mereka segera pergi dari sana dengan cepat meninggalkan Sela seorang diri di dalam kelas meski mereka sangat mencemaskan Sela dan mereka merasa sangat tidak enak kepadanya.
"Kiko apa tidak sebaiknya kita menunggu sampai Sela keluar saja, dia kasihan sekali aku tidak tega meninggalkannya sendirian" ucap Anet merasa cemas,
"Anet kau tahu seperti apa dia bukan? Jika kita menunggui dia dan tidak mematuhi ucapannya dia akan menyulitkan kita berdua dan bisa saja dia malah semakin kesal padaku dan kau, jadi ayo kita pulang saja besok juga dia pasti membaik" ucap Kiko sambil terus menarik tangan Anet untuk pergi dengannya.
Anet pun mengikuti apa yang diucapkan oleh Kiko dan dia terpaksa harus pulang meninggalkan Sela di kelas seorang diri walau dengan berat hati.
Sedangkan Sela sendiri hanya bisa terus menggerutu kesal sambil langsung membereskan semua bukunya ke dalam tas namun di saat dia hendak memasukkan buku terakhir miliknya dia kaget melihat bahwa buku yang ada di tangannya buka milik dia melainkan milik Akira yang tertinggal di meja saat itu.
"Ehhh.... Ini seperti ya bukan buku catatanku, aahh ini pasti buku si manusia aneh itu, aishh... Dasar bodoh bagaimana bisa dia meninggalkan barang sembarangan, aahh aku bawa saja deh daripada nanti hilang jika dibiarkan disini terus" ucap Sela sambil langsung membawa buku itu bersama dengannya.
Dia berniat untuk mengejar Akira karena dia pikir anak itu tidak akan pergi terlalu jauh karena belum lama sejak dia pergi keluar saat itu, Sela berlari menuju jalan yang pernah dia lalui untuk pulang dengan Akira sebelumnya hingga dia malah sampai di depan rumah ibunya saat itu.
"Aahhhh... Anak ini benar-benar sialan dia membawa kakiku untuk sampai ke rumah yang paling tidak aku sukai, bagaimana jika ibu melihatku, aku harus segera mengembalikan buku ini padanya lalu secepatnya pergi dari sini" gerutu Sela sambil bergegas pergi menekan bel rumah Akira saat itu.