
Mendengar itu Sela langsung memebalalakkan matanya sangat lebar dia mulai kebingungan dan mengingat kembali, sampai akhirnya dia mulai sadar bahwa dia memang mengingit pensil itu ketika dia tertidur tanpa sadar sebelumnya.
Setelah mengingat hal itu barulah Sela sadar apa yang sudah dia lakukan pada Akira karena dia juga mulai tersadar dengan ucapan yang di katakan oleh kedua sahabatnya Anet dan Kiko sebelumnya.
"Aishh....aku lupa dia kan memiliki penyakit aneh itu, mungkin yang dia maksud jijik adalah pensil itu karena aku menggigitnya" batin Sela mulai tersadar.
Akira sendiri masih telihat duduk di bawah dan dia mulai sedikit jauh lebih baik di bandingkan sebelumnya walaupun nafasnya masih saja terdengar menderu saat itu, Sela yang sudah sadar dia merasa tidak enak hati kepada Akira karena dia tahu bahwa semua ini akibat dari kesalahannya.
"AA..aahh....Akira ayo aku bantu kau berdiri" ucap Sela sambil mencoba untuk membantu Akira.
Namun dengan cepat Akira langsung bangkit sendiri dan dia menghindari tangan Sela yang saat itu hendak membantunya, Sela sendiri mengerutkan kedua alisnya secara refleks karena merasa sangat heran dengan apa yang dilakukan oleh Akira sampai menghindari dirinya secara sengaja seperti itu.
"Akira apa kau juga merasa jijik padaku, aku tidak kotor lihatlah aku bersih seperti ini kenapa kau seperti itu?" Ucap Sela merasa sedikit kesal,
"Jangan sentuh aku, dan menjauhlah, aihshh...aku menyesal menjadikanmu asisten belajarku, bukannya membantu kau malah membuat aku hampir mati dengan kuman dari pensil itu, sekarang aku tidak memiliki pensil sama sekali akibat ulahmu" gerutu Akira yang terlihat cukup kesal.
Sela juga sangat kesal sebenarnya tetapi dia tidak bisa melakukan apapun atau membentak Akira yang sangat mebuatnya ribet, sebab semua itu juga karena kesalahan dirinya yang malah mengigit ujung pensil milik Akira.
"Aaahhhh....kau pikir berapa banyak bakteri yang ada pada air liurku lagi pula hanya dengan mengusapnya menggunakan tisyu itu sudah akan hilang, kau tidak akan mati hanya dengan hal seperti itu, karena sebelumnya kau bahwa bercium...." Ucap Sela yang hampir saja keceplosan.
Dan Akira langsung membekap mulutnya dengan cepat untuk menghentikan Sela membahas mengenai kejadian memalukan seperti itu baginya, namun yang membuat Sela kaget dia tidak menduga bahwa Akira berani membekap mulutnya hanya dengan tangan kosong padahal sebelumnya dia selalu merasa jijik bahkan dengan pensil yang dia gigit sebelumnya, tapi kini malah dia sendiri yang membekap mulut Sela dengan tangan kosong seperti itu, dengan cepat Sela mengerutkan kedua alisnya dan dia langsung memegangi tangan Akira lalu mulai melepaskannya.
"Aahh.....Akira apa kau gila ya, kau bilang memiliki penyakit mental dan tidak tahan dengan benda kotor juga tidak bisa bersentuhan dengan orang lain, tapi kenapa kau menyentuh mulutku, dan lihat aku memegang tanganmu tapi tidak terjadi apapun denganmu, bukankah ini aneh, kau berbohong ya?" Ucap Sela mencurigainya.
Akira sendiri baru sadar bahwa dia benar-benar menyentuh Sela dan dia sungguh telah membekap mulut Sela sebelumnya, tapi dia tidak mendapatkan reaksi apapun dari tubuhnya dan dia juga merasa bingung hingga dengan cepat segera menarik kedua tangannya dengan cepat, dan Akira mulai melihat kedua telapak tangannya, tapi dia sama sekali tidak melihat apapun dan masih baik-baik saja.
"Hah.....apa yang salah denganku, apa aku sudah sembuh? Aku tidak merasakan apapun aku baik-baik saja saa menyentuhmu" ucap Akira yang juga merasa heran pada dirinya sendiri.
Sela malah menjadi lebih heran melihat Akira sendiri yang kebingungan seperti itu, ditambah tiba-tiba saja Akira langsung memegangi kepala dia dengan kedua tangannya dan Akira terus mengusap kasar atas kepala Sela beberapaka kali, dia juga memegangi pipi Sela dan mencubitnya dengan kasar.
Tidak sampai disitu, Akira terus saja memegangi wajah Sela dan terus saja beralih pada tangannya sambil tersenyum senang karena dia pikir dirinya sudah sembuh sebab tidak mendapatkan reaksi atau efek samping apapun ketika dia menyentuh orang lain berkali kali, sedangkan Sela sendiri terus memasang wajah datar dan kesal karena Akira tidak berhenti terus mengacak-acak kepala dan wajahnya.
"AKIRA! berhenti menyentuhku, apa kau gila ya?" Ucap Sela dengan suara yang cukup kencang saat itu.
Mendengar teriakkan dari Sela dengan cepat Akira langsung menarik kembali tangannya dan dia masih saja merasa sangat senang saat itu, dia tidak tahu bagaimana lagi menggambarkan rasa senangnya sebab dia tidak menduga hal seperti ini bisa terjadi kepada dia secara tiba-tiba, padahal sudah bertahun-tahun dia mencoba untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut namun baru kali ini dia bisa merasakan benar-benar seperti menjadi manusia normal seutuhnya.
"Aahh ...hahah....ini luar biasa, bagaimana aku bisa tiba-tiba sembuh, aku harus mengujinya pada orang lain" ucap Akira terlihat aneh di mata Sela.
Sebab saat itu juga Akira langsung bangkit berdiri dan dia dengan sengaja menyentuh pundak orang lain yang tengah mengambil buku di sana, namun tiba-tiba saja Akira mulai kembali mendapatkan reaksi seperti sebelumnya dia terlihat ketakutan dan mengeluarkan keringat dingin lagi pada dahinya saat itu.
"Ehhh ..ada apa, kenapa kau menyentuhku apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya pria tersebut pada Akira.
"AA..aahhh...kenapa aku merasakannya lagi, kenapa aku tidak bisa menyentuh orang lain tapi aku baik-baik saja saat menyentuh gadis bar-bar itu? Apa semua ini?" Batin Akira merasa heran tidak karuan.
Dengan cepat dia menggelengkan kepala pada pria tersebut sambil segera berpura-pura mengambil buku secara acak dari sana secepatnya dan menahan dirinya yang tidak bisa menahan rasa tidak nyaman dalam tubuhnya ketika dia menyentuh pria tadi, hingga tidak lama muncula Sela yang segera menghampiri dia dan dengan cepat membantunya.
"Akira....astaga...apa yang terjad dengannya kenapa dia seperti ini lagi" ucap Sela sambil berteriak dan menghampiri Akira dengan cepat.
Sela langsung memapah Akira dan membawa dia keluar dari perpustakaan menuju UKS yang ada di sekolah secepatnya namun disaat Sela hendak membawanya masuk ke dalam UkS Akira justru menolaknya da dia langsung saja melepaskan diri dari Sela dengan cepat.
"Hah...hah...hah...bodoh, kenapa kau malah membawaku kemari, aku benci UKS dan rumah sakit, aku baik-baik saja kau tidak perlu sok perduli seperti itu kepadaku, aahh" ucap Akira yang tiba-tiba saja pergi dan meninggalkan Sela.
"Hey ....Akira kau kemana hey....kau harus di periksa dulu, Akira!" teriakku memanggil dia sangat kencang tapi dia terus saja berlari tidak memperdulikan teriakkan dariku.
Sela terperangah melihat Akira yang sangat aneh baginya, walau dia tahu bahwa Akira memiki penyakit yang tidak bisa membuat dia bersentuhan dengan orang lain dan dia takut kotor dia juga selalu harus sempurna, tapi sebelumnya Sela melihat dia sudah baik-baik saja, tiba-tiba menjadi aneh seperti itu lagi dan malah mendorong tubuhnya seperti barusan.
Dia pun segera kembali ke kelas dan tidak mau memikirkan masalah Akira yang membingungkan itu, karena dia sangat kesal saat dia sampai di kelas dia sama sekali tidak melihat keberadaan Akira dan saat dia menanyakan keberadaan dia pada Anet dan Kiko mereka juga tidak melihatnya sama sekali.
"Ehh....Sela kau sudah kembali, ayo kita makan ke kantin" ajak Kiko saat itu,
"Tunggu apa kalian melihat si aneh Akira itu?" Tanya Sela langsung bertanya kepada mereka.
Tidak bisa dia bohongi pada kenyataannya Sela tetap mencemaskan kondisi Akira karena sebelumnya dia melihat wajah Akira yang terlihat pucat juga keringat dingin yang keluar terus dari dahinya sedangkan dia malah memilih pergi sendiri dan Sela tidak mengejarnya sebab dia pikir Akira akan kembali ke kelas.
Namun saat sampai di dalam kelas Sela tidak menemukannya tentu saja dia menjadi sangat cemas pada Akira saat itu, walau dia sangat membencinya tapi mau bagaimana pun dia tetap mencemaskan Akira dan merasa memiliki tanggung jawab atas dia sebab dia yang menjadi asisten belajarnya saat ini.
"Apa kalian yakin sama sekali tidak melihat dia kembali ke kelas ini, dia sudah lama pergi loh" ucap Sela dengan wajahnya yang mulai panik saat itu.
Tapi Anet dan Kiko yang memang tidak mengetahuinya juga sama sekali tidak melihat keberadaan Akira mereka hanya bisa menggelengkan kepala membalas pertanyaan dari Sela saat itu.
"Sedari tadi bukankah kalian berada di perpustakaan kenapa kau malah menanyakan dia kepada kita, harusnya dia denganmu bukan?" Balas Kiko dan di anggukkan oleh Anet,
"Aishh...dia awalnya denganku tapi aaahhh sudahlah sulit menjelaskannya saat ini, aku akan mencarinya, kalian makan saja ke kantin lebih dulu" balas Sela sambil segera pergi dengan cepat mencari Akira.
Sela terus berlari mencari keberadaan Akira kesana kemari tanpa henti dan dia terus saja menatap untuk memastikan keberadaan Akira ke semua tempat, mulai kembali ke perpustakaan dan sudah berkeliling di sana, Sela juga pergi ke lapangan basket bahkan ke lapangan bola di luar, dia pergi ke parkiran dan tempat lainnya di sekitar sekolah, tapi saya hanya Sela tetap saja tidak berhasil menemukannya.
Dia mulai teihat frustasi dan kebingungan untuk mencari keberadaan Akira saat itu, Sela semakin mencemaskannya dan dia tidak bisa menemukan Akira dengan cepat.
"Aishh ..kemana dia pergi sebenarnya, membuat orang cemas saja, aahh aku yakin dia pasti akan pergi ke tempat yang sepi dimana tidak banyak orang disana, tapi tempat itu dimana astaga....aahhh ayo berpikir Sela berpikirlah" ucap Sela yang terus berusaha untuk memikirkan tempat semacam itu.
Hingga dia mulai terpikirkan tempat seperti itu yang kemungkinan besar akan di datangi oleh Akira, Sela terlihat membulatkan matanya cukup lebar dan dia mulai mengingatnya.
"Aahh ...iya ruang seni dan atap, aku harus pergi memeriksa ke dua tempat itu, dia pasti akan mencari tempat sepi untuk menenangkan dirinya" ucap Sela sambil segera berlari menuju ruang seni secepatnya.
Tapi sesampainya disana Sela sama sekali tidak menemukan siapapun bahkan ruangannya saja di kunci dengan gembok yang kuat, bahkan saat Sela mencoba untuk mengintip di balik jendela tetap saja dia tidak menemukan siapapun di sekitar sana.
"Aahhh....ini benar-benar di kunci, lalu kemana dia... Tidak mungkin dia benar-benar pergi ke atap kan?" Gerutu Sela memikirkannya lagi.
Mengingat dia tidak berhasil menemukan Akira ke seluruh tempat disana dia pun mulai semakin panik karena menduga Akira benar-benar pergi ke atap saat itu, sehingga dia langsung saja berlari lebih kencang lagi menuju tangga dan terus menaiki tangga beberapa kali hingga dia berhasil melewati beberapa tangga dan sampai di atas.
Dengan nafas yang menderu dan sulit di kendalikan Sela terus saja mendobrak pintu di atap itu dengan menendangnya cukup kuat sampai dia melihat Akira benar-benar berada di atap dan dia tengah berdiri di ujung sambil merentangkan kedua tangannya bak seperti orang yang akan meloncat ke bawah.
"Braakk...." Suara pintu yang di dobrak oleh Sela dengan sangat keras,
"Hah....hah...hah...astaga...Akira... Aahhhh dia tidak mungkin akan bunuh diri hanya karena sebuah pensil yang aku gigit bukan? Akira!" Teriak Sela langsung memanggilnya.
Dengan cepat Akira langsung membalikkan badan dan wajahnya terlihat lebih baik dari pada sebelumnya, Sela berjalan hingga dia berada tidak jauh dengan Akira jarak mereka saat itu sekitar satu meter berdiri berhadapan satu sama lain.
Sela berjongkok karena dia masih merasa sangat lelah dengan nafas menderu dan kesulitan menelan salivanya sebab tenggorokan yang terasa kering akibat terus saja berlari menaiki tangga tanpa henti juga sebelumnya yang sudah mencari keberadaan Akira kesana kemari.
"Hah...hah....hah...Akira aku mohon padamu, hidup ini sangat indah, seberapa berat apapun hidupmu mati dengan cara tragis seperti ini bukanlah yang baik, kau adalah jenius dan aku yang paling bagus dalam semua mata pelajaran tidak ada yang perlu kau cemaskan dalam hidup ini, kau juga bisa membeli apapun yang kau inginkan, penyakitmu itu akan sembuh dan tadi...tadi..itu hanya sebuah pensil saja ayolah Akira jangan seperti ini" ucap Sela yang masih menduga Akira akan bunuh diri dan dia terus mencoba menenangkan Akira.
Sedangkan Akira sendiri mulai mengerutkan kedua alisnya, dia menatap dengan penuh kebingungan dan merasa sangat heran kepada Sela.
"Apa yang dia bicarakan, apa dia pikir aku akan bunuh diri ya? Aish.... Dasar idiot" batin Akira merasa kesal saat itu.
"Ayo Akira aku terima uluran tanganku, jangan seperti itu, cepat kemari Akira ayo" ucap Sela sambil mengulurkan tangannya.
Melihat Sela yang sudah terlanjur berpikir bahwa Akira akan bunuh diri, Akira langsung saja mengerjai Sela saat itu juga dan mulai berpura-pura seakan dirinya benar-benar akan mengakhiri hidupnya sendiri saat itu.