
Ibu guru Yuni langsung pergi dari ruang guru dengan perasaan kesal dan dia terus menggerutu kesal karena sudah di olok-olok oleh pak guru Joy karena Akira yang menolak tawaran darinya untuk olimpiade matematika tersebut.
"Huh.... Dasar guru-guru sialan tidak bermoral itu aahhh... Sangat menyebalkan sekali!" Gerutu ibu guru Yuni sambil segera masuk ke kelas yang akan dia ajar hari ini.
Sedangkan disisi lain Sela yang masih tertidur mulai terbangun karena dia kaget mendengar Akira yang duduk di bangkunya dengan kasar juga mengeluarkan buku cukup keras ke atas meja hingga membuat meja sedikit bergoyang dan Sela terbangun karenanya.
"Duk...." Suara buku yang di taruh diatas meja olah Akira dengan keras,
"Astaga... Eummm... Suara apa itu, kenapa sangat berisik sekali sih, hey apa yang kau lakukan kenapa kau malah membanting buku seperti itu hah, mengganggu aku saja" ucap Sela sambil mengusap iler di ujung bibirnya saat itu.
Akira sama sekali tidak menjawab ucapan dari Sela dan dia tetap saja diam sambil membaca buku tersebut dengan santai dan terus saja menurunkan topi hitam yang dia pakai untuk menutupi wajahnya tersebut.
Sela yang melihat itu semakin kesal di buatnya dan dia merasa sangat sebal sebab ucapannya itu di abaikan begitu saja olehnya.
"Aishh.. apa kau tuli hah!" Bentak Sela sambil langsung merampas buku yang tengah di baca oleh Akira.
Sela menarik buku itu dan langsung saja melihat buku tersebut yang di baca oleh Akira sebelumnya, namun saat dia melihatnya dia sama sekali tidak mengerti dengan semua bacaan yang ada di dalam buku tersebut, bahkan tulisannya saja tidak di kenali oleh seorang Sela dan dia tidak mampu membaca tulisan yang seluruhnya adalah bahasa Inggris dan Jepang.
"Wahhh... Tulisan apa ini bentuknya aneh sekali, dan ini kenapa di bawahnya ada bahasa Inggris, apa ini kamu yah?" Ucap Sela sambil terus membolak balikkan buku tersebut.
Akira yang melihat itu dia langsung kembali mengambil buku itu dari tangan Sela karena Akira takut kamus bahasa Jepangnya rusak oleh Sela yang memang selalu kasar dalam melakukan apapun.
"Kembalikan buku ku" ucap Akira yang tidak berhasil merampas bukunya dari tangan Sela saat itu.
Sela menatapnya dengan menaikkan kedua alisnya sesaat dan dia merasa heran saat melihat Akira begitu sensitif jika berhubungan dengan sebuah buku dengannya saat itu.
"Ehhh... Ada apa denganmu, apa kau sangat menyukai buku ini? Jika kau bisa ambil saja dariku" ucap Sela yang justru malah mengerjai Akira secara sengaja saat itu.
Dia bahkan langsung bangkit berdiri dan berlari ke dekat jendela kelas itu sambil membawa buku milik Akira untuk menjauhkan buku itu dari pemiliknya dan Akira yang sudah tidak bisa menahan dirinya lagi dia pun langsung mendekati Sela dan menggebrak tangannya tepat pada dinding jendela yang ada di samping wajah Sela saat itu sehingga membuat Sela kaget dan terperangah melihat Akira bisa marah dengan serius seperti itu kepadanya hanya karena sebuah buku.
"AA..a..ahh.... Apa yang kau lakukan, apa kau marah hanya karena aku bercanda sedikit saja denganmu, aahh kau benar-benar aneh, ini aku kembalikan bukumu dan menyingkir lah dari hadapanku" ucap Sela sambil memberikan buku itu ke tangan Akira dan membuat Akira untuk menggenggam bukunya lagi.
Sampai akhirnya Akira langsung saja mengambil bukunya dan pergi kembali duduk di kursi dia dan mengabaikan Sela begitu saja.
Sela baru bisa mengeluarkan nafas dengan lega setelah Akira kembali duduk dengan tenang dan membaca buku di kursinya saat itu sedangkan dia masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi padanya, dimana untuk pertama kalinya ada orang yang bisa mendominasi dia dan membuatnya menyerah juga sedikit takut hanya dengan sebuah gertakan kecil saja.
"Wahhh... Bagaimana ini bisa terjadi, kenapa aku harus takut dengan pria aneh yang tidak bisa bicara seperti dia, ohhh.. Sela kau benar-benar berubah sekarang" ucap Sela pelan sambil mengusap dadanya sendiri.
Hingga tidak lama Kiko dan Anet masuk ke dalam kelas dan mereka langsung memberikan banyak makanan kepada Sela saat itu sampai kedua tangannya penuh memegangi banyak makanan yang tidak hanya di berikan oleh Anet dan Kiko tetapi anak-anak lain di kelasnya juga memberikan dia makanan yang banyak.
"Sela ini aku membelikan kau roti kesukaanmu" ucap salah satu temannya yang masuk ke dalam kelas pertama kali,
"Ini aku juga belikan ini untukmu, minumlah yang banyak agar kau tidak mengantuk saat belajar Sela" tambah teman yang lainnya,
"Aku juga bawakan makanan ringan khusus untukmu, jangan lupa semangat belajar ya Sela" kata yang lainnya.
Sela menatap heran dengan wajahnya yang mengerutkan kedua alisnya dengan kuat juga menatap heran dan langsung saja membentak dengan keras kepada teman-temannya sebab dia merasa sangat heran saat itu.
"Hey....hey...hey... Apa yang sedang kalian lakukan, kenapa kalian semua tiba-tiba menjadi baik seperti ini kepadaku, hey.... Aku tidak menindas siapapun bodoh!" Bentak Sela dengan kesal,
Anet dan Kiko segera menghampiri Sela dan mengajaknya untuk segera duduk kembali ke kursinya lalu menenangkan Sela dengan cepat agar Sela tidak terus marah-marah tidak jelas seperti sebelumnya.
"Ahhh... Sela sudah ayo duduk dulu, tenangkan dirimu semua teman-teman disini justru mendukungmu untuk berubah, mereka senang melihatmu yang sekarang tidak kesiangan lagi ke sekolah dan melihat kau yang sudah mulai mau mencatat pelajaran, mereka semua hanya mendukungmu dan memberikan semangat padamu dengan memberikan hadiah kecil seperti ini kau jangan marah ya" ucap Anet kepada Sela sambil memasang wajah yang manis agar Sela tidak marah kepadanya saat itu.
Sela yang melihat Anet berbicara begitu kepadanya dia pun langsung menghembuskan nafas dengan kasar dan mulai menatap ke arah Anet saat itu juga.
"Anet aku tidak membutuhkan hal-hal bodoh semacam ini dari kalian semua dan aku tidak meminta perhatian dari kalian, aku juga tidak akan berubah karena kalian atau siapapun di dunia ini, aku hanya berubah ketika aku ingin saja, jadi tolong bagikan lagi semua makanan ini aku tidak bisa menerimanya" balas Sela sambil menyerahkan semua makanan itu kepada Anet dan Kiko.