Love In High School

Love In High School
Diantar Pulang



"Aku berusia lima tahun dan aku cerewet karena aku memiliki mulut ahahaha" balas Vivi yang terlihat sangat senang karena dia lagi-lagi berhasil mengerjai Sela.


"Hah?....aishhh....kau benar-benar menguji kesabaranku, aahhh aku mulai merasa sangat kesal padamu, andai saja kau bukan anak kecil aku pasti sudah membentakmu sangat keras bahkan menendang mu dengan kakiku ini" balas Sel kepada Vivi saat itu.


"Untungnya aku anak kecil jadi kakak tidak akan melakukan semua itu kepadaku bukan?" Balas Vivi yang benar-benar membuat Sela sangat stress dalam menghadapinya.


Sela hanya bisa memijat keningnya terus menerus saat menanggapi ucapan dari gadis kecil yang ada di sampingnya tersebut, terlihat jelas bahwa saat itu Sela sangat frustasi pada gadis kecil tersebut karena dia terus saja melawan ucapan dari Sela dan sama sekali tidak takut kepadanya padahal Sela sudah berusaha untuk membuat dirinya agar tidak di sukai oleh gadis kecil bernama Vivi tersebut.


Hingga sesampainya di rumah sakit dan Sela telah di obati oleh dokter dia di tawarkan untuk diantar pulang oleh pamannya Vivi, namun sayangnya Sela menolak hal itu dengan tegas karena dia sama sekali tidak ingin merepotkan orang asing yang tidak dia kenal saat itu terlebih dia baru bertemu dengan pria dan bocah kecil itu hanya tidak sengaja dan baru beberapa jam yang lalu, sehingga sulit untuk Sela mempercayai mereka meskipun mereka sudah bersikap baik membantu Sela mengobati lukanya saat itu.


"Ayo aku antarkan kamu pulang" ucap pamannya Vivi kepada Sela.


"Tidak usah aku punya kaki dokter sudah mengobatiku, tidak perlu repot kalian pergi saja dari sini dekat ke rumahku aku bisa menghentikan taxi" ujar Sela menolaknya dan pergi berjalan lebih dulu.


Namun sayangnya Vivi berlari mengejar Sela dan menghentikan langkah Sela dengan merentangkan kedua tangannya menghentikan Sela tepat di hadapannya saat itu.


"Tidak! Berhenti menolak bantuan dariku dan paman kakak, kami ini orang baik kenapa kamu tidak mau menerima bantuan dari kami, ayo kak kau masuk saja ke mobil paman dia akan mengantarkan kamu pulang dengan selamat, jika dia mencoba berbuat jahat padamu aku kan masih ada di sampingmu aku akan melindungimu" ucap gadis kecil itu sambil memegangi tangan Sela dengan erat.


"Heh....bocah..kau pandai sekali bicara siapa yang mengajarimu sampai sepandai ini, aku beri tahu padamu ya, kalian mungkin orang baik tapi aku tidak aku orang jahat dan aku tidak ingin berhubungan dengan kalian lagi terutama kau, gadis kecil yang sangat...sangat membuat kepalaku pusing, aku sedang kacau sekarang kau jangan membuat otakku semakin pusing, ayo lepaskan tanganku jangan ikuti aku lagi, apa kau mengerti?" Ucap Sela sambil segera kembali meninggalkan gadis kecil bernama Vivi itu.


Karena mendapatkan penolakkan seperti itu dari Sela Vivi terlihat berkecil hati dan sedih dia menunduk dengan murung tanpa mengeluarkan suara, hal itu membuat pamannya tidak tega dengan Vivi dan dia sedikit kesal pada Sela yang sudah membuat keponakan kesayangannya menjadi sedih akibat ucapan dari Sela barusan, sehingga pamannya tersebut segera mendekati Vivi dan mengatakan padanya untuk membujuk Sela membantu dirinya saat itu.


"Vivi sayang jangan menangis dan sedih seperti ini, paman akan membantumu untuk menghentikan kakak itu tapi kamu tolong jangan menangis pergilah lebih dulu ke mobil, oke" ucap pamannya tersebut hingga menerima anggukan dari Vivi.


Gadis kecil itu seketika menjadi penurut dan dia segera pergi berlari bahkan mendahului Sela saat itu, dia masuk langsung ke mobil pamannya sedangkan Sela baru saja keluar dari pintu rumah sakit tersebut dan pamannya segera berlari menghampiri Sela dan menghentikan langkahnya, dia masih mencoba untuk membujuk Sela agar mau pulang diantar olehnya setidaknya untuk membuat Vivi agar tidak menjadi sedih lagi.


"Ahhh...tunggu.... Bisakan kamu ikut saja denganku, aku sungguh akan mengantarkanmu pulang dengan selamat, Vivi sangat menyukaimu dia belum pernah sesuka ini kepada orang lain, jadi aku harap kamu bisa membantuku menenangkan dia, dia terlihat sangat sedih karena perkataanmu, tolong dia hanya anak kecil" ucap pamannya Vivi kepada Sela.


Sela tetap tidak ingin pulang diantar oleh mereka sebab dia tidak ingin siapapun mengetahui tentang tempat tinggalnya termasuk orang asing seperti ini.


"Maafkan saya, tapi saya tidak bisa jika dia sedih dan kesal kau kan pamannya kau bujuk saja dia sendiri kenapa harus merepotkan aku?" Balas Sela yang terus berjalan meski dengan kakinya yang pincang.


Pamannya Vivi tetap tidak menyerah dia meraih tangan Sela untuk menghentikannya lagi dan menunjukkan kartu identitas yang dia miliki saat itu untuk meyakinkan Sela bahwa dirinya memang bukan orang asing sembarangan ataupun orang jahat.


"Tunggu-tunggu..." Ucap pamannya Vivi sambil menahan tangan Sela.


Sela langsung memberikan tatapan tajam kepada pria itu karena dia berani memegangi tangannya tanpa izin seperti itu hingga membuat pria tersebut segera melepaskan pegangannya pada tangan Sela dengan cepat.


"Ohh..maafkan aku, aku tidak bermaksud melakukan apapun kepadamu tapi lihatlah kartu ini jika kamu tidak mempercayai aku, kamu bisa menyimpan kartu ini jika kamu tidak mempercayaiku aku seorang di Presdir di salah satu perusahaan besar kau mungkin mengenal perusahaan ini, silahkan lihatlah" ucap pria tersebut sambil memberikan kartu namanya kepada Sela.


Dengan kedua alis yang di kerutkan Sela mulai menarik kartu nama tersebut dan mulai membacanya, dia sangat kaget dan refleks menutup mulut dia yang terbuka dengan lebar saking kagetnya ketika dia membaca nama perusahaan pada kartu nama tersebut.


"Jeromi perusahaan AHA group, woohhh...astaga...kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau kau Presdir perusahaan ini?" Ucap Sela sangat kaget ketika mengetahuinya.


Pasalnya perusahaan itu adalah perusahaan tempat ibunya bekerja tentu saja dia mengetahui perusahaan tersebut dengan sangat jelas, itu adalah perusahaan yang sangat besar namun ketika pria itu tersenyum dan mulai memperkenalkan dirinya secara resmi kepada Sela, dia mulai kembali menaruh kecurigaan terhadapnya sebab wajah pria itu sama sekali tidak terlihat dia seperti seorang Presdir karena seharusnya seorang Presdir akan terlihat agak tua, bukan cukup muda seperti pria itu.


"Aahh.... perkenalkan aku Jeromi, boleh aku tahu siapa namamu?" Ucapnya memperkenalkan diri dan menanyakan nama Sela.


"CK...jangan kau pikir kau tidak tahu aku sudah lihat kau memperhatikan seragam sekolahku saat kita pertama bertemu, aku Sela dan aku tahu kau sudah membacanya" balas Sela dengan santai dan sedikit berdecak kesal.


"Ouhh .... Ternyata kau tahu itu ya, aku pikir kau tidak menyadarinya. Kalau begitu karena sekarang kamu sudah tahu siapa saya bisakah kamu pergi menemuin Vivi, dan izinkan aku untuk mengantarmu saja agar Vivi bisa merasa senang" ucapnya lagi kepada Sela.


"Tunggu meski wajahmu dengan wajah orang pada kartu nama ini sama, tetapi memangnya kau beneran seorang Presdir perusahaan besar itu ya? Wajahmu ini sama sekali tidak cocok menjadi Presdir kau terlalu mudah untuk jadi Presdir" balas Sela kepadanya.


Itu membuat Jeromi menahan senyum dan dia segera membalas ucapan dari Sela secepatnya dengan perasaan sedikit senang, karena secara tidak langsung dengan Sela mengatakan hal tadi dia menganggap itu sebagai pujian untuk dirinya sendiri.


"Ohhh.. aku memang Lulu lebih cepat dari orang lain dan sudah mengelola perusahaan sejak aku duduk di bangku sekolah karena ayahku yang sudah mendidik sejak kecil, bagaimana apakah kamu sudah bisa pergi menemui Vivi?" Balasnya lagi.


"Baiklah aku akan pergi" balas Sela saat itu.


Jeromi langsung tersenyum senang dan dia segera membantu memapah Sela sampai masuk ke dalam mobilnya dan Vivi langsung menyambut kedatangan Sela dengan sangat senang, wajahnya yang tadi murung dan sedih bisa sekejap saja berubah hanya karena dia melihat Sela masuk ke dalam mobil dan menghampirinya.


"Aaahh...kakak aku tahu kau orang baik, kau tidak akan mungkin begitu tega meninggalkan aku, ahaha, aku sangat senang terimakasih paman kamu sudah membawa kakak ini kembali" ucap gadis kecil itu sambil terus duduk hingga menempel pada Sela.


"Gadis kecil aku bisa saja betah jika kau ada di sampingku tapi bisakah kau duduk lebih jauh dariku, aahhh aku tidak bisa bergerak jika kau terus mendesak aku seperti ini" balas Sela membuat Vivi dan pamannya Jeromi malah tersenyum dan tertawa kecil menanggapinya.


Vivi pun segera bergeser dan Sela terlihat lebih senang juga leluasa di dalam mobil itu, Vivi terus berbicara tentang banyak hal kepada Sela dan Sela hanya mendengarkan semua ceritanya, Vivi tidak berhenti berbicara sepanjang jalan hingga dia tertidur di pangkuan Sela, dan ketika melihat Vivi tertidur Sela mulai merasa damai.


Dia juga terus memperhatikan wajah gadis kecil itu dengan lekat dan mulai berpikir bahwa gadis kecil itu tidak terlalu buruk ketika dia diam dan tidur.


"Akhirnya bocah ini tidur juga, dia sangat cerewet sekali saat bangun tapi dia lucu dan menggemaskan saat tidur, aahh...aku bisa terhipnotis olehnya" gerutu Sela membuat Jeromi kembali tersenyum mendengar ucapannya yang sangat lucu bagi dia.


Jeromi tahu bahwa Sela bukanlah wanita yang jahat sebab Vivi tidak pernah salah dalam menilai orang dan dia selalu bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat, terlebih setelah dia perhatikan sikap Sela dengan Vivi cukup mirip sehingga dia mengira mereka seperti adik kakak yang cocok sekali.


Sedangkan disisi lain Akira yang pergi mencari Sela untuk meminta maaf dia tetap tidak menemukannya bahkan disaat dia berdiri di depan pagar rumah Sela dan berteriak memanggilnya beberapa kali, tetap saja tidak ada siapapun yang muncul dari rumah itu, hingga tidak lama justru malah ayah tiri Sela yang terlihat baru pulang dari kantornya saat itu dan dia mulai menyalakan klakson mobil hingga membuat Akira segera menyingkir


.


Tuan Wen segera menghampiri Akira dan menanyakan keperluannya saat itu juga, tepat ketika dia sudah memarkirkan mobilnya di dalam halaman rumah.


"Anak muda ada perlu apa kamu berdiri di depan rumahku sejak tadi, siapa yang mau kau cari?" Tanya tua Wen kepada Akira.


"Apakah Sela ada di rumah?" Tanya Akira sambil tertunduk karena dia benci melihat orang lain menatapnya terlalu lama.


"Aaahhh...saya lupa tidak memberikan kunci pada Sela tadi pagi jadi rumahnya di kunci dan sudah pasti Sela tida ada di dalam mungkin dia belum pulang, dia selalu pulang malam atau pergi ke rumah neneknya karena rumah terkunci" balas tua Wen yang baru mengingat kesalahannya tersebut.


Akira yang mendengar itu dia terbawa suasana dan langsung saja marah dia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata lagi kepada tuan Wen dia langsung berbalik da pergi meninggalkannya, sedangkan tuan Wen yang kebingungan dia hanya menatap dengan heran sambil menggaruk belakang kepalanya saat itu.


"Eehh...ada apa dengan anak muda itu, darimana dia datang dan kenapa mencari Sela? Aahh sudahlah palingan Selamjuga pulang ke rumah neneknya jika jam segini belum tiba juga, ibunya juga tidak akan pulang aku bisa bebas memasang musik yang keras sendirian, aahh ini kebebasan" ucap tuan Wen sambil segera menutup gerbang rumahnya dan mengunci gerbang itu dengan cepat.


Dia sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya Sela sudah pulang sejak sore bahkan dia sudah datang memeriksa dua kali namun dia sendiri yang tidak kunjung pulang juga sehingga membuat Sela kembali lagi pergi meninggalkan tempat itu.


Akira yang merasa cemas karena mengetahui bahwa sejak tadi Sela tidak ada di rumahnya dia langsung mencari Sela ke tempat lain tanpa arah dia berjalan menuju ke jalanan dan berniat pergi ke tempat yang kemungkinan akan Sela kunjungi, namun baru saja dia sampai di depan jalan raya dia justru malah melihat Sela yang tengah keluar dari mobil dengan di pegang oleh seorang pria yang memakai jas hitam saat itu.


Melihat kaki Sela yang di perban juga lututnya yang memakai perban juga, Akira mulai berpikir kesana kemari dan terus menduga hal yang tidak-tidak di dalam pikirannya sehingga dia langsung saja berlari dan langsung saja menarik Sela menjauhkan dia dari pria asing tersebut sampai membuat Sela kaget dan meringis kesakitan karena Akira menariknya terlalu kuat secara tiba-tiba.


Begitu juga dengan Jeromi yang sama kagetnya dan dia takut Sela akan jatuh saat itu.


"Sela....apa yang terjadi denganmu" ucap Akira sambil menariknya kuat.


"Aaa...aaa..aaaw...aaaahh...Akira apa kau gila ya? Kenapa kau menarik tanganku sekencang itu aishh...kau tidak lihat hah, aduhh tanganku sakit lagi karenamu!" Bentak Sela memarahinya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Jeromi sambil memegangi pundak Sela saat itu.


Hal tersebut membuat Akira kesal dan dia langsung menghempaskan tangan Jeromi dengan kuat sambil berbicara lantang da dia berani untuk menatap Jeromi dengan tatapan matanya yang sangat tajam tanpa sedikitpun keraguan.


Padahal dia tidak pernah mau bersentuhan ataupun menyentuh orang lain, namun kali ini dia bisa melakukannya tanpa berpikir sekali pun untuk menyentuh tangan Jeromi yang memegangi pundak sela seperti itu.


"Singkirkan tanganmu darinya!" Ucap Akira terlihat mendominasi dan membuat Jeromi mengerutkan dahinya dengan heran.


Begitu juga dengan Sela yang terus saja menatap terperangah kebingungan dengan sikap Akira yang aneh saat itu.