Love In High School

Love In High School
Bertemu Ibu Yuni



"Sela kenapa kamu tidak menjawab kami, aku dan Anet sungguh menyesal" tambah Kiko lagi.


Anet yang lebih memahami karakter Sela dia langsung saja menarik tangan Kiko dan menyuruhnya untuk pergi saja mengganti pakaian saat itu dan memberikan waktu Sela untuk seorang diri dan menenangkan dirinya untuk beberapa saat.


"Kiko sudahlah, mungkin Sela memang sangat kecewa kepada kita, biarkan dia menenangkan dirinya sendiri jangan membuat dia semakin marah, ayo kita ganti pakaian saja" ujar Anet sambil menarik tangan Kiko dan mereka segera pergi dari sana dengan perasaan yang lesu dan penuh rasa bersalah kepada Sela.


Sedangkan disisi lain saat itu Sela memang benar-benar merasa kesal juga kecewa kepada kedua sahabatnya yang sangat dia percaya dan saat itu nyatanya seakan mereka berdua tidak menyimpan kepercayaan yang sama terhadap dirinya saat ini, sehingga hal tersebutlah yang membuat Sela merasa sangat sakit ketika mengingatnya, kini dia hanya bisa tertunduk dengan lesu seorang diri dan berusaha untuk memejamkan matanya, jawaban dari setiap kesedihan yang selalu dia alami dalam dalam hidupnya selama ini adalah tidur dengan tertidur dia bisa melupakan segalanya dan dia bisa sejenak merasa tenang dan lega, walau sebenarnya itu tidak akan merubah apapun tentang dia dalam hidupnya ini.


Disisi lain Akira yang baru saja selesai berganti pakaian dia berpapasan dengan Kiko yang dimana saat itu, Kiko baru saja hendak masuk ke dalam ruang ganti tersebut, saat itu Kiko hendak berniat menyapa pada Akira bahkan dia sudah mengangkat tangannya untuk memanggil nama Akira namun sayangnya disaat dia baru saja hendak membuka mulutnya, Akira justru malah melewati dirinya dengan santai bahkan tanpa melirik sedikitpun kepadanya saat itu.


"Eeehhh..... mereka berdua memang terlihat aneh akhir-akhir ini, dasar sudahlah lagian mungkin Akira memang tidak melihatku" ucap Kiko sambil segera melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruang ganti pria secepatnya.


Akira pergi menuju kelas namun di perjalanan dia justru malah kembali bertemu dengan ibu guru Yuni, diaman saat itu ibu guru Yuni juga hendak pergi mengajar di kelasnya dan sekalian saat pertama kali melihat Akira dia langsung saja menghentikannya dan berusaha membujuk Akira lagi tentang tawaran mengikuti olimpiade sebelumnya.


"Ehh.....bukankah itu Akira, ahhh ini kesempatan bagus karena dia sedang sendirian" ucap ibu guru Yuni sambil segera menghampiri Akira dengan cepat saat itu.


Bahkan hanya demi bisa bicara dengan Akira ibu guru Yuni bahkan berani untuk memanggil Akira dengan suaranya yang keras sambil berlari sesaat.


"Ehh ...Akira....Akira tunggu...Akira...tunggu ibu mau bicara denganmu hah...hah...hah" ucap ibu guru Yuni sambil melambaikan tangannya dan berlari kecil berusaha menghentikan langkah Akira saat itu.


Akira langsung berhenti dan segera berbalik menatap ke arah ibu guru Yuni yang terlihat berjongkok memegangi kedua lututnya juga dengan nafas yang terengah-engah di hadapannya saat itu.


"Ada apa ibu memanggil saya?" Tanya Akira masih dengan wajahnya yang datar dan memakai topi hitam yang tidak pernah lepas dari kepalanya tersebut,


"Ah...hah...hah....Akira ibu ingin tanyakan lagi kepadamu, apakah kamu memang tidak bisa mengikuti olimpiade matematika itu, ibu sangat berharap banyak kepadaku, kamu adalah satu-satunya harapan ibu dan kelas kita agar bisa mendapatkan penilaian yang baik dari kepala sekolah" ucap ibu guru Yuni membujuk Akira.


Saat mendengar itu, Akira sama sekali tidak memperdulikannya lagi dan dia langsung saja berjalan menghindari ibu guru Yuni dan mengabaikan keberadaannya yang saat itu berjalan di samping dirinya sambil terus berbicara tanpa henti kepadanya.


"Akira...ibu tahu kamu hanya ingin menjadi murid normal dan biasa saja di dalam kelas, tetapi potensi di dalam dirimu itu sangatlah luar biasa, banyak sekali orang di luar sana yang tidak bisa memiliki kecerdasan sepertimu bahkan ada yang sangat menginginkannya atau sangat kesulitan dalam belajar seperti contoh Sela iya, dia teman sebangkumu meski dia duduk di sampingmu tetapi karena dia memang tidak berbakat, dan meski sudah berubah dia tetap saja tidak bisa mendapatkan nilai diatas KKM sehingga kerajinan dan usahanya tersebut mungkin akan sia-sia" ucap ibu guru Yuni membuat Akira yang tadinya acuh menjadi langsung tertarik dan dia tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.


Ibu guru Yuni sangat percaya diri saat itu, sehingga dia pikir Akira berhenti karena mengerti dengan ucapannya dan akan berubah pikiran atas keputusannya saat itu, namun ternyata dia salah menduga, karena memang Akira berhenti berjalan karena dia penasaran dengan ucapan ibu guru Yuni yang mengatakan bahwa semua perjuangan Sela yang mau berubah itu akan sia-sia pada akhirnya.


"Aahhh...... Akira akhirnya kamu berhenti juga, ibu tahu kok kamu pasti sebenarnya sangat tertarik dengan olimpiade tersebut bukan, ibu memang sudah menduganya kamu pasti akan setuju nanti, dan kamu hanya membutuhkan waktu untuk berpikir saja, ayo ikut ibu ke ruangan dan kita isi formulir pendaftarannya" ucap ibu guru Yuni yang sudah terlihat sangat senang juga antusias.


"Tunggu Bu, aku sama sekali tidak pernah menyetujui semua itu ataupun lombanya, kau jangan menyimpulkan jawaban sendiri, aku sama sekali tidak berubah pikiran, aku hanya penasaran kenapa perjuangan Sela akan sia-sia setelah dia sudah mengisi semuanya dan tidak bolos lagi dalam kelas" balas Akira mengatakan semuanya dengan jujur.


Ibu guru Yuni sangat syok dan kaget, karena dia tidak menduga jika ternyata Akira sang siswa jenius di kelasnya justru malah lebih perduli dengan Sela yang sama sekali tidak menguntungkan untuk dirinya maupun karir yang tengah dia geluti saat ini.


"Eeehhh...kenapa kamu malah penasaran tentang bocah nakal itu, dia sama sekali bukan anak yang bisa di tiru, dia adalah anak brandalan yang sangat nakal dan selalu membuat keributan di sekolah ini, bahkan sekarang dia hampir membuatku akan di usir dari sekolah bersama dengan dia yang mungkin tidak akan di lulusan kali ini, karena semua nilainya sangatlah jelek, tidak ada perubahan meski dia sekarang lebih rajin" balas ibu Yuni kepada Akira.


Akira semakin tertarik dengan Sela karena dia merasa berhutang Budi padanya sebab sudah meminjamkan pakaian olahraga kesayangannya kepada Akira saat itu, bahkan jika di pikir lagi Sela juga sudah membantunya mendapatkan nilai tinggi di pelajaran olahraga yang selama ini tidak pernah dia dapatkan sebelumnya, karena dia selalu tidak mengikuti kegiatan olahraga dengan baik.


Akira pun berniat untuk membantu Sela dalam pelajaran dan membuat dia agar bisa lulus dengan nilai yang baik untuk kelulusannya nanti.


"Bu apakah ada kesempatan untuk dia tetap bisa lulus?" Tanya Akira kepada ibu guru Yuni saat itu,


"Tentu saja ada jika nilainya diatas KKM semua dia akan lulus dengan mudah dan lancar tidak perduli nilai dia yang sebelumnya karena yang di nilai adalah yang akhir, tapi sayangnya dia pasti tidak akan bisa mendapatkan semua itu, lihat nilai matematikanya selalu satu dan dua, sekarang malah menjadi nol dan tiga, bukannya melebihi angka sepuluh dia malah menjadi minus, aaahh...kepalaku akan pecah karena anak ini" ujar ibu guru Yuni yang memperlihatkan soal jawaban milik Sela.


Akira terus saja menahan senyum melihatnya dan dia tidak menduga juga benar-benar ada orang yang sangat tidak perduli dengan nilai juga pajaran di dalam dunia ini, terlebih itu seorang perempuan diamana kebanyak perempuan selalu terobsesi untuk menjadi sempurna dengan mendapatkan nilai yang bagus atau cukup.


Tetapi setelah melihat semua bukti itu, sepertinya memang Sela bukanlah orang yang seperti itu, dia memang benar-benar anak nakal yang tidak memperdulikan nilai sedikitpun dan selalu acuh dengan sekitar kecuali dengan pelajaran olahraga yang sangat dia cintai, bahkan pakaian olahraganya saja sangat dia jaga.


Melihat semua itu Akira merasa kasihan dengan Sela dan dia langsung meminta ibu Yuni untuk membuat kesepakatan dengannya.


"Aahh....sudahlah ibu harus segera mengajar di kelasku, ayo kau juga harus masuk kan" ujar Bu Yuni sambil berjalan lebih dulu saat itu.


Karena ibu Yuni rasa dia sudah gagal untuk membujuk Akira yang ke sekian kalinya, akhirnya saat itu dia hampir saja akan menyerah tetapi di saat dia hampir menyerah Akira langsung menahan dia secara tiba-tiba saat itu.


"Tunggu Bu!" Ucap Akira menahan ibu Yuni yang membuatnya langsung berbalik sambil menatap heran dengan mengerutkan kedua alisnya saat itu.


"Ehhh...ada apa lagi Akira?" Tanya ibu Yuni saat itu dengan heran,


"Aku mau mengikuti olimpiade matematika tersebut." Balas Akira yang membuat ibu Yuni sangat kaget.


Langsung saja saat itu juga ibu Yuni terlihat membelalakkan matanya dengan sangat lebar bahkan sampai membuka mulutnya cukup besar saking kagetnya dan tidak menduga Akira akan menyetujui mengikuti lomba olimpiade matematika yang dia tawarkan setelah mendapatkan banyak sekali penolakan dari Akira selama ini.