Love In High School

Love In High School
Kesal Pada Akira



"Ta..tapi kan Bu...ibu itu tahu sendiri aku itu...." Ucap Sela tertahan karena ibu guru Yuni langsung memotong ucapannya dan tidak memberikan kesempatan kepada Sela untuk membela diri atau melawan sedikitpun saat itu.


"Aishhh..sudahlah...waktunya kalian pulang semuanya sudah di tentukan dan tidak ada yang bisa protes apalagi mengubahnya termasuk kau Sela!" Ucap ibu guru Yuni menatap tajam memberikan peringatan yang mirip seperti sebuah ancaman bagi Sela.


Sela hanya bisa menatap ke arah ibu Yuni dengan wajahnya yang sangat tidak terima atas semua ucapan yang dikatakan oleh ibu guru Yuni saat itu, dia sungguh tidak bisa menjadi asisten belajar seorang Akira yang sangat menyebalkan dan selalu membuat dia jengkel setiap saat, terlebih lagi sikapnya yang sangat misterius juga membosankan bagi Sela.


Sehingga ketika jam pelajaran sudah selesai dan semua murid berhamburan keluar Sela segera berlari berusaha menghentikan ibu Yuni saat itu juga.


"Ibu...tunggu Bu...ibu Yuni tunggu hah...hah...ha...hah" ucap Sela dengan nafas yang menderu memanggil ibu Yuni dan menghentikannya dengan segera saat itu.


"Ada apa lagi Sela? Kau ini selalu saja membuat ibu kelimpungan dan selalu membuat kepala ibu pusing" ucap ibu guru Yuni yang sudah menggerutu padahal Sela sendiri belum mengutarakan apapun kepadanya saat itu.


"Aih...ibu Yuni kau ini kenapa sangat sensitif sekali denganku, belum juga aku mengatakan apapun padamu kau sudah langsung marah marah tidak jelas seperti itu kepadaku" gerutu Sela pelan saat itu sambil memonyongkan bibirnya berbicara cukup kecil.


"Aish ...ya sudah ayo cepat katakan, kau mau apa memanggil ibu?" Balas ibu Yuni dengan cepat,


"Bu...tolonglah kau cari saja orang lain untuk jadi asisten orang aneh itu, aku tidak ingin menjadi pendamping dia dalam belajar, aku janji padamu aku akan belajar dengan lebih giat lagi aku akan terus belajar tanpa henti bersama Anet dan teman-teman yang lainnya aku sungguh bisa lulus dengan nilai di atas KKM kok Bu" ucap Sela memohon kepada ibu Yuni dengan memperlihatkan wajahnya yang menyedihkan saat itu.


Sayangnya ibu Yuni sudah tidak bisa mengubah keputusan tersebut meski dia sendiri sebenarnya juga tidak setuju jika harus ada asisten belajar seperti ini, lagi pula seorang Akira yang jenius tidak membutuhkan asisten dalam belajar apalagi orang yang memiliki nilai buruk seperti Sela ini.


"Dasar anak ini, jika bukan karena permintaan Akira sendiri, aku juga tidak ingin melibatkan orang ini, aishhh sangat menjengkelkan sekali" batin ibu guru Yuni yang sudah tidak tahan lagi dalam menghadapi Sela yang keras kepala dan terus membujuk dia saat itu.


Dengan cepat ibu guru Yuni langsung menarik tangannya yang di genggam oleh Sela dia juga bicara dengan tegas dan keras pada Sela agar Sela tidak kembali datang menemui dirinya untuk membahas mengenai masalah itu lagi ataupun mencoba mengubah keputusan yang sudah dia buat saat ini.


"Lepaskan tanganku, sudahlah kau sebaiknya sekarang pergi kembali ke kelas percuma saja kau datang mengejar ibu dan membujuk seperti ini, itu sudah keputusan sekolah dan bahkan dari pusat kau tidak bisa membantahnya dan ibu juga tidak bisa membantumu, sana pergi saja jangan sampai kau menemui ibu dan membahas masalah ini lagi" ucap ibu Yuni memberikan peringatan kepada Sela saat itu.


Tetapi Sela yang pada dasarnya memang memiliki hati juga karakter yang keras kepala dia sama sekali tidak takut dengan peringatan yang di berikan oleh ibu Yuni saat itu, sehingga disaat ibu guru Yuni hendak pergi melanjutkan langkahnya Sela masih sempat memanggilnya lagi dan berusaha menahan dia lagi saat itu.


"Ehh...Bu tunggu tapi Bu, aku sungguh tidak bisa melakukan semua ini" ucap Sela yang masih berani berbicara dengan ibu Yuni.


"Sela apa kau tidak mengerti juga dengan apa yang sudah ibu katakan kepadamu sedari tadi hah? Jika kamu terus mencoba mengganggu ibu lagi, akan ibu pastikan surat DO dari sekolah akan ibu kirim pada nyonya Choi hari ini juga!" Ancam ibu guru Yuni yang sudah kehabisan kesabaran saat itu.


Sela yang mendengar ibu guru Yuni melontarkan ancaman sangat menakutkan seperti itu kepadanya dia langsung bergidik ngeri dan mulai takut ketika mendengarnya, Sela pun langsung saja menunduk dengan lesu dan meminta maaf sambil segera mempersilahkan ibu guru Yuni untuk pergi melanjutkan langkahnya saat itu juga.


"Baiklah... baiklah silahkan ibu pergi dan jangan sampai meluncurkan surat pengeluaran diri untukku, aku masih ingin lulus dengan damai" balas Sela saat itu.


Ibu guru Yuni terlihat berdecak kesal bahkan menghentakkan kakinya cukup keras saat itu, sambil langsung pergi dari sana dengan cepat juga terus menggerutu kesal dan mengacak rambutnya sendiri saking kesalnya menghadapi Sela.


"Aaarrkkhh...dasar anak itu selalu saja membuat kepalaku stress aahhh jika saja dia bisa cepat lulus dan aku tidak perlu menjadi wali kelasnya aku akan sangat bahagia menjalani hari-hariku di sekolah" gerutu ibu Yuni sambil berjalan di penuhi emosi dan kekesalan.


Bahkan ibu guru Yuni tidak memperdulikan sedikit pun bagaimana dengan perasaan Sela yang saat itu jelas sekali bisa mendengar gerutuannya tersebut yang cukup keras, bahkan tidak hanya Sela saja tetapi Kiko dan Anet juga bisa mendengar gerutuan dari ibu guru Yuni saat itu karena mereka juga mengintip Sela sejak awal di balik pintu kelasnya saat itu.


Hingga ketika melihat ibu guru Yuni sudah benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi dari sana, barulah Anet dan Kiko berjalan menghampiri Sela juga segera menghibur dirinya yang terlihat sangat murung juga cukup menyedihkan saat itu.


"Sela.....sudahlah jangan terlihat menyedihkan seperti ini aku jadi ikut sedih jika kamu tidak ceria begini" ucap Anet sambil memeluk Sela dengan erat.


Sayangnya Sela sungguh tidak bisa menahan rasa kesal dan sedih di dalam dirinya dia langsung saja menatap ke arah Akira yang saat itu justru berjalan keluar dari kelas melewati dia yang sudah menderita dengan santainya saat itu.


"Sela sudahlah kau juga memiliki keuntungan dengan mengikuti ucapan dari ibu guru Yuni" tambah Kiko berusaha memberikan sedikit pencerahan bagi Sela.


Namun sayangnya Sela sama sekali tidak membutuhkan hal itu dari Kiko sehingga langsung saja matanya menatap tajam sangat menyeramkan kepada Kiko hingga membuat Kiko langsung merasa takut dan bergidik ngerti dibuatnya.


Kiko yang mendapatkan tatapan maut dari Sela dia langsung saja memalingkan pandangan matanya ke arah lain sambil bersiul seakan dia tidak pernah mengatakan apapun dan tidak berurusan apapun dengan Sela sebelumnya.


Sampai Akira berjalan melewati mereka semua membuat Sela sangat kesal hingga mengerutkan kedua alisnya begitu juga dengan Kiko yang menatap penuh keheranan dengan tingkah Akira yang sama sekali tidak pernah melihat situasi saat itu.


"Ehhh....berani sekali dia berjalan melewati Sela yang sedang kesal dan di penuhi emosi seperti itu, padahal anak-anak yang lain memilih jalan belakang untuk pergi" gerutu Bimo pelan.


Akira yang mihat Sela menghentikan langkahnya bahkan sampai memotong jalannya dia segera saja berbalik mencari jalan lain dan sama sekali tidak memperdulikan Sela sedikitpun saat itu, sampai Sela yang melihat hal tersebut dia sangat tidak terima dan kembali berdiri di hadapan Akira lalu memotong jalannya lagi.


"Berhenti! Mau kemana kau hah, seenaknya saja berjalan melewati aku tanpa rasa takut sedikitpun seperti tadi, apa kau sengaja mengejek aku hah?" Ucap Sela dengan nada yang sedikit membentak saat itu.


"Ada urusan apa kau menghalangi jalanku, ini jalanan umum bukan milik nenekmu, minggir!" Ucap Akira kepada Sela saat itu.


Anet dan Kiko membuka mata mereka dengan sangat lebar, betapa kagetnya mereka berdua mendengar Akira sangat berani mengatakan hal seperti itu kepada Sela dan perkataannya tersebut sangat lantang sekali juga terkesan seperti menantang seorang Sela.


Sela langsung saja menatap tajam kepada Akira dan dia langsung berjalan mendekati Akira dengan perlahan juga langsung mendesaknya hingga Akira terhantuk ke dinding dan dia tidak bisa kabur kemanapun lagi saat itu, Sela tersenyum sinis sekilas saat melihat Akira sudah tersentak ke dinding.


Lalu Sela langsung menepuk dinding itu dengan tangannya yang berada tepat di samping kepala Akira saat itu, membuat Kiko dan Anet yang melihatnya langsung saja menutup mulut mereka yang terbuka dengan kedua tangannya mihat Sela yang berbuat seberani itu kepada Akira.


Sela juga melirik ke arah Anet juga Kiko dan dia tersenyum kecil merasa dirinya telah berhasil mendesak seorang Akira dan membuatnya takut tidak berkutik di hadapannya saat ini, Sela tersenyum penuh kebanggaan apalagi saat mihat ke arah kedua sahabatnya yang terlihat memandang kaget juga sangat kagum kepada dirinya saat itu.


"Hey...kalian berdua tidak perlu melihat aku sampai seperti itu, ini hal mudah untuk membuat orang sepertinya takluk denganku" ucap Sela penuh percaya diri dan sangat bangga saat itu.


Tanpa dia sadari bahwa sebenarnya saat itu Kiko dan Anet sama sekali tidak kaget dengan perbuatan yang Sela lakukan kepada Akira karena mereka sudah terlalu biasa melihat pemandangan tersebut selama ini, tetapi yang membuat mereka kaget sampai menutup kedua mulutnya adalah ketika melihat Akira yang justru malah kabur dengan menunduk ke bawah tangan Sela yang menyentuh dinding saat itu sehingga dia bisa berjalan keluar dari desakkan Sela dan terus meninggalkan Sela semakin jauh tanpa rasa bersalah atau rasa takut sedikitpun saat itu.


"Se..Se...Sela bukan itu yang membuat kita kaget" ucap Kiko sambil berbicara dengan gugup karena takut untuk memberitahu Sela yang sebenarnya saat itu.


"Lalu apa jika bukan itu?" Balas Sela balik bertanya dengan penasaran.


Padahal dia sendiri sudah sangat percaya diri dan tahu bawah sekarang Akira berada di hadapannya tepat tersentak dengan tangannya dan tidak bisa kabur ke manapun saat itu.


"I...i..itu Sela lihatlah ke depan, cepat Sela!" Tambah Anet menyuruh Sela agar melihat ke depan


Sela segera memalingkan pandangannya ke depan tempat dimana Akira berada sebelumnya namun dia benar-benar tidak menemukan siapapun di hadapannya saat itu dan saat dia melirik ke sana kemari mencari keberadaan Akira dia justru malah melihat Akira yang berjalan dengan santai hampir keluar dari lorong kelas saat itu.


"Ehhh....kemana dia?" Ucap Sela yang sangat kaget mengetahui Akira sudah menghilang di hadapannya dengan cepat saat itu.


"Aishhh...dia mau kabur ternyata beraninya dia malah mempermalukan aku begini, awas saja kau, hey... Akira tunggu kau aku belum selesai berurusan denganmu!" Teriak Sela yang langsung saja mengejar Akira dengan kencang saat itu.


Sela langsung saja mengejar Akira dengan mengabaikan kedua sahabatnya saat itu yang belum selesai untuk berbicara dengannya.


"Eh ...eh...ehh...Sela kau mau kemana kita belum selesai bicara" teriak Kiko saat itu.


Anet segera menghentikan Kiko dan memintanya agar membiarkan Sela menyelesaikan urusannya dahulu dengan Akira sebab mereka berdua juga tidak bisa membebaskan Sela atau membantunya agar terbebas dari perintah yang di ucapkan oleh ibu guru Yuni di dalam kelas sebelumnya.


"Kiko tunggu, sudahlah kita jangan mengganggunya, biarkan Sela menyelesaikan urusannya sendiri dengan Akira, dia tidak ingin menjadi asisten Akira kita harus memahaminya kita juga tidak bisa membantu apapun untuknya selain membiarkan dia menyelesaikan semua masalah ya sendiri" ucap Sela yang sudah lebih memahami dan mengerti posisi Sela sekarang.


Sedangkan Kiko yang masih saja tidak bisa terima di tinggalkan lagi dan di abaikan lagi oleh Sela dia merasa sedikit kesal meski Anet sudah menahannya dan memberikan dia sedikit pengertian saat itu untuk membiarkan Sela memiliki waktunya sendiri.


"Tapi Anet kita kan sahabat dari dia, seharusnya dia menghargai kita dan memberitahu kita apapun masalahnya, kita juga bisa membantu dia bukan" ucap Kiko yang masih saja tidak terima dan keras kepala sekali.


Menghadapi Kiko bahkan Anet saja sampai harus menghembuskan nafas kasar menahan emosi di dalam dirinya agar tidak sampai melukai Kiko, karena bagaimana pun dia adalah sahabat dirinya juga dan sahabat Sela sehingga Anet tidak mungkin melakukan hal yang terlalu keras kepadanya saat ini, meski dia sebenarnya sangat ingin menghajar Kiko.


"Huuuhh ...Kiko sudahlah sebaiknya sekarang kita pulang saja aku masih banyak pelajaran yang harus di selesaikan dan kau juga pulanglah, jangan mencoba untuk mengganggu Sela atau aku akan menjewer telingamu lebih kencang daripada yang sering Sela lakukan!" Ancam Anet kepada Kiko yang membuatnya langsung terlihat bergidik ngeri lalu segera mengangguk dengan patuh kepada Anet.


"Ahhh...iya iya...aku akan pergi, kau ini hanya bisa mengancamku sama dengan Sela, kemana Anet yang dulu baik dan aku cintai kau sudah tidak menyukai aku lagi yah?" Balas Kiko yang malah membawa hal lain dalam masalah tersebut.


Anet sudah sangat geram dan kesal menghadapinya sampai dia hanya bisa merotasikan kedua matanya saking kesalnya pada Kiko yang keras kepala.


"Kiko kau akan pergi kau aku yang akan menendang mu dari sekolah ini?" Ucap Anet menatapnya dengan tajam sambil menghentakkan kakinya terlihat seperti tengah melakukan pemanasan untuk menendang Kiko saat itu.