Love In High School

Love In High School
Ke Perpustakaan



"Bagaimana Sela ...kamu sudah mengerjakannya bukan?" Ucap Anet sambil menatap sedikit takut saat itu.


Seketika Sela langsung merengek dengan keras dan dia menjatuhkan kepalanya ke atas meja begitu saja, karena dia baru ingat bahwa semalam setelah dia memakan mie instan sendirian dia langsung tertidur dengan lelap dan melupakan tugasnya tersebut, sehingga jelas sekali bahwa dia sama sekali tidak mengerjakannya satu pun.


"Hua....aku tidak mengerjakannya, hiks...hiks.. bagaimana ini, aduhh...aku akan mati oleh ibu Yuni, Anet tolong aku bantu aku kau harus memberikan aku contekan huaa.." ucap Sela sambil menatap ke arah Anet dengan wajah sendunya,


"Ma..maa...maafkan aku Sela tapi aku tidak tahu apakah jawaban yang aku buat akan benar atau tidak, sebab jika saja kamu melakukan kesalahan satu saja itu akan patal dampaknya bagimu, apa kamu tidak masalah dengan itu?" Balas Anet kepada Sela,


"Tidak masalah, cepat kau berikan buku tugasmu padaku" balas Sela yang sudah tidak perduli dengan apapun lagi saat itu.


Anet pun segera memberikan buku tugas miliknya dan Sela membuka buku itu, betapa kagetnya dia ketika melihat tugas itu sangatlah banyak dan rumuhnya begitu panjang hingga menghabiskan satu lembar buku milik Anet yang mana tulisan Anet sangat rapih dan kecil, tapi tulisannya cukup berantakan dan hurufnya cukup besar-besar, tentu akan membutuhkan lebih banyak lembar bagi Sela ketika dia menyalinnya di buku tugas miliknya.


Dia kembali mengeluh dengan penuh kekesalan karena tidak bisa menulis jawaban serumit dan sebanyak ini dengan waktu yang tersisa dan sangat minim sekali saat itu, dia benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang.


"Huaa ...ini terlalu banyak, bagaimana aku bisa menyelesaikannya pasti waktunya tidak akan cukup, Anet....aku harus bagaimana sekarang" ucap Sela yang kembali mengeluh dengan penuh kebingungan dan cemas.


Sampai tidak lama bel masuk terdengar tepat ketika Akira kembali dari luar dan ibu guru Yuni juga masuk ke dalam kelas juga segera menyuruh semua siswa untuk mengumpulkan tugas sekaloh nya yang sudah di berikan oleh ibu Yuni beberapa hari lalu.


"Anak...anak..ayo kedepankan tugas kalian" ucap ibu guru Yuni saat itu.


Seketika semua siswa maju ke depan danenaruh buku tugas mereka sedangkan di sisi lain Sela langsung saling tatap dengan Anet dan Kiko dia benar-benar sudah sangat terlambat dan sudah pasti tidak akan bisa mengejar ke tertinggalan ini.


Sela pun memberikan buku tugas milik Anet kembali pada orangnya dan dia hanya bisa menunduk dengan pasrah karena sudah yakin akan mendapatkan hukuman yang besar dari ibu guru Yuni sekarang.


"Sela...matilah kau" ucap Kiko yang malah meledeki Sela.


"Aku benar-benar sudah mati sejak lama, aaahh tidak tau lagi harus melakukan apa, ini Anet aku kembalikan buku milikmu" ucap Sela dengan lesu.


Akira yang saat itu hendak mengumpulkan tugasnya ke depan dia segera mengurungkan niatnya karena melihat Sela yang menunduk lesu seperti itu di tambah dia melihat buku tugas Sela yang kosong melompong dan tidak sempat dia isi, dengan cepat Akira langsung mengangkat tangannya kepada ibu guru Yuni.


"Iya Akira ada apa?" Tanya ibu guru Yuni kepadanya karena Akira cukup di istimewa oleh ibu guru Yuni sebab dia adalah siswa yang akan mengikuti olimpiade.


"Bu aku ingin izin tidak masuk kelasmu karena aku ingin mempersiapkan diri untuk olimpiade di perpustakaan, bukankah ini sudah masuk persiapan hari pertama" ucap Akira kepadanya.


Ibu Yuni langsung mengingat hal itu dan dia pikir seorang siswa jenius seperti Akira juga tidak akan memiliki masalah jika dia bolos kelas dalam pelajarannya karena sudah bisa di pastikan Akira pasti akan bisa menyelesaikan semua soal yang dia berikan kepadanya nanti, sehingga dengan mudah ibu guru Yuni langsung mengijinkannya.


"Aahh . persiapan itu ya, baiklah Akira kamu boleh keluar dan belajar di perpustakaan disana memang tempat yang paling bagus untuk belajar" balas ibu guru Yuni dengan tersenyum lebar.


Dengan cepat Akira langsung menarik tangan Sela dan membuat Sela langsung bangkit berdiri dengan menatap heran kepada Akira dan wajahnya yang sangat kebingungan, bukan hanya Sela tetapi ibu guru Yuni yang melihat itu, dia juga langsung menghentikan Akira.


"AA..AA..ahhh..hey ..kau mau membawaku kemana" ucap Sela merasa sangat heran,


"Akira tunggu!... Kenapa kamu menarik Sela seperti itu?" Ucap ibu guru Yuni kepada Akira yang membuat Akira kembali harus membalikkan badannya.


"Ibu Yuni apa ibu sudah lupa, jika Sela adalah asisten belajar saya, tentu dia harus ikut dengan saya karena tidak pernah tahu apa yang saya butuhkan saat belajar nanti, bukankah seorang asisten harus selalu berada di samping bos nya?" Ujar Akira membuat Anet dan Kiko terperangah kaget begitu juga dengan Sela sendiri yang membelalakkan matanya sangat lebar mendengar semua itu.


Seakan dia sekarang sudah menjadi asisten sungguhan bagi Akira padahal itu hanyalah seorang asisten bajar atau lebih tepatnya menjadi partner belajar saja bukan benar-benar menjadi asisten sungguhan untuknya.


Mendengar hal itu ibu guru Yuni juga cukup kaget dan dia tidak bisa mengijinkan Sela untuk terlepas dari kelasnya, terlebih ibu guru Yuni tahu bagaimana Sela dia harus mengikuti Kelasnya dalam setiap waktu.


"Akira...kau boleh keluar tetapi Sela harus berada di dalam kelas ini, dia harus mengikuti pelajaran dengan penuh karena nilainya sama sekali tidak bisa di tolong" ucap ibu guru Yuni kepada Akira dengan cukup tegas saat itu.


Tetapi Akira juga tidak mau kalah dia segera membalas ucapan ibu guru Yuni dan tetap saja mempertahankan agar dirinya bisa membawa Sela dengannya keluar dari kelas ibu guru Yuni.


"Jika begitu aku tidak akan belajar untuk olimpiade dan aku akan membatalkan semuanya" balas Akira mengancam ibu guru Yuni dengan sangat mengerikan.


Padahal saat itu Sela sudah sangat senang karena ibu guru Yuni melarang Akira untuk membawanya dan dia pikir dia lebih senang mendapatkan hukuman dari ibu guru Yuni daripada harus ikut dengan seseorang seperti Akira yang akan membuat dia semakin merasa kesal dan jengkel melebihi apapun.


Ibu Yuni tidak bisa jika membiarkan Akira menolak untuk belajar atau membatalkan niatnya untuk iku olimpiade tersebut sehingga dengan berat hati dan mengeluarkan nafas yang lesu ibu guru Yuni terpaksa mengijinkannya dan membiarkan Akira untuk membawa Sela keluar dari kelasnya.


"Baiklah mulai sekarang setiap pajaranku kalian berdua bisa keluar untuk mempersiapkan olimpiade dan kau Sela kau harus membantu Akira dengan sungguh-sungguh jangan mengganggu dia atau membuatnya tidak fokus, jika kau membuat masalah maka siap-siaplah kau akan keluar dari sekolah ini dan tidak akan lulus!" Ucap ibu guru Yuni memberikan ancaman yang sangat tajam kepada Sela saat itu.


Mendengar ancaman dari ibu guru Yuni, tentu Sela sangat kaget dan membelalakkan matanya dengan sangat lebar, sebab sebelumnya dia sama sekali tidak pernah mendapatkan ancaman secara nyata dan semenyeramkan ini sebelumnya dari guru manapun.


"A..AA..apa? Bu kenapa rasanya ini sangat tidak adil untukku, kenapa ancamannya harus seperti itu?" Ucap Sela protes dengan keras.


Bahkan bukan hanya Sela saja yang keberatan dengan hal itu, tetapi Kiko juga turut andil tidak terima dengan keputusan yang di buat oleh ibu guru Yuni, dan dengan beraninya Kiko ikut bicara kepada ibu guru Yuni membela Sela.


Sela pikir pada awalnya Kiko membela dia dan dia menyetujui ucapannya sambil terus mengangguk setuju tetapi dia mulai sadar karena Kiko terdengar justru mah merendahkan dia bukan benar-benar ingin menolong dia saat itu.


"Benar katakanlah...tapi ehhh.. tunggu! Kiko kau sebenarnya membelaku atau menghinaku hah?" Bentak Sela menatap dengan kesal dan sangat gemas pada Kiko,


"Aahaha...maafkan aku Sela, aku kan hanya mengatakan faktanya saja" balas Kiko sambil tersenyum kecil menanggapi balas dari Sela saat itu.


"Aishh...sudah...sudah, Kiko jika kamu bicara lagi ibu akan memberikan hukuman kepadaku, dan kau Sela segeralah kamu pergi dari sini sebelum ibu berubah pikiran, ayo cepat keluar dan temani Akira untuk belajar di perpustakaan" ucap ibu guru Yuni menghentikan semua perdebatan tersebut.


Sela tidak bisa menolak lagi dan dia tidak bisa melakukan apapun, hanya bisa pasrah dan membiarkan Akira menarik tangannya membawa dia keluar dari kelas tersebut namun setelah keluar dari kelas dengan cepat Sela langsung saja menghempaskan tangannya yang di gandeng oleh Akira karena dia sangat kesal dan emosi kepadanya.


"Eughh...lepaskan tanganku, aku bisa berjalan sendiri" ucap Sela dengan kesal.


Akira hanya menatapnya sekilas dan dia terus berjalan menuju perpustakaan saat itu, sedangkan Sela terus berjalan di belakangnya dengan penuh emosi dan kekesalan, dia terus menggerutu dengan keras dan sepuasnya kepada Akira karena dia tidak bisa menerima semua perlakuan yang sudah di lakukan oleh Akira kepadanya.


Hingga membuat dia harus terjebak ke dalam hal yang sangat tidak dia sukai seperti ini, harus pergi ke perpustakaan yang sangat sunyi dan sudah pasti tidak akan ada siapapun disana pada jam pajaran seperti ini, membuat Sela sangat sebal dan dia tidak bisa menerima semua itu sebab tidak ada persetujuan terlebih dahulu darinya.


"Dasar Akira sialan, menusia menjengkelkan, jenius apanya dia manusia aneh dan sangat menjengkelkan, aarghhh...aku ingin menghajar kepalanya itu, seandainya aku bisa eeughh" gerutu Sela sambil terus berniat menepuk kepala Akira dari belakang.


Sebenarnya Akira sendiri tahu bahwa saat itu Sela tengah menggerutu merutuki dirinya dengan semua bahasa yang kasar dan cukup membuat dia kesal di belakangnya bahkan Akira bisa mengetahui dimana Sela terus berlagak untuk menghajar dia, tetapi Akira tetap diam saja karena dia tahu, bahwa Sela tidak akan pernah bisa melakukan hal itu secara nyata kepadanya.


"CK...hanya berani menggerutu di belakang, dasar wanita bar bar kurang kerjaan" gerutu Akira pelan.


Sela terus menggerutu sendiri hingga dia tidak sadar bahwa saat itu ada anak-anak tim basket yang tengah bercanda ria dan berjalan melewatinya hingga tidak sengaja menabrak tubuh Sela dan membuat Sela terjatuh ke tanah dan membuat kakinya tergores saat itu.


"Brukk....aduhh..." Ucap Sela meringis merasakan sakit di kakinya.


Pria yang menabrak Sela langsung saja mengulurkan tangannya hendak membantu Sela berdiri sambil meminta maaf kepadanya karena sudah membuat Sela jatuh tersungkur ke tanah cukup keras seperti itu.


"Ohh ..maafkan aku, tadi aku tidak sengaja menabrak mu, ayo aku bantu kau berdiri" ucap kak Jey saat itu.


Dia adalah seorang ketua tim basket dan dia satu angkatan denganku namun usianya lebih tua satu tahun dariku, dia adalah ketua tim basket yang paling keren di sekolah ini bahkan dia selalu di idamkan oleh semua wanita dan banyak sekali wanita yang selalu menonton pertandingan basketnya, dia memiliki keistimewaan dari sekolah karena dia selalu menyumbangkan banyak sekali penghargaan yang membanggakan dan mengharumkan nama sekaloh lewat keterampilannya dalam bermain basket dan selalu menjadi juara dalam setiap perlombaan yang dia ikuti selama ini.


Dia sungguh pria yang sangat berbakat dan Sela yang mihat itu dia sungguh kaget terperangah melihat seorang idola kampus mau mengulurkan tangan padanya dan membantunya untuk berdiri saat itu, Sela bahkan terus menatapnya dengan lekat.


Sedangkan Akira yang mihat Sela hanya diam termenung saja dia terlihat mengerutkan kedua alisnya dan langsung saja menarik tangan Sela dengan kasar hingga membuat Sela langsung berdiri dengan cepat tanpa menerima uluran tangan dari kak Jey saat itu, dan perlakuan Akira kepadanya membuat Sela sangat kesal karena akibat Akira yang menarik tangannya dia tidak bisa menyentuh tangan kak Jey yang sangat di idamkan semua orang di sekolah saat itu.


"Heh..ayo cepat berdiri kenapa kau malah mematung seperti itu, apa otakmu juga terbentur karena jatuh barusa , dasar idiot" ucap Akira sambil menarik tangan Sela dengan paksa.


"A..AA..ahhh..lepaskan lepaskan, kenapa kau malah membantuku berdiri sih!" Bentak Sela dengan keras kepada Akira.


Sedangkan Akira sendiri yang tidak mengerti apa yang terjadi pada Sela dia hanya menatapnya dengan menaikkan sebelah alisnya dan merasa sangat heran saat itu.


Namun untunglah disaat itu kak Jey langsung mengajak bicara Sela lagi dan menanyakan keadaannya kepada Sela.


"Hey...apa kau baik-baik saja? Tadi aku sungguh tidak sengaja menabrak mu" ucap kak Jey berbicara lagi kepada Sela.


"Aahh ..tida masalah aku baik-baik saja, ah...aku hanya sedikit kaget saja, aku baik-baik saja tidak perlu cemas" balas Sela sambil tersenyum ramah kepada Jey.


Sangat berbeda sekali dengan cara bicara dia terhadap Akira dan kepada temannya yang lain, itu membuat Akira menatap ya dengan heran dan kebingungan bahkan Akira sampai berdecak kesal sendiri dan dia segera pergi meninggalkan Sela lebih dulu pergi ke perpustakaan saat itu, karena dia sangat tidak suka melihat Sela bersikap so asik dan ramah pada pria yang membawa bola basket di sebelah tangannya saat itu.


"CK...dia sangat ramah dan terlihat seperti wanita yang baik kepada pria itu, berbeda sekali dengan cara dia bicara denganku, memang gadis bar-bar konyol" gerutu Akira saat itu.


Dia segera pergi dari sana tanpa memberitahu Sela sedikitpun, sedangkan Sela sendiri terus mengobrol dengan Jey dan dia terus mengataka bahwa Jey tidak perlu mengobati luka goresan di lututnya saat itu, karena dia merasa sangat baik.


Tetapi Jey yang memang terkenal baik dan cukup playboy dia terus bersikap baik kepada Sela dan meski Sela menolaknya dia tetap saja berjongkok lalu menempelkan plester miliknya kepada lutut Sela dengan lembut saat itu.


"Sudah...ini hanya sebuah plester itu tidak akan menjadi masalah jika aku menempelkannya di lututmu bukan?" Ujar Jey kepada Sela saat itu.


Sela pun tersenyum kecil dan dia berterimakasih kepada Jey segera.


"Aahh .. terimakasih padahal kau sungguh tidak perlu melakukan ini kepadaku, aku menjadi merasa tidak enak, kalau begitu pergi dulu ya, temanku pasti menunggu lama" ucap Sela saat itu.


Jey pun pergi bersama dengan teman-temannya yang lain sedangkan disaat Sela berbalik hendak menatap Akira yang dia pikir masih ada di belakangnya, dia kaget melihat tidak ada siapapun disana, begitu juga dengan Akira yang sudah tidak ada di sekitar sana.