
"Brakk...." Suara meja yang di gebrak oleh Sela sangat kencang bahkan dia sendiri sampai meringis kesakitan merasakan telapak tangannya yang memerah sakit kerasnya di menggebrak meja miliknya itu
.
"AA..aaaaw....aishh.... berhenti kalian menatapku seperti itu, atau aku akan mencokel semua mata kalian sampai keluar dari kelopaknya apa kalian mau hah!" Bentak Sela sangat keras dan mengancam.
Seketika semua teman-teman di dalam kelas itu langsung memalingkan pandangan ke depan dan mereka kembali berpura-pura menyibukkan diri mereka sendiri untuk menghindari amarah dari Sela yang sangat menyeramkan dan membuat semua orang yang ada di dalam kelas itu takut kepadanya.
Sedangkan Anet justru malah mendekati Sela dan dia langsung memegang kedua pundak Sela dan menenangkan dia sambil menyuruhnya untuk segera duduk di kursinya kembali dengan tenang saat itu.
"Aduhh.... Sela sudah jangan marah seperti itu lagi, ayo kau duduk dahulu dan lihat tanganmu sampai merah seperti itu karena kamu tidak bisa menahan emosiku barusan, coba sini biar aku lihat dulu" ucap Anet yang sangat perhatian dan mencemaskan tangan Sela.
Sedangkan disisi lain Kiko justru malah terus menatap Sela dengan heran dan kaget, dia masih merasa tidak menyangka bisa melihat seorang Sela sahabat dia sejak kecil yang tidak pernah memakai rok kali ini untuk pertama kalinya dia memakai rok pendek sekolah dan memakai seragam lengkap dengan rapih.
Kiko langsung berjalan mendekati Sela dan dia bahkan menggeser Anet yang saat itu tengah memeriksa kondisi telapak tangan Sela yang memerah dan sedikit memar.
"Aahh... Minggir dulu Anet ini sesuatu yang aneh dan sebuah keajaiban pada sahabat kita Sela, wah... Wah... Sela apa kamu baik-baik saja hari ini, atau apakah ada yang menekan dirimu atau memaksamu untuk memakai seragam dengan serapih ini?" Tanya Kiko yang sangat penasaran dan dia terus saja mencari tahu masalah itu kepada Sela,
Sela langsung memalingkan pandangannya kepada Kiko dengan tatapan matanya yang tajam dan dia mengeratkan giginya dengan kuat, saat melihat Kiko yang justru malah menatap dia dengan tatapan seperti itu, juga ucapan yang sangat menyinggungnya, tentu saja Sela sangat tidak terima dengan hal tersebut dan dia langsung saja merasa sangat kesal kepadanya.
"KIKO, DASAR KAU BRANDAL SIALAN! aishh... Kemari kau!" Teriak Sela sangat kencang membuat semua orang merinding mendengar teriakkan ya itu, bahkan Kiko sendiri langsung kabur terbirit-birit keluar dari kelas.
Namun sayangnya disaat Kiko hendak berlari keluar kelas dia tertahan karena guru mata pelajaran pertama sudah datang saat itu dan menyuruh semua siswa kelas tersebut untuk masuk ke dalam kelas karena pelajaran akan segera di mulai.
Kiko terpaksa kembali masuk ke dalam kelas bersamaan dengan guru tersebut karena dia merasa takut dengan amarah Sela yang terlihat sangat besar dan membara di dalam tubuhnya saat itu, sehingga Kiko juga menggeser mejanya agar tidak terlalu dekat dengan Sela karena dia merasa sangat takut saat itu.
Sela menatap tajam dengan mengepalkan kedua lengannya dengan kuat kepada Kiko.
"KIKO awas kau, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah!" Ancam Sela dengan tatapan tajam membunuh kepada Kiko saat itu.
Seketika Kiko sampai kesulitan menelan salivanya sendiri saking takutnya mendapatkan tatapan tajam yang menusuk dan ancaman yang sangat membuat dia merinding mendengarnya, dia pun segera meminta maaf dengan menangkupkan kedua tangannya diatas meja ke pada Sela saat itu karena dia sudah tidak sanggup lagi jika harus berlawanan dengan seorang Sela yang jelas ditakuti seluruh teman sekelasnya karena dia bisa bela diri meski seorang perempuan.
"Ahaha... Sela maafkan aku, tadi itu aku hanya kaget dan syok saja melihat perubahanmu, sudah lupakan saja ucapanku tadi kita kan harus belajar sekarang, iya kan Sela yang baik dan cantik, ya aku tahu aku salah aku minta maaf padamu" ucap Kiko sengaja membujuk sambil meminta maaf kepada Sela.
"Kau pikir aku orang bodoh sepertimu hah? Aku tidak akan terbuai dengan ucapan manismu itu, aku akan tetap memberimu hukuman atas ucapanmu yang menyinggungku barusan, awas saja kau!" Balas Sela yang masih saja tidak memaafkan Kiko kala itu.
Anet juga tidak bisa melakukan apapun lagi dan dia hanya bisa kembali duduk ke kursinya sambil menghembuskan nafas dengan kasar sebab dia sudah terbiasa melihat kedua sahabatnya itu bertengkar bahkan ada yang lebih parah dari pada saat ini.
"Aishhh... Mereka mulai bertengkar lagi, aku sangat bosan melihat mereka berdua dan selalu harus menjadi penengahnya" ucap Anet pelan.
Kiko juga meminta perlindungan dari Anet karena dia sudah tidak bisa membujuk Sela dengan caranya sendiri dan hanya bisa merasa ketakutan sepanjang pelajaran berlangsung saat itu.
"Anet .. tolong bantu aku... Syuutt.... Anet apa kau tidak mendengarkan aku, Anet kau satu-satunya harapanku aku mohon padamu Anet" ucap Kiko yang terus mengganggu Anet di saat jam pelajaran sudah di mulai dan guru tengah menerangkan di depan sana.
Anet tetap saja diam dan mengabaikan bisikan dari Kiko saat itu, dia sama sekali tidak ingin menjawabnya karena tengah fokus mencatat hal penting yang di bicarakan oleh sang guru mata pelajaran saat itu, sedangkan di sisi lain Sela juga diam-diam memperhatikan Anet yang tengah mencatat pelajaran di depan, dia memperhatikan bagaimana cara orang-orang disana bisa membuat catatan di bukunya masing-masing saat itu.
Namun sayangnya jarak bangku Anet dan dia agak terlalu jauh, sehingga Sela tidak bisa melihatnya dengan benar dan dia pun beralih menatap ke sampingnya dimana saat itu dia melihat pria misterius yang selalu mengenakan topi hitam tersebut terus mencatat sama dengan apa yang di lakukan oleh Anet saat itu.
Dia pun segera berusaha mencari tahu lewat anak laki-laki yang duduk satu meja dengannya karena itu jauh lebih dekat daripada harus melihat pada Anet yang jaraknya terhalang cukup jauh darinya.
Sela terus berusaha melirik ke arah buku catatan dan mencari tahu apa saja yang Akira catat di bukunya tersebut, namun sayangnya karena Akira memang seorang anak yang tertutup, itu membuat Sela kesulitan untuk mihat apa yang dia catat saat itu hingga membuat Sela merasa kesal dan jengkel di buatnya, sebab masih belum berhasil juga untuk melihat catatan tersebut.
"Aishh... Apakah kau harus sepelit itu denganku, aku ini teman sebangkumu kenapa kau menutupi catatanmu begitu, aku juga ingin lihat, aku ingin mencatat apa yang ada di papan tulis juga" ucap Sela kepada Akira sampai tidak lama Akira langsung membukakan bukunya begitu saja pada Sela.
"Kenapa kau tidak bilang jika ingin mencatatnya" balas Akira saat itu.
Sela langsung terperangah kaget dan dia tidak menduga bisa mendapatkan catatan dengan semudah itu, dia perlahan tersenyum senang dan langsung saja mencontek catatan dari depan yang tidak bisa dia lihat dengan jelas karena terhalang beberapa meja di depannya, sehingga dia melihat dari Akira dan mencatatnya di buku catatan milik dia sedikit demi sedikit.
"Wahhh... Kau mau memberikan aku contekan catatan ini? Ehehe.. terimakasih pria konyol" ucap Sela sambil mengusap kasar kepala Akira begitu saja.
Yang membuat Akira langsung merasa heran dan dia merasa sedikit aneh ketika Sela melakukan itu kepadanya, itu adalah pertama kalinya ada seseorang wanita yang mengusap kepala dia dengan cara yang sama persis seperti gadis kecil di masa lalu yang pernah menolong dia dari anak-anak lain yang membully dia di taman hiburan kala itu.
Sehingga Akira terperangah diam sambil menatap wajah Sela yang terlihat tersenyum senang dan mulai fokus mencatat catatan dari bukunya.
"Aneh... Kenapa aku merasa damai dan tenang saat dia mengusap kepalaku seperti tadi, apakah jangan-jangan dia...." Gumam Akira memikirkan.