Love In High School

Love In High School
Bertemu Gadis Kecil



Namun disaat Sela hendak keluar dia baru ingat dengan apa yang dilakukan oleh Akira kepada dirinya saat dia pulang sekolah saat itu, sehingga ketika mengingat hal itu Sela kembali berbalik dan masuk lagi ke dalam toko ruang baca tersebut sambil menggerutu dengan keras tanpa henti.


"Ehh ..tunggu, sepertinya aku melupakan sesuatu pada manusia aneh itu, aaahh....iya dia sudah hampir menabrakku sebelumnya, benar-benar sangat menjengkelkan! Aishh...aku harus memberi dia pelajaran dahulu, tunggu saja kau ya" gerutu Sela sambil melipatkan tangan seragamnya saat itu.


Padahal ini sudah malam tapi Sela sama sekali belum berganti pakaian dan dia terus melampiaskan emosi di dalam dirinya yang sudah dia pendam sejak lama sedari tadi, Sela langsung masuk dan dia membuka pintu dengan sangat keras sambil terus saja berjalan dengan langkah kaki yang sangat besar dan nafas menderu menahan emosi di dalam dirinya saat itu.


"Hah...hah...hah.... AKIRA!" Teriak Sela sangat kencang sambil menatap tajam kepada Sela dan suaranya yang sangat menyeramkan saat itu.


Namun Akira sama sekali tidak merasa takut dengan apa yang Sela perlihatkan kepadanya, bahkan saat itu Akira hanya menoleh sesaat sambil berdecak pelan menanggapi teriakkan dari Sela yang memanggil namanya saat itu lalu dia kembali fokus membaca buku komik yang ada di tangannya saat itu.


"CK ...dasar orang gila" celetuk Akira saat itu.


Sela yang mendengar ucapan tersebut dia langsung saja membelalakkan mata dengan sangat lebar dan terus saja membentak dia dengan sangat keras sambil mulai mendekatinya lebih cepat lagi sampai merampas buku komik yang ada di tangan Akira saat itu.


"Aishh.....sialan, berani sekali kau malah berbicara dan mengatai aku seperti itu, sialan kau" ucap Sela sambil segera berjalan semakin mendekatinya.


"Heh...Akira beraninya kau mengatai aku gila, kau yang gila. Apa kau tidak sadar dengan apa yang sudah kau lakukan kepada aku juga pada teman-temanku tadi siang, kau sangat sialan dan beraninya mau menabrak aku dengan sepedanya, apa maksudmu melakukan semua itu hah?" Bentak Sela sambil menarik buku komik yang dibaca oleh Akira saat itu.


Walau sudah di bentak dan di marahi oleh Sela sampai sekeras itu tetap saja Akira sama sekali tidak merasa takut atau apapun kepada Sela, dia malah menatap dengan tatapan dingin yang menusuk kepada Sela menampakkan wajahnya yang masih merasa kesal dengan Sela, sebab kajadian sebelumnya dimana Akira mendengar gerutuan dari Sela kepadanya.


"Kenapa kau malah memberikan tatapan seperti itu padaku? Heh...yang salah itu kau harusnya aku yang memberikan tatapan kesal dan dingin seperti itu kepadamu, aku peringatkan kepadamu jangan berani-beraninya kau mengganggu temanku atau aku akan minggat dari sekolah aku tidak perduli jika aku tidak lulus selamanya aku lebih tidak akan sekolah lagi daripada harus berurusan dan menjadi asisten belajar orang sepertimu!" Bentak Sela sambil melempar komik itu ke samping Akira lalu dia langsung saja pergi dari tempat itu secepatnya.


Sela pergi dengan perasaan yang sangat kesal namun Akira justru merasa bersalah sekarang dia tahu mungkin saat itu Sela menggerutu dan membicarakan dia di belakang tetapi dia sadar bahwa perbuatan dia yang hampir menabrak Sela juga kedua temannya cukup berbahaya sebab dia dengan sengaja melakukan semua itu tanpa banyak berpikir terlebih dahulu, hanya mengikuti hatinya yang tengah kesal saja saat itu.


Sayangnya penyesalan Akira saat itu sudah terlambat, di saat Akira berlari keluar untuk mengejar Sela sayangnya Sela sudah tidak berada di sekitar sana, Akira tidak bisa menemukan Sela lagi saat itu.


Disisi lain Sela memang sudah pergi setiap kali dia kesal dan marah dia selalu berlari dengan kencang terus saja membuat kakinya melangkah dengan cepat ke segala arah tanpa tujuan yang jelas, Sela hanya tidak ingin membuat orang lain melihat dirinya dalam keadaan kacau dan marah seperti itu.


Bahkan sebelumnya Sela juga tidak benar-benar marah kepada Akira karena sebelumnya dia sudah melupakan mengenai hal tadi siang, hanya saja karena rasa kecewa dan kekesalan Sela terhadap ayah tiri juga ibunya yang tidak pulang juga ke rumah, itu yang membuat Sela kesal.


"Hiks...hiks...aku harus terus berlari hanya dengan lari aku bisa menghentikan tangisanku, sial...sial....hiks..hiks...berhenti menangis dasar bodoh, ada apa dengan air mata ini kenapa terus membasahi pipiku begini" gerutu Sela sambil terus mengusap air matanya terus menerus.


Dia menangis tanpa henti meskipun tanpa suara, tetapi air mata yang terus membendung di dalam matanya membuat Sela tidak bisa melihat jalanan dengan jelas dan dia berkali-kali terjatuh sampai membuat lututnya berdarah karena tergores pada aspal jalanan saat itu.


Tangannya juga tergores dia terlihat semakin berantaka dengan rambut yang sudah terurai acak-acakan dan pakaian yang kotor karena terjatuh beberapa kali ketika berlari, kini dia jatuh untuk yang ke sekian kalinya sampai dia tidak bisa berdiri lagi sebab kakinya yang terkilir saat itu.


"Aaaahhhh.... Brukkk" suara Sela yang jatuh di depan jalan penyebrangan saat itu.


Disana juga ada banyak orang yang bersiap untuk menyebrangi jalan, ada beberapa orang yang berniat untuk membantunya berdiri namun Sela menolaknya karena dia terus berkata bahwa dia baik-baik saja dan seakan tidak membutuhkan bantuan dari siapapun saat itu, sehingga Sela memilih untuk tetap duduk di sana sambil memegangi kakinya saat itu.


Hingga tidak lama kemudian, ketika lampu jalanan sudah berubah menjadi merah semua orang sudah bersiap melanjutkan jalannya dan menyebrang di trotoar, namun di dalam sebuah mobil yang tengah berhenti karena lampu merah seorang gadis kecil bernama Vivi mulai melihat Sela dia menunjuk ke arah Sela yang terduduk dan meringis memegangi pergelangan kakinya yang terkilir seorang diri di samping jalanan hendak menyebrang jalan saat itu.


"Paman...lihat itu paman....ayo keluar dan bantu kakak itu" ucap Vivi kepada pamannya.


Pria tersebut menatap ke arah yang di tunjuk oleh keponakannya tersebut sehingga dia langsung saja mengesampingkan mobilnya lalu mulai turun dari mobil dengan Vivi dan menghampiri Sela secepatnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Ucap pria tersebut menanyakan kondisi Sela saat itu.


Sela yang kaget karena ada seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya dan bertanya seperti itu kepadanya, sehingga Sela langsung menengadahkan kepalanya keatas dan kaget melihat ada Vivi juga pria sebelumnya yang dia temui beberapa waktu yang lalu.


"Eehhh...Vivi sedang apa kau disini?" Tanya Sela balik bertanya.


"Aku sangat merindukanmu kakak, dan aku tahu kamu dalam bahaya jadi aku datang untuk menyelamatkanmu, kenapa kamu duduk di tanah seperti ini dan kenapa memegangi kakimu apa kamu terjatuh?" Balas Vivi setelah memeluk Sela dan dia menghapuskan sisa air mata di pipi Sela saat itu.


"Aku...aku hanya sedikit tersandung saja, jangan cemas ya, aku ini kuat jadi tidak masalah jika aku sedikit kesakitan" balas Sela sambil terus tersenyum kepada Vivi.


Namun walau Sela sudah mengatakan hal tersebut untuk tidak membuat Vivi mencemaskannya tetap saja Vivi tidak bisa di bohongi, karena Vivi adalah gadis kecil yang pandai dan dia pun mengerti dengan maksud lain yang diucapkan oleh Sela saat itu sebab Vivi sudah sering mendengar kalimat seperti itu dari kedua orangtuanya ataupun dari pamannya yang lebih sering menjaga dia setiap saat.


"Kakak ..jangan menangis aku akan membawamu ke rumah sakit lihat kakimu berdarah, pakaianmu kotor dan tanganmu juga lecet, aku tahu itu menyakitkan untukmu jadi jangan berpura-pura kuat di hadapanku, kau wanita dan aku juga wanita jadi aku mengerti apa yang kamu katakan, paman ayo cepat bantu kakak menyedihkan ini" ucap Vivi membuat Sela terperangah dan tersenyum lebar mendengar ucapannya tersebut.


Sela kaget dan tidak menduga bahwa ada seorang gadis kecil yang sangat pendek dan wajahnya terlihat imut namun memiliki pemikiran lebih bagus di bandingkan orang dewasa, gadis kecil seperti itu bisa memahami dirinya dan bisa mengerti apa yang dia rasakan, padahal ibunya sendiri sama sekali tidak pernah memahami apa yang di rasakan oleh Sela selama ini.


Itu yang membuat Sela merasa kaget dan kagum dengan Vivi, pamannya juga segera mengulurkan tangan kepada Sela untuk membantunya, tidak lupa pria itu juga meminta izin terlebih dahulu kepadanya.


"Mari aku bantu kamu berdiri, izinkan aku untuk membantumu karena Vivi yang melakukannya, dia tidak akan pergi jika kamu tidak menerima bantuan dari kami" ucap pria tersebut seakan mengatakan bahwa Sela tidak bisa menolak pertolongan dari mereka saat itu.


Sela pun menerima uluran tangan dari pria yang berjas tersebut meskipun Sela tidak terlalu mengenalinya, namun disaat Sela hendak berdiri dia kembali meringis kesakita lagi dan tidak sanggup untuk berdiri hanya dengan memegangi tangan pria tersebut saja.


"Sssttt ...aaaahh" ringis Sela memegangi kakinya yang terasa nyeri ketika dia hendak berdiri saat itu.


Paman Vivi yang sangat peka dia langsung saja menggendong Sela begitu saja dan membuat Sela sangat kaget sedangkan Vivi sendiri justru malah tersenyum senang mihat hal tersebut, berbeda sekali dengan Sela yang langsung berontak kepada pria tersebut dan meminta agar dia segera menurunkannya.


"Ee....e..eehh...apa yang kau lakukan? Turunkan aku aishh aku bisa berjalan sendiri! Cepat turunkan aku!" Bentak Sela sambil menatap tajam dan menepuk pundak pria itu terus menerus tanpa henti.


"Hihihi...kakak, kau itu tidak bisa berjalan jadi biarkan pamanku ini untuk menggendongmu, dia cukup kuat kau jangan merasa cemas, paman ayo cepat bawa dia ke mobil" ucap Vivi kecil sambil segera berjalan di samping pamannya dan membiarkan Sela terus di gendong begitu saja sampai dia masuk ke dalam mobil.


"Sebaiknya kamu menurut saja kami bukan orang jahat dan sepertinya Vivi sangat perduli denganmu, kamu orang baik karena Vivi tidak pernah dekat dengan siapapun selama ini jadi aku mempercayai dirimu" ucap pria tersebut kepada Sela saat menurunkannya di dalam mobil saat itu.


Sela sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh pria tersebut dia hanya bisa terperangah lebar sambil membuka matanya terus menerus sampai Vivi ikut masuk ke bangku belakang dengannya dan gadis kecil itu terus saja duduk sangat dekat dengannya sambil menggenggam tangan Sela.


"Hah....ada apa ini, kenapa aku tiba-tiba disukai oleh anak kecil begini?" Gerutu Sela kebingungan.


Sedangkan pamannya Vivi hanya tersenyum mulai melajukan mobilnya dia hanya memeperhatikan tingkah Vivi yang selalu saja duduk mendekati Sela terus menerus dia juga sangat bawel dan begitu banyak bicara kepada Sela, kepribadian Vivi sangat berubah drastis ketika berada di samping Sela dengan ketika bersama dengan dia ataupun pada kedua orangtuanya.


"Kakak....apa tanganmu ini sangat sakit, aku tidak bisa mengobatimu tapi kita akan ke rumah sakit dan dokter bisa mengobatimu dengan baik, kau harus menuruti aku ya, kau harus jadi temanku karena aku sudah menolongmu sekarang" ucap Vivi kepada Sela.


Langsung saja Sela kembali kaget mendengarnya dia menatap sangat dekat kepada Vivi dan tatapan tajam juga kaget dari Sela membuat Vivi tertawa cukup keras karena dia pikir ekspresi dari Sela sangatlah lucu sekali ketika dia kagetan seperti itu.


"Hah? Jadi kau sengaja menolongku agar aku berhutang budi padamu dan kau bisa memaksa aku untuk menjadi temanmu, aishh kenapa kau sangat licik padahal kau masih sebesar biji jagung, aahhh kau membuat kepalaku akan pecah" balas Sela sambil memegangi jidatnya sendiri.


Vivi terus tersenyum memperhatikan tingkah Sela yang terlihat kesal dan jengkel dalam menghadapinya dan Vivi sangat menyukai Sela, dia bahkan memeluk Sela dan terus berbicara banyak hal kepada Sela yang semakin membuat Sela geran di buatnya namun dia harus tetap menahan emosi sekuat tenaganya karena dia tidak mungkin marah kepada bocah kecil seperti Vivi ini, meski dia sangat nakal dan terus membuat dirinya jengkel tanpa henti.


"Kakak...apakah kamu masih sekolah?" Tanya Vivi kepada Sela,


"Bocah lihatlah aku memakai seragam sekolah tentu saja aku masih sekolah, kenapa bertanya hal seperti itu, cukup kau terus menanyakan tentangku dalam banyak hal sekarang aku tanya padamu berapa usiamu dan kenapa kau sangat....sangat... cerewet seperti ini?" Balas Sela kepadanya.


"Aku berusia lima tahun dan aku cerewet karena aku memiliki mulut ahahaha" balas Vivi yang terlihat sangat senang karena dia lagi-lagi berhasil mengerjai Sela.


"Hah?....aishhh....kau benar-benar menguji kesabaranku, aahhh aku mulai merasa sangat kesal padamu, andai saja kau bukan anak kecil aku pasti sudah membentakmu sangat keras bahkan menendang mu dengan kakiku ini" balas Sela kepada Vivi saat itu.


"Untungnya aku anak kecil jadi kakak tidak akan melakukan semua itu kepadaku bukan?" Balas Vivi yang benar-benar membuat Sela sangat stress dalam menghadapinya.