
Dia sengaja melakukan itu untuk membuat Sela menuruti ucapannya dan mau menerima tawaran darinya, sedangkan disisi lain Sela terus mengerutkan kedua alisnya, dia baru ingat bahwa paman memang tidak pernah tinggal di tempat kerjanya itu.
Sela mulai merasa tidak memiliki pilihan lain lagi saat itu dan dia juga tidak mungkin tinggal atau tidur di luar gerbang yang sangat dingin, banyak nyamuk dan gelap seperti itu seorang diri di sepanjang malam, terlebih kaki dan tangannya juga masih sakit, dia tidak bisa tidur di tempat seperti itu.
Sehingga dengan penuh pertimbangan Sela pun menerima tawaran dari Akira dengan terpaksa karena memang tidak ada cara lain lagi yang bisa dia lakukan saat itu.
"Aaahhh....Akira tunggu! Aku akan tinggal di rumahmu untuk malam ini saja." Ucap Sela sambil berjalan menghampiri Akira yang menatapnya sambil menaikkan kedua alisnya saat itu.
Aku tersenyum kecil dan dia segera membantu Sela berjalan dengan memapah tubuhnya dan segera membawa Sela sampai masuk ke dalam rumahnya, Akira menyuruh Sela untuk tidur di kamar tamu yang ada di rumahnya saat itu, dan Sela menatap kagum melihat sekeliling rumah Akira yang begitu tertata rapih dan semua dindingnya berwarna putih bersih, berbeda dengan rumahnya yang agak berantakan karena jarang sekali di bersihkan sebab kedua orangtuanya sibuk bekerja dan dia juga tidak memiliki pelayan di rumahnya tersebut.
Kecuali rumah neneknya yang selalu rapih dan bersih hampir sama dengan keadaan rumah Akira yang dia lihat saat ini.
"Wahh...Akira ternyata rumahku besar juga, ada berapa kamar disini?" Tanya Sela kepadanya saat itu.
Sela mengatakan itu karena dia ingin tahu dimana dia akan tidur sebab tidak mungkin juga dia tidur di sofa, Sela takut dirinya akan jatuh dan membuat tubuhnya semakin remuk kesakitan karena hal tersebut.
"Ada tiga kamar, itu kamarku, dan sebrangnya adalah kamar tamu, yang tengah kamar ibuku, dia jarang sekali pulang karena dia selalu tinggal di apartemen, kau boleh tidur di kamar mana saja, semuanya terlihat sama, aku akan pergi ke kamarku kau bisa pergi sendiri bukan?" Ucap Akira yang langsung di anggukkan oleh Sela.
Saat Akira pergi ke kamarnya dengan segera Sela pergi ke kamar tamu dia tidak berani tidur di kamar ibunya Akira karena itu tidak sopan baginya, apalagi ini pertama kalinya dia menginap disana, dia tidak mau memberikan kesan yang buruk.
Sela mulai merebahkan dirinya dan dia segera beristirahat bahkan tanpa membersihkan dirinya dahulu karena dia tahu tidak ada pakaian ganti yang bisa dia kenakan dia hanya bisa mencuci wajah dan menggosok giginya saja saat itu.
Sela sedikit merasa aneh ketika tidur di kamar itu dia sama sekali tidak bisa tertidur karena terus saja merasa kesal dengan kedua orangtuanya tersebut, Sela terus menggerutu kesal tidak berhenti dan saking kesalnya Sela kembali terduduk di ujung ranjang dan memutuskan untuk pergi ke luar mengambil air saat itu.
"Aaahhh... benar-benar tuan Wen dan nyonya Choi itu, mereka sama sekali tidak memperlakukan aku dengan baik disaat aku sudah memutuskan tinggal dengan mereka sekarang, jika tahu begini sejak awal aku tidak ingin pindah ke rumah mereka, sudah lebih bagus aku tinggal di rumah nenek, besok aku akan segera pindah lagi, tidak perlu meminta izin kepada mereka." Gerutu Sela sangat kesal.
Dia bangkit berdiri dan keluar dari kamarnya berniat untuk mengambil air saat itu, Sela pergi mengambil air dan hendak kembali ke kamarnya namun tidak sengaja dia melihat pintu kamar Akira yang terbuka saat itu, sampai memperlihatkan Akira yang tengah duduk di meja belajar dengan bertumpuk buku yang cukup tebal disana.
"Ehh...apa dia masih belajar semalam ini?" Gerutu Sela sambil segera masuk ke dalam karena dia merasa sangat penasaran saat itu.
Sela memang tidak pernah bisa menahan rasa kepenasaranan yang ada di dalam dirinya, sehingga saat itu saja dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu karena dia pikir pintunya sudah terbuka lebih dulu dengan sendirinya bukan karena dirinya sendiri.
"Akira apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Sela kepadanya saat itu.
Akira langsung menoleh ke arah Sela dan dia sedikit kaget melihat Sela yang sudah berdiri di samping meja belajarnya secara tiba-tiba seperti itu.
"Astaga... Apa kau setan ya? Hah...hah...kenapa muncul tiba-tiba seperti itu, membuatku kaget saja, untuk apa lagi kau bertanya, memangnya kau tidak lihat aku sedang belajar" balas Akira sambil segera menatap kembali dengan fokus pada buku yang tengah dia baca saat itu.
"Apa yang sedang kau pelajari, apa aku boleh melihatnya juga, aku tidak bisa tidur sekarang" ucap Sela kepadanya.
Akira pun mendorongkan kursi untuk Sela dan dia merasa sangat senang, Sela langsung duduk dengan cepat dan menaruh gelas yang dia bawah di ujung meja saat itu, Akira juga menggeser bukunya untuk memberitahu Sela apa yang tengah dia pelajari saat itu.
"Lihat kemari ini adalah tugas yang diberikan oleh guru tadi siang, tugas kali ini sangat mudah untukku tapi mungkin saja sangat sulit untukmu, kau harus menyelesaikan menggunakan dua rumus sekaligus jika mengikuti apa yang di terangkan oleh ibu guru Yuni sebelumnya, dan caranya harus seperti ini," ucap Akira mulai terus mengajari Sela sedikit demi sedikit.
Sela juga terus mengangguk mengerti, dia yang sangat sulit belajar sekarang bisa memahami pelajaran matematika yang sangat sulit bagi dia saat ini, bahkan saat Akira menyuruhnya untuk mencoba ulang soal tadi, Sela bisa melakukannya dengan lancar walau pengerjaannya agak lama bagi Akira, tetapi bagi Sela itu justru adalah sebuah peningkatan yang cukup bagus bagi dirinya kali ini.
Sela sangat senang ketika dia berhasil menyelesaikan soal itu dan mengulangi pelajarannya, bahkan saking senangnya Sela tidak sadar memeluk Akira sangat era.
"Wahh...Akira aku selesai, aku bisa menyelesaikan tugasnya, wahh..ini hebat, ahaha.. terimakasih Akira kau penyelamatku dari ibu guru Yuni, huaa...haha..aku senang sekali" ucap Sela yang langsung memeluk Akira saat itu.
Akira terperangah dan dia langsung tersenyum saat menyadari bahwa Sela memeluknya saat itu, namun walau begitu Akira tetap tidak bisa membalas pelukan tersebut meski dia sangat ingin melakukannya, karena dia takut Sela akan menyadari hal itu atau menganggapnya mengbil kesempatan, seperti kejadian di ruangan seni sebelumnya.
Sedangkan Sela yang baru saja tersadar dia langsung melepaskan pelukan itu dan langsung memalingkan pandangan ke arah lain, dia juga segera terburu-buru pergi keluar dari kamar Akira secepatnya sambil membawa gelas air yang dia bawa sebelumnya.
Akira hanya tersenyum kecil dan merasa senang di dalam hatinya saat melihat Sela salah tingkah karena kelakuannya sendiri saat itu, dia juga segera menutup pintu kamarnya dan pergi ke kamar mandi membersihkan diri hingga segera beristirahat malam itu.
Sedangkan Sela sendiri masih duduk di samping ranjangnya sambil memegangi gelas di tangannya dengan erat saat itu, dia merasakan detak jantungnya yang semakin cepat saat itu dan merasakan perasaan tidak menentu di dalam dirinya setelah dia berpelukan dengan Akira beberapa saat yang lalu
"Astaga.. ada apa denganku ini, kenapa aku merasa aneh, dan jantung ini apakah tidak bisa berdetak lebih pelan lagi, wahhh...ini benar-benar di luar nalarku, tidak mungkin aku menyukainya bukan? Wah..wah...tidak, perasaan seperti ini bisa saja karena kaget dan malu iya jantung juga bisa berdetak karena hal seperti itu bukan, aaaahhhh...aku sepertinya mulai eror karena kurang tidur, sebaiknya aku segera mengistirahatkan tubuhku ini" ucap Sela bicara sendiri sambil segera tidur saat itu juga.
Sampai keesokan paginya, Sela sengaja bangun lebih awal dan dia bahkan tidak sempat berpamitan kepada Akira karena saat hendak berpamitan Sela terus saja merasa ragu dan takut, ditambah dia juga tidak tahu apakah Akira sudah bangun atau belum saat itu sehingga dia memutuskan untuk langsung keluar sana dari rumahnya dan hanya menuliskan pesan pada secara kertas yang dia tempelkan di pintu rumah Akira saat itu.
"Aaahhh..bodoh amat, aku harus segera pergi sebelum tuan Wen akan pergi bekerja dan mengunci pintunya lagi." Pikir Sela saat itu.
Kakinya sudah membaik dan dia sudah bisa berjalan lebih cepat sekarang, dia langsung pergi dengan terburu-buru dan memakai sepatunya, sampai ketika dia tiba untungnya tuan Wen masih berada di rumah dan dia sepertinya masih tidur pagi itu, Sela langsung pergi ke kamarnya mengganti pakaian dan segera memasukkan semua barang dan pakaian miliknya lagi ke dalam koper lalu dia segera pergi dari sana secepatnya tanpa bicara kepada tuan Wen terlebih dahulu.
"Percuma juga aku berpamitan kepadanya, dia hanya akan menahanku lalu memintamaaf padaku dan akan melakukan hal yang sama lagi nantinya, sudah lebih baik aku tinggal di rumah nenek saja." Pikir Sela saat itu.
Dia pun segera pergi dari sana menuju halte bus menuju rumah neneknya pagi-pagi sekali, bahkan jalanan saja masih terlihat agak gelap saat itu.
Sedangkan disisi lain saat Akhira bangun dia mulai mengetuk pintu Sela dan mengajaknya untuk sarapan, namun saat dia sudah mengetuk pintu kamarnya beberapa kali tidak ada sahutan dari dalam sehingga Akira pun memutuskan untuk masuk ke dalam.
"Tok...tok..tok...Sela....Sela....apa kau sudah bangun, ayo sarapan...Sela?" Teriak Akira saat itu.
"Kemana anak itu, apa dia masih tidur jam segini?" Gerutu Akira yang pada akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam.
Sampai melihat ke dalam kamar semuanya sudah kembali rapih bak seperti sebelumnya ketika kamar itu tidak ada yang menempati, hanya ada sebuah buku tugas milik Sela yang tertinggal di meja yang ada disana saat itu.
"Apa dia sudah pergi? Kenapa dia tidak berbicara dulu padaku?" Ucap Akira merasa sedikit kecewa saat itu.
Dia yang tidak sengaja melihat buku tugas milik Sela tertinggal, segera saja dia mengambilnya dan membawa buku itu ke dalam tas sekolahnya karena dia tahu Sela sangat membutuhkan buku itu, sampai ketika dia hendak keluar dari rumah, dia melihat secarik kertas yang tertempel di pintunya saat itu.
Akira segera menarik kertas itu dan mulai membacanya sambil memperlihatkan ekspresi menahan senyum saat membacanya saat itu.
"Akira, aku pergi pagi-pagi sekali, kau mungkin masih tidur jadi aku pergi lebih dulu, aku harus menyelesaikan urusan penting dengan manusia sialan yang mengunci pintu rumahku, aku juga sudah membereskan kamarnya. Terimakasih atas kebaikanmu mengajarkan aku tugas, sekarang aku bisa pergi sekolah tanpa beban." Isi tulisan dari secarik kertas yang di tinggalkan oleh Sela dengan sebuah emoticon senyum pada akhirnya kalimatnya saat itu.
Akira tentu saja tersenyum karena melihat emoticon itu yang sangat lucu baginya, dia pergi kembali ke kamarnya dan menempelkan surat itu pada dinding tak bukunya tepat di samping bodoh minuman soda yang pernah Sela berikan kepada dia sebelumnya.
"CK ....dia bersikap seperti ini karena dia tidak tahu siapa aku sebenarnya, tapi ini lebih baik dibandingkan dia mengetahui siapa aku." Gerutu Akira saat memegangi tulis itu.
Kemudian dia segera pergi ke sekolah saat itu juga, dengan perasaan yang senang dan terus saja tersenyum sepanjang jalan pagi itu.
Di sekolah Sela sudah bertemu dengan salah satu sahabatnya Kiko, kini dia memamerkan dirinya sendiri yang sudah bisa mengisi tugas soal matematika yang bahkan Anet sendiri tidak bisa menyelesaikannya.
"Hey...Kiko apa kau sudah menyelesaikan tugas matematika yang ibu guru Yuni berikan, pengumpulan sing ini bukan?" Ucap Sela bertanya sambil menyenggol Kiko yang saat itu tengah berjalan menuju gedung sekolah.
Kiko yang kaget dengan kemunculan Sela dan dia yang langsung bertanya tentang tugas sepagi ini darinya, sedangkan Kiko jelas sekali dia belum mengerjakannya dan dia hampir sama dengan Sela selalu mengandalkan Anet ataupun mengancam teman di dalam kelas untuk memberikan contekan kepadanya.
"Aishh...kau ini mengagetkan aku saja, aaarrghhhh pagi-pagi kau sudah membuat aku muak! Jangan menanyakan tentang pelajaran itu padaku, kau sudah tahu aku selalu mencontek padamu dan tetap saja jawabannya salah karena kau juga mencontek pada siswa sialan itu, aahhh...dunia ini sudah gelap," balas Kiko yang sudah sangat pasrah dengan nasibnya nanti.
"Ehehe.... Tenang saja Kiko aku sudah bisa mengerjakannya sekarang dan kau tahu aku sudah menyelesaikan tugas itu tadi malam, dengan sangat mudah hahaha..." Ucap Sela membanggakan dirinya dan tertawa sangat lebar.
Kiko yang tidak percaya pada ucapan Sela dia langsung membelalakkan mata untuk beberapa detik kemudian langsung tertawa dengan keras dan langsung mengalengkan tangannya pada kepala Sela sampai membuat Sela kesulitan berjalan saat itu karena Kiko menyeret dia terus menerus sambil berjalan dengan cara seperti itu.
"Apa? Ahahaha...Sela...Sela sudahlah jangan bermimpi atau mengerjai aku lagi, aku sudah tahu kau sangat frustasi dengan ancaman ibu guru Yuni bukan? Sudahlah Sela kau hanya perlu mengisi absen dengan baik seperti aku, itu sudah lebih dari cukup bagi siswa seperti kita ini." Balas Kiko kepada Sela.