
Dia pun melanjutkan makannya dan terus saja menyeruput mie instan yang dia masak sendiri hingga perutnya terasa sangat kenyang juga begitu penuh dan barulah dia bisa tidur dengan nyenyak malam itu, malam hari bisa tidur dengan nyenyak tanpa Sela tahu nasib apa yang akan dia hadapi di keesokan paginya dimana besok adalah hari pertama dia harus mulai menjadi asisten belajar bagi Akira.
Dan malam itu dia sama sekali tidak belajar sedikit pun bahkan dia melupakan tugas rumahnya yang seharusnya dia kerjakan malam itu juga, hingga ke esokan paginya Sela pergi dengan terburu-buru karena dia bangun kesiangan dan langsung saja mengambil tas sekolah secepatnya tanpa melihat dahulu buku apa yang dia bawa sebenarnya saat itu.
Hingga ketika dia keluar dari rumahnya dia langsung bertemu dengan ayah angkatnya tuan Wen yang saat itu baru saja pulang juga menyapanya dengan ramah namun Sela mengabaikannya karena dia tengah terburu-buru sekali.
"Ahh... Sela kau mau pergi sekolah ya, hati hati di jalan" ucap tuan Wen yang sama sekali tidak dianggap oleh Sela dan dia sama sekali tidak mendengar sapaan dari tuan Wen saat itu.
Sela langsung saja berjalan melewati tuan Wen dengan cepat, dia memakai sepatunya sambil berjalan pincang dan terus mengikat tali sepatunya asal-asalan, dia pergi berlari secepat yang dia bisa, sedangkan tuan Wen sendiri yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sela tentu saja dia merasa kebingungan dan aneh sendiri.
"Ada apa dengannya, apa dia marah karena aku tidak menepati janji tadi malam?" Ucap tuan Wen terus menduga-duga sendiri.
Sedangkan Sela sendiri terus berlari sambil menggerutu kesal karena dia tidak ingin kesiangan lagi ke sekolah dan itu akan mengurangi nilainya yang sudah susah payah dia naikkan selama ini, bahkan dia sudah merasa banyak membaca buku setiap harinya juga dia tidak ingin menulis kalimat perjanjian lagi jika dia terlambat ke sekolah.
Untungnya saat itu Sela masih sempat sampai ke sekolah dan dia bisa langsung masuk ke dalam ruang kelas dengan nafas yang menderu dan terus terengah-engah sambil berkacak pinggang dan dia merasa sangat lemah karena dia tidak sempat untuk menikmati sarapan pagi itu, sehingga dia langsung saja duduk di kursinya sambil menaruh kepalanya diatas meja dengan lesu.
"Hua....sangat lelah dan lapar aaahh aku tidak sempat sarapan, huuh menyebalkan sekali kenapa aku tidak bisa memiliki sepeda seperti orang-orang, setiap hari harus berlari ke sekolah dengan kedua kakiku sendiri huaa lama-lama betisku akan sebesar pemain sepak bola" gerutu Sela sambil terus merasa kesal sendiri.
Sampai tiba-tiba saja Akira yang baru tiba dan membawa minuman dingin di tangannya dia duduk di kursinya dan menempelkan minuman dingin itu pada pipi Sela secara sengaja dan menyuruhnya untuk bangkit duduk dengan benar, Sela yang mendapatkan perlakuan seperti itu tentu saja dia sangat kaget merasakan suasana dingin di pipinya yang membuat dia merinding di buatnya.
Dia juga segera bangkit terperangah sambil membentak Akira dengan cukup keras.
"Heh...bangun!" Ucap Akira menyuruhnya sambil menempelkan minuman dingin itu,
"Sssttt....aishh...apa kau gila ya? Itu dingin sekali, aaahhh pipiku sekarang kedinginan padahal aku ingin tidur huaaa" gerutu Sela membentak Akira dengan kesal.
Akira hanya tersenyum kecil dan dia langsung menaruh minuman rasa melon itu di atas meja Sela bahkan dia juga memberikan sebuah roti bungkus di sampingnya dan memberikan semua itu kepada Sela, membuat Sela merasa kaget melihatnya karena dia tidak pernah menduga orang seperti Akira akan bersikap baik kepadanya seperti itu.
"Ini...makanlah jika kau lapar" ucap Akira begitu saja.
Sela yang kaget langsung melirik ke arah Akira dengan kedua mata yang dia bulatkan sangat lebar, saking merasa heran dan bingungnya kepada Akira.
"Ehh..apa kau sakit ya? Atau kepalamu baru saja terbentur? Kenapa kau tiba-tiba saja bersikap baik dan memberikan aku makanan cuma-cuma seperti ini?" Ucap Sela merasa sangat heran.
Karena dia pikir saat itu Akira memberikan minuman dan roti itu secara gratis kepadanya, namun rupanya dugaan dia yang salah besar karena ternyata Akira tidak benar-benar memberikan dia manakan dan minuman itu secara gratis melainkan hanya karena mulai sekarang Sela adalah asisten belajarnya dan tentu Sela harus menemani masa belajarnya sekaligus Akira akan mulai menemani masa bajar Sela juga.
"Heh....jangan gr kau, aku memberikan ini padamu agar energimu terisi karena mulai sekarang kau adalah asisten belajarku, jangan bilang jika kau lupa dengan hal itu" ucap Akira mengingatkan Sela.
Dia memang sudah melupakan semua hal itu sejak tadi malam, bahkan Sela sama sekali tidak pernah memikirkan masalah dia yang akan menjadi asisten belajar bagi Akira sedikitpun sehingga ketika mendengar hal itu dari Akira dia langsung saja kaget terperangah sebab baru mengingatnya sekarang.
"Wahh.....astaga? Aku bahkan sama sekali tidak tahu jika itu akan di mulai pada waktu yang secepat ini, apa kau yakin kau tidak salah mengingatnya?" Ucap Sela kepada Akira dengan wajah konyolnya itu.
Akira sangat kesal karena mengetahui Sela yang melupakan hal sepenting itu, dan dia terus saja memalingkan pandangan dengan cepat, sebab sudah cukup kesal pada Sela dan tidak bisa menahan kekesalannya lagi saat itu.
"Aahhh...sudahlah kau makan saja makanannya" ucap Akira yang sudah malas berbicara dengan Sela lagi, sebab itu sangat membuat dia kesal.
Sela sendiri hanya menaikkan kedua alisnya merasa heran melihat perubahan ekspresi dari wajah Akira yang di perlihatkan kepadanya saat itu, sehingga dia langsung saja mengambil roti tersebut dan membukanya sambil terus bertanya kepada Akira untuk meyakinkan dirinya apakah Akira akan benar-benar memberikan roti tersebut kepada dia secara cuma-cuma seperti itu, atau kah hanya menjahili dia saja.
"Eumm...baiklah aku akan memakan rotinya, lihat aku benar-benar akan membuka rotinya, apa kau yakin ingin memberikan ini padaku, apa kau tidak akan berubah pikiran, aku sudah akan memakannya sekarang" ucap Sela yang membuat Akira sangat jengkel.
Dia langsung kembali menolah ke arah Sela dan memberikan tatapan tajam ke arahnya hingga membuat Sela langsung memalingkan pandangan dan memakan roti itu dengan lahap karena dia memang merasa sangat lapar saat itu, dia juga terus menikmatinya dengan senang karena minumannya adalah rasa melon, rasa kesukaannya selama ini, juga roti coklat yang sangat dia sukai, tentu saja dia menikmatinya dengan begitu nikmat.
"Eumm...ini sangat enak, dimana kau membeli roti seenak ini, dan berapa harganya ini enak sekali" ucap Sela bertanya kepada Akira disaat dia tengah mengunyah makanannya dan itu membuat Akira jijik melihat makanan terlihat berantakan keluar dari mulut Sela.
"Bisakah kau diam saja saat makan, kau makan seperti orang kelaparan, dan itu sangat menjijikan" ucap Akira tanpa mau melihatnya.
"Ahaha...sepertinya aku sudah tahu kelemahannya ini bisa menjadi senjata yang kuat untukku" batin Sela berpikir saat itu.
Dia mulai menggeser bangkunya mendekati Akira dan terus mengerjai Akira dengan memperlihatkan dia yang makan dengan sangat berantakan dan belepotan selai coklat di sekitar mulutnya saat itu.
"Eum...eum...ini sangat lezat, apa kau ingin mencobanya lihatlah coklatnya sangat banyak bukan ini adalah roti yang paling enak yang pernah aku coba, ayo sini kau coba deh" ucap Sela mendekatkan tangannya yang kotor ke depan Akira.
Sehingga hal itu langsung saja membuat Akira langsung menjauhkan dirinya dari tangan Sela yang kotor sekali di matanya saat itu, dia terus menatap tajam dan seperti orang yang sangat ketakutan ketika mihat Sela mendekatkan terus tangannya yang kotor ke dekat wajahnya saat itu.
"Jangan...menjauhkan dariku, kau sangat menjijikan dan kotor seperti itu, kenapa kau harus makan sampai berantakan seperti itu, padahal kau hanya memakan sebuah roti saja, menyingkir dariku!" Ucap Akira dengan mengerutkan kedua alisnya cukup tajam dan dia juga menjauh dengan cepat dari Sela.
Sela sendiri justru malah terlihat tertawa senang melihat betapa lucunya Akira yang terus menghindari tangannya yang kotor itu padahal Sela dengan sengaja mengoleskan selai coklat dari roti itu pada tangannya hanya untuk mengerjai Akira saja.
"Ahaha....kau konyol sekali untuk apa kau merasa jijik, ini juga tidak terlalu kotor kau itu terlalu aneh, ahaha....lihat aku akan menjilatnya nanti juga akan bersih" ucap Sela yang hendak menjilat coklat di jarinya saat itu.
Namun Akira yang melihat itu dia sama sekali tidak bisa mihat kelakuan menjijikan dan jorok yang dilakukan oleh Sela lagi, sebab itu sangat mengganggu bagi dirinya, sehingga Akira langsung saja menahan tangan Sela yang saat itu hendak dia jilat untuk menghilangkan coklat yang belepotan di tangannya sendiri.
"Eehhh... hentikan!" Ucap Akira menahan tangan Sela dengan kuat saat itu.
Sela mengerutkan kedua alisnya dengan heran karena dia merasa kaget Akira terus menahan tangannya secara tiba-tiba seperti itu, di tambah wajahnya yang terlihat sangat serius sekali menatap ke arahnya seperti itu.
"Heh apa yang kau lakukan, kenapa menahan tanganku seperti ini, ayo lepaskan!" Balas Sela dengan berusaha berontak dan melepaskan tangannya dari Akira.
Namun sayangnya Akira memegangi tangannya dengan cukup kuat dan dia mengambil tisyu dari saku celananya dan langsung saja membersihkan tangan Sela sambil menyuruh Sela untuk diam saat itu.
"Diam kau!" Ucap Akira sambil segera membersihkan tangan Sela yang kotor.
Sela sendiri merasa sangat heran dan kebingungan sendiri, dia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Akira dengan membersihkan tangannya seperti itu padahal dia sudah berani untuk menjilat coklat itu, dan rasanya akan lebih enak jika dia menjilatnya namun Akira malah membersihkan semua itu dengan tisyu miliknya begitu saja.
Tentu saja hal itu cukup membuat Sela merasa sangat kesal dan kebingungan terus tanpa batas.
"Aishh..apa yang kau lakukan, kenapa kau malah membersihkannya aku mau menjilatnya bodoh!" Bentak Sela yang tidak terima kepada Akira.
Namun Akira langsung saja melemparkan tatapan tajam kepada Sela yang membuat Sela semakin membulatkan matanya dan dia tidak habis pikir ada orang yang berani membelalakkan mata setajam itu kepadanya, karena biasanya di saja yang selalu melakukan hal seperti itu kepada orang lain, sehingga membuat orang-orang merasa takut dan tidak berani melawannya sedikitpun apalagi mengusik dirinya selama di sekolah selama ini.
"Wahh....berani sekali kau membelalakkan mata kepadaku, apa kau pikir aku akan takut, cih ...itu sama sekali tidak akan membuatku tunduk apalagi takut pada orang sepertimu, dasar manusia aneh" ucap Sela sambil memalingkan pandangannya.
Hingga tidak lama terdengar suara kedua sahabatnya Anet dan Kiko yang bercanda sambil masuk ke dalam kelas saat itu dan dengan cepat Sela menarik tangannya dan memandang ke depan dengan lurus sambil tidak menentu karena takut kedua sahabatnya akan melihat apa yang baru saja Akira lakukan kepadanya.
Sedangkan Akira sendiri masih saja terlihat santai dia pergi membuat tisyu dan bekas makan yang berantakan disana, hal itu membuat Anet dan Kiko yang melihat ekspresi wajah Sela agak tegang dan aneh, mereka mulai merasa sedikit kebingungan dan curiga.
Apalagi ketika melihat Akira yang langsung pergi keluar ketika mereka baru saja masuk ke dalam kelas saat itu, sehingga meretsegera datang mendekati Sela dan menanyakannya bak seperti tengah mengintrogasi seseorang dengan sangat serius dan penuh kepenasaranan.
"Ehhh ..Sela ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat setengah itu saat kami sampai, apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami berdua ya?" Tanya Kiko pertama kali pada Sela,
"Hahah....apa yang perlu aku sembunyikan dari kalian? Semuanya kalian sudah tahu, memangnya rahasia apa yang aku miliki aku sudah tidak memilikinya" balas Sela sambil tertawa garing sendiri.
Walau jawaban dari Sela saat itu tidak cukup meyakinkan bagi mereka tetapi tetap saja Anet tidak terlalu memperdulikan hal itu, dan dia lebih perduli dengan pelajaran yang tengah di lakukan oleh Anet karena dia sangat ingin Anet terus berubah menjadi orang yang lebih baik dan bisa mendapatkan nilai besar di ujian semester akhir nanti, agar mereka bisa lulus bersama-sama nantinya.
"Eehh...sudahlah jangan membahas hal lain, Sela apa tugas rumahmu sudah selesai? Aku dengan ibu guru Yuni yang akan mengajar kita dan mengumpulkan tugas rumahnya lebih awal" ucap Anet menyadarkan Sela.
Dia sangat kaget ketika mendengar Anet bertanya tentang tugas sekolahnya sendiri, dia langysaja kaget dan panik tidak karuan sambil membongkar tas hijau miliknya hingga dia menemukan buku tugas miliknya dan semuanya masih kosong melompong, tidak ada satu kata pun yang tersedia di dalam sana dimana dia sama sekali belum menjawab semua pertanyaan yang dia berikan kepadanya.
Anet yang melihat itu dia saling tatap dengan perasaan yang bingung dengan Kiko dan mereka segera menanyakannya lagi sebab Sela terlihat sangat lesu dan murung seketika setelah menemukan buku tugasnya sendiri saat itu.