Love In High School

Love In High School
Akira Cemburu



Akira mulai mengambil pensil dan dia mulai menunjukkan bagaimana cara menyelesaikan soal yang ada di lembar latihan disana, dia mengerjakannya dengan begitu mudah dan sangat hati-hati saat itu, dia juga mulai menerangkan dengan perlahan kepada Sela cara untuk menyelesaikannya.


"Nah.. seperti itu, bagaimana apa kau mengerti?" Tanya dia kepada Sela.


Sela hanya menelan salivanya sendiri, sebab dia sama sekali tidak mengerti apa yang sudah dijelaskan oleh Akira barusan, jangan mengerti Sela bahkan tidak mendengarkan semuanya dengan jelas jadi saat Akira bertanya seperti itu kepadanya dia hanya bisa terperangah dan menggelengkan kepala tersenyum kecil padanya.


"Ahaha...tidak... Aku tidak mengerti, kau sih menjelaskannya terlalu cepat bagaimana aku bisa mengerti, sudah lah kau memang hebat kerjakan saja sendiri oke aku lapar mau makan saja," balas Sela sambil hendak menggeser kursinya saat itu.


Namun dengan cepat Akira langsung menarik tangannya hingga membuat Sela kembali duduk lagi dengan cepat dan menatap membuka lebar kedua matanya karena kaget dengan apa yang dilakukan oleh Akira saat itu.


"Ahhh ..kenapa?" Tanya Sela dengan penuh keheranan.


"Kenapa kenapa, duduk dan dengarkan lagi, aku akan menjelaskannya sekali lagi padamu, sampai kau mengerti. Diam disini dan jangan coba-coba untuk mengunyah makanan!" Ucap Akira dengan tegas dan memberikan tatapan yang cukup tajam menusuk.


Sela yang mendengar ucapan seperti itu tentu saja dia tidak terima karena biasanya dialah yang membentak orang lain bukan dia yang dibentak seperti saat itu, Sela langsung menghempaskan tangan Akira dan dia membentaknya lagi dengan keras.


"Heh..lepaskan tanganku, kalau kau mau aku tetap mendengarmu yang bicara saja tidak perlu menahan tanganku dan membentak aku seperti tadi." Balas Sela kepadanya.


"Ya sudah kau diam dan lihat lagi kemari, dengarkan dan pahami dengan baik, jangan sampai kau menatap kesana kemari tidak jelas lihat soal latihannya dengan baik." Ucap Akira lagi.


Sela hanya mengangguk pelan, sampai Akira mulai menjelaskannya lagi dari awal dengan nada bicara yang lebih lambat dan pelan, dia tidak mengeluh sedikitpun meski harus mengulang terus penjelasan tersebut kepada Sela namun Sela sendiri justru sulit sekali untuk fokus dia malah menatap kesana kemari tidak jelas dan bener saat mengantuk, hal itu diketahui oleh Akira dan saat tahu Sela sedikit mengantuk Akira mengetuk pensilnya ke meja memberikan isyarat pada Sela agar tetap fokus dan melihat ke soal di meja tersebut.


Namun sayangnya meski sudah begitu Sela tetaplah Sela dia tidak bisa fokus mendengarkan penjelasannya hingga akhir dan terus saja menatap ke segala arah tidak jelas hingga tidak lama tepat ketika Akira tengah menjelaskan justru Sela malah menguap cukup keras karena dia keceplosan saat itu.


Akira langsung menaruh pensilnya degan keras karena kesal, dia menatap tajam pada Sela dan mulai berbicara memperingati dia lagi saat itu.


"Trak.... Sela apa kau tidak bis fokus sebentar saja dengan soal dan mendengarku? Hah." Ucap Akira sambil menatap tajam dan mengerutkan kedua alisnya.


"Kau kan sudah tahu aku tidak bisa fokus terlalu lama kau sendiri saja yang menjelaskannya begitu bertele-tele aku tidak bisa mencerna semuanya jika seperti itu," balas Sela dengan santai.


Dia sama sekali tidak takut pada Akira meski saat itu wajah Akira terlihat begitu kesal dan menahan emosi kepadanya hingga tidak lama tiba-tiba saja Aril yang merupakan ketua tim basket datang menghampiri Sela dan memberikan dua buah minuman rasa jeruk ke hadapannya saat itu.


"Sela ini untukmu," ucap Aril yang tiba-tiba saja muncul di samping Sela mengagetkan mereka berdua yang tengah bicara serius saat itu.


Fokus Sela langsung teralihkan dia langsung menoleh ke arah Aril dan menatap dengan keheranan saat itu, sebab dia merasa tidak mengenali pria tersebut sebelumnya, namun tiba-tiba datang dan mengetahui namanya.


"Eehh..siapa kau, kenapa tahu namaku?" Tanya Sela dengan menatap penuh keheranan saat itu.


"Ohh..kenalkan aku Aril ketua tim basket di sekolah ini, dan tentang namamu aku sudah melihat di seragammu saat kamu menjatuhkan makanan belanjaanmu sebelumnya, juga saat kamu tidak sengaja menabrakku beberapa hari lalu." Balas Aril saat itu.


Akira yang mendengarkan perbincangan diantara mereka terus saja menatap tajam kepada pria itu dengan tatapan yang tidak senang kepadanya, jelas sekali tatapan Akira saat itu begitu tajam pada pria bernama Aril itu dengan kedua gigi yang dia meratakan saat itu.


Sela sendiri mulai mengingat-ingat kan apa yang di katakan oleh pria tersebut dan dia terus saja memikirkan kejadian yang disebutkan olehnya sampai akhirnya dia bisa mengingat semua itu dengan jelas.


"Ohhh...kau ya, aku pikir siapa, terus untuk apa kau menemuiku kemari?" Tanya Sela padanya dengan menaikkan kedua alisnya merasa heran.


"AA..ahh..ini aku hanya ingin mengembalikan minuman milikmu sebelumnya, ini ambilah," ujarnya sambil kembali memberikan dia minuman rasa jeruk itu kepada Sela.


Melihat minuman kesukaannya kembali tentu saja Sela merasa sangat senang dan dia langsung tersenyum lebar sambil hendak mengambil minuman itu namun dengan cepat tiba-tiba saja Akira bangkit dia menarik tangan Sela hingga membuat Sela menjauh dari pria itu dan Akira sendiri yang menolah minuman dari Aril.


"Tidak usah, kau ambil saja minuman itu dan pergi dari sini, jangan mengganggu kami yang sedang belajar." Ucap Akira dengan tatapan tajam kepada pria itu.


Aril yang melihat itu dia pun hanya mengangguk dan segera pergi dari sana, Sela merasa sangat kesal dan dia menatap kepergian Aril dengan minuman kesukaannya itu, dia tidak bisa terima begitu saja jika kembali kehilangan minuman kesukaannya itu.


"AA...aaa....ehh...hei... Aril... Hei...kemari aku mau mengambilnya hei...aishh..kenapa dia malah menuruti ucapanmu, memangnya kau siapa lagi malah berani menolak pemberian orang padaku, aaahh kau benar-benar menyebalkan Akira!" Gerutu Sela yang tidak sempat untuk menghentikan Aril lagi saat itu.


Sela langsung duduk dengan perasaan yang kesal dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, moodnya sudah terlanjur hancur berkeping-keping ulah Akira yang selalu saja menyebalkan dan membuat dia naik pitam, sampai tidak lama Akira tiba-tiba saja muncul lagi tanpa diketahui kapan dia pergi membeli minuman rasa jeruk itu.


"Ini yang kau mau bukan, jika kau menginginkannya ayo ambil." Ucap Akira pada Sela.


"CK... Dasar menjengkelkan!" Gerutu Sela saat itu.


Sela merasa sangat heran dengan kelakuan Akira akhir-akhir ini kepadanya entah kenapa dia terus merasa Akira seperti mirip seseorang yang dia kenal di masa lalu sebelumnya, dia terus saja berusaha untuk memikirkannya dan setelah beberapa saat memikirkan hal itu Sela mulai ingat dengan seorang pria yang selalu berada di sampingnya, teman masa kecil yang selalu dia lindungi dahulu namun malah menghilang tanpa jejak sampai sekarang.


"Eehhh ...tunggu Akira kenapa aku merasa akhir-akhir ini kau seperti berkelakuan aneh padaku, apa kau pernah mengenal aku sebelumnya?" Tanya Sela mencoba mencari tahu saat itu.


Akira yang mendengar Sela mulai mencurigainya, dia pun segera memalingkan pembicaraan berusaha untuk tidak membuat Sela merasa curiga lagi kepadanya saat itu.


"Tidak ..... Orang sepertiku tidak mungkin bisa mengenal wanita bar-bar sepertimu, kau orang pertama yang aku temui sangat mengganggu di dunia ini," balas Akira membuat Sela segera menghempaskan pemikirannya itu.


"Aishh...dasar kau, aahh lagi pula tidak mungkin kau adalah dia, karena dia tidak semenjengkelkan ini, mungkin aku terlalu banyak berpikir," tambah Sela saat itu.


Akira merasa sedikit senang dan sebuah senyum kecil muncul di wajahnya saat itu, tidak sengaja Sela melihatnya dan dia mulai mencurigai Akira dia mulai menatap Akira dengan tajam dan mendekatkan dirinya pada Akira dengan perlahan.


"Eeuhhh..tunggu, jika kau bukan dia... Terus kenapa kau marah dan menolak minuman dari Aril untukku, kenapa kau membelikan aku minuman ini dan kenapa kau marah tidak jelas saat aku diantar pulang oleh pria lain malam kemarin? Atau jangan-jangan kau menyukaiku ya?" Ucap Sela kembali membuat prasangka lain kepadanya.


Akira yang tengah meminum minuman dingin dia langsung saja terbatuk mendengar ucapan dari Sela saat itu, dia kaget dan tidak menduga bahwa Sela bisa menebak perasaan dia secepat ini, Akira mulai merasa bingung dengan apa yang harus dia jawab pada Sela itu.


"Ohok ..ohok...ohok....ahahaha...apa yang katakan aku ... Aku hanya mencemaskanmu saja sedikit, karena kau asisten belajarku jadi aku merasa memiliki sedikit tanggung jawab atas kau, itu saja jangan berpikiran yang macam-macam, selaruku bukan wanita sepertimu," balas Akira sambil memalingkan pandangan tidak berani menatap pada Sela.


Sela hanya mengerutkan kedua alisnya dan dia juga tidak terlalu perduli dengan semua itu karena dia hanya menebak sembarangan saat itu, dia kembali meneguk minumannya dengan santai berbeda dengan Akira yang terus merasakan degup jantungnya yang semakin lama justru malah menjadi semakin kencang dia gugup dan takut Sela akan mendengar degup jantungnya itu.


"Kalau tidak suka ya sudah, aku juga tidak menyukaimu," balas Sela dengan santainya.


Hingga tidak lama kemudian mereka sudah pulang kali ini lagi dan lagi saat Sela tengah berjalan bersama Kiko da Anet tiba-tiba saja Aril menghadang jalannya dan mengajak Sela untuk naik ke boncengan belakang sepedanya saat itu, mengajak Sela untuk pulang bersama dengannya.


"Sela ayo naik aku akan mengantarmu pulang," ujar Aril dengan penuh keberanian mengajak Sela di depan umum secara langsung seperti itu.


Sontak hal tersebut membuat kaget kedua teman Sela dan mereka langsung saja membelalakkan mata dengan sangat lebar namun Anet mulai menatap kesal sebab dia menyukai Aril saat itu, Sela juga tahu soal hal tersebut begitu juga dengan Kiko yang menatap aneh pada Aril yang tidak biasanya melakukan hal semacam ini.


"Ehhh... minggir kau untuk apa menghalangi jalanku seenaknya jalanku dan kau tidak searah kau pulang saja dengan Anet dia searah denganmu bukan, Anet ayo cepat naik aku akan pulang dengan Akira kita masih ada tugas belajar bersama, aku pergi dulu bye..bye," ucap Selayang menjaga perasaan Anet sahabatnya, dia juga berpura-pura hendak pulang dengan Akira padahal dia sudah tidak tinggal lagi dengan kedua orangtuanya saat ini.


Anet yang diberikan kesempatan bagus tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut, alhasil kini justru malah Anet yang naik ke boncengan Aril dan dia diantarkan olehnya sedangkan Kiko merasa kesal sebab dia ditinggal seorang diri saat itu, dia terus berteriak mengejar Anet dan berusaha untuk menghentikan Aril agar tidak merebut Anet darinya.


"Ee..ee..ehh..Anet tunggu Anet jangan tinggalkan aku, aish kalian ini sahabat macam apa sih, malah meninggalkan aku begitu saja sial!" Gerutu Kiko penuh dengan emosi.


Disisi lain Sela yang menghadang Akira dia langsung saja naik ke belakang boncengan Akira, sebab dia tahu bahwa Kiko masih ada disana dengan Anet dan Aril, supaya mereka mempercayainya Sela harus benar-benar duduk dan ikut pulang dengan Akira saat itu.


Akira sendiri menatap dengan wajah kebingungan dan kedua alis yang dikerutkan kepada Sela saat itu, sebab tidak biasa Sela langsung duduk di belakang sepedanya seperti itu secara tiba-tiba.


"Heh...turun kau untuk apa duduk di boncengan ku, boncengan itu dipasang bukan untukmu!" Ucap Akira kepadanya dengan sinis.


"Aish..apa salahnya sih membawaku aku jalan sampai ke depan sana, ayo cepat jalan saja nanti Anet dan Kiko curiga denganku, cepat apa kau tulis ya, atau kau mau aku yang menyetir?" Balas Sela yang membuat Akira tidak memiliki pilihan lain.


Dan dia juga malas berdebat dengan Sela lagi, Akira mulai mengayuh sepeda dan teman-temannya pun sudah percaya jika Sela memang akan pergi dengannya, sedangkan Aril mulai merasa kesal karena dia gagal untuk mengambil kesempatan emas itu, dia gagal untuk mendekati Sela dan malah harus berhubungan rumit dengan kedua temannya Anet dan Kiko yang menyebalkan bagi dia saat itu.


"CK.... Bagaimana bisa aku malah berurusan dengan dua manusia merepotkan ini, aishh...sangat menjengkelkan!" Gerutu Aril di dalam hatinya yang kesal dan tidak terima sebab rencana keduanya untuk mendekati Sela gagal total.


Dia juga mulai mengerti dengan keberadaan Akira yang menghalangi dirinya untuk dekat dengan Sela setiap kali dia berusaha untuk mendekatinya, dia mulai mencari tahu juga mengenai Akira dan terus berusaha untuk menyingkirkan Akira dari sisi Sela.


Sedang diperjalanan Akira sungguh menepati apa yang dipinta oleh Sela sebelumnya dia benar-benar menurunkan Sela di jembatan karena setelah itu dia harus belok ke kanan sedangkan Sela harus berjalan lurus sebab dia tinggal dengan neneknya saat ini.


"Turun kau!" Ucap Akira memerintah.


"Iya iya kau ini benar-benar sangat perhitungan, dasar pria sialan hal seperti ini saja kau tidak mau bekerjasama, aishhh.. awas saja kau." Ucap Sela merasa kesal dengannya.


Akira sangat enggan mendengar ocehan dari Sela dan dia langsung mengayuh sepedanya lagi untuk pergi meninggalkan Sela secepatnya saat itu, sampai membuat Sela terus berteriak merutuki dia dengan kencang, namun dia sendiri sebenarnya tersenyum mendengar semua rutukan Sela padanya.