
Aku juga hanya bisa menahan tawa sendiri karena mendengar teriakkan dia yang sangat kencang saat itu, dia memang terdengar sangat lucu ketika cemburu seperti itu kepadaku, aku benar-benar merasa sangat lega dan seketika saat itu aku seperti melupakan semua masalah antara aku dan kedua orangtuaku sendiri, sebab aku terus saja merasa sangat senang dan tertawa lebar terus menerus sampai kami tiba di kediaman Akira saat itu.
"Aahhh..sudah sampai ayo silahkan masuk Sela," ucap dia kepadaku sambil membukakan pintu rumahnya untukku.
Saat itu aku baru saja memarkirkan sepeda dan segera tersenyum sambil membawa masuk koper yang aku ikat di bagian depan sepeda sebelumnya. Akira dengan cepat membantuku dan langsung melarang tanganku saat hendak menyentuh koper tersebut saat itu.
"Eehh...ehh..sudah kau masuk saja biar aku yang menurunkan kopermu," ucap dia kepadaku.
"Hei...sejak kapan kau menjadi sebaik ini, ya sudah jika kau mau mengurusinya bagus juga aku bisa segera beristirahat sekarang," ucapku sambil segera masuk dengan cepat ke dalam rumah tersebut segera.
Sedangkan disisi lain Akira sudah menurunkan kopernya dan dia dengan cepat membawa koper itu ikut masuk, aku merasa sedikit aneh karena kini rumah Akira sudah tidak terasa aneh dan canggung lagi saat itu, sama sekali tidak seperti saat pertama aku masuk ke dalam rumah Akira sebelumnya.
"Wahhh...bahkan harus rumah ini saja terasa sangat berbeda ketika pemiliknya sudah menjadi pasanganku, haha ada-ada saja aku ini," gerutuku sendiri saat itu.
Akira datang dan memberikan koper milikku sampai aku masuk ke dalam namun Akira malah menahan pintu kamarku saat itu dengan kuat secara tiba-tiba membuat aku sangat kaget melihat tingkah dia saat itu.
"Ada apa kau menahan pintunya?" Tanyaku kepadanya dengan mengerutkan kedua alisku saat itu juga.
"Tidak papa, hanya aku...itu aku ingin, mengucapkan sesuatu kepadamu," ucap Akira bicara dengan terbata-bata saat itu.
Aku semakin merasa kebingungan dengan apa yang dia lakukan dia terus saja bicara aneh saat itu dan aku sama sekali tidak mengerti, sebab dia bicara sangat pelan dan tidak bisa aku dengan dengan benar.
"Hei..bicara yang besar apa yang mau kau katakan aku sudah mengantuk sekali nih," bentakku sedikit kepadanya saat itu.
"Se...se..selamat malah Sela," ucap dia membuat aku terperangah menatapnya dengan wajah yang penuh dengan keheranan
Sebab sebelumnya aku pikir dia mengatakan apa kepadaku, namun rupanya dia hanya mengatakan selamat malah saja padaku lalu langsung berbalik dan masuk dengan cepat ke kamarnya sendiri dengan menutup pintu cukup keras seki saat itu, hingga membuat aku merasa sangat heran kepadanya dan tidak mengerti dengan kelakuan anehnya tersebut saat itu.
"Aah? Dia hanya mengucapkan itu saja? Aishh..hahah..konyol sekali, hei...Akira selamat malam juga, aku mau tidur sekarang apa kau dengar, jangan mengganggu aku lagi!" Teriak Sela membalasnya dengan segera.
Dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan terus tidak berhenti menertawakan tingkah konyol yang di perlihatkan oleh Akira di hadapan dia saat itu, walaupun Sela juga baru pertama kalinya memiliki pasangan tetapi dia tidak bersikap se lebay yang dilakukan oleh Akira kepadanya, bahkan Sela sendiri merasa aneh mengapa seseyyang super duper cuek dan sulit bersosialisasi dengan semua orang justru malah bisa sampai sedekat ini dengannya.
Bahkan kini mereka bukan hanya dekat atau menjadi teman sekelas biasa saja tetapi menjadi pasangan kekasih yang cukup konyol juga terlihat begitu lucu di mata Sela.
Sampai ke esokan paginya Sela bangun lebih awal dia berniat untuk membangunkan Akira dan dia justru malah masuk ke dalam kamarnya setelah selesai membuat sarapan, tapi disaat Sela masuk ke dalam kamar Akira rupanya Akira tengah berada di dalam kamar mandi saat itu sehingga Sela justru malah berjalan-jalan melihat semua benda yang ada di dalam kamar Akira saat itu, hingga sorot pandangan matanya tertuju pada sebuah kaleng soda yang ada diatas tak sebuah buku dan hiasan yang ada disana saat itu.
"Eehhh....bukankah ini botol soda yang pernah aku berikan kepada Akira, kenapa masih terlihat utuh begini apa dia sama sekali tidak meminumnya atau dia lupa untuk membuang minuman ini?" Tanya Sela terus kebingungan dan memikirkannya sendiri saat itu.
Sedang disisi lain Akira yang baru saja keluar dari kamar mandi dia segera datang menghampiri Sela dan mengatakan bahwa botol itu sengaja tidak dia gunakan atau tidak dia minum isianya sebab ingin memajang botol itu sebagain hiasan saja, dan sebuah kenang kenangan yang bisa bertahan dalam waktu yang sangat lama.
"Tidak aku tidak lupa membuangnya justru akai sama sekali tidak berniat untuk membuang botol minuman soda itu," balas Akira menimpali begitu saja sambil baru keluar dari kamar mandi dan berpakaian rapih sekali saat itu.
Berbeda sekali denganku yang masih mengenakan pakaian tidur dan biasanya aku memakan akan mandi setelah sarapan, bukannya mandi dulu baru sarapan sama seperti yang dilakukan oleh Akira lagi ini, aku juga menatap dengan menaikkan kedua alisku dan membulatkan mataku saking merasa herannya dengan apa yang baru saja dia ungkapkan kepadaku saat itu.
"Ehhh..apa maksudmu, jadi kau sengaja apa membiarkannya begitu saja? Hanya untuk dipajang disini begitu?" Tanya Sela memastikan lagi kepada Akira dengan lebih keras.
"Ya itu adalah hiasan agar aku bisa terus mengingat bahwa kau pernah memberikan aku minuman soda di tengah malam, apalagi minuman soda itu adalah kesukaanmu bukan, terlebih malah itu kau juga...." Ucap Akira yang langsung aku bekap mulutnya agar dia tidak bicara lagi mengenai kejadian malam itu yang sangat memalukan untukku.
"Aishhh...sudah jangan di ungkit lagi, jika kau mau menyimpannya ya simpat saja lah aku tidak perduli lagi, ayo cepat kita pergi dari sini, aku sudah memasakkan sarapan untuk kita berdua," ucapku kepadanya sambil menarik tangan dia dan membawanya ke meja makan dengan secepatnya.
Akira hanya terus tersenyum kecil sambil menatap tangannya yang di gandeng oleh Sela, dia merasa sangat senang Sela bisa menggandeng tangannya seperti itu tanpa dia minta ataupun dia pinda lebih dulu sebelumnya, selain itu Akira juga merasa sudah di kerja oleh Sela selama ini jadi dia sangat senang sekali.
Terlebih Akira sudah tahu sejak awal bahwa Sela ini adalah teman masa kecilnya yang selalu membantu dia dan menemani dia sejak kecil, dia ingin terus menjadi orang yang paling dekat dengan Sela untuk selamanya, maka dari itu Akira benar-benar merasa sangat senang sekali sudah bisa menjadi kekasih dari Sela dan dia bisa memiliki Sela seutuhnya sekarang ini.
"Akira...hei...Akira kau ini kenapa sih?" Ucap Sela yang memanggilnya sambil segera melepaskan tangan Akira untuk menyadarkan dia secepatnya.
Barulah setelah Sela memanggil nama Akira berkali-kali kini Akira bisa tersadar dengan cepat dan dia mulai langsung duduk di depan meja makan secepatnya.
"A....AA....aahhh..haha...maaf tadi aku kurang fokus, aku kita makan kamu pasti sudah lapar bukan, wahhh kau bisa masak?" Tanya Akira yang langsung saja memalingkan pembicaraan untuk menutupi rasa gugup dan aneh di dalam hatinya saat itu.
Sela sendiri terus saja merasa Akira terlihat sangat aneh sekali saat itu dan dia hanya bisa menanggapinya sedikit demi sedikit saja, sambil dia yang segera menikmati nasi goreng yang ada diatas meja yang sudah dia masak sebelumnya.
"Ya tentu saja aku bisa masak aku sudah lama tinggal di rumah nenek, dan sering membantu dia untuk memasak saat itu," balas Sela kepadanya saat itu.
"Ohhh...kenapa aku tidak tahu ya kalau kau bisa memasak, padahal aku merasa sudah mengenalimu seutuhnya," ucap Akira yang keceplosan tanpa sadar saat itu.
Selayang mendengar ucapan dari Akira begitu, Sela langsung saja mengerutkan kedua alisnya lagi dan dia menaruh sendok makannya dengan cepat, dia langsung menatap tajam kepada Akira dan mulai bertanya dengan serius kepadanya karena gelagat Akira pagi itu sangatlah membuat dia merasa curiga.
"Hei....Akira ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat sangat aneh seki pagi ini, kau dan aku kan baru saja mengenal aku di sekolah bahkan belum sampai satu tahun, ya tentu saja kau tidak akan mengenali aku dengan benar, kenapa kau berkata kalau kau merasa sudah mengenali aku seutuhnya? Apa jangan-jangan kita memang pernah saling mengenal sebelumnya?" Ucap Sela berusaha mengingat-ingat lagi semua itu.
Akira langsung saja terdiam dia menatap dengan lekat wajah Sela dan kesulitan untuk menelan salivanya sendiri saat itu, dia segera meminum air putih untuk menenangkan dirinya sendiri dan untuk menghilangkan kegugupannya saat itu.
Akira pikir mungkin itu adalah saat yang tepat untuk dia mengatakan yang sebenarnya kepada Sela, sebab mau bagaimana pun dia menyembunyikan semua rahasia besar ini, lama kelamaan pasti akan tercium.dan akan di ketahui juga oleh Sela nantinya, dan jika sampai Sela malah mendengar kebenaran itu dari orang lain, maka semuanya akan sangat berbahaya bagi posisi dia sendiri.
"Sela coba saja kamu ingat-ingat lagi apakah kamu pernah merasa mengenal seseorang di masa lalu yang memiliki nama yang sama denganku?" Ucap Akira bertanya pada Sela saat itu.
Sela langsung teringat dengan seorang anak yang sangat membuatnya sakit hati dan dia tidak ingin mengingat anak itu lagi, bahkan untuk menyebutkan nama panggilannya saat itu.
"Memang aku pernah mengenal seseorang yang memiliki penyakit sama denganmu, dia juga memiliki karakter yang sama juga denganmu, tetapi dia jelas sekali bukan kau karena dia meninggalkan aku dan kau tetap di sampingku apapun keadaannya, kau juga mengajari aku banyak hal dan anak itu sudah mati untukku," balas Sela mengatakan semuanya.
Saat mendengar bahwa Sela sudah membuat dirinya di masa lalu mati dalam kehidupan dia, Akira kembali merasa takut dan semakin cemas, tangannya bahkan sampai bergetar saat itu, tanpi dia masih harus mengatakan semua ini kepada Sela, demi sebuah kejujuran dan kebenaran yang harus dia beritahukan saat itu.
Karena mau bagaimana pun Sela berhak mengetahui semua ini sebelum dia akan di lamar oleh pria lain nantinya.
"Sela bisakah kau tidak menganggap pria kecil itu matinbagi hidupmu, karena pria kecil itu adalah aku," ucap Akira membuat Sela kaget bukan main.
Dia langsung terperangah dan menjatuhkan sendok juga garfu yang dia pegang sebelumnya, Sela benar-benar kaget dengan pengakuan dari Akira saat itu dan untuk beberapa saat Sela masih belum bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh Akira kepadanya saat itu, bahkan Sela berliku bahwa Akira hanya bercanda saja saat itu.
"Hah? Haha..tidak tidak mungkin kau anak laki-laki yang menyebalkan itu, dia sudah mati dia pergi meninggalkan aku saat itu dan wajahnya juga tidak mirip sama sekali denganmu, kau tidak mungkin dia bukan?" Ucap Sela sambil tertawa kecil dan dia menyangkal ucapan Akira saat itu.
Akira menghembuskan nafas dengan lesu dan dia hanya bisa diam saja memberikan ruang untuk Sela berpikir sejenak atas apa yang dia katakan dalam pengakuan Akira sebelumnya saya itu.
"Huuuhh....maafkan aku Sela, pria kecil yang pernah kamu tolong dari bullying itu adalah akuz aku adalah Akira yang dulu sering kamu panggil Kira, aku Akira yang sekarang sudah dewasa dan bisa membuktikan pada dunia bahwa semua pemikiran ku sejak kecil bisa aku buat nyata saat ini, dan aku sengaja masuk ke SMA itu hanya untuk mencari dirimu Sela," ucap Akira membuat Sela semakin kaget sekali.
Kini Sela juga sudah tidak bisa mengeluarkan perkataan apapun lagi, dia hanya bisa diam membisu dengan menatap kosong dan tanpa ekspresi kepada Akira, dia tidak menduga bahwa Akira yang ada dihadapannya saat ini adalah Akira yang sama dengan seorang anak kecil di masa lalu yang dengan teganya meninggalkan dia pergi begitu saja tanpa berpamitan sedikit pun padanya.
Padahal Sela pikir dulu itu dia tidak pernah membuat Akira menangis ataupun membuatnya di bully lagi dengan anak-anak kompleks lainnya, Sela bagaimanakan pelindung untuk Akira dan sejak saat itu Akira hanya akan pergi main jika disana ada Sela, sebab sebagian anak-anak disana selalu tetap berperilaku kasar kepada dirinya setiap kali Sela tidak ada atau tidak ikut main dengannya.
"Sela maafkan aku karena menyembunyikan semua ini darimu, aku sungguh tidak bermaksud melakukan semuanya kepadaku, ada alasan yang harus aku jelaskan denganmu dahulu mengapa saat itu aku tiba-tiba pergi dan pindah ke luar negeri sebelumnya," ucap Akira sambil menggenggam tangan Sela saat itu.
Namun dengan cepat Sela menarik tangannya dan menjauhkan diri dari Akira karena dia sangat tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Akira dan semua pengakuan yang dia ucapkan masih belum bisa diterima dengan seutuhnya oleh Sela sendiri saat itu.
Sela tidak ingin mendengar semua ini lagi dia langsung mendorong kursinya dan pergi ke kamarnya meninggalkan Akira dengan cepat tanpa basa basi apapun lagi, dan Akira sendiri juga sudah tidak bisa menahan Sela untuk hal itu.