
*Flashback
Sela pergi berlari secepat yang dia bisa untuk menyusul Akira yang sudah pergi dari sekolah lebih dulu beberapa menit daripada dirinya, dia pergi ke tempat parkiran sepeda namun dia tidak melihat adanya Akira disana sampai ketika di berbalik dia mulai melihat punggung Akira baru saja keluar dari gerbang sekolah saat itu, dia langsung berlari mengejar Akira sambil berteriak memanggilnya saat itu.
"Haiss.. itu dia, hey... Anak misterius tunggu aku hey...." Teriak Sela sambil melambaikan tangannya dengan tinggi.
Namun sayangnya Akira sama sekali tidak mendengarkan dia dan terus saja mengayuh sepedanya justru malah menjadi lebih cepat, karena saat itu dia pikir Sela akan menumpang lagi dengannya, sehingga dia mengayuh lagi sepedanya itu lebih kuat, hal tersebut membuat Sela jengkel dan semakin kesal sebab dia sudah tahu bahwa sebelumnya Akira sempat menengok ke belakang dan matanya bertatap dengan dirinya sejenak.
Saat itu Sela pikir Akira akan berhenti karena sudah mengetahui bahwa dirinya berlari di belakang dia sambil melambaikan tangan dan menyuruhnya untuk berhenti.
"Hey....berhenti, aku ingin bicara heyyy.....aishh kenapa dia malah semakin cepat, sial!" gerutu Sela semakin kesal.
Tapi bukannya berhenti Akira malah mempercepat laju sepedanya tersebut sehingga Sela juga harus lari lebih kuat dan lebih cepat lagi untuk bisa menyusulnya.
Sampai akhirnya dia mengejar Akira sampai ke depan pagar rumahnya, Sela sangat kesal dan berkali-kali menelan bel rumah Akira namun sayangnya Akira tetap tidak muncul sehingga dia terpaksa harus mencari jalan lain untuk masuk ke dalam saat itu.
"Aishh... Apa dia tuli yah? Bagaimana bisa tidak mendengar bel yang terus aku tekan berkali-kali sangat menyebalkan, aahhh kenapa pagarnya terasa lebih tinggi dari luar sini, aku harus mencari jalan lain untuk masuk" gerutu Sela sambil segera pergi dari sana.
Dia sengaja pergi melewati jalan memutar secara perlahan melewati gerbang depan rumahnya dan pergi ke benteng belakang rumah tersebut hingga dia mulai memanjat menggunakan sebuah tangga yang sering dia gunakan untuk kabur sejak dulu dari rumahnya sendiri, dia terpaksa harus masuk ke dalam rumahnya dahulu untuk bisa memanjat ke dinding samping perbatasan antara rumah dia dan rumah Akira saat itu.
"Brukk...." Suara kaki Sela yang meloncat dari benteng rumahnya ke halaman samping rumah Akira saat itu.
Sela terus berjalan mendekati pintu masuk dan kembali menekan bel disana juga mengetuk pintunya dengan keras berkali-kali sambil berteriak memanggil Akira dengan lantang.
"Tok ...tok...tok... Hey bodoh keluar kau, ini aku hey... Pria sialan keluarlah kau!" Teriak Sela dengan bahasanya yang selalu sangat kasar.
Hingga tidak lama terdengar suara Akira dari belakang tubuhnya yang ternyata saat itu berada di luar rumah, Akira baru saja memeriksa apakah Sela sudah pergi dari depan rumahnya atau tidak namun saat dia kembali hendak masuk ke dalam rumah justru dia malah melihat Sela sudah berada di depan pintu masuknya sendiri.
Bukan hanya Akira yang awalnya kaget melihat Sela sudah berada disana namun Sela juga sangat kaget saat mendengar suara Akira dan melihat dia ternyata ada di belakangnya.
"Astaga! Heh kenapa kau bisa ada di luar, bukannya kau sudah masuk ke dalam rumahmu yah? Makanya kau tidak mendengar bel di depan gerbang yang sedari tadi aku tekan berkali-kali" ucap Sela kepadanya,
"Aku memang tidak ingin mendengarnya, sudah ada apa kau kemari?" Tanya dia begitu saja.
Melihat betapa menjengkelkannya seorang Akira tentu saja Sela sangat kesal apalagi setelah dia tahu bahwa ternyata Akira dengan sengaja tidak membukakan gerbang untuknya saat itu, sehingga Sela langsung saja memarahi dia dengan keras.
"Ohhh... Jadi kau sengaja tidak menghampiriku atau membuka gerbang rumahmu untukku yah, sehingga aku harus memanjat susah payah dari belakang sana hanya untuk mengembalikan buku sialanmu ini, aishh aku benar-benar salah sudah bersikap baik pada orang sialan sepertimu, ahhhh aku benar-benar merasa menyesal melakukannya" gerutu Sela sambil mengacak rambut belakang kepalanya sendiri.
Dia langsung memberikan buku milik Akira yang tertinggal di kelas sebelumnya lalu dia segera saja pergi dari sana secepatnya karena tidak tahan lagi melihat wajah Akira yang masih memasang wajah datar dan santai tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Aaahh... Wajahmu itu, aishh aku ingin menghajarnya dengan keras, sudahlah ini bukumu aku mihatnya tertinggal di kelas jadi aku berniat memberikannya padamu karena jika di biarkan begitu saja orang lain mungkin akan mengambilnya, arghhhh... Aku tidak habis pikir ada orang aneh sepertimu, aku tidak jahat aku ingin mengembalikan bukumu itu, kenapa kau memberikan aku banyak sekali kesulitan aaaishhh euhhh" ucap Sela yang hampir saja hendak melemparkan kepalan tangannya ke wajah Akira.
Tapi dengan cepat dia menahan dirinya sendiri karena sudah berniat untuk berubah saat ini, sehingg sela pun hanya bisa melampiaskan p*kulannya itu ke angin kosong tepat di samping wajah Akira, lagi pula Akira terlalu tinggi untuk dia jangkau dengan tangannya sehingga Sela hanya bisa menendang rumpuk dengan sekuat tenaganya dan dia langsung kembali memanjat benteng samping rumah Akira dengan cepat kemudia berjalan pelan mengendap-ngendap di belakang rumahnya sendiri dan kembali memanjat benteng yang lebih tinggi di belakang rumah itu sampai dia menghilang.
Akira terperangah kaget setelah mengetahui bahwa ternyata sedari tadi Sela mengikutinya karena ingin mengembalikan buku miliknya yang dia lupakan di kelas bukan untuk mengganggu dirinya ataupun untuk meminta agar dia mengantarkannya pulang seperti sebelumnya.
Akira juga merasa sedikit bersalah kepada Sela karena dia sudah membuatnya kesusahan sebab harus memanjat dia benteng sekaligus saat itu.
"Hah.... Kenapa aku merasa bersalah kepadanya, lagi pula aku tidak pernah meminta dia untuk membantu aku mengembalikan buku ini, terserah saja lah" batin Akira memikirkan.
Dia sebenarnya merasa bersalah kepada Sela karena sudah merepotkan ya dan dia juga tidak mendengarkan bel juga teriakkan dari Sela sebelumnya, namun karena dia cukup tidak menyukai Sela yang selalu grasak-grusuk tidak jelas juga begitu aktif sehingga dia mengesampingkan hal tersebut dan mengabaikan rasa bersalah di dalam dirinya kepada Sela dengan berbagai macam alasan yang dia buat sendiri.
Sedangkan disisi lain Sela kini merasa sangat lelah dan pulang terlambat ke rumah sang nenek dengan wajah yang lesu dan berjalan lemas sambil tertunduk tidak memiliki energi sama sekali, di tambah itu adalah pertama kalinya dia datang ke sekolah dengan rok seperti itu sehingga itu cukup merepotkan untuknya.
Hingga ketika masuk ke dalam rumah Sela langsung saja menjatuhkan dirinya sendiri duduk dengan lesu di atas Sofa kecil milik sang nenek.
"Wahhhh... Aku sangat lelah sekali hari ini, ya ampun aku akan cepat mati jika setiap hari melewati hari yang sangat berat seperti tadi" ujar Sela bicara sendiri.